cerita yg sangat menarik untuk di baca sampai habis tentang cinta, perjuangan dan action terbaik dari anak bangsa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juventini indonesia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTEMPURAN DI UDARA
BAB 11
ZONA UDARA INTERNASIONAL – DI ATAS LAUT MERAH
Langit tampak tenang.
Terlalu tenang.
Pesawat kepresidenan Palestina melaju stabil di ketinggian jelajah. Lampu kabin redup, hanya suara dengung mesin yang konstan—ritme yang biasanya menenangkan, namun malam itu terasa menekan dada.
President Mahmoud Abbas duduk tenang, sabuk pengaman terpasang. Jenderal Mohamed Ghoul berdiri di lorong kabin dengan wajah waspada.
Tiba-tiba—
BEEP—BEEP—BEEP!
Alarm radar meraung nyaring.
Pilot refleks menoleh ke panel.
“Yang Mulia,” katanya tegang,
“ada penguncian radar dari arah barat.”
Kopilot menelan ludah.
“Bukan pesawat sipil… ini pesawat tempur.”
Ghoul langsung bergerak.
“Identifikasi?”
Pilot memucat.
“F-35… milik isriwil.”
Ruangan membeku.
President Abbas berdiri perlahan.
“Kita berada di zona udara internasional,” katanya tegas.
“Mereka tidak punya hak apa pun.”
Belum sempat ada respons—
Suara mekanis masuk ke radio, dingin dan tanpa emosi.
“Pesawat dengan identitas Palestina.
Anda memasuki wilayah operasi keamanan.
Segera ubah jalur penerbangan Anda.”
Ghoul mengepalkan tangan.
“Itu kebohongan,” gumamnya.
Alarm berbunyi lebih keras.
“Penguncian rudal terkonfirmasi!” teriak kopilot.
“Manuver menghindar!” perintah Ghoul.
Pesawat miring tajam.
Guncangan keras membuat beberapa penumpang berteriak.
WHOOSH!
Satu rudal melintas sangat dekat—cukup untuk membuat badan pesawat bergetar hebat.
Pilot berkeringat.
“Yang Mulia… mereka serius.”
Abbas menghela napas panjang.
Lalu berkata tenang—
“Hubungkan saya ke radio darurat internasional.”
RADIO DARURAT – PESAWAT KEPRESIDENAN
Frekuensi berganti.
Suara statis terdengar.
Abbas mendekat ke mikrofon.
“Di sini Mahmoud Abbas,
Presiden Negara Palestina.”
Semua orang di kabin terdiam.
“Pesawat kepresidenan kami
saat ini berada di zona udara internasional
dan sedang diserang oleh pesawat tempur isriwil.”
Pilot menatap ke belakang—cemas.
“Saya meminta bantuan dan perlindungan segera
kepada Tentara Nasional Indonesia
yang berada dalam jangkauan operasi.”
Detik berlalu.
Tidak ada jawaban.
Alarm kembali berbunyi.
Lalu—
KREKK—klik.
Suara baru masuk.
Tenang.
Tegas.
Beraksen Indonesia.
“Di sini TNI Angkatan Udara.
Pesan Anda kami terima.”
Beberapa staf menahan napas.
“Mohon konfirmasi:
apakah pesawat Anda berada di jalur sipil internasional
dan tidak membawa persenjataan ofensif?”
Abbas menjawab tanpa ragu.
“Benar.
Pesawat ini membawa kepala negara, staf sipil,
dan pengamanan standar.”
Suara Indonesia kembali terdengar.
“Baik, Yang Mulia.
Mohon tetap bertahan.”
Satu kalimat itu membuat seluruh kabin seperti mendapat napas baru.
LANGIT MEMANAS
Dua pesawat tempur isriwil kembali mendekat.
Radar kembali berbunyi.
Pilot berteriak,
“Mereka kembali mengunci!”
Jenderal Ghoul berdiri tepat di depan Abbas.
“Jika mereka menembak lagi—”
Abbas mengangkat tangan.
“Belum.”
Radio kembali hidup.
Kali ini suara Indonesia terdengar lebih keras.
“Pesawat tempur tak dikenal
yang mengunci target sipil
di zona udara internasional—
ini TNI Angkatan Udara.”
Nada berubah.
Tajam.
“Hentikan penguncian radar Anda sekarang.”
Suara lain masuk—dingin, arogan.
“Ini operasi keamanan regional kami.”
Jawaban Indonesia datang tanpa ragu.
“Ini pelanggaran hukum udara internasional.”
“Anda sedang berhadapan dengan negara ketiga.”
Di layar radar—
dua titik baru muncul.
F-16 TNI AU.
Posisi mengapit.
Pilot Palestina berbisik,
“Mereka datang…”
Jenderal Ghoul menahan napas.
“Ini peringatan terakhir,” suara Indonesia kembali terdengar.
“Lepaskan penguncian radar.”
Detik terasa membeku.
Alarm radar meraung seperti jeritan panjang.
Lampu merah di kokpit berkedip cepat.
Pilot pesawat kepresidenan Palestina menggenggam kemudi dengan tangan basah oleh keringat.
“Penguncian tetap aktif!” teriak kopilot.
“Dua pesawat tempur isriwil di belakang kita!”
President Mahmoud Abbas berdiri tegak di lorong kabin, tubuhnya sedikit oleng oleh manuver menghindar.
“Tenang,” katanya tegas.
“Jangan panik.”
Jenderal Mohamed Ghoul menatap layar radar.
“Mereka tidak ingin mengusir,” katanya dingin.
“Mereka ingin menghabisi.”
Tiba-tiba—
PERINGATAN KRITIS!
Pilot berteriak keras.
“Rudal ditembakkan!”
“MANUVER DARURAT!” teriak Ghoul.
Pesawat bermanuver tajam.
Namun—
DUARRR!!
Ledakan keras mengguncang badan pesawat.
Kabin bergetar hebat.
Lampu mati sejenak.
Jeritan terdengar dari belakang.
Kopilot berteriak panik,
“Tangki bahan bakar sayap kanan kena tembak!”
Pilot memucat.
“Kita bocor! Bahan bakar menurun cepat!”
Asap tipis masuk ke kabin.
Salah satu pengawal hampir terjatuh.
President Abbas memegang sandaran kursi—wajahnya tetap tenang, tapi matanya tajam.
“Mereka menembak pesawat kepala negara,” katanya pelan.
“Di zona udara internasional.”
Ghoul mengangkat radio.
“Kirim sinyal darurat ulang! SekARANG!”
RADIO DARURAT – TERBUKA
Suara Abbas kembali memenuhi gelombang udara.
“Di sini Presiden Palestina.
Pesawat kami diserang langsung.
Tangki bahan bakar terkena tembakan.”
Nada suaranya tidak meninggi.
Namun bobotnya menghantam siapa pun yang mendengar.
“Kami meminta bantuan segera
kepada Tentara Nasional Indonesia.”
Detik terasa sangat panjang.
Lalu—
suara itu datang.
Lebih keras.
Lebih dekat.
“Di sini TNI Angkatan Udara.”
Pilot Palestina hampir menangis lega.
“Kami mengunci target musuh.”
Jenderal Ghoul mengepalkan tangan.
“Mereka datang…”
LANGIT BERUBAH MERAH
Dua pesawat tempur TNI AU menerobos awan.
Kecepatan tinggi.
Formasi menyerang.
Di kokpit F-16 TNI, suara pilot terdengar dingin dan fokus.
“Target satu dan dua teridentifikasi.”
“Pesawat tempur isriwil mengunci pesawat sipil.”
Komandan misi menjawab tegas,
“Otorisasi tempur diberikan.”
“Lindungi pesawat Palestina.”
Radar berbunyi nyaring.
Pilot isriwil yang berada di belakang pesawat Palestina tertawa sinis.
“Target sudah rusak. Satu tembakan lagi selesai.”
Ia mengunci ulang rudal.
Namun—
BEEP—BEEP—BEEP!
Wajahnya berubah.
“Apa—?!”
Kopilotnya berteriak,
“Kita dikunci balik!”
Terlambat.
“Rudal dilepas.”
WHOOSH!
Rudal TNI AU melesat dengan kecepatan membunuh.
DUARRRR!!!
Satu pesawat tempur isriwil MELEDAK DI UDARA.
Api membesar.
Serpihan logam beterbangan.
Pilot Palestina berteriak,
“Satu musuh hancur!”
Belum sempat bernapas—
pesawat isriwil kedua berusaha naik tajam.
Pilotnya panik.
“Mereka menyerang! Mereka benar-benar menyerang!”
Suara komandan isriwil terdengar kacau di radio mereka.
“Putar balik! Putar balik!”
Namun dua F-16 TNI sudah mengunci dari dua arah.
“Target kedua terkunci.”
“Bom udara dilepas.”
Langit seolah berhenti sesaat.
Lalu—
DUARRRR!!!
Ledakan kedua lebih besar.
Pesawat tempur isriwil TERBELAH DI UDARA, terbakar sebelum jatuh sebagai puing.
Langit kembali sunyi.
Asap hitam membumbung perlahan.
PESAWAT KEPRESIDENAN – DALAM KABIN
Alarm perlahan berhenti.
Pilot menurunkan kecepatan.
“Kita… selamat,” katanya terbata.
“Bahan bakar kritis, tapi stabil.”
Jenderal Ghoul menutup mata sesaat.
President Abbas duduk kembali.
Tangannya sedikit bergetar—bukan karena takut, tapi karena emosi yang tertahan.
Ia menekan radio.
“Indonesia…”
Suara di seberang menjawab.
“Pesawat Palestina aman.”
“Kami kawal sampai keluar zona bahaya.”
Abbas menarik napas panjang.
“Hari ini,” katanya lirih namun jelas,
“kalian tidak hanya menyelamatkan sebuah pesawat.”
“Kalian menyelamatkan martabat sebuah bangsa.”
Jawaban dari pilot TNI AU singkat.
“Kami prajurit.”
“Kami melindungi yang tidak bersenjata.”
Jenderal Ghoul menatap jendela.
Dua asap hitam masih terlihat jauh di belakang.
“Ini akan mengubah segalanya,” katanya.
Abbas mengangguk.
“Ya,” jawabnya pelan.
“Dan dunia tidak bisa lagi berpura-pura buta.”
Di bawah sana—
laut tetap tenang.
Namun di langit—
sejarah baru saja ditulis dengan api.
TANAH ASING, PERBURUAN DIMULAI**
UDARA ASIA TENGGARA – MALAM MENJELANG SUBUH
Pesawat kepresidenan Palestina terbang tertatih.
Lampu indikator bahan bakar berkedip merah.
Asap tipis masih tercium dari sayap kanan yang rusak.
Pilot menarik napas panjang.
“Yang Mulia,” katanya dengan suara berat,
“kita tidak akan sampai ke tujuan cadangan.”
Jenderal Mohamed Ghoul menatap panel navigasi.
“Pilihan terdekat?”
Kopilot menjawab cepat,
“Wilayah Myanmar.
Daerah hutan… dekat perkampungan sipil.”
President Mahmoud Abbas mengangguk tanpa ragu.
“Lebih baik turun di tanah asing,” katanya tenang,
“daripada jatuh di laut.”
Pesawat berguncang hebat.
Semua terdiam.
Hanya suara mesin yang meraung kesakitan.
“Bersiap untuk pendaratan darurat!” teriak pilot.
HUTAN MYANMAR – SUBUH BUTA
Roda pesawat menghantam tanah dengan keras.
BRUUUK—KRAAAAK!
Sayap kanan menyapu pepohonan.
Percikan api menyala.
Pesawat meluncur liar, menghantam semak dan batang pohon—
lalu berhenti mendadak.
Hening.
Beberapa detik yang terasa seperti keabadian.
Lalu—
“Api! Padamkan api!” teriak pengawal.
Pintu darurat dibuka.
Udara lembap hutan langsung menerpa.
President Abbas keluar terakhir.
Ia menatap sekeliling.
Hutan lebat.
Gelap.
Asing.
“Kita selamat,” kata Jenderal Ghoul pelan.
“Untuk sementara.”
Dari kejauhan, cahaya lampu minyak terlihat.
Suara manusia.
Perkampungan kecil.
PERKAMPUNGAN WARGA MYANMAR
Penduduk desa terbangun oleh suara benturan keras.
Beberapa pria membawa obor bambu.
Wajah-wajah cemas.
Bahasa mereka asing, tapi ketakutan universal.
Seorang tetua desa melangkah maju, gemetar.
“Kalian… siapa?”
Ghoul menurunkan senjata perlahan.
“Kami tidak datang untuk berperang,” katanya pelan.
“Kami butuh pertolongan.”
President Abbas melangkah ke depan.
Ia menangkupkan tangan, menunduk hormat.
“Kami penumpang yang jatuh,” katanya lembut.
“Kami mohon perlindungan.”
Tetua desa menatap matanya lama.
Lalu mengangguk.
“Ini tanah miskin,” katanya lirih.
“Tapi kami masih punya hati.”
Obor diturunkan.
Pintu rumah dibuka.
Malam itu—
kepala negara Palestina bersembunyi di rumah bambu sederhana.
Tanpa protokol.
Tanpa kemewahan.
Hanya tikar, air hangat, dan keheningan.
TEL AVIV – RUANG KOMANDO ISRIWIL
Layar besar menampilkan dua titik merah—hilang.
Seorang jenderal berdiri kaku.
Wajahnya merah oleh amarah.
Jenderal Okto.
“Katakan sekali lagi,” bentaknya.
Perwira intelijen menelan ludah.
“Dua pesawat… hancur di udara.”
Okto menghantam meja.
“Mustahil!”
“Itu… F-16 Indonesia,” lanjut perwira itu pelan.
Ruangan membeku.
Okto tertawa pendek—dingin.
“Putar fakta,” katanya tajam.
“Sekarang.”
KONFERENSI PERS ISRIWIL – PAGI HARI
Seorang juru bicara berdiri di podium.
Wajah tenang.
Nada suara dingin.
“Isriwil membantah keras tuduhan serangan terhadap pesawat kepresidenan Palestina.”
Kamera berkilat.
“Pesawat tersebut mengalami kegagalan teknis internal.”
“Tidak ada operasi militer kami di wilayah itu.”
Seorang wartawan berteriak,
“Lalu dua pesawat Anda yang hilang?”
Juru bicara tersenyum tipis.
“Latihan rutin.
Tidak ada kaitan.”
Di belakang layar—
Okto mematikan siaran.
“Bohong yang bagus,” gumamnya.
Lalu menoleh tajam.
“Sekarang… kita berburu.”
PERINTAH PEMBURUAN
Ruang gelap.
Peta Myanmar terpampang besar.
Okto menunjuk satu titik.
“Mereka mendarat di sini.”
Ia menatap para komandan.
“Kirim pasukan pemburu.”
“Tanpa seragam.”
“Tanpa identitas.”
“Tidak ada saksi.”
Seorang perwira bertanya hati-hati,
“Target utama?”
Okto tersenyum dingin.
“Mahmoud Abbas.”
Ia berhenti sejenak.
“Dan flash disc itu.”
Okto menekan tombol.
Angka di layar berubah.
$50.000.000
“Hadiah perburuan ditingkatkan,” katanya dingin.
“Hidup atau mati.”
Beberapa kepala mengangguk.
Dunia bawah tanah mendengar.
HUTAN MYANMAR – MALAM KEDUA
Angin malam berdesir.
President Abbas duduk bersila di rumah bambu.
Flash disc hitam tergenggam di tangannya.
“Bahkan di sini,” katanya pelan pada Ghoul,
“kita masih diburu.”
Ghoul mengangguk.
“Dan mereka akan datang.”
Abbas mengangkat wajah.
“Ke mana kita melangkah selanjutnya?”
Ghoul menarik napas panjang.
“Yerusalem Timur.”
Abbas tersenyum tipis.
“Perjalanan paling berbahaya.”
“Tapi paling bermakna.”
Di luar rumah—
bayangan bergerak di antara pepohonan.
Jauh.
Terlalu rapi untuk pemburu biasa.
Ghoul menyentuh gagang senjata.
“Yang Mulia,” katanya pelan,
“petualangan kita di Myanmar baru dimulai.”
Abbas menatap langit gelap tanpa bintang.
“Tidak,” jawabnya tenang.
“Perjuangan baru saja naik tingkat.”
Di hutan asing itu—
takdir Palestina, Indonesia, dan dunia
mulai berjalin lebih erat.
Dan para pemburu…
sudah mencium jejak.
HUTAN MYANMAR – MALAM TANPA BULAN
Hujan tipis turun di sela dedaunan lebat.
Rombongan kecil itu bergerak perlahan, menyusuri jalur tanah sempit yang hanya dikenal oleh penduduk lokal. Tidak ada cahaya lampu. Hanya obor kecil yang ditutup kain agar tidak terlihat dari udara.
Seorang pria paruh baya berjalan di depan.
Namanya U Aung Min.
Petani.
Pemburu madu hutan.
Dan malam itu—penyelamat.
“Lewat sini,” bisiknya pelan.
“Pasukan bersenjata jarang masuk. Tanahnya buruk.”
Jenderal Mohamed Ghoul mengangguk.
“Terima kasih,” katanya tulus.
President Mahmoud Abbas berjalan di tengah, mengenakan pakaian sederhana rakyat desa. Tidak ada tanda kepala negara. Hanya seorang lelaki tua yang kelelahan, tapi matanya tetap menyala.
“Kenapa kalian membantu kami?” tanya Abbas pelan pada U Aung Min.
Pria itu tersenyum tipis.
“Karena kami tahu rasanya diburu,” jawabnya.
“Dan rasanya ditinggalkan dunia.”
Di belakang rombongan, Sersan Malik berjalan sedikit terpisah.
Tangannya sering masuk ke saku.
Matanya tak pernah benar-benar menatap depan.
PENGKHIANAT DI DALAM BARISAN
Malam makin pekat.
Rombongan berhenti di sebuah pondok kosong di pinggir hutan.
“Kita istirahat satu jam,” kata Ghoul.
Sersan Malik melangkah menjauh.
Katanya ingin buang air.
Namun di balik semak—
ia menyalakan ponsel satelit kecil.
Tangannya gemetar.
Bukan karena takut.
Karena tergoda.
Di layar:
$50.000.000 USD – HIDUP ATAU MATI
Ia menelan ludah.
“Maafkan saya,” gumamnya pelan.
Lalu mengetik koordinat.
Mengirim.
Ke satu nama:
JENDERAL OKTO.
TEL AVIV – RUANG KOMANDO ISRIWIL
Lampu merah berkedip.
Seorang perwira mendekat cepat.
“Jenderal Okto,” katanya.
“Koordinat diterima. Sumber dari dalam.”
Okto tersenyum dingin.
“Bagus,” katanya.
“Siapkan pasukan pemburu.”
“Target bergerak menuju selatan Myanmar.”
Okto berdiri.
“Kali ini,” katanya pelan namun mengancam,
“tidak ada yang lolos.”
PONDOK HUTAN – KEESOKAN PAGI
President Abbas terbangun lebih awal.
Ia melihat Ghoul menatap peta dengan wajah tegang.
“Ada yang salah,” kata Ghoul.
“Jalur ini seharusnya aman.”
Tiba-tiba—
U Aung Min masuk tergesa.
“Ada orang asing di desa seberang,” bisiknya.
“Bersenjata. Bukan tentara Myanmar.”
Ghoul langsung menoleh.
“Kita bocor.”
Abbas memejamkan mata sesaat.
“Dari dalam,” katanya lirih.
Ghoul menatap satu per satu anggota staf.
Berhenti pada Malik.
“Mana Malik?”
Semua saling pandang.
Terlambat.
PANGGILAN DARURAT KE JAKARTA
Di tengah hutan Myanmar, Abbas menyalakan jalur komunikasi aman.
Suara yang menjawab di seberang membuatnya menghela napas panjang.
“Prabowo,” katanya.
Di Jakarta, President Prabowo Subianto berdiri dari kursinya.
“Mahmoud,” jawabnya tegas.
“Aku sudah mengikuti semuanya.”
“Mereka memburuku,” kata Abbas jujur.
“Dan ada pengkhianat di dalam.”
Prabowo mengepalkan tangan.
“Berapa jauh mereka?”
“Jam,” jawab Abbas.
“Mungkin menit.”
Prabowo tidak ragu.
“Aku kirim orang-orangku.”
“Sertu Bima,” lanjutnya.
“Dan tim terbaik Arhanud 14 Cirebon.”
Abbas menutup mata.
“Terima kasih, saudaraku.”
“Indonesia tidak meninggalkan sahabat,” jawab Prabowo.
“Bertahanlah.”
CIREBON – HARI YANG SEHARUSNYA TENANG
Sertu Bima sedang duduk di lantai rumahnya.
Anaknya tertawa kecil, memanjat punggungnya.
“Ibu… Ayah pulang beneran,” kata anak itu polos.
Istrinya tersenyum bahagia.
Di rumah lain—
Dr. Sandi duduk bersama ibunya.
Laura di sampingnya.
Dr. Hadijah dan Anisa ikut tertawa kecil.
“Kalau tahu begini,” kata ibu Sandi lembut,
“pergi ke medan perang pun pulangnya membawa keluarga.”
Laura menunduk malu.
Hatinya hangat.
Untuk pertama kalinya—ia merasa diterima sepenuhnya.
Ponsel Bima bergetar.
Satu kali.
Wajahnya langsung berubah.
Ia berdiri.
“Izin,” katanya singkat.
Telepon diangkat.
“Siap, Komandan.”
Suara di seberang tegas.
“Bima. Persiapan. Myanmar.”
Bima menutup mata sejenak.
“Siap melaksanakan.”
PERPISAHAN YANG TAK TERHINDARKAN
Malam itu, Laura berdiri di depan Sandi.
Matanya berkaca.
“Kamu harus berangkat lagi,” katanya pelan.
Sandi mengangguk.
“Ini tugas kemanusiaan.”
Laura menggenggam tangannya erat.
“Jaga diri baik-baik ya, sayang,” ucapnya bergetar.
“Jangan sampai tewas di tangan musuh.”
Sandi tersenyum lembut.
Ia mengangkat wajah Laura dengan kedua tangannya.
“Dengarkan aku,” katanya pelan namun pasti.
“Saat aku pulang nanti…”
Ia berhenti sejenak.
“…aku akan melamar kamu secara resmi.”
“Datang ke ibumu.”
“Sebagai laki-laki yang ingin hidup bersamamu.”
Air mata Laura jatuh.
Namun senyumnya merekah.
“Aku tunggu,” katanya lirih.
“Pulanglah.”
Sandi memeluknya erat.
Bukan seperti orang yang berpisah.
Tapi seperti orang yang berjanji kembali.
LANGIT KEMBALI MEMANGGIL
Di pangkalan udara, pesawat militer bersiap.
Sertu Bima dan tim naik tanpa banyak bicara.
Di kejauhan, Laura berdiri.
Menatap langit.
“Pergilah,” bisiknya pada angin.
“Tapi kembalilah.”
Dan jauh di hutan Myanmar—
President Mahmoud Abbas menatap arah langit yang sama.
“Indonesia datang,” katanya pelan.
Sementara itu—
pasukan pemburu Jenderal Okto sudah bergerak.
Darah pertama di tanah Myanmar
tinggal menunggu waktu.