Demi membiayai operasi ayahnya, Natalie nekat menjual keperawanannya pada seorang pria yang tidak ia kenal. Namun pria yang datang ternyata seorang dokter berhati baik yang justru ingin menyelamatkannya dari jalan buntu itu.
Setelah melewati malam yang penuh gairah, Drake malah kecanduan dengan tubuh Natalie, padahal dia tahu kalau wanita itu hanya mengejar uang.
Saat rahasia tergelap mereka terbongkar, mampukah hubungan rapuh dan terlarang ini tetap bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Pintu suite kamar hotel terbuka perlahan, dan Natalie langsung dihadapkan pada sosok pria yang berdiri tegak di depannya. Tubuhnya tinggi dan tegap, bahu lebar seperti seorang atlet yang sudah tidak lagi muda tapi masih penuh tenaga. Kemeja hitamnya sedikit terbuka di bagian dada, memperlihatkan kulit kecokelatan dan bulu memenuhi dadanya. Matanya tajam, hampir hitam pekat, menatap Natalie dari atas ke bawah dengan pandangan liar yang tak ditutup-tutupi. Seperti serigala yang sudah lama kelaparan dan akhirnya menemukan mangsa.
Udara di dalam kamar terasa berat. Aroma maskulin yang khas, campuran parfum mahal, whiskey, dan sedikit asap rokok langsung menyerang indra penciuman Natalie. Ruangan itu mewah sekaligus menekan, lampu temaram berwarna keemasan, tempat tidur king-size dengan seprai sutra hitam yang rapi, sofa kulit di sudut, dan jendela kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kota malam yang berkelap-kelip. Semuanya terasa terlalu sempurna, terlalu dingin, terlalu jauh dari dunia Natalie yang penuh perjuangan.
“Masuk,” perintah Drake dengan suara rendah dan berat, tanpa basa-basi.
Seperti dihipnotis, kaki Natalie melangkah maju dengan sendirinya. Tubuhnya bergerak meski pikirannya berteriak menolak. Pintu di belakangnya tertutup dengan pelan, dan bunyi klik kunci yang diputar Drake terdengar seperti vonis mati. Kini ia benar-benar terperangkap.
Natalie berdiri di tengah ruangan, matanya menyapu sekeliling dengan gugup. Jantungnya berdegup liar hingga terasa sakit. Bau aroma pria itu semakin kuat, mengganggu indra penciumannya. Ia merasa kecil, kotor, dan sangat sendirian. Tangan kanannya tanpa sadar memeluk tubuh sendiri, seolah itu bisa melindunginya dari apa yang akan terjadi.
Tiba-tiba Drake bergerak cepat dari belakang. Tubuh besarnya menyergap Natalie tanpa ampun. Dua tangan kuat memeluk pinggangnya, mendorongnya maju hingga punggungnya membentur dinding dingin dengan keras. Napas panas Drake menyapu tengkuknya. Tubuh pria itu menempel rapat, panas, dan penuh hasrat yang sudah tak tertahankan.
Tubuh Natalie bergetar hebat. Lututnya lemas, giginya bergemeletuk pelan. Rasa takut, jijik, dan putus asa bercampur menjadi satu badai di dalam dadanya. Ia merasa seperti burung yang sayapnya dipatahkan. Air mata menggenang di pelupuk matanya, tapi ia berusaha keras menahannya agar tidak jatuh.
“Kenapa?” tanya Drake dengan suara berat yang diselimuti kabut gairah tebal. Bibirnya hampir menyentuh telinga Natalie. “Kamu berubah pikiran?”
Napasnya kasar, tangan kirinya merayap naik ke pinggang Natalie, menekan tubuh perempuan itu lebih erat ke dinding. Jari-jarinya kuat, posesif, seolah sudah membayar mahal untuk malam ini. Ia bisa merasakan getaran hebat di tubuh Natalie, dan itu justru membuat senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
Natalie tidak langsung menjawab. Tenggorokannya tercekat. Ribuan pikiran berlarian di kepalanya. Dia membutuhkan uang untuk pengobatan ayahnya, tapi tubuhnya memberontak dengan sendirinya. Setiap sentuhan Drake terasa seperti bara api yang membakar harga dirinya. Ia ingin lari, ingin menjerit, ingin menghilang dari tempat ini. Tapi kakinya tak mampu bergerak. Rasa bersalah yang sudah lama menggerogoti hatinya kini berubah menjadi belenggu yang mengikatnya di tempat.
“Aku... aku tidak...” suara Natalie pecah, hampir tak terdengar.
Drake tertawa pelan, suaranya dalam dan serak. Ia memutar tubuh Natalie dengan mudah hingga kini mereka berhadapan. Wajah pria itu begitu dekat, mata liarnya menelusuri setiap inci wajah Natalie yang cantik dan ketakutan. Satu tangannya menahan dagu Natalie, memaksa perempuan itu menatapnya langsung.
“Kamu cantik,” gumamnya, ibu jarinya mengusap bibir bawah Natalie dengan lembut tapi penuh nafsu. “Dan kamu datang ke sini karena butuh uang, bukan? Maka jangan buang waktu. Aku akan bayar mahal malam ini.”
Tubuh Natalie masih bergetar hebat di antara dinding dan dada bidang Drake. Napasnya tersengal pendek-pendek. Keringat dingin membasahi punggungnya. Di dalam hatinya, ada pertarungan sengit antara tekad untuk menyelamatkan ayahnya dan kehormatan yang tersisa. Malam ini, ia tahu, akan menjadi malam terpanjang dalam hidupnya.
Drake menunduk, bibirnya hampir menyentuh leher Natalie. Aroma whiskey dan gairah pria itu semakin kuat, membuat kepala Natalie pusing. Tangan pria itu mulai menjelajah, perlahan tapi tak terbendung, seolah memiliki hak penuh atas tubuh yang kini gemetar di hadapannya.
Dan Natalie... hanya bisa memejamkan mata, menahan air mata yang akhirnya lolos juga, mengalir diam-diam di pipinya yang pucat.
"Maafkan aku, ayah. Aku terpaksa melakukan ini" gumamnya dalam hati.
Ia menarik Nathalie ke dalam pelukannya, menciumnya dalam-dalam. Lidah mereka saling menari, panas dan lapar. Tangan Drake meluncur ke punggung gadis itu, menarik resleting gaunnya perlahan hingga kain itu meluncur jatuh ke lantai. Tubuh Nathalie yang putih mulus kini hanya tertutup bra dan celana dalam tipis. Kulitnya terasa hangat dan gemetar di bawah sentuhannya.
"Kamu milikku malam ini," gumam Drake di telinganya, suaranya serak.
Dia mengangkat tubuh ringan Nathalie dan membaringkannya di ranjang king size yang empuk. Matanya tak lepas dari wajah gadis itu saat ia melepas kemejanya sendiri, memperlihatkan dada bidang dan otot perut yang terlatih.
Drake menunduk, mencium leher Nathalie, turun ke dada. Ia membuka kaitan bra itu dengan satu tangan, lalu mulutnya menyentuh puncak payudara yang mengeras. Nathalie mendesah keras, tangannya mencengkeram rambut Drake.
"Ahh... tuan..."
Ia terus menjelajah, tangannya menyusuri perut rata Nathalie, lalu perlahan menurunkan celana dalamnya. Jari Drake menyentuh bagian paling intim gadis itu yang sudah basah, panas, dan belum pernah disentuh siapa pun. Rasa puas itu kembali membuncah. Ia adalah yang pertama. Yang akan membuatnya merasakan kenikmatan untuk pertama kalinya.
"Relax, baby," bisiknya sambil mencium paha dalam Nathalie. Lidahnya menyentuh klitorisnya dengan lembut dulu, lalu semakin intens.
Nathalie menggeliat, pinggulnya terangkat, erangannya semakin keras dan manja. Tubuhnya bergetar hebat saat gelombang pertama orgasme menghantamnya.
Drake naik ke atasnya, melepas celananya. Kejantanannya sudah tegang sempurna. Ia menggosokkan ujungnya di pintu masuk yang sempit itu, menatap mata Nathalie dalam-dalam.
"Aku akan pelan... tapi aku ingin kamu merasakan semuanya."
Dengan dorongan perlahan, ia masuk.
"Argkhhh...."
Nathalie menjerit kecil, kuku-kukunya mencakar punggung Drake. Rasa perih bercampur nikmat membuat matanya berkaca-kaca, tapi ia memeluk Drake erat.
Drake berhenti sejenak, menikmati sensasi ketatnya yang luar biasa."Kamu begitu sempit... Sempurna," desahnya, suaranya penuh kepuasan.
Ia mulai bergerak, ritme yang lambat lalu semakin cepat. Suara tabrakan kulit memenuhi kamar hotel, diselingi erangan Nathalie yang semakin liar. Drake menciumnya lagi, tangannya meremas payudara gadis itu sambil terus menghunjam dalam-dalam.
"Tuan... aku... lagi!" Nathalie menjerit saat orgasme keduanya datang, tubuhnya mengejang kuat di sekeliling kejantanan Drake.
Drake tak tahan lagi. Dengan beberapa dorongan kuat terakhir, ia meledak di dalamnya, mengisi Nathalie dengan panasnya. Ia ambruk di atas tubuh gadis itu, napasnya tersengal, tapi senyum puas masih terukir di wajahnya.
Ia mengusap rambut Nathalie yang basah keringat, mencium keningnya lembut. "Kamu milikku sekarang. Yang pertama... dan aku akan pastikan jadi yang terakhir."
Wajah Nathalie memerah, tubuhnya masih bergetar dalam pelukan Drake. Malam itu masih panjang di kamar hotel tersebut.