Tiara Mo akan menghadiri kompetisi tinju tahunan, namun dalam perjalanan ia mengalami kecelakaan dengan truk tangki minyak , saat sadar ia sudah menempati tubuh permaisuri 200kg.
" APA APA INI ! APA PEMILIK TUBUH ASLI TIDAK BISA MENAHAN RASA LAPAR !" Pekik tiara mo kesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4 : Cemooh Koki
Sore itu, Lin Yue berlatih keras untuk menurunkan lemak di tubuh nya. Keringat membasahi hanfu yang ia kenakan.
Xiao Xiao juga nampak mendampingi Lin Yue.
Tak jauh dari sana, dari arah dapur paviliun, beberapa pelayan laki-laki berdiri sambil mengamati. Di antara mereka, kepala koki paviliun—pria bertubuh kurus dengan wajah licik—menyeringai. sang koki menyeletuk. " Percuma saja belio olahraga. masakan ku pasti akan menambah lemak nya." ujar nya setengah mengejek.
Tawa kecil menyusul dari dua pelayan lain.
Xiao Xiao mengepalkan tangannya, wajahnya memerah menahan marah. Ia ingin membalas, namun ragu dengan statusnya sebagai budak.
Lin Yue mendengar jelas.
Namun, alih-alih tersinggung, ia justru berhenti bergerak. Perlahan, ia menoleh ke arah dapur. Tatapannya tenang, namun dingin.
Ia menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan.
“Benarkah?” ucap Lin Yue pelan.
Suara itu tidak keras, namun cukup membuat halaman paviliun mendadak sunyi.
Ia menatap lurus ke arah sang koki.
“Kalau begitu, mulai besok aku ingin tahu… siapa yang memberiku makan terlalu banyak.”Senyum di wajah koki itu memudar seketika.
Lin Yue lalu berbalik, melanjutkan latihannya seolah tidak terjadi apa-apa. Namun langkahnya kini lebih mantap.
Bukan hanya lemak yang harus kusirnakan, Batinnya.
Orang-orang tak berguna ini juga.
***
Malam harinya, paviliun permaisuri diselimuti kesunyian.
Lampu-lampu minyak menyala redup, memantulkan cahaya kekuningan di dinding kayu berukir. Angin malam berembus pelan, membawa aroma bunga dan uap air hangat dari arah pemandian.
Lin Yue tengah berendam di kolam air panas khusus permaisuri.
Uap tipis mengepul di sekelilingnya. Rambutnya disanggul asal, beberapa helai basah menempel di pipi gembulnya. Tubuhnya terendam hingga sebatas dada, air hangat membuat otot-ototnya yang tegang sejak sore perlahan mengendur.
Ia menghela napas panjang.
“Setidaknya… tempat ini masih layak,” gumamnya lirih.
Tangannya menyentuh permukaan air, merasakan denyut jantung yang perlahan kembali normal. Di kehidupan lamanya, mandi setelah latihan berat adalah hal biasa. Namun kini, tubuh ini terlalu lamban, terlalu rapuh.
Tiba-tiba—
Pluk.
Suara kecil terdengar dari balik tirai bambu pembatas pemandian.
Lin Yue membeku.
Matanya menyipit, telinganya menangkap suara langkah halus di luar. Bukan langkah Xiao Xiao—terlalu ringan, terlalu hati-hati.
Ia menahan napas.
Uap air bergerak perlahan, dan di balik tirai, sebuah bayangan tampak samar. Tinggi, kurus, berdiri diam terlalu lama.
Siapa?
Lin Yue tidak bergerak. Ia menunduk sedikit, pura-pura masih berendam santai, namun pikirannya berlari cepat.
Ini bukan kebetulan.
Bayangan itu bergerak.
Sedikit.
Seperti seseorang yang sedang mengintai.
Jantung Lin Yue berdegup lebih cepat. Namun wajahnya tetap tenang. Tangannya perlahan meraih batu pijat yang terletak di tepi kolam—keras, berat, cukup untuk melukai jika diperlukan.
“Xiao Xiao?” panggilnya pelan, sengaja menaikkan suara sedikit.
Tak ada jawaban.
Bayangan di balik tirai berhenti.
Beberapa detik berlalu.
Lalu—
Langkah kaki mundur pelan.
Bayangan itu menghilang.
Lin Yue tetap diam cukup lama, hingga
uap air kembali menenangkan pandangannya. Baru setelah itu ia menghembuskan napas panjang.
Menarik, batinnya dingin.
Baru mulai bergerak, sudah ada yang tidak sabar.
Ia tersenyum tipis, nyaris tak terlihat.
“Sepertinya,” gumamnya pelan,
“aku benar-benar telah mengganggu seseorang.”Lin Yue bermonolog sendiri.
***
Mohon Dukungan untuk :
• Like
• Komen
• Subscribe
• Follow Penulis
Terimakasih banyak❤️
🧐