Dijual oleh keluarganya sendiri sejak kecil, Viona Lin tumbuh sebagai pembantu keluarga Jiang. Hidupnya berubah ketika ia dipaksa mendonorkan ginjalnya untuk menyelamatkan Dylan Jiang, pewaris keluarga yang berkuasa.
Mengetahui pengorbanan itu, Dylan membawa Viona pergi dari keluarga Jiang. Namun alih-alih mendapatkan kebebasan, Viona justru terjebak dalam perhatian dan obsesi Dylan yang semakin sulit ia hindari.
Ketika seorang pria bertekad menjadikan dirinya miliknya selamanya, masih bisakah Viona menemukan jalan untuk bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Malam hari.
Sebuah hotel bintang lima di pusat kota.
Deretan mobil mewah memenuhi halaman depan. Para tamu berdatangan mengenakan gaun dan jas terbaik mereka.
Mobil hitam milik Dylan perlahan berhenti di depan pintu utama.
Seorang petugas segera membukakan pintu.
Dylan turun lebih dulu.
Beberapa wartawan yang berjaga langsung mengenalinya.
"Itu Tuan Dylan Jiang!"
"Presiden Direktur baru Jiang Group!"
Kilat kamera langsung memenuhi area pintu masuk.
Dylan tidak memedulikan mereka.
Ia berbalik ke arah mobil, lalu mengulurkan tangannya.
Viona perlahan turun sambil menerima uluran tangan Dylan.
Begitu melihat Viona, semua orang terdiam.
Gaun biru muda yang dikenakannya terlihat sederhana, tetapi justru membuat kecantikannya semakin menonjol.
"Siapa wanita itu?"
"Belum pernah kulihat sebelumnya."
"Jangan-jangan tunangan Tuan Jiang?"
Bisik-bisik para tamu mulai terdengar.
Dylan menggenggam tangan Viona dengan tenang.
Begitu memasuki aula pesta, seluruh tatapan langsung tertuju kepada mereka.
Beberapa pengusaha senior segera menghampiri Dylan.
"Selamat, Presiden Jiang. Kami mendengar Anda berhasil mengambil alih Jiang Group."
"Selamat atas jabatan barunya."
Dylan mengangguk singkat.
"Terima kasih."
Salah seorang pengusaha kemudian menatap Viona dengan penasaran.
"Presiden Jiang, bolehkah kami tahu siapa nona cantik ini?"
Dylan menoleh ke arah Viona sejenak.
"Pendampingku."
Jawaban singkat itu langsung membuat beberapa wanita yang diam-diam mengagumi Dylan saling berpandangan.
Di sudut aula, beberapa putri pengusaha juga memperhatikan Viona dengan tatapan iri.
"Dia hanya pendamping, kenapa Presiden Jiang membawanya ke acara sepenting ini?"
"Tidak mungkin hanya pendamping biasa."
Saat itu juga, seorang pria muda berjalan menghampiri.
"Presiden Jiang, selamat atas pencapaian Anda."
Dylan mengangguk tipis.
Namun, tatapan pria itu perlahan beralih kepada Viona.
"Nona, senang berkenalan. Nama saya Kevin."
Sebelum Viona sempat bereaksi, Dylan langsung melangkah setengah langkah ke depan, menutupi Viona dengan tubuhnya.
"Kalau ada urusan, bicara denganku."
Kevin tersenyum canggung.
"Aku hanya ingin berkenalan dengan Nona."
"Tidak perlu."
Jawaban Dylan membuat suasana mendadak hening.
Jay yang berdiri tidak jauh dari sana hanya menghela napas pelan.
"Baru lima menit masuk ke aula, sudah ada yang mencoba mendekati Nona Lin. Sepertinya malam ini Tuan tidak akan membiarkan satu pria pun berbicara terlalu lama dengannya," batinnya.
Kevin akhirnya pamit dan berjalan meninggalkan mereka.
Dylan mengalihkan pandangannya kepada Viona.
"Aku akan berbicara dengan beberapa klien. Kau tunggu di sini. Kalau lapar, makanlah camilan dan minum jus. Jangan minum alkohol, dan jangan makan makanan yang terlalu manis. Mengerti?"
"Iya," jawab Viona.
Melihat Dylan mulai melangkah pergi, Viona hendak menuju meja hidangan.
Namun, baru beberapa langkah, Dylan tiba-tiba meraih pergelangan tangannya.
Viona menoleh.
"Ada apa, Tuan Muda?"
Dylan menatap sekeliling aula lebih dulu, lalu kembali menatap Viona.
"Tetap di sini. Jangan pergi terlalu jauh dariku."
"Iya, aku mengerti."
Dylan baru melepaskan genggaman tangannya setelah mendengar jawaban itu.
Ia kemudian berjalan menghampiri beberapa pengusaha yang telah menunggunya.
Sementara itu, Viona berdiri di dekat meja hidangan. Ia mengambil segelas jus jeruk dan beberapa potong buah, lalu memandang ke arah Dylan yang sedang berbincang dengan para klien.
Meski dikelilingi banyak orang penting, sesekali Dylan masih melirik ke arah Viona, memastikan gadis itu tetap berada di tempat yang bisa ia lihat.
Jay yang berdiri tidak jauh dari mereka hanya tersenyum kecil.
"Tuan benar-benar tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari Nona Lin," batinnya. "Bahkan saat sedang membahas kerja sama bisnis, yang paling ia khawatirkan justru apakah Nona Lin masih berada dalam pandangannya."
Dylan masih berbincang dengan beberapa klien.
Sementara itu, Viona berdiri tidak jauh darinya sambil memegang segelas jus.
Tiba-tiba...
Brak!
Suara keras terdengar dari arah belakang aula.
Bersamaan dengan itu, seluruh lampu di ballroom mendadak padam.
"Ah!"
Beberapa tamu wanita menjerit kaget.
Suasana langsung menjadi ricuh.
Petugas keamanan segera mengeluarkan senter dan berusaha menenangkan para tamu.
Tidak sampai sepuluh detik kemudian...
Lampu kembali menyala.
Dylan langsung menoleh ke tempat Viona berdiri.
Tatapannya seketika membeku.
"Viona?"
Tempat itu sudah kosong.
Wajah Dylan berubah dingin.
Ia menyapu seluruh aula dengan pandangan tajam.
"Jay!"
Jay berlari menghampiri.
"Tuan!"
"Cari Viona! Tutup semua pintu keluar hotel. Tidak ada satu orang pun yang boleh pergi tanpa izinku!"
"Baik, Tuan!"
Puluhan pengawal segera berpencar ke seluruh penjuru hotel.
Beberapa petugas keamanan hotel juga langsung menutup seluruh akses keluar.
Dylan berjalan cepat menuju tempat Viona tadi berdiri.
Di atas lantai, ia melihat segelas jus yang telah pecah dan beberapa tetes cairan masih membasahi lantai.
Tatapannya semakin tajam.
Salah seorang pelayan yang berada di dekat sana tampak gemetar.
"P-Presiden Jiang..."
Dylan menoleh.
"Katakan!"
"Saat lampu padam... saya seperti melihat dua pria berpakaian hitam menyeret seorang wanita ke arah lorong servis belakang."
"Kenapa tidak kau hentikan?"
"Semuanya gelap, Presiden Jiang. Saya tidak sempat melihat wajah mereka."
Dylan mengepalkan kedua tangannya.
"Jay!"
"Tuan!"
"Bawa seluruh rekaman CCTV hotel kepadaku. Periksa setiap sudut, termasuk lorong servis, dapur, area parkir, dan pintu keluar belakang."
"Baik, Tuan!"
Jay segera berlari menuju ruang keamanan.
Tak lama kemudian, salah seorang pengawal datang tergesa-gesa.
"Tuan, kami menemukan ponsel Nona Lin."
Pengawal itu menyerahkan ponsel Viona yang ditemukan di lorong menuju area servis.
Tatapan Dylan semakin dingin saat melihat layar ponsel yang retak.
Ia menggenggam ponsel itu erat.
"Berani sekali..."
Suaranya terdengar begitu pelan, tetapi dipenuhi amarah.
"Siapa pun yang membawa Viona... aku akan membuatnya menyesal seumur hidup!"