NovelToon NovelToon
AKU SIBUK BEKERJA SUAMIKU SIBUK MENCINTAI ORANG LAIN

AKU SIBUK BEKERJA SUAMIKU SIBUK MENCINTAI ORANG LAIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Pengkhianatan
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Aku pikir bekerja keras demi keluarga adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kuberikan.
Setiap hari aku berangkat sebelum matahari terbit dan pulang saat langit telah gelap. Semua kulakukan agar suamiku hidup nyaman dan masa depan keluarga kami terjamin. Aku menahan lelah, mengubur keinginan pribadi, bahkan mengorbankan waktu bersama orang yang paling kucintai.
Namun, pengorbananku ternyata tidak dihargai.
Di saat aku sibuk bekerja dan berjuang untuk kami, suamiku justru sibuk memberikan perhatian, waktu, dan cintanya kepada wanita lain. Pengkhianatan itu menghancurkan kepercayaan yang telah kubangun selama bertahun-tahun.
Yang lebih menyakitkan, wanita itu bukanlah orang asing.
Saat rahasia demi rahasia mulai terungkap, aku dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan pernikahan yang telah retak atau meninggalkan pria yang pernah menjadi seluruh duniaku.
Mampukah cinta bertahan setelah dikhianati? Atau ada luka yang memang tidak ditakdirkan untuk sembuh?
"Aku Sibuk

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 16 kehamilan nadia

Ruangan rapat masih dipenuhi suasana yang mencekam setelah Nadia menyampaikan keputusan untuk mengundurkan diri dan mengajukan gugatan cerai. Tidak ada seorang pun yang berani berbicara lebih dulu karena semua orang masih berusaha mencerna kenyataan yang baru saja terungkap.

Nadia berdiri dengan tenang di tengah ruangan. Wajahnya memang terlihat lelah, namun sorot matanya tidak lagi dipenuhi keraguan. Ada kesedihan di sana, ada luka yang begitu dalam, tetapi juga ada keteguhan yang perlahan tumbuh setelah berhari-hari hidup di antara kebohongan.

"Aku tidak membenci siapa pun."

Suara Nadia memecah keheningan.

Semua orang langsung menatapnya.

Nadia menghela napas panjang sebelum melanjutkan.

"Karena aku tahu satu hal, perasaan tidak bisa dipaksa."

Tatapannya sempat beralih kepada Adrian, lalu kepada kursi Bianca yang masih ditempati wanita itu.

"Cinta juga tidak bisa dihalangi."

Kalimat itu terdengar sederhana, namun membuat dada banyak orang terasa sesak.

"Aku bisa mempertahankan pernikahan."

"Aku bisa memaafkan kesalahan."

"Tapi aku tidak bisa memaksa seseorang untuk tetap mencintaiku jika hatinya sudah memilih orang lain."

Bianca yang sejak tadi berusaha menahan air matanya akhirnya menundukkan kepala semakin dalam.

Setiap kata yang diucapkan Nadia terasa seperti menghantam rasa bersalah yang selama ini ia pendam.

Tidak ada makian.

Tidak ada penghinaan.

Tidak ada upaya menjatuhkannya.

Namun justru sikap Nadia itulah yang membuat Bianca merasa semakin malu.

Karena wanita yang ia sakiti ternyata memiliki hati yang jauh lebih besar daripada dirinya.

Dengan tangan yang gemetar, Bianca perlahan berdiri dari kursinya.

Ia tidak sanggup lagi menatap siapa pun di ruangan itu.

Tidak sanggup melihat kekecewaan di wajah para pimpinan firma.

Tidak sanggup melihat kemarahan keluarga Adrian.

Dan terutama tidak sanggup menatap Nadia.

Tanpa mengatakan apa-apa, Bianca berjalan menuju pintu dan meninggalkan ruangan dengan langkah tergesa.

Begitu pintu tertutup, suasana kembali sunyi.

Namun keheningan itu tidak berlangsung lama.

Karena ayah Adrian yang sejak tadi berusaha menahan emosinya akhirnya kehilangan kesabaran.

Pria tua itu berdiri dari kursinya lalu berjalan menghampiri putranya.

Tatapannya penuh amarah dan kekecewaan yang selama hidup Adrian belum pernah ia lihat sebelumnya.

"Ayah..."

Adrian baru saja membuka mulut ketika sebuah tamparan keras mendarat di wajahnya.

Suara tamparan itu menggema di seluruh ruangan.

Kepala Adrian sampai menoleh ke samping akibat kerasnya pukulan tersebut.

Tidak ada seorang pun yang bergerak.

Tidak ada yang berani menghentikan.

Bahkan direktur firma hanya terdiam melihat kemarahan yang selama ini dipendam pria tersebut.

"Aku membesarkanmu bukan untuk menjadi laki-laki seperti ini."

Suara ayah Adrian bergetar karena marah.

"Aku bisa menerima kalau kamu gagal."

"Aku bisa menerima kalau kamu tidak sehebat Nadia."

"Tapi aku tidak akan pernah menerima kalau kamu mengkhianati orang yang selama ini berdiri di sampingmu."

Setiap kata terdengar seperti pukulan yang lebih menyakitkan daripada tamparan tadi.

Adrian menundukkan kepalanya.

Untuk pertama kalinya ia tidak memiliki pembelaan.

Tidak ada alasan yang cukup baik.

Tidak ada argumen yang mampu menyelamatkannya.

Karena semua yang dikatakan ayahnya adalah kebenaran.

Sementara itu, di luar ruangan rapat, kabar tersebut mulai menyebar dengan kecepatan yang sulit dikendalikan.

Firma hukum besar selalu terlihat profesional dari luar, tetapi di dalamnya tetap ada manusia yang berbicara, berbisik, dan bertukar cerita.

Beberapa staf melihat Bianca keluar dari ruang rapat sambil menangis.

Beberapa lainnya melihat wajah Adrian yang memerah setelah ditampar ayahnya.

Ada pula yang mengetahui Nadia mengajukan pengunduran diri.

Potongan-potongan informasi itu dengan cepat menyatu menjadi sebuah cerita.

Menjelang siang, hampir seluruh kantor sudah mendengar gosip yang sama.

Tentang perselingkuhan Adrian dan Bianca.

Tentang gugatan cerai Nadia.

Tentang kemarahan keluarga Mahendra.

Dan tentang bagaimana partner terbaik firma itu memilih meninggalkan pekerjaannya setelah dikhianati oleh suaminya sendiri.

Di berbagai sudut kantor, orang-orang mulai membicarakannya dengan nada berbeda.

Ada yang terkejut.

Ada yang marah.

Ada yang bersimpati kepada Nadia.

Namun hampir semua memiliki pendapat yang sama.

Mereka tidak menyangka wanita sekuat Nadia harus mengalami pengkhianatan seperti itu.

Karena selama ini semua orang tahu satu hal.

Jika ada seseorang yang telah memberikan segalanya untuk Adrian Mahendra, orang itu adalah Nadia.

Dan kini, ketika berita tersebut menyebar ke seluruh kantor, Adrian mulai merasakan bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang selama ini selalu ia anggap akan tetap berada di sisinya.

Dalam hitungan hari, suasana firma hukum yang biasanya dipenuhi pembahasan kasus dan klien besar berubah menjadi lautan bisik-bisik yang sulit dihentikan.

Meski pihak manajemen berusaha menjaga profesionalisme, kenyataannya berita mengenai perselingkuhan Adrian dan Bianca sudah terlanjur menyebar ke hampir seluruh lantai kantor. Setiap orang memiliki versi ceritanya sendiri, dan seperti kebanyakan gosip, cerita yang beredar semakin lama semakin jauh dari kenyataan.

Awalnya hanya tentang perselingkuhan.

Kemudian berkembang menjadi berbagai spekulasi yang tidak diketahui asal-usulnya.

Di pantry, koridor, bahkan grup percakapan pribadi antarpegawai, nama Nadia, Adrian, dan Bianca menjadi bahan pembicaraan.

Ada yang mengatakan Adrian sudah lama tidak bahagia dalam pernikahannya.

Ada yang mengaku pernah melihat Adrian dan Bianca makan malam berdua jauh sebelum hubungan mereka terbongkar.

Ada pula yang mengaku mengetahui berbagai rahasia yang sebenarnya tidak pernah terjadi.

Semakin banyak orang berbicara, semakin liar cerita yang beredar.

Rumor yang paling menyakitkan justru mulai menyeret luka pribadi Nadia.

Beberapa orang mulai menghubungkan keguguran yang dialaminya dengan perselingkuhan Adrian.

Lalu muncul bisik-bisik bahwa Nadia sulit memiliki anak.

Entah dari mana asalnya, gosip itu berkembang menjadi cerita bahwa Adrian mencari wanita lain karena ingin memiliki keturunan.

Tidak berhenti sampai di sana.

Ada pula yang mulai berbisik bahwa Bianca mungkin sedang mengandung.

Padahal tidak ada satu pun bukti yang mendukung kabar tersebut.

Namun bagi para penyuka gosip, fakta sering kali tidak sepenting cerita yang menarik.

Suatu siang, Vania yang sedang mengambil kopi di pantry tanpa sengaja mendengar dua pegawai junior membicarakan hal tersebut.

"Aku dengar Bianca hamil."

"Aku juga dengar begitu."

"Mungkin itu alasan kenapa Nadia akhirnya memilih cerai."

Kalimat itu langsung membuat wajah Vania berubah.

Ia meletakkan cangkirnya lebih keras dari yang seharusnya hingga kedua pegawai tersebut langsung terdiam.

"Kalian dengar dari siapa?"

tanyanya dingin.

Keduanya saling berpandangan.

Tidak ada yang mampu menjawab.

Karena memang tidak ada sumber yang jelas.

Hanya rumor yang terus berpindah dari satu mulut ke mulut lainnya.

Sementara itu, Bianca yang menjadi pusat gosip tersebut mulai merasakan dampaknya secara langsung.

Tatapan orang-orang berubah.

Percakapan mendadak berhenti saat dirinya lewat.

Bahkan beberapa rekan kerja yang dulu ramah kini menjaga jarak.

Bianca mencoba mengabaikannya.

Namun setiap kali mendengar bisikan mengenai dirinya, dadanya terasa semakin sesak.

Terlebih ketika mendengar rumor bahwa dirinya hamil.

Rumor yang sama sekali tidak benar.

Tetapi tetap berhasil membuat namanya semakin buruk di mata banyak orang.

Di sisi lain, Nadia juga mendengar kabar tersebut.

Saat Vania dengan kesal menceritakan gosip yang beredar, Nadia hanya terdiam cukup lama.

Ia menatap berkas di hadapannya tanpa benar-benar membacanya.

Dulu mungkin kabar seperti itu akan menghancurkannya.

Namun setelah semua yang terjadi, ia justru merasa lelah.

Terlalu lelah untuk memedulikan apa yang dipikirkan orang lain.

"Kesal nggak sih?"

tanya Vania.

"Mereka bicara seolah tahu hidupmu."

Nadia tersenyum tipis.

Senyum yang menyimpan banyak kepahitan.

"Orang selalu lebih suka cerita daripada kebenaran."

jawabnya pelan.

"Dan cerita yang paling cepat menyebar biasanya yang paling menyakitkan."

Meski berusaha terlihat kuat, jauh di dalam hati Nadia tetap ada luka yang kembali terbuka.

Karena di antara semua rumor yang beredar, bagian tentang dirinya yang sulit memiliki anak adalah yang paling menyakitkan.

Bukan karena itu benar.

Melainkan karena beberapa minggu lalu ia masih memimpikan masa depan bersama Adrian dan anak yang tidak pernah sempat lahir ke dunia.

Dan kini, bahkan kehilangan itu pun telah berubah menjadi bahan pembicaraan orang lain.

Beberapa minggu setelah resmi mengundurkan diri dari firma hukum dan menyelesaikan proses perceraiannya dengan Adrian, kehidupan Nadia berubah drastis.

Tidak ada lagi tumpukan berkas yang menunggu di meja kerjanya.

Tidak ada lagi rapat hingga larut malam.

Tidak ada lagi sosok Adrian yang pulang ke rumah setiap malam.

Apartemen yang dulu terasa hangat kini terasa begitu sunyi.

Meski demikian, Nadia berusaha menjalani hari-harinya dengan tenang. Ia menghabiskan lebih banyak waktu bersama Vania, sesekali menemui ayah mertuanya yang masih menganggapnya seperti anak sendiri, dan perlahan mencoba membangun kembali hidup yang sempat hancur.

Namun ternyata hidup masih menyimpan kejutan yang tidak pernah ia bayangkan.

Pagi itu Nadia sedang berada di sebuah kafe bersama Vania ketika tiba-tiba pandangannya menjadi kabur.

Awalnya ia mengira hanya kelelahan.

Beberapa hari terakhir ia memang sulit tidur.

Pikirannya masih sering dipenuhi kenangan tentang masa lalunya.

Namun rasa pusing itu semakin kuat.

Wajahnya mendadak pucat.

Cangkir kopi yang sedang dipegangnya hampir terlepas.

"Nadia?"

Vania langsung berdiri dari kursinya.

Namun sebelum sempat melakukan apa pun, tubuh Nadia sudah kehilangan keseimbangan.

Dan dunia di sekelilingnya berubah gelap.

Saat membuka mata kembali, Nadia sudah berada di ruang perawatan rumah sakit.

Aroma khas antiseptik memenuhi udara.

Lampu putih di langit-langit membuat matanya sedikit silau.

Ia mengerjapkan mata beberapa kali sebelum menyadari Vania sedang duduk di samping ranjang dengan wajah yang terlihat aneh.

Campuran antara bahagia dan khawatir.

"Nadia..."

suara Vania terdengar pelan.

"Kamu sudah sadar."

Nadia mencoba duduk perlahan.

"Kena apa aku?"

Dokter yang kebetulan sedang memeriksa kondisinya tersenyum tipis.

"Tidak ada yang serius."

ucapnya.

"Hanya saja kondisi tubuh Anda sedang membutuhkan istirahat lebih banyak."

Nadia mengangguk pelan.

Namun kemudian dokter melanjutkan kalimat berikutnya.

"Dan selamat."

"Anda sedang hamil."

Waktu seolah berhenti.

Nadia menatap dokter tanpa berkedip.

Beberapa detik berlalu.

Namun otaknya masih belum mampu memproses apa yang baru saja didengarnya.

"Hamil?"

ulangnya lirih.

Dokter mengangguk.

"Kurang lebih enam minggu."

Dunia Nadia kembali terasa berputar.

Namun kali ini bukan karena pusing.

Melainkan karena kenyataan yang baru saja menghantamnya.

Tangannya perlahan bergerak ke perutnya.

Matanya mulai memanas.

Lalu dalam hitungan detik, air mata jatuh tanpa bisa ditahan.

Dulu...

Saat masih menjadi istri Adrian.

Saat mereka masih berusaha memperbaiki hubungan.

Saat mereka masih berbicara tentang masa depan.

Tidak ada yang lebih diinginkan Nadia selain memiliki anak.

Ia pernah menangis ketika kehilangan calon bayinya.

Pernah berharap berkali-kali agar Tuhan memberinya kesempatan lagi.

Pernah membayangkan Adrian menggendong anak mereka.

Membayangkan rumah yang penuh tawa kecil.

Membayangkan keluarga yang utuh.

Namun sekarang...

Saat ia sudah tidak lagi menjadi istri Adrian.

Saat cincin pernikahan itu sudah tidak ada di jarinya.

Saat seluruh hubungan mereka telah berakhir.

Justru kabar itu datang.

Tangisan Nadia semakin kuat.

Bukan karena ia tidak menginginkan anak itu.

Sebaliknya.

Ia sudah menginginkan anak itu sejak lama.

Terlalu lama.

Dan itulah yang membuat semuanya terasa begitu menyakitkan.

"Aku benci timing ini..."

suara Nadia bergetar di antara tangisannya.

Vania yang duduk di sampingnya ikut memerah matanya.

Karena ia mengerti.

Sangat mengerti.

"Dulu aku ingin sekali punya anak..."

bisik Nadia.

"Dulu aku menunggu kabar ini."

Tangannya menggenggam selimut erat.

"Kenapa sekarang?"

Pertanyaan itu terdengar begitu rapuh.

Begitu penuh luka.

Vania segera menggenggam tangan sahabatnya.

"Nadia..."

Namun tidak ada kalimat yang mampu menghibur saat itu.

Karena rasa sakit Nadia bukan berasal dari kehamilan tersebut.

Melainkan dari kenyataan bahwa kabar yang dulu paling ia impikan justru datang ketika orang yang ingin ia bagikan kebahagiaan itu sudah tidak lagi berada di sisinya.

Dan untuk pertama kalinya sejak perceraian mereka, Nadia menangis bukan karena kehilangan Adrian.

Melainkan karena ia menyadari bahwa anak yang sedang tumbuh di dalam kandungannya akan menjadi bagian dari pria yang pernah sangat ia cintai, namun kini telah menjadi bagian dari masa lalunya.

1
Mundri Astuti
fix ni mah kerjaan Bianca, keliatannya lemah ni org, tapi liciknya luar biasa
Mundri Astuti
emang ...ga ngotak si klo mo berkhianat, kan semuanya kena imbasnya, tu perempuan pilihan kamu
Mundri Astuti
ulah Bianca lagi ke nya, klo Iyya bener" ni org, masih aja ga da kapok"nya, oi ni tuh semua juga krn kamu
Mundri Astuti
si Adrian yg diingetnya calon anaknya yg sama Bianca, yg sama Nadia ga sama sekali, padahal sama" darah dagingnya juga, coba anak yg dikandung Bianca meninggal kira" gimana tu org yak🤔
Mundri Astuti
diiihhh bisa bisanya ngomong gitu, habis menghancurkan semuanya...karmanya yg kejam thor buat tu duo dajjal
Mundri Astuti
bagusnya pasangan duo laknat ini masuk bui, dan dpt sangsi sosial, selama ini Nadia yg kena getahnya padahal mereka yg berbuat
Mundri Astuti
woahhhh pasangan duo laknat ternyata...sama" mencapai ambisinya sendiri
Mundri Astuti
semoga lekas terungkap, dan karma tu duo dajjal
Mundri Astuti
hati" Anna, kamu dah bicara terbuka, semestinya di simpan dulu sendiri sambil cari bukti..klo dah begini bakalan panik pelakunya dan mencoba menghilangkan brg bukti
Mundri Astuti
Adrian romannya yg nyelakain ayahnya sendiri...fix double kill ni mah karmanya thor
Mundri Astuti
mudah"an Nadia jadi sama Revano yg lebih segalanya, biar tau rasa si Adrian ...beuhhh Nadia tuh lebih berharga dari selingkuhannya
Mundri Astuti
Thor kasih Adrian dan selingkuhannya karna yg double kill, masih ga ada penyesalan dan ga ngerasa bersalah banget dia, padahal dia tau Nadia juga mengandung anaknya, dan posisinya sendiri krn pengkhianatan ya...

coba ada yg kasih klarifikasi tentang gosip di kantornya Nadia, paling ngga namanya bersih sebelum dia pindah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!