Patah hati terhebat adalah, mencintai seseorang yang sudah tak ada lagi di dunia ini.
Walau 10 tahun telah berlalu, faktanya hati Luna belum mampu merelakan kepergian Evan, kendati 6 tahun sudah ia menjalin kasih dengan Nathan.
Ketika Luna sudah berpasrah dengan takdir diri dan cintanya, semesta seolah kembali berhasil mengaduk perasaannya.
Tiba-tiba ia kembali di pertemukan dengan pria dengan wajah dan suara menyerupai Evan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#26•
#26
Flashback
“Ayo makan dulu,” Bu Rina berujar, gemas sekali ia pada Tuan Mudanya tersebut.
“Aaaahh masih kenyang, Bu,” jawab Evan cuek, ia sibuk dengan gadget di tangannya, hingga lupa bahwa sejak siang belum makan.
“Buka mulut, biar Ibu yang suapi.”
Begitulah Bu Rina, ia sudah bekerja pada keluarga Gunadi, sejak Evan berusia satu tahun. Lebih tepatnya Bu Rina adalah Pengasuh yang merawat Evan sejak kecil.
Kala itu Ibunya Evan baru saja berpisah dari Tuan Gunadi, maka akhirnya Evan dirawat oleh istri pertama Tuan Eric Gunadi, dengan bantuan Bu Rina. Nyonya Devanka sudah sejak lama menderita asma akut, karena itulah beliau meminta sang suami menikah kembali, karena sadar bahwa dirinya tak akan bisa menjalankan tugasnya sebagai istri secara maksimal. Tapi Istri kedua Tuan Eric justru memilih berpisah, karena ingin mengejar karir dan cita-citanya.
Syukurlah ada Bu Rina yang merawat Evan dengan penuh kasih, bahkan Erland yang kala itu sudah remaja, juga sangat menyayangi Evan. Namun setahun kemudian Nyonya Devanka menghembuskan nafas terakhirnya. Dan Tuan Eric memilih hidup sendiri tanpa seorang istri hingga akhir hayatnya.
“Bu … aku gak mau bayamnya,” Evan mulai protes dengan nada manjanya, ketika Bu Rina menyuapinya dengan sayur bayam.
“Biar sehat.”
“Aku sehat, Bu, lihat … ”
Evan meletakkan gadget nya sejenak, kemudian bergaya layaknya binaraga di depan Bu Rina. “Percuma, sebentar lagi otot itu semakin letoy karena gak suka makan sayur.” Celetuk Bu Rina.
“Ish, aku minum susu protein tinggi,” balas Evan.
“Sebaik-baiknya makanan atau minuman buatan pabrik, masih lebih baik makanan asli dari alam.”
Bu Rina selalu punya bantahan, jika Evan mulai beralasan.
“Ayo, buka mulut!!!” perintah Bu Rina kembali membuat Evan tak berkutik. Dan akhirnya, dengan terpaksa, Evan mengunyah habis nasi beserta sayur bayam dan lauk pauk yang lainnya.
…
“Bu Rina … lihat, nilaiku 100!!” Evan berteriak kegirangan, ketika mendapatkan nilai 100 untuk pertama kalinya dalam pelajaran matematika.
“Waahh, selamat Tuan Muda,” jawab Bu Rina antusias, tak ada yang lebih membuatnya bahagia selain melihat senyum di wajah Evan.
“Kan, apa kakak bilang, kalau kamu latihan 100 kali sehari, nilaimu pasti bisa 100,” celetuk Erland yang sudah rapi dalam balutan pakaian kerja.
“Waaah kakakku ternyata tampan,” puji Evan ketika melihat penampilan Erland, hari itu Erland akan mulai bergabung di perusahaan Papa mereka.
“Baru tahu?” tanya Erland sesumbar.
…
Bagi Evan, Bu Rina seperti seorang Ibu kandung, bahkan setelah Erland menikah, Kakak iparnya tetap tinggal di rumah Tuan Eric, agar bisa menggantikan peran Ibu bagi Evan.
Tapi tanpa di duga, setahun setelah kepergian Tuan Eric, perusahaan mengalami masalah. Hingga membuat Erland terpaksa bolak balik Jakarta-Australia, agar bisa membuat Perusahaan kembali stabil.
“Bu Rina!!! Aku bertemu gadis cantiiiiik,” Evan segera menceritakan siapa yang ia lihat di hari pertama menjadi siswa SMU.
“Coba, ceritakan,” Bu Rina begitu antusias ketika melihat ekspresi bahagia di wajah Tuan Mudanya, hingga ia rela menghentikan pekerjaannya demi mendengarkan curahan hati Evan.
“Dia cantik, secantik namanya, Luna, wajahnya bersemu kemerahan, kedua matanya berwarna biru, dengan rambut bergelombang hitam kecoklatan. Aku bahkan bisa merasakan hembusan angin musim semi, ketika tanpa sengaja menghirup aroma bunga dari kibasan rambutnya.”
Evan tiba-tiba menggenggam tangan Bu Rina, “sepertinya, jantungku akan bermasalah.”
“Kenapa bermasalah? Tuan Evan sakit? ada sesak atau nyeri di dada?” tanya Bu Rina khawatir, mengingat Tuan Eric meninggal karena sakit jantung.
“Ish, bukan, Bu,” Evan menepis tangan Bu Rina yang mulai menyentuh dada serta pundaknya. “Tapi, aku yakin jantungku akan berdebar tak karuan, dan mungkin setiap hari akan begini. Hanya gara-gara aku melihat senyumnya, atau berpapasan dengannya,” Evan memperjelas perasaannya.
Bu Rina mengulum senyuman, rupanya pemuda ini sedang jatuh cinta, fase-fase mengalami sebuah rasa yang indah untuk pertama kalinya. Rasa ingin tertawa, rasa ingin membuat diri dan penampilannya paripurna, agar tetap menawan kala sang pujaan hati melihatnya.
…
“Oh, jadi ini Nona Luna? Cantik juga,” komentar Bu Rina seadanya, ketika Evan menunjukkan wajah sang pujaan hati yang diam-diam ia ambil ketika sedang berada di kantin sekolah.
“Iiihh… Bu Rina gak asik, masa cuma begitu doang komentarnya. Lihat, lihat baik-baik, tahu nggak, ini tuh bidadari Bu … ” Evan kembali memeluk ponselnya, ia membayangkan sedang memeluk sang pujaan hati. 🤧🤣
“Iya, Ibu bercanda, cantik sekali, semoga sikap dan tindak-tanduknya juga secantik wajahnya.”
“Aaahh kalau itu jaminan mutu, banyak sumber informasi terpercaya yang mengakuinya.”
…
“Tuan Muda, kenapa wajahnya babak belur begini?” tanya Bu Rina, ketika melibat Evan pulang sekolah, dengan kondisi wajah lebam dan memar di pipi, dagu, serta pelipisnya.
“Aku gak papa, Bu.” Jawab Evan santai, seraya menghempaskan bobot tubuhnya di sofa.
“Gak papa bagaimana, ini bibir sampai sobek begini, kok malah bilang gak papa?”
“Ini luka, bukti perjuangan, Bu.”
“Lha, memangnya Tuan Muda sedang pergi berperang?”
Evan mengangguk bangga, “ini perjuanganku, demi mendapatkan cintanya.”
Yah, hari itu adalah hari di mana Evan di hajar habis-habisan oleh para lelaki Geraldy, usai dianggap melecehkan saudari perempuan mereka. Tapi pada dasarnya Evan sudah benar-benar jatuh cinta pada Luna, jadi ia sama sekali tak merasakan sakit atau marah pada orang-orang yang sudah mengajaknya berkelahi.
“Memang kalau sudah jatuh cinta, nalarnya suka hilang entah kemana,” Bu Rina terus menggerutu. “Wajah babak belur begini, dia anggap sebagai sebuah perjuangan, seolah dirinya adalah pahlawan pembela kebetulan,” lanjut Bu Rina, sembari mengobati luka-luka di wajah, serta beberapa bagian tubuh Evan.
…
Evan melenggang berjalan memasuki ruang tamu, wajah lelahnya tampak berseri-seri, membuat Bu Rina keheranan.
“Tuan Muda, dari mana saja? Ini hampir jam 9 malam.”
Namun Evan yang baru pulang dari kencan dadakan di kolam pemancingan, hanya cengar-cengir sembari bersiul.
“Ibu tanya nih, Tuan Muda dari mana?” Tanya Bu Rina sekali lagi, ia bahkan mengekori langkah kaki Evan menuju kamarnya.
“Habis kencan,” jawab Evan singkat.
Bu Rina lagi-lagi hanya bisa menghela nafas, mungkin memang sudah saatnya, karena Tuan Mudanya bukan lagi bayi yang baru belajar jalan. Evan sudah dewasa, walau masih sedikit kekanakan, tapi Bu Rina berani memastikan bahwa anak asuhnya, adalah sosok pemuda yang baik dan santun.
…
Braaaakkk!!
Suara dentuman keras berasal dari dalam rumah, membuat Bu Rina yang baru pulang dari pasar mempercepat langkah kakinya.
“BOHONG!!!”
“Bagaimana mungkin Ibu berbohong padamu, itu memang kenyataan. Dan suka atau tidak kamu harus terima.”
Hari itu, Bu Rina mendengar perdebatan Evan dan Nyonya Bimantara. Namun Bu Rina tak tahu persis apa yang mereka perdebatkan.
Yah, setelah lebih dari lima belas tahun meninggalkan anaknya, Nyonya Bimantara yang sudah sukses menjadi dokter bedah jantung, akhirnya kembali ke Indonesia. Tujuannya? Ia ingin membawa Putranya tinggal di Kanada.
Menurut dugaan Bu Rina, keduanya berdebat, karena Evan menolak ajakan Ibunya, Evan bahkan terkesan mengabaikan keberadaan Ibu kandungnya. Ia lebih sibuk dengan kekasih yang baru saja di pacarinya beberapa bulan, dan hal itu membuat Nyonya Bimantara murka.
Nyonya Bimantara mendekat, ia mencoba mengusap punggung Evan yang terlihat bergetar menahan amarah. Namun baru saja tangannya menempel di punggung Evan, pemuda itu sudah menepis kasar telapak tangan Nyonya Bimantara.
Plak!!
“Jangan sentuh!!!” tolak Evan, ketika Nyonya Bimantara bermaksud mengusap punggungnya.
“Kamu, berani menepis tangan Ibumu, orang yang sudah susah payah menghadirkanmu ke dunia?”
“Hanya itu kan? sisanya? tak ada hal baik bisa kukenang dari sosok Ibu kandungku. Justru aku menganggap Bu Rina, dan Kak Vina sebagai sosok Ibu bagiku, walau mereka bukan Ibu kandungku.”
Braaakk!!
Evan kembali menendang kursi di ruang makan, sebagai bentuk pelampiasan amarahnya. Sesudah itu, ia pergi dengan air mata mengalir, serta wajah merah padam menahan amarah. Sungguh ia tak bisa mempercayai pengakuan Ibunya, Evan yakin, Ibunya pasti berbohong, hanya karena tak suka jika Luna menjadi kekasihnya.
Evan menyambar jaket kulit, serta helm nya, “Evan… Ibu belum selesai bicara!!!” Teriak Nyonya Bimantara. Namun Evan tak lagi menghiraukan teriakan Ibunya, ia pergi dengan mengendarai motor kesayangannya.
Karena Bu Rina tak tahu asal muasal masalah perdebatan Evan dengan Ibunya, maka ia pun tak bisa mencegah kepergian Tuan Mudanya.
Tapi justru hal itu yang menyisakan penyesalan di hati kecilnya hingga saat ini, karena di hari itu, Bu Rina menerima kabar yang membuat hatinya hancur berkeping-keping. Evan mengalami kecelakaan, ia kritis karena kepalanya mengalami benturan cukup keras.
Bahkan setelah berhasil melalui masa kritisnya, Evan dinyatakan koma, bukan sehari dua hari, melainkan dua tahun lamanya.
Flashback End
…
Bu Rina kembali menghapus sisa air matanya, air matanya akan sulit berhenti ketika ia mengingat kisah masa lalu Tuan Mudanya. Kini Tuan Mudanya sudah kembali sehat, tapi memori masa lalunya hilang.
Bu Rina hanya bisa berharap mukjizat dari Tuhan saja, agar ingatan Tuan Mudanya yang manja tapi juga baik hati, bisa segera kembali.
baru runut ke semua nya