Hani, seorang pelayan kafe yang dituntut untuk menafkahi keluarganya. Hidupnya selalu menjadi bahan perbandingan dengan sang adik. Dari segi fisik maupun pekerjaan.
Tuntutan sang ibu dan sifatnya yang matrealistis, membuat Hani ingin segera menikah dan meninggalkan keluarga toxicnya, hingga ia mendaftarkan dirinya pada salah satu aplikasi kencan buta, Soulmate App.
Apakah Hani berhasil mendapatkan pasangan dari aplikasi tersebut? Lalu bagaimanakah kelanjutan kisah hidup wanita pelayan kafe ini?
Simak cerita selengkapnya hanya di sini ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Byiaaps, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejujuran
Hani tak menyangka Razka akan berbohong padanya. Dari foto yang dikirim Tasya padanya agaknya bisa menjadi bukti. Namun, bagaimana bila Tasya menggunakan foto saat pertemuan sebelumnya dan mengaku bahwa foto itu saat pertemuan kemarin. Entah lah, yang jelas baik pertemuan pertama maupun pertemuan berikutnya, Razka tak terbuka padanya.
Hani pun kembali kecewa dibuatnya. Razka yang menginginkan menikah dengannya, namun sampai saat ini tak bisa jujur padanya. Begitu banyak pikirannya saat ini, antara hubungannya dengan Razka yang semakin merumit, dan pekerjaannya yang kian sulit.
Rasa ingin menanyakan hal ini pada kekasihnya, Hani mengurungkan niat. Malas sekali rasanya jika harus bertengkar dengan orang yang disayang. Biarlah, Razka berbicara sendiri akan kejujurannya. Seandainya pun Razka dan Tasya akan menikah, Hani hanya tinggal merelakannya. Bukan kah dalam hidup ini kita harus rela melepaskan karena tak ada satu pun milik kita di dunia ini?
Razka berjanji akan menjemput Hani sore ini. Semenjak bekerja di kantor, jadwal kerja Hani memang berubah. Kini, ia tak harus pulang malam lagi.
Seperti biasa, Hani menunggu Razka di halte depan kafe.
Beberapa menit kemudian, mobil Razka datang dan Hani segera masuk ke dalam mobilnya. Entah karena kesal atau memang Hani sangat lelah, ia sama sekali tak bisa tersenyum. Berbeda dengan Razka yang begitu sumringah melihat Hani. Razka juga seakan semakin tergila-gila dengan Hani yang semakin hari semakin cantik.
“Sayang, apa kabar?” tanya Razka lembut sembari mulai melajukan kendaraannya.
“Baik,” jawab Hani singkat.
Razka mulai menanyakan perihal sikap kekasihnya itu yang seperti tak suka saat bertemu dengannya. “Apa aku buat salah lagi?”
Hani menghela nafas panjang. “Kamu tak pernah salah, tapi hubungan kita yang tak tepat.”
Razka meminggirkan mobilnya ke tepi agar tidak menganggu jalannya kendaraan lain di belakangnya. Dengan serius, Razka menatap mata kekasihnya itu dalam-dalam. “Apa maksudnya?”
Keinginan Hani goyah untuk tidak membicarakan soal foto semalam. Batinnya tak seirama dengan keingingan otaknya. Akhirnya, ia mulai membuka mulutnya untuk membahas tentang foto yang dikirim Tasya.
Hani menunjukkan foto dalam ponselnya pada Razka. “Kamu bilang semalam ada di kantor.”
Razka terkejut melihat foto kiriman Tasya. Mukanya memerah. Namun, tatapannya lembut pada kekasih di sampingnya itu. “Aku terpaksa berbohong, aku terpaksa datang ke acara makan malam di rumahnya semalam.”
“Jadi benar kamu akan segera bertunangan dengan Tasya? Kenapa kamu tidak pernah sekali pun membahas tentang hal ini? Kenapa dari dulu kamu tidak pernah terbuka dan selalu berbohong? Aku ini siapa kamu sebenarnya?” protes Hani yang kecewa akan ketidakjujuran Razka.
Razka meminta Hani mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu. Ia meminta maaf atas kebohongannya semalam. Ia juga menjelaskan bahwa ia tidak akan pernah bertunangan dengan Tasya. Semua yang ia lakukan hanya lah demi pekerjaan, sesuai saran ayahnya.
Razka juga menceritakan tentang sang ayah yang tak meminta ia menikah dengan Tasya dan lebih mendukung Razka untuk menikah dengan pilihannya. Razka meminta Hani untuk tidak khawatir akan hal ini. Razka juga tidak akan pernah mengkhianati Hani sedikit pun.
“Aku mohon pengertianmu. Ini tidak akan lama. Aku dan ayah hanya berpura-pura bekerja sama dengan perusahaan ayah Tasya, dan seolah setuju dengan perjodohan ini,” pinta Razka.
Hani hanya terdiam mendengar penjelasan Razka. Ia tak tahu apakah pekerjaan para pengusaha memang seperti ini. Rela mengorbankan perasaan hanya demi keuntungan. Ia hanya pekerja level bawah yang tak tahu menahu akan hal ini.
Razka terus membujuk Hani untuk mempercayainya. Ia juga menunjukkan betapa tak nyamannya Razka dalam pertemuan selamam, yang tampak dari mimik mukanya di foto itu. Razka tak pernah sekali pun bisa menikmatinya.
Diciumnya punggung tangan kekasihnya itu. “Kita bertemu dengan ayah ya, ayah ingin mengenalmu. Semalam, ayah memintaku untuk mengajakmu makan malam bertiga.”
“Kenapa hanya bertiga? Lalu ibunya?” batin Hani.
Razka meminta untuk tidak menanyakan soal ibunya. Hubungannya memang tak begitu baik dengan ibunya. Hanya ayahnya lah yang selama ini dianggapnya sebagai orang tua.
###
“Aku sudah bilang, saat di luar jam kantor jangan hubungi aku terus. Aku pasti meneleponmu saat aku masih di kantor. Aku juga tidak mungkin menengokmu setiap hari karena tetanggamu akan curiga. Sonya juga bisa curiga kalau kamu meneleponku terus,” tegur Rudi pada Clara yang selalau menghubunginya saat Rudi sudah berada di rumahnya.
“Aku sedang hamil, Mas. Aku mau kamu selalu ada untukku,” ucap Clara memanja.
“Aku tahu, tapi kondisinya tidak semudah itu. Kalau ada waktu, aku akan mengajakmu menginap di hotel,” jawab Rudi membujuk dan memberikan pengertian pada istri keduanya itu.
Setelah mengobrol, Rudi berpamitan pada istrinya untuk berangkat ke kantor. Dicium dan dipeluknya istri seksinya itu. Kemudian, ia bergegas menuju mobil.
Salah seorang tetangga yang akan berbelanja di tukang sayur keliling, tak sengaja melihat Rudi saat berjalan melewati rumah Clara. Ia kemudian berlari bak reporter yang baru saja mendapat suatu berita. Saat di hadapan para ibu-ibu yang sedang berbelanja di tukang sayur, ia mulai menggosip.
“Katanya si Rudi itu kerja di luar kota, tapi sudah 2 kali aku tau dia ke rumah Bu Sukma. Pagi tadi dan malam itu. Terus, itu kenapa perut Clara sudah terlihat seperti orang hamil ya, padahal menikahnya baru 1 minggu,” ucapnya heboh.
“Iya, aku juga. Clara juga jarang keluar rumah sekarang. Tapi aku pernah tidak sengaja melihat saat dia sedang bermain ponsel di halaman rumahnya, perutnya memang terlihat jelas sedikit buncit,” sahut tetangga yang lain.
“Iya, berarti benar dugaanku kalau mereka menikah karena Clara sudah hamil duluan. Belum jelas juga statusnya si Rudi itu. Jangan-jangan, masih sah dengan istri pertamanya.” Tetangga yang lain ikut meramaikan pergosipan ibu-ibu.
Dari balik pohon mangga, seorang perempuan muda yang memakai pakaian olahrga, tampak berdiri menguping pembicaraan ibu-ibu.
...****************...