"Aku bisa menjadi mommy-mu."
"Apa kau kaya?"
"Tentu saja! Aku sangat kaya dari para orang kaya di negara ini."
"Setuju, Mommy!"
Bukan kisah anak genius, melainkan kisah sederhana penguasa muda yang terlambat jatuh cinta. Melalui perantara manis, keduanya dipertemukan lagi sebagai sosok yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosee_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertengkaran Orang Dewasa
"Ada apa denganmu?!" Oliver bersilang dada, sedangkan Liam sudah duduk di pangkuan Oscar di kursi depan. Yang di marahi masih memasang wajah bersungut kesal.
"Lihat wajahmu sekarang. Seharusnya Joseph yang memasang wajah itu, bukannya kau! Kita baru saja menabrak putrinya!" hardik Oliver lagi, pasalnya Tyler lebih menyebalkan sebagai pelaku.
Astaga ... nona sangat tidak peka, pikir Oscar seraya menutup telinga Liam dengan kedua tangan.
"Pertengkaran orang dewasa," bisiknya lebih dulu. Liam mengangguk patuh.
Terdengar decakan dari bibir Tyler yang membuat Oliver melotot marah lagi.
"Ya sudah, dia juga tidak marah, kan?! " ketus Tyler.
"Lalu, kenapa kau yang marah?" Oliver berkacak pinggang. Mulai sekarang emosinya akan terkuras habis setiap bersama pria ini, kan?
"Karena kau memeluk pria lain di depanku!"
"Memangnya kenapa?!" tanya Oliver cukup keras.
"Kau saja tidak pernah memelukku lebih dulu seperti yang kau lakukan padanya!" jawab Tyler tak kalah keras.
Ketiga orang di depan berusaha menjadi patung. Seperti dugaan Liam sebelumnya, kedua orang itu akan sering bertengkar karena sama-sama memiliki watak yang keras, tapi bukan masalah. Liam tidak memperdulikannya.
"Memangnya kau siapa! Kenapa aku harus memelukmu?!" seru Oliver.
"Kau masih bertanya? Aku calon suamimu!"
Hening.
Oliver seketika kehilangan kata, sedangkan Jeremy dan Oscar spontan saling menatap dengan mulut terbuka.
"Sejak kapan kau menjadi calon suamiku?" Oliver tersadar dan berujar dengan nada pelan yang mengintimidasi. Keduanya saling menatap dengan tidak ramah.
Liam melepas tutup tangan Oscar dan menoleh ke belakang. "Mommy, Daddy, jangan bertengkar lagi. Orang di luar bisa mendengar teriakan kalian," katanya.
Rupanya mereka telah sampai di kediaman Stacy cukup lama. Hanya saja tidak ada yang berani menengahi keduanya yang sedang dilahap api.
Oliver melepas sabuk pengamannya dan keluar lebih dulu, di ikuti semua orang.
"Selamat datang kembali." Ed menyambut mereka dengan senyuman. "Saya sudah menyiapkan kamar tamu jika tuan sekalian ingin tinggal." Karena sudah hampir malam saat mereka datang.
"Kami akan pulang sekarang," kata Tyler dengan menggendong Liam. Anak itu terlihat tidak ingin berpisah dari Oliver.
"Tidak bisakah kita tinggal, Daddy?" cicit Liam memohon.
"Daddy harus bekerja, Liam."
"Kalau begitu kau saja yang pulang. Berikan Liam padaku," ujar Oliver hendak mengambil Liam, namun Tyler memiringkan tubuhnya hingga tangan Oliver meleset. "Tidak bisa! Aku sudah kehilangan putraku cukup lama. Aku tidak bisa berpisah lagi."
"Kalau begitu tidurlah disini malam ini, Tuan," tawar Ed dengan sopan. Ada sedikit penolakan dari raut Oliver.
"Aku tidak bisa tinggal saat pemilik rumah enggan." Tyler tetap dengan pendiriannya. Oliver kembali berkacak pinggang. Pria ini jelas-jelas menyindirnya.
"Tinggal lah, tidak ada yang melarangmu! Lagipula pekerjaan apa yang kau lakukan di malam hari?!" ucap wanita yang tidak pernah lupa dengan pekerjaan kantornya hingga subuh.
"Kalau begitu kau harus menemani kami malam ini," kata Tyler.
"Tentu!"
Oscar menghela nafas di sebelah Jeremy. Nona-nya akan segera menyesali ucapannya itu.
...***...
Benar saja. Sekarang Oliver menatap malas pada tumpukan dokumen di meja kerjanya. Bagaimana ia harus menyelesaikan pekerjaannya ini jika dirinya harus melayani tamu di rumahnya!
Ia menatap Oscar yang berdiri di depan meja dengan patuh.
"Seharusnya kau menahanku," datar Oliver. Biasanya pria itu cerewet melarangnya ini itu, kenapa hanya membisu tadi?
"Aku tidak berani." Oscar berucap santai sambil menampakkan senyum tak bersalah.
"Ya! Harus bagaimana lagi?" Oliver merenggangkan tubuhnya, lalu berdiri dari kursinya. "Karena aku harus menjadi tuan rumah yang baik, maka kau terpaksa menggantikan aku duduk disini."
"Tentu saja, No— APA?!" Oscar mengangkat kepalanya dengan tercengang. Oliver menatapnya juga sambil tersenyum. Lebih cerah dari pada senyum miliknya tadi.
Oscar tahu apa yang akan terjadi jika ia menolak sekarang. Wanita itu akan menunjukkan taringnya, kan?
"Ini hukuman karena membuat tidurku terganggu! Aku ingatkan jika kau lupa tentang kejadian hari ini," senyumnya, membuat Oscar tidak berani menolak sama sekali meski wajahnya sudah ingin menangis.
Padahal Jeremy yang menabraknya! batin Oscar menjerit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...