Lin Ye terbatuk memuntahkan darah hitam dan terbangun di tanah pemakaman Sekte Pedang Surgawi.
Dantiannya telah hancur lebur, menjadikannya tumpukan sampah yang selalu dihina oleh para kultivator lain.
Angin malam yang dingin berhembus membawa aroma dupa busuk dan aura kematian yang sangat pekat di sekitarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Lin Ye segera mengaktifkan Langkah Hantu Bayangan, membiarkan tubuh fisiknya memudar dan menyatu dengan bayang-bayang pepohonan bambu yang masih tersisa.
Ia bergerak mundur menjauhi pusat pelataran luar dengan kecepatan tinggi, menyusuri rute-rute tersembunyi yang dulunya sering dilewati oleh pemilik tubuh asli saat dihukum.
Hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit, Lin Ye telah berhasil keluar dari area Formasi Pelindung Seribu Pedang melalui sebuah terowongan air bawah tanah yang tidak dijaga.
Tepat beberapa detik setelah Lin Ye menghilang dari wilayah tersebut, sosok Tetua Agung Chu Zhen mendarat dengan suara dentuman dahsyat di tengah hutan bambu hitam.
Dampak pendaratan Chu Zhen menciptakan kawah raksasa yang langsung menghempaskan mayat-mayat Pasukan Eksekutor ke udara.
Mata pria tua itu menyapu seluruh area yang dipenuhi oleh darah, daging yang terkoyak, dan pedang-pedang kebanggaan sekte yang patah menjadi dua.
Ketika tatapannya jatuh pada tumpukan mumi kering yang kehilangan jiwanya, jantung Chu Zhen seolah berhenti berdetak sesaat.
Ia melangkah gontai mendekati sesosok mumi yang tergeletak mengenakan jubah sutra ulat es spiritual yang sangat ia kenali.
Wajah keriput dari mumi tersebut memancarkan ekspresi penderitaan dan ketakutan absolut yang membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa mual.
Chu Zhen jatuh berlutut di tanah berlumpur, kedua tangannya gemetar saat ia memeluk tubuh kering cucu kesayangannya yang kini seringan tumpukan jerami kering.
"Yan'er... cucuku yang malang... iblis biadab mana yang melakukan kekejaman ini kepadamu?!" isak Chu Zhen dengan air mata darah yang menetes ke atas tanah.
Ia bisa merasakan bahwa tidak hanya esensi kehidupan fisik cucunya yang disedot habis, tetapi bahkan jiwanya pun telah ditarik keluar dan tidak dibiarkan bereinkarnasi.
Ini adalah bentuk penyiksaan paling kejam dan tabu di seluruh dunia kultivasi, sebuah dendam yang tidak akan pernah bisa dihapuskan.
Pandangan Chu Zhen perlahan beralih ke arah batang bambu raksasa yang masih berdiri tegak tak jauh dari kawah tersebut.
Tulisan darah yang mengeja nama cucunya terpampang jelas seolah sedang menertawakan ketidakberdayaan sang Tetua Agung di wilayahnya sendiri.
"Siapa pun kau... di mana pun kau bersembunyi... aku akan memburumu hingga ke ujung benua ini!" teriak Chu Zhen sambil meninju tanah dengan kekuatan penuh.
Sisa-sisa energi spiritualnya meratakan sisa hutan bambu itu menjadi tanah lapang dalam radius satu mil dari tempatnya berada.
Jauh di luar jangkauan amukan tersebut, Lin Ye berjalan dengan tenang menyusuri lereng bukit berbatu yang tertutup oleh pepohonan rimbun.
Ia telah menemukan sebuah gua alami yang sangat tersembunyi di balik semak berduri, tempat yang sempurna untuk bersembunyi dan mengonsolidasikan kekuatannya.
Lin Ye melangkah masuk ke dalam gua yang lembab dan gelap itu, lalu memanggil bebatuan besar dari luar untuk menutupi mulut gua sepenuhnya.
Ia duduk bersila di atas lantai batu yang dingin dan memejamkan matanya, membiarkan kesadarannya tenggelam ke dalam sistem.
Layar panel biru transparan langsung terbuka di dalam benaknya, menampilkan deretan status terbaru yang sangat memuaskan untuk dilihat.
"Status Inang: Lin Ye."
"Tingkat Kultivasi: Puncak Tahap Ketujuh Alam Pengumpulan Qi."
"Metode Kultivasi: Seni Pengendali Hantu Purba (Level Menengah)."
"Seni Bela Diri: Langkah Hantu Bayangan (Tingkat Sempurna)."
"Bawahan Jiwa: Jenderal Wu An (Puncak Alam Pembentukan Inti), 15 Jiwa Penasaran Tingkat Menengah."
"Inventaris: Plakat Identitas Keluarga Chu, Botol Penampung Jiwa (Berisi Jiwa Chu Yan), Puluhan Ribu Batu Spiritual Rendah."
Lin Ye tersenyum tipis melihat betapa cepat kekuatannya berkembang hanya dalam kurun waktu satu hari satu malam sejak ia bangkit dari Jurang Kematian.
Namun ia tahu bahwa perjalanannya menuju puncak keabadian baru saja melewati langkah pertamanya.
Ia memusatkan pikirannya dan memberikan perintah kepada sistem untuk membuka Botol Penampung Jiwa di dalam ruang kesadarannya.
Seketika itu juga, sebuah penjara ilusi yang dikelilingi oleh api hitam menyala terbentuk di dalam benaknya.
Di tengah penjara api hitam itu, bola jiwa milik Chu Yan sedang menjerit histeris saat api kematian terus menerus membakar esensi kesadarannya.
Wujud ilusi Lin Ye melangkah masuk ke dalam penjara tersebut dengan tangan terlipat di belakang punggung, menatap jiwa Chu Yan yang tersiksa.
"Selamat datang di istana pribadimu yang baru, Tuan Muda Chu," sapa Lin Ye dengan nada yang sangat ramah namun mematikan.
Jiwa Chu Yan yang berwujud setengah transparan menatap Lin Ye dengan ketakutan yang telah meresap hingga ke inti eksistensinya.
"Lin Ye! Lepaskan aku! Kakekku pasti sedang mencarimu dan ia akan mencabik-cabik tubuhmu hidup-hidup!" ancam Chu Yan dengan suara yang lemah dan gemetar.
Bahkan dalam kondisi sudah mati dan menjadi tawanan jiwa, kesombongan keluarga Chu masih mencoba meronta di dalam kesadaran pemuda malang ini.
Lin Ye hanya menggelengkan kepalanya pelan seolah sedang melihat anak kecil yang sedang merajuk karena mainannya direbut.
Ia menjentikkan jarinya, dan intensitas api hitam yang membakar jiwa Chu Yan seketika meningkat dua kali lipat.
Raungan kesakitan yang sangat melengking kembali menggema di dalam ruang kesadaran Lin Ye, membuat jiwa Chu Yan menyusut dan semakin memudar.
"Kau sepertinya masih belum menyadari posisi rendahmu saat ini, Chu Yan," ucap Lin Ye sambil berjongkok menatap mata jiwa tersebut.
"Nyawamu, kesadaranmu, dan penderitaanmu sepenuhnya berada di bawah kendali mutlakku untuk selamanya."
Lin Ye membiarkan jiwa itu terbakar selama beberapa menit hingga Chu Yan tidak sanggup lagi mengeluarkan kata-kata ancaman dan hanya bisa menangis memohon ampun.
"A-apa yang kau inginkan dariku?! A-aku akan memberikan segalanya! Tolong hentikan api ini!" ratap jiwa Chu Yan dengan sangat menyedihkan.
Lin Ye tersenyum dingin dan sedikit menurunkan intensitas api hitam tersebut agar jiwa Chu Yan bisa berbicara dengan sedikit lebih jelas.
"Aku membutuhkan informasi tentang tata letak pelataran dalam Sekte Pedang Surgawi, terutama letak ruang pusaka dan penjagaan formasi intinya."
"Serta segala rahasia gelap yang kakekmu sembunyikan dari mata dunia luar."
Jiwa Chu Yan ragu-ragu sejenak, ia tahu bahwa membocorkan rahasia sekte adalah pengkhianatan terbesar yang akan membuat leluhurnya menangis di alam baka.
Namun, saat Lin Ye kembali mengangkat jarinya yang memancarkan api hitam pekat, pertahanan mental Chu Yan langsung runtuh seketika.
"A-aku akan mengatakannya! Aku akan mengatakan semuanya!" jerit Chu Yan dengan sangat panik.
"Ruang pusaka utama terletak di bawah air terjun suci di Puncak Awan Emas, dijaga oleh dua tetua penjaga pusaka di tingkat akhir Alam Pembentukan Inti!"
"Namun ada sebuah tempat rahasia yang jauh lebih berharga dari ruang pusaka itu... tempat yang hanya diketahui oleh kakekku dan Pemimpin Sekte!"
Mendengar hal itu, mata Lin Ye sedikit menyipit dan rasa ketertarikannya langsung terpancing oleh kalimat terakhir tersebut.
"Lanjutkan," perintah Lin Ye dengan nada ancaman yang membuat jiwa Chu Yan bergetar.
"Tempat itu disebut Kolam Darah Spiritual Purba... letaknya berada jauh di dasar kawah gunung berapi mati di belakang Puncak Awan Emas."
"Kakekku menggunakan kolam darah itu untuk... untuk bereksperimen dengan garis keturunan para murid berbakat dari luar sekte demi memperpanjang umurnya sendiri!"
Sebuah fakta kotor yang sangat menjijikkan akhirnya terungkap dari mulut sang cucu kesayangan, menelanjangi kemunafikan aliran lurus yang mereka banggakan.
Pantas saja Tetua Agung memiliki kultivasi di puncak Alam Inti Emas meskipun usianya sudah sangat tua, ia diam-diam memakan esensi kehidupan murid-murid berbakat.
Lin Ye tertawa pelan mendengar ironi yang sangat lucu ini, di mana mereka menyebut dirinya sebagai iblis, padahal mereka sendiri melakukan hal yang sama di balik tirai suci.
"Kolam Darah Spiritual Purba... tempat yang sangat sempurna untuk membantu kultivasiku menembus Alam Pembentukan Inti," batin Lin Ye dengan mata yang berkilat tajam.
Sistem langsung merespons informasi berharga ini dengan memunculkan notifikasi misi baru yang memancarkan cahaya keemasan terang.
"Misi Pembalasan Dendam Tahap Kedua Diaktifkan: Runtuhkan fondasi kemunafikan Sekte Pedang Surgawi."
"Target: Infiltrasi Puncak Awan Emas, temukan Kolam Darah Spiritual Purba, dan serap seluruh energinya hingga mengering."
"Hadiah Misi Ekstra: Pembentukan Inti Yin Sempurna dan Pemanggilan Jenderal Bayangan Kedua."
Lin Ye bangkit berdiri dan menatap jiwa Chu Yan dengan tatapan yang seolah sudah kehilangan seluruh minatnya.
"Kau sudah memberikan kontribusi yang cukup baik, sekarang nikmatilah keabadianmu di dalam nyala api ini."
Lin Ye langsung membalikkan tubuhnya dan melangkah keluar dari ruang kesadaran, sama sekali mengabaikan jeritan putus asa Chu Yan yang meminta dibebaskan.
Di dalam gua yang sunyi, Lin Ye membuka matanya perlahan dan menatap dinding batu yang gelap gulita.
Ia memiliki rencana baru yang sangat gila dan mematikan untuk menjatuhkan seluruh Sekte Pedang Surgawi langsung dari puncaknya.
Alih-alih menyerang dari luar seperti orang bodoh, ia akan menggunakan plakat giok identitas milik Chu Yan untuk menyusup ke jantung musuh.
Malam ini, bayangan kematian akan mendaki Puncak Awan Emas tanpa disadari oleh satu pun penjaga sekte.
Waktu kehancuran dari aliran lurus palsu ini telah ditetapkan, dan Lin Ye akan menjadi sang algojo yang memenggal kepalanya.