𝐇𝐈𝐀𝐓𝐔𝐒‼️‼️‼️‼️‼️‼️‼️
Di siang hari, Rania adalah sekretaris magang yang paling menyedihkan. Berkacamata bulat, rambut di Cepol asal dan baju yang kedodoran selalu menjadi makanan empuk sang CEO perusahaan yang tampann namun berdarah dingin, perfeksionis dan tak memiliki belas kasihan.
Namun, demi melunasi hutang ibunya yang menumpuk, Rania dengan ikhlas menjalani hidupnya di bawah tekanan bahkan Rania rela melakukan pekerjaan lainnya yang cukup ekstrem di malam hari.
Dengan berubah menjadi sosok gadis bernama "milky" bermata abu-abu yang imut dan kostum gotik yang menggemaskan di sebuah Dark Moon Maid Cafe.
Petaka berawal ketika seorang pelanggan VVIP misterius bermasker hitam datang dan memesan tempat khusus bersamanya.
Begitu pria itu membuka suara, Rania nyaris terkena serangan jantung.
Pria yang meminta pelayanan imut bermantra 'Moe-moe Kyun' tidak lain adalah bosnya sendiri di kantor yang paling dia benci !
Untungnya, Arkan bosnya sama sekali tidak mengenalinya.
bac
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Kebohongan Baru
...Arkan masih berdiri di depan Rania, menatap gadis itu dengan tatapan yang seolah ingin menelanjangi seluruh kebohongannya....
...Suasana di dalam ruang kerja itu mendadak jadi sangat berat. Rania bisa merasakan keringat dingin mulai membasahi punggungnya....
..."Isi ulang?" tanya Arkan sekali lagi, suaranya pelan tapi terdengar sangat menekan....
...Rania menelan ludah. Ia berusaha mengatur napasnya agar tidak terdengar gemetar....
..."Iya, Pak. Parfum... parfum isi ulang. Yang botolnya kecil, dijual di pinggir jalan dekat kosan saya."...
...Arkan menyipitkan mata....
..."Kamu sekretaris di Arkananta Group. Gaji kamu cukup untuk membeli parfum yang lebih baik dari itu, bukan?"...
...Rania menunduk, sengaja terlihat malu dan menyedihkan....
..."Iya, Pak. Tapi... saya harus kirim uang ke rumah untuk biaya pengobatan Ibu. Jadi, saya biasanya irit untuk kebutuhan pribadi. Saya beli itu karena teman-teman kos saya bilang wanginya pasaran, hampir semua anak kos di sana pakai. Harganya cuma lima belas ribu rupiah, Pak."...
...Arkan terdiam....
...Ia memejamkan mata sejenak, mencoba mencerna penjelasan yang terdengar masuk akal tapi terasa sangat janggal di telinganya....
..."Lima belas ribu?"...
..."Iya, Pak. Benar," jawab Rania cepat, berusaha agar suaranya tidak terbata-bata....
..."Banyak yang pakai, Pak. Wanginya memang stroberi dan vanila. Memang sangat umum di kalangan anak muda sekarang."...
...Arkan membuka matanya dan kembali menatap Rania....
...Ada keraguan yang jelas terpancar di sana. Logikanya berteriak bahwa tidak mungkin dua wanita yang ia temui di dua dunia berbeda memiliki detail yang begitu identik mulai dari aroma tubuh hingga gestur tubuh saat merasa terpojok....
...Namun, logikanya yang lain menolak mentah-mentah ide bahwa Rania, gadis culun dengan kacamata tebal dan cara berpakaian yang membosankan di kantornya, adalah sosok Milky yang ceria, lincah, dan memesona di kafe....
..."Kamu yakin itu parfum pasaran?" tanya Arkan lagi....
..."Yakin, Pak. Bapak bisa coba cek ke toko-toko parfum isi ulang di sekitar pasar. Hampir semuanya pasti punya racikan wangi itu," jawab Rania, kali ini dengan sedikit lebih berani menatap Arkan....
...Ia harus terlihat jujur....
...Arkan terdiam lama. Ia berjalan menuju kursinya, lalu duduk dengan gerakan yang menunjukkan kalau ia sedang sangat frustrasi....
...Ia mengusap wajahnya dengan kasar....
..."Ya sudah. Kamu boleh keluar," ujar Arkan akhirnya, tanpa menatap Rania....
...Rania mengembuskan napas panjang, hampir saja ia ambruk kalau saja tidak segera memegang gagang pintu....
..."Terima kasih, Pak. Saya permisi."...
...Saat pintu tertutup, Rania langsung bersandar di dinding koridor. Ia memejamkan mata dan mengumpat dalam hati....
...Parfum isi ulang lima belas ribu? Kamu gila, Rania! umpatnya pada diri sendiri. Ia merasa sangat bodoh telah mengeluarkan kebohongan konyol seperti itu....
...Tapi, apa boleh buat? Itu adalah hal pertama yang muncul di otaknya yang sedang panik....
...Di dalam ruangan, Arkan menatap meja kerjanya dengan pandangan kosong. Ia merasa ada yang tidak beres. Ia meraih ponselnya dan membuka aplikasi pesan, lalu mengetik pesan singkat untuk asisten pribadinya....
...Arkan: Tolong cek, apakah ada parfum stroberi-vanila isi ulang seharga 15 ribu di pasaran?...
...Sambil menunggu balasan, Arkan kembali teringat saat Milky menyajikan teh untuknya tadi malam....
...Milky terlihat begitu natural dengan senyumnya, berbeda dengan Rania yang selalu canggung dan kaku. Tapi, aroma itu... aroma yang menempel di leher Rania tadi pagi, itu adalah aroma yang sama persis dengan yang ia cium di rambut Milky....
...Ponselnya bergetar....
...Sebuah balasan dari asistennya masuk....
...Asisten: Sudah saya cek, Pak. Wangi stroberi-vanila memang salah satu varian paling populer dan murah di toko parfum isi ulang. Banyak anak kos yang memakainya karena wanginya tahan lama meski harganya murah....
...Arkan membanting ponselnya ke atas meja. "Sial," umpatnya pelan....
...Penjelasan Rania ternyata benar. Secara teknis, kebohongan Rania bisa dibuktikan....
...Arkan bersandar di kursinya....
...Ia merasa sangat konyol karena sempat mencurigai sekretaris magangnya sebagai pelayan kafe....
...Mungkin aku terlalu lelah, pikirnya....
...Mungkin karena aku terlalu sering memikirkan Milky, jadi aku mulai melihat Milky pada siapa saja....
...Namun, jauh di lubuk hatinya, keraguan itu belum hilang sepenuhnya....
...Ia masih merasa ada sesuatu yang janggal setiap kali Rania berada di dekatnya....
...Cara Rania menatapnya, cara gadis itu gugup, hingga cara ia memperbaiki posisi kacamatanya semuanya terasa... familiar....
...Sementara itu, di meja kerjanya, Rania sedang berusaha fokus menyelesaikan laporan yang tertunda....
...Ia merasa harga dirinya hancur. Ia baru saja berbohong soal parfum murahan di depan CEO-nya sendiri....
...Arkan mungkin percaya, atau setidaknya tidak punya bukti untuk membantahnya, tapi Rania tahu kalau ia baru saja mempertaruhkan kecurigaan Arkan ke tingkat yang lebih tinggi....
..."Lain kali, jangan pernah pakai parfum lagi kalau ke kantor," bisik Rania pada dirinya sendiri sambil mengetik dengan kasar....
...Sore itu, suasana kantor menjadi sangat canggung. Setiap kali Rania harus masuk ke ruangan Arkan untuk memberikan dokumen, ia bisa merasakan tatapan Arkan yang masih mengawasinya....
...Arkan tidak lagi bertanya soal parfum, tapi tatapannya seolah sedang menelanjangi Rania, mencari bukti lain atas kebohongannya....
...Rania berusaha bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Ia tetap menjadi Rania yang culun, pendiam, dan sedikit kikuk. Ia sadar, itulah satu-satunya cara untuk bertahan. Ia harus tetap menjadi 'Rania yang tidak menarik' agar Arkan tidak semakin curiga....
..."Rania," panggil Arkan tiba-tiba saat Rania hendak keluar ruangan sore itu....
...Rania berhenti, jantungnya berdegup kencang lagi. "Ya, Pak?"...
..."Nanti malam, pastikan laporan proyek Surabaya sudah dikirim ke email saya. Jangan sampai terlambat."...
..."Iya, Pak. Pasti saya kirim sebelum jam pulang," jawab Rania....
...Arkan menatap Rania cukup lama. "Dan Rania..."...
..."Ya, Pak?"...
..."Kalau kamu memang butuh uang lebih untuk biaya pengobatan Ibu kamu, kenapa tidak bilang? Perusahaan punya tunjangan untuk itu."...
...Rania tertegun....
...Ia tidak menyangka Arkan akan mengatakan itu. "Saya... saya tidak mau merepotkan Bapak. Saya masih bisa mengatasinya."...
...Arkan mengangguk pelan. "Ya sudah. Bekerjalah dengan baik."...
...Rania keluar ruangan dengan perasaan campur aduk. Arkan tadi terdengar tulus....
...Arkan yang biasanya dingin dan kejam, ternyata bisa peduli juga. Dan itu membuat Rania merasa lebih bersalah....
...Ia sedang membohongi orang yang baru saja menawarkan bantuan padanya....
...Kamu benar-benar jahat, Rania, pikirnya....
...Rania berjalan menuju lift dengan perasaan berat. Ia harus segera pulang, berganti pakaian, dan pergi ke kafe. Ia harus membuang perasaan bersalah ini. Ia harus fokus pada tujuannya....
...Sesampainya di rumah, ia langsung membuang botol parfum stroberi-vanila miliknya ke tempat sampah. Ia tidak akan pernah memakai parfum itu lagi. Tidak akan....
...Ia berganti pakaian menjadi pakaian Milky, memakai wig cokelatnya, dan menatap cermin. Di cermin, yang terlihat bukanlah Rania yang culun, melainkan Milky yang ceria dan menawan....
...Ia menarik napas panjang....
..."Mulai sekarang, tidak ada lagi Rania di kafe. Dan tidak ada lagi Milky di kantor."...
...Rania tahu ini akan sangat sulit, tapi ia tidak punya pilihan. Ia harus tetap menjalankan kehidupan gandanya sampai tujuannya tercapai. Ia tidak boleh goyah....
...Saat ia berjalan menuju kafe, ia merasa sedikit lebih tenang. Setidaknya, untuk beberapa jam ke depan, ia tidak perlu takut akan interogasi Arkan lagi. Ia hanya perlu menjadi Milky....
...Tapi saat ia sampai di depan kafe, ia melihat mobil Arkan terparkir di sana. Arkan sudah datang....
...Rania berhenti sejenak. Ia menarik napas dalam-dalam. Ayo, Rania. Kamu bisa, bisiknya....
...Ia pun melangkah masuk ke dalam kafe dengan senyum manisnya....
..."Selamat datang, Tuan!" sapanya dengan ceria, seolah tidak terjadi apa-apa di kantor pagi tadi....
...Arkan yang sedang duduk di ruang VVIP menoleh. Ia menatap Milky dari atas ke bawah. Milky terlihat seperti biasa ceria, imut, dan tidak memiliki kecurigaan sedikit pun....
...Arkan menatap mata Milky, mencari kemiripan dengan mata sekretarisnya tadi. Tapi ia tidak menemukannya. Milky tampak begitu berbeda....
...Arkan menghela napas panjang. Mungkin aku memang sudah gila, pikirnya....
..."Sajikan teh saya," perintah Arkan datar....
..."Siap, Tuan Besar!" jawab Rania dengan senyum manisnya....
...Rania berjalan menuju bar dengan perasaan lega. Ia berhasil. Setidaknya untuk malam ini, Arkan tidak mencurigainya....
...Ia pun mulai menyiapkan teh untuk Arkan. Ia memastikan setiap detailnya sempurna, sama seperti yang ia lakukan setiap malam....
...Ia tahu, Arkan akan terus mengawasinya. Dan ia tahu, ia harus terus berakting dengan sempurna....
...Malam itu, Rania bekerja dengan semangat yang lebih dari biasanya. Ia ingin menunjukkan kepada Arkan bahwa Milky bukanlah Rania....
...Ia ingin membuat Arkan percaya bahwa mereka adalah dua orang yang sangat berbeda....
...Arkan memperhatikan Milky dari balik pintu ruang VVIP yang sedikit terbuka....
...Ia memperhatikan bagaimana Milky tertawa saat berbicara dengan pelanggan lain. Ia memperhatikan bagaimana Milky bekerja dengan penuh semangat....
...Dia bukan Rania, pikir Arkan lagi. Rania tidak akan pernah bisa tertawa secerah itu....
...Arkan merasa sedikit tenang. Mungkin kecurigaannya selama ini memang tidak beralasan....
...Tapi saat Milky datang membawa teh untuknya dan jemari mereka tidak sengaja bersentuhan, Arkan merasakan sesuatu yang aneh lagi....
...Sentuhan itu terasa sangat familiar. Begitu familiar hingga membuat hatinya bergetar....
...Arkan menatap Milky lekat-lekat....
...Milky hanya tersenyum manis padanya....
..."Ada apa, Tuan? Apa tehnya kurang panas?" tanya Milky polos....
..."Tidak," jawab Arkan singkat....
...Milky kembali tersenyum dan berjalan keluar ruangan....
...Arkan memejamkan mata. Ia merasa sangat frustrasi. Ia masih tidak bisa melepaskan kecurigaannya. Ia merasa ada sesuatu yang tersembunyi, sesuatu yang belum ia temukan....
...Tapi malam ini, ia akan mencoba untuk tenang. Ia akan mencoba untuk menikmati tehnya dan melupakan semua pikiran tentang sekretaris magangnya itu....
...Rania, di sisi lain, merasa sangat lega. Ia tahu malam ini akan menjadi malam yang panjang, tapi ia yakin ia bisa melewatinya....
...Ia akan terus menjaga rahasianya. Apapun yang terjadi....
...Ia tidak akan membiarkan Arkan menemukan kebenarannya. Ia akan terus menjadi Milky yang sempurna....
...Dan ia tahu, ia akan menang....
...Malam itu, kafe dipenuhi dengan tawa dan keceriaan. Dan Rania, sebagai Milky, menjadi pusat dari semua itu. Ia berhasil menjadi sosok yang disukai semua orang....
...Bahkan Arkan, meski masih curiga, mulai menikmati kehadirannya....
...Ini adalah malam yang panjang bagi mereka berdua. Malam yang penuh dengan kecurigaan, kebohongan, dan rahasia yang tersimpan rapat....
...Tapi bagi Rania, ini adalah malam yang berharga. Karena ia berhasil melindungi rahasianya satu malam lagi....
...Ia pun tersenyum lebar. Ia tahu, ia bisa melakukannya....
...Ia bisa melewati semuanya....
...Malam itu berakhir dengan tenang. Arkan pulang dengan perasaan yang masih bercampur aduk, dan Rania pulang dengan perasaan lega....
...Mereka berdua tahu, besok akan menjadi hari yang baru....
...Hari yang penuh dengan tantangan baru....
...Tapi untuk malam ini, mereka berdua bisa beristirahat dengan tenang....
...Rania tahu, permainannya baru saja dimulai. Dan ia sudah siap untuk memenangkannya. Apapun yang terjadi....
...Ia pun memejamkan mata dan mencoba beristirahat. Besok, ia akan kembali menjadi Rania. Dan ia harus siap untuk menghadapinya lagi....
..."Besok adalah hari yang baru," bisiknya pelan. "Dan aku harus siap."...
...Rania pun tidur dengan perasaan yang sedikit lebih tenang. Ia tahu, ia bisa melewati semuanya. Ia bisa memenangkan permainannya....
...Dan ia tahu, rahasianya akan tetap tersimpan rapat. Untuk saat ini....
yang banyak update nya 😉😉😉