"Jangan menggodaku, Rania.” Radit mundur satu langkah, tapi Rania justru mendekat. Tangannya menyentuh dada pria itu, perlahan turun sambil tersenyum nakal. “Kamu yang datang sendiri malam-malam begini,” bisiknya.
Lalu bibirnya menempel di leher Radit, menggigit pelan, meninggalkan jejak merah. “Anggap aja… ucapan selamat datang, dari Mbak janda muda.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raey Luma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekacauan
"Radit, bisa enggak kamu turunin tingkat kepedean kamu?"
"Enggak. Aku udah perfect. Apa yang harus aku turunin?"
Rania tak habis pikir. 28 tahun hidup, baru kali ini bertemu dengan pria mapan namun narsisnya melebihi selebgram.
"Rania, tunggu sebentar. Aku harus angkat telpon. Jangan kemana-mana" perintah tuan narsis itu.
"Iya" singkatnya, tanpa bereaksi lebih lanjut.
Radit berangsur melangkah, menjauh dari Rania. Rania hanya menuruti perintahnya, takut jika sampai melanggar, Radit akan berbuat hal aneh lagi.
Waktu berlalu. Lima menit, sepuluh menit. Radit tak kunjung kembali.
"Dia ngobrol sama siapa, sampai selama itu? Biasanya–"
Gumamannya berhenti. Radit kembali.
"Bosen ya, nungguin aku?"
"Kalo tau, ngapain nyuruh nunggu"
"Kalau keberatan, kenapa kamu nurut?" balas Radit cepat, seakan tidak kehilangan kalimat untuk menjawab.
"Sekarang, mau apa lagi? Kamu udah bicarain semuanya kan? Kenapa aku masih harus ada di sini?"
Radit menggeleng, lalu mendekat untuk mencubit pipi Rania sekenanya. "Hadeh... Hadeh... Kamu ini masih enggak paham ya"
Ada sesuatu di kalimat Radit yang terasa janggal. Apa jangan jangan?
"Radit. Kamu masih waras kan?"
"Tentu. Kalau aku gila, perusahaan sebesar ini enggak akan bisa aku handle" ucapnya dengan santai.
"Jangan bilang, kamu ke sini mau nyuruh aku turutin kemauan kamu?"
Radit tertawa, nyaris seperti ledekan. "Itu kamu tau"
"Radit, kita masih di kantor. Lagian ini masih sore?! Apa kamu enggak mikirin itu?"
Radit menyandarkan punggung ke meja, menyilangkan tangan di dada. Senyumnya semakin lebar.
“Ya, aku mikirin. Makanya aku mau ngajak kamu makan siang. Daripada berdiri terus di sini, mending isi perut dulu.”
Rania mengerutkan kening. “Makan siang?”
“Kenapa? Keberatan?”
Rania mendecak, memutar tubuhnya sedikit menjauh. “Kamu tuh, ya…”
“Udah, yuk. Aku lapar.” Radit melirik jam tangannya, lalu kembali menatap Rania. “Aku tahu kamu udah siap nolak. Tapi sayangnya aku juga siap bujukin. Jadi hemat waktu, kita langsung jalan.”
Rania diam, menimbang. “Aku tuh males, Radit.”
Radit mengangkat satu alis. “Aku akan tetap pergi. Tapi lebih menyenangkan kalau kamu duduk di sebelahku.”
Rania menghela napas. “Oke. Tapi cuma makan. Enggak lebih.”
“Sip. Kamu yang nyetir, aku yang traktir,” candanya.
Mereka akhirnya berangkat, menembus siang kota yang hangat. Di sepanjang jalan, Radit tak berhenti melempar candaan kecil, tapi Rania tetap tenang, menjaga batas. Ia tak ingin memberi celah untuk pria itu bermain terlalu jauh.
Sampai akhirnya mereka tiba di sebuah restoran modern di rooftop gedung tinggi. Interiornya minimalis, penuh kaca, dan pemandangannya menghadap ke cakrawala kota. Tempat yang mewah, tapi tidak terlalu mencolok.
Mereka duduk di salah satu meja dekat jendela. Pelayan datang dan mencatat pesanan. Rania mulai sedikit nyaman, bahkan sempat tersenyum saat Radit melontarkan lelucon receh.
Namun semua berubah saat matanya menangkap satu sosok yang baru masuk ke area restoran.
Seseorang yang seharusnya tidak ada di sana.
Tubuhnya menegang. Matanya membelalak. Bibirnya tertahan di antara ucapan yang tak jadi keluar.
“Ran?” Radit memanggil, heran melihat ekspresinya.
Rania berdiri mendadak. Tanpa menjawab. Tanpa menoleh lagi.
Ia mengambil tas, berbalik, dan melangkah cepat ke arah pintu keluar.
“Rania!” Radit langsung berdiri, kaget. “Hei, kamu kenapa? Rania?!”
Tapi wanita itu tetap berlari tanpa menoleh ke arahnya.
Langkah Rania begitu tergesa. Pandangannya kabur oleh panik dan dorongan untuk segera pergi. Tapi malangnya, saat berbelok menuju pintu keluar, tubuhnya menabrak seorang pelayan yang tengah membawa baki penuh makanan dan minuman.
Brak!
Suara piring pecah, gelas tumpah, dan teriakan kecil langsung menggema.
Saus merah menyiram lantai marmer. Sup panas tercecer di sepatu seorang wanita paruh baya yang duduk di meja terdekat.
"Aduh! Ya ampun, ini apa sih?!" teriak si wanita sambil bangkit berdiri.
“Maaf! Saya—saya nggak sengaja—” Rania berusaha bicara, tapi suaranya tak kalah goyah dari tubuhnya.
Beberapa orang ikut menoleh. Sorot mata mereka tajam, mencibir, seperti menyalahkan Rania sepenuhnya.
Pelayan yang tertabrak panik, menunduk sambil memunguti sisa piring yang pecah. Sementara itu, si wanita paruh baya mulai marah-marah, membentak pelayan tanpa ampun.
“Ini restoran mahal, bukan tempat orang sembarangan lari-lari kayak dikejar setan! Mana manajernya?!”
Rania semakin gugup. Wajahnya pucat. Tapi ia tak sanggup menjelaskan apapun. Dengan napas terburu, ia membungkuk cepat dan berkata lirih, “Saya benar-benar minta maaf...”
Tapi tanpa menunggu jawaban, Rania langsung berbalik, menerobos pintu keluar. Udara luar menyambutnya dengan angin segar, namun itu tak cukup untuk menenangkan pikirannya.
Sementara di dalam, kekacauan belum reda.
Radit berdiri, menatap kejadian itu dengan rahang mengeras. Beberapa tamu mulai mengeluh. Si wanita tadi bahkan mengancam akan memanggil pengacara.
“Maaf atas ketidaknyamanannya,” ucap Radit cepat, lalu berjalan ke arah mereka.
Si wanita melotot. “Kamu siapa?! Manajer tempat ini?!”
“Ada yang lebih tinggi dari itu,” jawab Radit, tenang namun dingin. “Saya kolega pemilik restoran ini.”
Semua terdiam sejenak.
“Apa yang barusan terjadi di luar kendali saya, tapi saya pribadi akan bertanggung jawab. Semua hidangan di meja ini—gratis. Tagihannya saya yang tanggung. Dan tolong, jangan salahkan pelayan. Yang salah bukan dia.”
Ia menoleh ke pelayan muda yang masih membungkuk ketakutan, lalu menepuk pundaknya. “Kamu nggak apa-apa?”
Pelayan itu mengangguk gugup.
Radit menatap sekeliling. Semua mulai tenang, meski masih ada bisik-bisik tajam di sudut ruangan.
Setelah memastikan keadaan terkendali, Radit menatap pintu keluar tempat Rania menghilang.
Wajahnya mengeras. Matanya menyipit.
“Apa sebenarnya yang kamu lihat sampai segitu paniknya, Ran?” gumamnya dalam hati.
Tanpa buang waktu, Radit mengeluarkan ponsel, memeriksa lokasi terakhir Rania dari sistem pelacak yang pernah secara diam-diam ia aktifkan demi keamanan wanita itu.
Dan saat titik itu bergerak cepat menjauh dari restoran… Radit tahu, perempuan itu akan pulang ke kosannya, bukan ke kantor tempat ia bekerja.
Tanpa pikir panjang, Radit meraih dompetnya, membayar seluruh kerusakan, dan meminta maaf pada para tamu yang terganggu. Ia tahu ada yang salah, tapi belum bisa menebak pasti. Ada sesuatu dalam tatapan Rania sebelum kabur yang tidak biasa.
Beberapa menit setelah semua mereda, Radit berjalan cepat ke parkiran, lalu kembali mengeluarkan ponsel. Ia menghubungi seseorang, suaranya rendah tapi terdengar tegang.
Radit:
“Sorry, aku enggak bisa lanjutkan pertemuan hari ini."
“Kenapa? kamu takut?” balas lawan bicaranya.
"Enggak ada waktu menjelaskan. Aku akan atur ulang semuanya."
"Oke, aku maklumi kali ini."
Panggilan diakhiri. Radit berdiri di dekat mobilnya, sempat berniat menyusul diam-diam, mencari tahu kenapa perempuan itu begitu panik dan tiba-tiba pergi tanpa sepatah kata.
Ia membuka pintu mobil, menyalakan mesin, dan menyesuaikan kaca spion. Tapi baru beberapa detik melajukan kendaraan, ponselnya bergetar.
Nama yang tertera di layar membuat dadanya langsung berat.
Papa.
Radit menatap layar sesaat, lalu menepikan mobilnya dan mengangkat.
"Halo?"
"Kamu lupa waktu, Radit?" Suara berat di seberang langsung menyergap telinganya. "Kapan kamu penuhi syarat itu? Saham keluarga tidak bisa terus ditahan hanya karena kamu belum memenuhi satu janji konyol."
"Aku lagi berusaha." Radit menarik napas, menahan emosi. "Tapi ini bukan hal sepele. Aku enggak bisa asal tunjuk perempuan untuk–"
"Kamu tahu siapa pewaris setelah kamu. Kalau kamu main-main, semua bisa pindah ke tangannya. Itu maumu?"
"Bukan."
"Kalau bukan, buktikan. Minggu ini kamu harus tunjukkan rencana nyatamu. Bukan wacana kosong."
Panggilan terputus begitu saja. Radit mendesah keras, melempar ponselnya ke kursi penumpang.
"Brengsek," gumamnya pelan, tangan memukul kemudi.
Matanya refleks menatap kaca depan, namun pandangannya mulai mengabur karena pikirannya kacau. Antara mengejar Rania, atau menghentikan tekanan ayahnya yang tak pernah memberi pilihan selain tunduk pada perintah keluarga.
Ia menekan pedal gas terlalu dalam, mobil sempat melesat kencang sebelum tiba-tiba ia menginjak rem dengan keras saat hampir menabrak kendaraan lain di persimpangan.
Suara klakson bersahutan. Pengemudi lain memaki. Tapi Radit hanya diam, kedua tangannya mencengkeram kemudi dengan keras, napasnya berat, matanya tajam tapi kosong.
"Nikah, secepatnya... dan bukan dengan orang lain. Harus Rania."