Satu sekolah tahu Lintang Gentariana adalah gadis paling gigih yang setiap hari memanggil nama Arka—atlet pencak silat kebanggaan sekolah yang sedingin es.
Dua tahun cintanya bertepuk sebelah tangan, sebuah wasiat tiba-tiba memaksa mereka menikah secara rahasia di bangku SMA.
Lintang mengira impiannya jadi nyata. Namun, ia keliru. Arka menikahinya tepat ketika dunia cowok itu di ambang runtuh.
Di sekolah Lintang adalah gadis yang selalu terlihat mengejar Arka, tapi di rumah, Lintang harus menghadapi kemarahan dan luka terdalam Arka.
Lantas, bagaimanakah kelanjutan kisah pernikahan rahasia mereka?
Sanggupkah Lintang bertahan, atau perpisahan justru menjadi jalan terbaik bagi keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyunr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Baby Cerelac
Lintang tak bisa menahan senyum di dapur sejak Arka meminta bubur Cerelac. Dia bahkan langsung meminta Pak Sopir untuk membelikan semua variannya di minimarket terdekat.
"Lucu banget suami gue doyannya Cerelac..." gumamnya sembari mengaduk bubur hangat di dalam mangkuk.
"Gue juga mau bikin, deh. Nemenin baby husband Cerelac date."
Lintang mengambil satu mangkuk lagi, lalu membuat bubur Cerelac untuk dirinya sendiri.
"Iihh, tahu gini, ngapain kemarin gue nangis-nangis gara-gara batal nyeblak sama Arka? Padahal diganti sama yang lebih wah dengan status yang sah," Lintang tak bisa menahan rasa bahagianya.
Dalam beberapa menit, satu nampan berisi dua mangkuk bubur Cerelac, segelas air bening hangat, dan obat-obatan sudah tersedia dengan rapi. Lintang segera membawanya naik ke lantai dua menuju kamarnya, tempat si ganteng berada.
...----------------...
Lintang menaruh nampan di atas meja kecil, lalu duduk di tepi kasur. Arka masih tertidur dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Hanya bagian atas rambutnya yang menyembul keluar.
"Arka," panggil Lintang.
"Hm..." Cowok itu langsung menyahut dengan suara serak.
Lintang sekuat tenaga menahan senyum. "Makan dulu, nih. Bubur Cerelac-nya udah siap disantap."
Bibir Lintang mengatup rapat, dia benar-benar gemas. Ingin sekali rasanya menggoda cowok bermuka batu itu.
Arka membuka selimutnya perlahan. Matanya bergerak naik, menatap Lintang yang wajahnya sudah siap sedia untuk meledek.
"Makan dulu, Dedek... Bubur Cerelac favorit Dedek udah Mommy bikinin. Habis itu Dedek minum obat, terus Mommy kelonin..." ujar Lintang dengan nada yang sengaja dibuat imut.
"Ck, diem nggak," gerutu Arka kesal. Namun, dia tetap bangkit bangun secara perlahan.
Lintang akhirnya tertawa lepas. "Demi apa pun, punya suami berasa punya bayi!"
Arka bersandar di kepala ranjang lalu mengambil gelas air putih secara mandiri. Lintang yang masih mesam-mesem bergerak meraih semangkuk bubur hangat itu. "Sini, Mommy suapin..."
Arka langsung merebut mangkuk itu dengan gerakan cepat dan wajah kesal, membuat Lintang semakin puas menggoda suaminya.
"Gue juga bikin bubur Cerelac buat gue makan, sebagai ganti waktu lu batalin malmingan kita secara sepihak," ujar Lintang sambil mengangkat mangkuknya tinggi-tinggi.
"Terserah," gumam Arka. Dia sudah tidak peduli dan langsung melahap bubur di tangannya.
Lintang memperhatikan cara makan Arka dengan tatapan gemas. Ya ampun... nih cowok kenapa bisa jadi selembek ini kalau lagi sakit? Mana Arka yang sangar dan ditakuti kayak di sekolah?
...----------------...
Arka menghabiskan buburnya jauh lebih cepat dari Lintang. Gadis itu ternyata baru makan tujuh suap saja sudah langsung merasa mual, padahal dia hanya menyeduh satu saset sementara untuk Arka langsung dua saset.
"Huek..." Lintang refleks menutup mulutnya.
"Lu kenapa?" tanya Arka heran.
Lintang melambaikan satu tangan seperti tanda menyerah. "Abisin nih, gue gumoh makan bubur bayi."
Arka menatapnya datar. "Lagian ikut-ikutan," komennya pelan.
"Gue kan istri yang nurut sama suami. Suami makan bubur, gue juga makan bubur," bela Lintang tak mau kalah. "Udah nih, abisin. Tinggal dikit, sayang kalau dibuang." Lintang menyodorkan paksa mangkuk buburnya tepat di depan wajah Arka.
Arka menerimanya, menatap mangkuk itu sebentar. Lalu, dia mengganti sendok makan Lintang dengan sendok makannya sendiri.
Lintang langsung melotot. "Ngapain diganti anjir?! Mulut gue nggak beracun ya!"
Arka tak menjawab. Dia menyendok bubur sisa milik Lintang itu dan kembali melahapnya dengan santai.
Lintang menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir. "Baru kali ini gue lihat orang sakit lahap banget makan bubur. Mana bubur bayi lagi."
Gadis itu kemudian berdiri dari kasur. "Gue mau nyiapin air anget dulu buat ngompres lu. Kalau udah selesai makan, kumpulin aja mangkuknya di atas nampan itu, terus langsung minum obat."
"Hm..."
Punggung Lintang bergerak menjauh, lalu sosoknya menghilang setelah pintu kamar ditutup rapat.
Arka mengalihkan pandangannya, melirik ke sekeliling kamar tidur Lintang yang bernuansa hangat. Di dinding dan meja, banyak terpajang foto-foto Lintang sejak masih di dalam kandungan sampai sebesar sekarang, lengkap dengan kedua orang tua yang utuh.
Entah kenapa, dada Arka mendadak terasa sesak.
‘Coba gue juga kayak dia...’ batinnya lirih.
Arka menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Dia segera menghabiskan sisa bubur Lintang dan menumpuk mangkuknya jadi satu di atas nampan. Setelah itu, dia meminum obatnya dan menghabiskan air putih hingga tandas.
Tak lama kemudian, pintu kembali terbuka menampakkan Lintang yang membawakan sebaskom kecil air hangat beserta selembar kain kompres.
"Udah minum obat?" tanyanya memastikan.
"Udah," ujar Arka. Cowok itu menyandarkan kepalanya ke kepala ranjang dengan lemas.
Lintang menggeser sedikit nampan kotor itu dan menaruh baskom di sebelahnya. Dia membasahi kain, lalu memerasnya hingga airnya tidak lagi menetes.
Tangan lentiknya bergerak menyingkap poni rambut Arka yang berantakan, lalu menempelkan kain hangat itu tepat di dahi suaminya.
"Panas banget... Harusnya kita pulang aja semalem," gumam Lintang dengan nada yang mendadak berubah menjadi jauh lebih lembut. Ada rasa sesal di hatinya karena tidak membujuk Arka pulang dari RS sejak malam.
Mata Arka terpejam menikmati hangatnya kompresan. "Lu nggak capek?"
"Capek ngapain? Gue nggak habis lari maraton," sahut Lintang enteng.
Arka tidak menjawab lagi. "Habis ini lu mau ngapain?" tanyanya dengan suara lirih.
Lintang mendadak menyunggingkan cengiran nakalnya. "Ngelonin suami."
"Ck. Godain mulu, heran," gumam Arka pelan. Namun, sebuah senyuman tipis hampir saja menyembul di sudut bibirnya kalau saja dia tidak menahannya sekuat tenaga.
Beberapa menit hening berlalu dengan Lintang yang monoton mengompres dahi Arka, lalu mencelupkan serta memeras kain hangat tersebut secara berulang.
"Mau rebahan?" tawarnya melihat Arka yang posisinya sudah tampak semakin lemas lagi.
"Hm," gumam Arka pendek.
"Yaudah rebahan. Atau mau ganti baju dulu?" tawar Lintang yang lain.
Arka bergerak pelan mengatur bantalnya. "Rebahan aja."
"Yaudah, sok rebahan." Lintang langsung membenahi letak selimut tebal untuk membungkus tubuh Arka yang mulai memosisikan diri berbaring telentang.
Arka menutup matanya kembali, menikmati sapuan kompres hangat yang masih berlanjut di dahinya.
"Gue... baru tahu kalau hidup lu ternyata lebih rumit dari apa yang selama ini gue lihat di sekolah," ujar Lintang pelan, nadanya agak ragu saat mengatakannya.
"Yang nggak penting nggak perlu diumbar," gumam Arka ketus tanpa berniat membuka matanya.
Lintang menghela napas, lalu memindahkan posisinya menjadi duduk bersandar pada kepala ranjang, tepat sejajar dengan tubuh Arka yang sedang rebahan. Tangannya bergerak turun ke area rambut cowok itu.
"Gue usap rambut lu, ya?" tanyanya meminta izin. Tumben sekali Lintang meminta izin sesopan ini.
"Hm. Yang lama..." gumam Arka lirih.
Deg.
Jantung Lintang mendadak berdegup kencang secara tidak keruan. ‘Apa-apaan ini? Yang lama katanya? Dia nggak nolak sentuhan gue?’ batinnya bersorak salting.
Lintang segera menarik napas dalam-dalam untuk menguasai dirinya. "Buat suami tercinta, sampai besok subuh juga pasti gue jabanin!"
Mendengar celetukan lantam itu, sudut bibir Arka tampak terangkat samar membentuk sebuah smirk tipis. "Buktiin."
Lintang terkekeh geli. "Nantangin Lintang, lu? Gue jamin lu bakal kecanduan sama tangan gue."
Alis Arka terangkat samar. Tanpa diduga, dia tiba-tiba membalikkan badannya secara perlahan hingga tangan kekar itu bergerak melingkar erat di area kaki Lintang. Menjadikan paha gadis itu sebagai tumpuan barunya.
"Heh? L–lu ngapain?!" Lintang terkejut bukan main.
"Pijitin tengkuk gue sampai subuh," perintah Arka dengan suara yang terdengar teredam oleh kain celana Lintang.
Lintang melirik ke bawah dengan tatapan tidak percaya. Cowok es batu di sampingnya ini mendadak berubah macam singa jantan jinak yang sedang manja ke betinanya.
"Lu ngapa jadi clingy begini, sih?" tanya Lintang heran.
"Mau nyari bukti. Tangan lu beneran bikin gue kecanduan atau cuma omong kosong lu doang," gumam Arka beralasan.
Sebenarnya Arka hanya ingin dipijit karena tengkuknya terasa sangat tidak enak sejak pagi akibat salah bantal di sofa. Tapi, ya... harga dirinya terlalu tinggi untuk meminta tolong terang-terangan. Berhubung Lintang tadi minta ditantang, ya sudah dia tantang balik saja sekalian.
Lintang mendengus geli. "Suami apaan yang tega mempekerjakan istrinya sampai subuh?"
"Gue cuman minta bukti," gumam Arka yang posisinya justru semakin menelusupkan kepalanya dengan nyaman di dekat Lintang.
Degup jantung Lintang yang sudah mulai tidak normal sejak tadi, kini efek panasnya mulai merambat naik hingga ke pipi. Senyumnya terbit tanpa bisa ditahan lagi. Tangan lentiknya perlahan dia daratkan di tengkuk kaku milik Arka, lalu mulai memberikan pijatan lembut.
Arka menggeliat kecil di posisinya. "Kurang kenceng..."
"Ck, sabar. Ini baru opening, Malih," komen Lintang sewot.
Semakin lama, tekanan jemari Lintang di tengkuknya terasa semakin mantap dan pas. Otot kaku Arka mulai meregang, membuatnya meringis samar dengan kepala yang mendongak pelan secara refleks menikmati kenyamanan tersebut.
"Nghh..." Sebuah lenguhan lirih tanpa sadar lolos begitu saja dari belahan bibir Arka.
Detik itu juga, sepasang mata bulat Lintang langsung membelalak lebar. Tangannya seketika membeku, berhenti memijat. Dia menunduk menatap suaminya dengan wajah memerah padam.
‘Astagaaaa!! Bisa gila gue kalau begini terus!! Mana statusnya seumur hidup lagi!!’ batin Lintang menjerit histeris dalam hati, merasa pertahanan imannya sedang diuji di atas kasur sendiri.
...----------------...
"Apa?! Mas Santo ketemu Arka?!" pekik seorang wanita dengan balutan rok span mini dan kemeja satin merah menyala.
Suaranya menggelegar nyaring, memecah keheningan di dalam rumah kediaman Hansanto.
"Ngapain operasi segala? Kayak bisa selamat aja!" ujarnya ketus, menyentak orang di seberang telepon genggamnya. "Nggak bisa dibiarin. Frina harus mati!"
Sambungan telepon langsung diputus sepihak. Wanita itu kemudian tertawa licik, sebuah tawa penuh rencana setan yang siap menghancurkan kebahagiaan orang lain.