Di sudut tergelap Distrik Kumuh Oakhaven, Ren bertahan hidup sebagai pelayan di sebuah rumah bordil sekaligus tempat penampungan anak-anak telantar. Di balik fisiknya yang tampak biasa dan otaknya yang encer, Ren menyembunyikan kutukan sekaligus berkah: ia adalah keturunan Vampir terakhir yang murni, terpaksa menahan dahaga darah agar tidak memicu kecurigaan Gereja Suci.
Dunia Ren runtuh ketika sekelompok Ksatria Suci berzirah perak—yang seharusnya menjadi simbol kehormatan—membantai tempat tinggalnya demi menutupi skandal korupsi ordonya. Di ambang kematian, Ren merangkak ke ruang bawah tanah rahasia dan menemukan Crimson, roh pedang kuno yang haus darah. Demi membalaskan dendam dan mengubah takdirnya, Ren memulai jalannya sebagai Sword Master yang tidak biasa: memadukan teknik pedang legendaris dengan kekuatan darah yang terlarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22.penghakiman
Hari penentuan telah tiba. Colosseum Besi Odelia tidak lagi sekadar dipadati penonton; tempat itu kini menjelma menjadi lautan manusia yang menahan napas dalam ketegangan yang mencekik. Ribuan panji Kekaisaran Suci Elisia dan faksi-faksi global berkibar di bawah langit yang tertutup uap mekanis abu-abu.
Di tengah arena, lempengan baja yang menjadi lantai pertarungan telah diganti dengan pelat titanium anti-ledakan baru. Ini adalah panggung final Tingkat Satu.
"Inilah saat yang kita tunggu-tunggu!" suara komentator menggelegar, bergaung di antara menara-menara logam. "Satu sisi adalah Ren, 'Hantu Hitam' dari perbatasan barat yang meruntuhkan segala logika taktis! Di sisi lain adalah Leonidas, 'Matahari Perak' sang jenius suci pewaris tunggal teknik tertinggi Ordo Ksatria Perak!"
### Dua Sisi Mata Uang
Leonidas melangkah keluar dari lorong emas dengan keagungan seorang pangeran perang. Zirah perak murninya berkilau menantang lampu-lampu uap, jubah putih bersihnya berkibar anggun tanpa noda. Di tangan kanannya, ia memegang sebilah pedang dua tangan (*greatsword*) emas dengan ukiran sayap malaikat di gagangnya.
*WUUUSH!*
Begitu Leonidas mengambil posisi, *Holy Mana Breath* elemen cahaya murni meledak dari tubuhnya. Cahaya emas keperakan yang menyilaukan meluas, membentuk tekanan aura suci yang membuat penonton di barisan depan terpaksa menyipitkan mata. Kekuatannya berada di puncak Tingkat 4 Akhir—sebuah anomali bagi seorang murid tingkat satu.
"Kau..." Leonidas menatap Ren dengan sepasang mata emasnya yang dingin dan penuh penghakiman. "Bau darah di tubuhmu... kau adalah iblis yang bertanggung jawab atas hilangnya Grandmaster Kaelen di perbatasan barat, bukan?"
Ren melangkah maju dari kegelapan lorong seberang dengan santai. Jubah hitamnya yang berat menyapu lantai baja, sangat kontras dengan pendaran cahaya suci Leonidas. Tangan kanannya bertumpu tenang pada gagang pedang besi standar akademi yang tampak rapuh. Wajah tampannya tertekuk dalam sebuah *smug* dingin yang penuh kepuasan tersendiri.
"Grandmaster-mu itu terlalu banyak bicara sebelum mati, Leonidas," Ren menjawab dengan nada suara yang teramat datar namun sarat akan provokasi mematikan. "Dan melihatmu berdiri di sana dengan zirah yang sama... membuatku ingin melihat seberapa merah darah suci yang kau banggakan itu."
**"Hahaha! Bagus, Ren! Bocah pirang ini memiliki kepadatan Mana suci yang luar biasa!"** Crimson tertawa gila di dalam kepala Ren, tato di lengan bawahnya mendadak terasa membara hingga ke tulang. **"Robek dadanya! Biarkan aku menenggak habis seluruh warisan si Kaelen sialan itu!"**
"Mati kau, penusuk dari belakang!" Leonidas menggeram, matanya berkilat penuh amarah yang terstruktur.
"Mulai!"
*BOOOOOM!!!*
Leonidas menerjang maju seperti kilat emas yang membelah arena. Kecepatannya jauh melampaui Aria maupun Gideon. Dengan satu tebakan vertikal raksasa, ia melepaskan teknik *Holy Judgment*—sebuah sabetan cahaya suci setinggi lima meter yang sanggup melelehkan logam padat di jalurnya.
Ren tidak bergerak. Otak cerdasnya mengkalkulasi kecepatan dan densitas elemen cahaya itu dalam hitungan milidetik.
*Dug!*
Jantung vampir Ren berdenyut kencang. Menggunakan *Blood Circulation* tingkat penuh yang dipadukan dengan teknik *Blood-Stride* bayangan, tubuh Ren bergoyang tipis ke samping, membiarkan tebasan raksasa itu melewatinya hanya seujung rambut dan membelah pelat titanium di belakangnya hingga memercikkan api.
"Terlalu lambat," bisik Ren, tiba-tiba sudah berada di sisi kanan Leonidas.
"Jangan meremehkanku!" Leonidas memutar poros tubuhnya dengan insting ksatria tingkat tinggi, mengubah arah pedang besarnya menjadi tebasan horizontal melingkar yang dilapisi penghancur perisai.
*TINGGGG!!!*
Untuk pertama kalinya dalam turnamen ini, Ren menarik pedang besi standarnya dari sarung untuk menahan serangan lawan secara langsung. Benturan antara pedang suci emas dan pedang besi biasa Ren menciptakan gelombang kejut frekuensi tinggi yang memekakkan telinga.
Ren menahan hantaman *greatsword* Leonidas hanya dengan satu tangan, sementara tangan kirinya berada di balik punggungnya dengan santai. Kekuatan fisik murni ras vampir kuno milik Ren berdiri kokoh bagai tebing karang, menolak untuk bergeser satu milimeter pun di atas lantai logam.
"B-Bagaimana mungkin?! Kekuatan fisik murni tanpa Mana?!" Leonidas terbelalak, merasakan tangannya bergetar hebat menahan tekanan balik dari pedang besi Ren.
Ren menurunkan sedikit pandangannya, membiarkan poni rambut perak abu-abunya terbuka ditiup angin energi. Sepasang mata crimson-nya menyala seutuhnya dengan pendaran merah darah yang pekat. Satu matanya berkilat intens, melepaskan guratan energi streaks merah yang tajam, menembus langsung ke dalam mental Leonidas hingga membuat aliran Mana sucinya mendadak tersendat.
Seringai berbahaya nan dingin terukir di wajah tampan Ren.
"Sekarang... mari kita mulai pertunjukan eksekusi yang sesungguhnya," desis Ren halus, siap melepaskan teknik darah kuno yang akan mengakhiri kejayaan Ordo Perak di depan mata dunia.