NovelToon NovelToon
Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Nikahkontrak / Tamat
Popularitas:8.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Stivani

Arsen Winston, seorang lelaki berhati beku, menyimpan sisi kelam di balik ketampanan yang memukau. Ia bagaikan musim dingin yang mematikan bunga—dingin, keras, dan tanpa belas kasih. Pernikahan yang menjeratnya bukanlah pilihan hati, melainkan takdir yang mengikat dengan rantai yang tak terlihat.

Amey Agatha, gadis berparas jelita dengan jiwa secerah mentari pagi, tidak pernah menyangka bahwa lelaki yang kini menjadi pendamping hidupnya bukanlah sosok penuh kasih yang ia bayangkan. Di balik senyum Arsen yang memikat, tersembunyi tabiat yang tajam dan menyakitkan, seperti duri yang melukai tanpa terlihat.

Takdir kejam menyingkap rahasia yang tak terduga—calon suami yang ia nantikan telah tiada, digantikan oleh sosok kembar bernama Arsen. Maka, Amey harus belajar menerima kenyataan pahit, berjalan di sisi seorang pria yang wajahnya serupa, tetapi jiwanya asing dan menakutkan.
.
.
©Copyright by Stivani, Agustus 2020

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stivani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidak Menyadari

Pagi itu Amey terbangun dan mendapati tubuhnya berada di atas ranjang. Seingat wanita itu, ia sedang duduk di sofa menunggu kedatangan Arsen. Saking lama menunggu ia pun terlelap di sofa.

"Perasaan aku ketiduran di sofa." merapikan rambut yang terlihat berantakan. "Ahh mungkin aku berjalan ke tempat tidur tanpa disadari." gumam Amey.

Ia menatap seluruh ruangan itu, sosok Arsen muncul dari walk in closet. Ia terlihat rapi, bersih dan tentunya sangat tampan dan memukau. Dengan sepintas Arsen memandangi Amey yang terlihat kikuk di atas ranjang.

"Jam berapa kau pulang?" tanya Amey.

"Bukan urusanmu."

"Tentu saja menjadi urusanku."

"Jangan ikut campur urusanku. Urusi urusanmu sendiri." tutur Arsen dingin.

"Urusanku denganmu belum akan berakhir sebelum kita resmi bercerai." ucap Amey mendekati Arsen.

Seketika wajah Arsen berubah saat Amey mengucapkan kata cerai. Entah mengapa emosinya kembali naik. Arsen tidak menggubris dan melanjutkan aktivitasnya mengatur kemeja yang ia kenakan.

"Kapan kau akan menceraikanku?"

Arsen berdiam.

"Masalah media sudah selesai, dan sekarang giliran kau membuktikan ucapanmu." Amey mengingat ucapan kasar yang keluar dari mulut Arsen saat mereka bertengkar habis-habisan sebelum mengadakan konferensi pers.

"Baiklah. Mari kita urus perceraian sekarang juga." tutur Arsen menaikan nada.

Pria itu merasa harga dirinya anjlok saat ia seakan tidak mampu membuktikan ucapannya. Maka dari itu dengan emosi ia mengatakan untuk mengatur perceraian hari itu juga.

"Akan aku urus semunya. Aku pastikan hari ini kita bercerai." tutur Arsen membalikan badan menatap Amey.

Amey berdehem saat Arsen menatap wajahnya. Dengan segera Amey menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Jangan memandangiku seperti itu. Wajahku terlihat burik saat baru bangun tidur." lirih Amey merasa malu.

Di ujung bibir Arsen terbentuk senyuman tipis. Ia mendekatkan wajahnya di depan wajah Amey. Perilaku pria itu membuat Amey reflek memundurkan langkahnya ke belakang.

"Memang kenyataannya kau jelek. Meski sudah berdandan." ujar Arsen menyeringai.

Amey menurunkan tangannya. Ia mentap Arsen dan memutar bola matanya dengan malas. Cihh jelek-jelek gini tapi banyak yang ngantri. Awas saja kalau kau jatuh cinta padaku.

Drt ... drt ... drt ...

Arsen mengambil gawainya dalam saku celana yang ia kenakan. Ia segera menjawab telepon dari Michael.

(Percakapan di telepon)

"Halo Pa?"

"Arsen anakku, Papa sudah menonton klarifikasimu bersama Amey. Sungguh Papa dan Mama sangat senang karena kau dan Amey sudah saling mencintai."

Sengaja Amey tidak bergeming dari posisinya dan ia mendengar apa yang dibicarakan Arsen dan Michael.

"Pa, sebenarnya ..."

"Ars, besok Papa dan Mama akan kembali ke Jakarta untuk mengunjungi makam Arka. Tapi setelahnya Papa dan Mama akan kembali lagi ke New York."

Arsen mengurungkan niatnya saat Michael memotong ucapannya. Ia juga tidak tegah melukai perasaan kedua orangtuanya dengan mengatakan bahwa ia dan Amey akan bercerai hari itu juga.

"Baiklah Pa."

"Ohya Papa ada kabar gembira untukmu."

"Apa itu?"

"Papa berencana akan memindahkan perusahaan induk WS Group di Jakarta. Papa ingin kau yang menanganinya Ars. Kau tahu Papa sudah semakin tua, jadi kemampuan Papa sudah terkikis dengan usia. Untuk itu Papa serahkan semuanya padamu. Ohya satu lagi, segeralah membuat keturunan untuk menjadi ahli waris keluarga Winston." Terdengar kekehan Michael dan Helen dari balik telepon.

Amey dan Arsen yang mendengar itu menelan saliva dengan serentak. Mereka berdua beradu pandang dengan tatapan penuh tanda tanya.

"Pa, ada yang ingin aku katakan."

Amey menggeleng kepalanya mengisyaratkan Arsen untuk jangan dulu mengatakannya. Jangan katakan sekarang. Ini waktu yang tidak tepat. ucap Amey dalam hati.

"Ada apa Ars?"

"Hmm, apa kalian baik-baik saja di sana?" tutur Arsen mengalihkan pembicaraan.

"Tentu saja Ars. Berkat kau dan Amey, sehingga Papa dan Mama di sini dalam keadaan yang sangat baik. Meski Papa dan Mama masih bergumul atas meninggalnya adikmu, tapi saat mengetahui kau dan Amey saling mencintai maka kami sangat bahagia. Berjanjilah pada kami bahwa kau akan selalu mencintai dan menyayangi Amey."

Deg!

Amey dan Arsen sama-sama terbelalak. Bibir Arsen serasa terkunci sangat rapat. Ia kembali memikirkan harga dirinya di depan Amey, namun di sisi lain ia tidak ingin menyakiti perasaan kedua orangtuanya.

Amey mengangkat bahunya. Ia menatap Arsen seraya mengerutkan keningnya. "Jangan terlalu lama berdiam," bisik Amey.

"Ars? Kau mendengar suara Papa?"

"Ahh, iya Pa. Aku mendengarnya."

"Berjanjilah."

"Aku ..." menatap Amey dan dibalas tatapan kaku oleh Amey. "Aku berjanji." lirih Arsen.

"Trima kasih Nak. Papa percayakan semuanya padamu. Sampai nanti."

tut ... tut ... tut

Sambungan telepon putus. Arsen membuang napasnya legah begitu juga dengan Amey.

"Kau mendengarnya bukan?"

"Apa?"

"Aku ingin sekali bercerai denganmu, tapi Papa dan Mama menyuruhku berjanji. Kau tahu aku adalah tipe orang yang tidak bisa mengingkari janji yang telah aku ucapkan."

"Lantas? Apa kita tidak jadi bercerai?"

"Mungkin nanti," ucap Arsen sembari melangkahkan kakinya meninggalkan Amey yang masih terpaku dalam posisinya.

Hati Arsen sedikit legah. Ia merasa senang saat mengatakan itu pada Amey. Ia tidak sadar jika dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia tidak ingin melepaskan Amey.

***

"Mark, kosongkan jadwal hari ini," tutur Arsen.

"Baik Tuan. Apa Anda memiliki urusan yang sangat penting hari ini?"

"Entahlah," ucap Arsen tersenyum kecil.

Mark menjadi bingung dengan bosnya itu. Tidak biasanya si pria gila kerja itu tiba-tiba mengosongkan jadwal hanya karena sebuah aktivitas yang tidak pasti.

"Mark."

"Iya Tuan?"

"Aku tahu ke mana kita harus pergi hari ini."

"Ke mana Tuan?"

"Hotel."

"Hotel? Untuk apa?"

Seketika Arsen berpikir. Benar yang dikatakan Mark, untuk apa ia ke sana? Dalam benak Arsen ia ingin menemui Amey. Namun ia tidak sadar dengan apa yang ia rasakan.

"Hem, hanya ingin mengecek karyawan."

Mark memasang raut bingung yang membuat Arsen menatapnya dengan tajam. Ia segera mencari alasan agar tidak membuat Mark curiga jika sebenarnya ia ingin melihat Amey.

"Apa Tuan ingin bertemu Nyonya Amey?"

Arsen melonjak. Ia kaget dengan kesimpulan Mark. Ia kembali melemparkan tatapan dingin ke wajah Mark. "Dekatkan wajahmu," perintah Arsen.

Mark pun mendekat. "Ada apa Tuan?"

"Jika kau mengucapkan hal yang omong kosong lagi, maka aku akan mengukir lukisan indah di wajahmu yang pas-pasan itu!" ketus Arsen jengkel.

Mark terperanjat. "Hal omong kosong apa yang aku ucapkan? Kenapa Tuan sangat marah?" gumam Mark.

"Jangan menguji kesabaranku, Mark!"

"Ba-baik Tuan."

Apa jangan-jangan Tuan mulai menyukai Nonya Amey? Ahhh tidak mungkin. Tapi? Terserahlah. Yang penting aku tidak ingin kena tonjokkan pria labil ini.

***

Semua mata tertuju pada kedua pria yang berjalan menyusuri hotel. Mereka semua menunduk hormat saat melihat Presdir WS Group mengunjungi Paradise Hotel. Karyawan maupun tamu sangat mendambakan Arsen setelah kepergian Arka.

Kini Arsen menjadi pujaan hati para wanita muda maupun tua. Ia berjalan dengan langkah yang sangat berwibawa sehingga memancarkan karisma. Aura dingin yang mengelilinginya membawa kesejukan di setiap wanita yang memandanginya.

Sayangnya mereka tidak bisa lagi menggoda pria itu, karena ia telah menjadi milik wanita cantik yang menjabat sebagai Manajer Umum Hotel Paradise. Rasa iri tentu menggerogoti hati mereka, namun mau bagaimana lagi, yang mereka tahu jika pasutri itu saling mencintai.

To be continued ...

LIKE, KOMEN, VOTE, RATE 😘

(Btw, rate novel ini menurun guys 😩 bantu naikin yaaa readersss kesayangannya aquhhh❤️❤️)

1
jumirah slavina
meninggoy 😱
N@MIK♡
Luar biasa
Mikes Amalia
lanjutin cerita anak anak arsen kaaa
Rohimatul Amanah
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Rohimatul Amanah
Luar biasa
♊Gemini06
Lumayan
ros
Luar biasa
ros
Lumayan
Ayu Ade Yulianita
Luar biasa
milie
Bu
Puspita Sari
ngakak aseli.....tokoh arsen yg katanya dingin kejam di pikiran gw udh ilang skrg yg ada arsen yg konyol 😂😂😂
Septina Ulandari
Luar biasa
Pudji Widy
keluarga Winston kan kg berduka Arka meninggal baru siang tadi kok bisa2 ngadain pesta pernikahan..apagi nginep di hotel...???
Triiyyaazz Ajuach
ada nata de coconya 😄😄😄 emangnya es kelapa muda
keke global
maksudnya implan yaa hehehehe
SeoulganicId
oalah olin bisa bisanya gue pikir si elis😭
Lasman Silalahi
kok alurnya jadi rancu
Nuroden Lina
ceritanya best banget..suka banget dengan watak tuan arogan arsen
Mesri Simarmata
dugaan ku bener, gadis bule itu Eggi karena sdh di kasih klue di episode sebelumnya klo Eggi jg pasti punya peran dlm cerita novel ini
Mesri Simarmata
keren seru banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!