Hallo besti 🖤, cerita ku ini tentang cewek bernama Syakila Almeera yang memiliki sifat ceria, aktif, ekspresif, lembut, dan penuh cinta bertemu dengan Agha yang memiliki sifat berbanding terbalik dengan Syakila.
mereka berdua di satukan oleh pernikahan paksa, dan banyak drama didalam pernikahan mereka, apakah Agha akan jatuh cinta dengan Syakila yang terus-menerus memperlakukan Agha dengan penuh cinta atau akankah Agha tetap terjebak di lingkaran bernama masa lalu. Maka saksikan dan baca terus cerita happiness ini yah, jangan lupa komen like dan follow untuk info selengkapnya, bay bay besti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Umai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Acuh
Acara tunangan di mulai dari abah yang mengutarakan niatnya, sebenarnya hanya formalitas saja sih.
"Saya dan sekeluarga datang ke sini untuk meminang putri kamu Hasan untuk anak saya sebagai istrinya, dengan acara pertunangan ini serta hantaran kecil-kecilan ini semoga kamu bisa menerima niat baik saya dan keluarga saya."
"Akan saya terima dengan tangan terbuka Rafan, semoga hubungan sahabat kita semakin erat kedepannya, karena kita akan jadi besan." Ujar abi dengan nada jemawa membuat abah terkekeh ringan.
"Baiklah, sekarang giliran acara pemasangan cincin, yang akan di pasangkan oleh Aaliyah istri saya."
Umah pun memakaikan cincin tunangan ke jari Syakila, untuk cincin tunangan ini umah dan abah yang pilih tentunya tapi belinya pakai uang Agha. Kalau ditanya kenapa bukan Agha saja, udah tau kan di awal Agha sangat tidak peduli dengan acara ini.
Acara pun berjalan dengan lancar dan sore hari nya setelah sholat ashar keluarga Agha pamit balik ke rumah, sepanjang perjalanan Agha menerima telepon dari asisten yang ada di Italia, rencana Agha akan berangkat awal bulan depan untuk memantau perkembangan perusahaan nya secara langsung.
"Sì, puoi inviare il report al mio indirizzo email come al solito.(Ya, kamu kirimkan laporannya di email saya seperti biasa)."
"Va bene signore, quando pensa di venire qui?(Baik pak, rencana kapan bapak akan ke sini?)."
"All'inizio del mese prossimo ti contatterò dopo aver controllato nuovamente la mia agenda. (Awal bulan depan, nanti akan saya hubungi kamu setelah melihat jadwal saya lagi)."
"Sì signore, attenderemo il suo arrivo, signore.(Baik pak, akan kami tunggu kedatangan anda pak)."
"Hmm."
Dan panggilan pun terputus, Agha mulai membuka tab nya yang sengaja di bawa agar memudahkan dirinya memeriksa laporan. Kalau bawa laptop nya bakalan kena ceramah sama umah, ini aja Agha udah di diceramahi membawa tab di acara pertunangan nya.
Setelah itu, Agha fokus memeriksa laporan di tab nya, tidak peduli dengan obrolan umah, abah, mbak Aqila, dan mas Andra yang sangat asik sementara Aya dan Hamzah tidur di pangkuan umah dan mbak Aqila di kursi tengah.
Sibuk dengan laporannya, sampai Agha tidak mendengar panggilan umah.
"Erlan."
"Erlan, ya Allah anak ini."
"Hah, kenapa umah?." Tanya Agha yang mengalihkan fokus dari tab ke wajah umah dengan wajah polosnya.
"Nanya lagi, umah tanya mau gimana konsep pernikahan kamu nanti."
"Terserah umah, Erlan gak mau ambil pusing."
"Kamu mah gitu, kasih saran kek."
"Terserah umah sayang, selagi umah senang Erlan pun senang. Kalau umah bingung tanya aja ke Syakila nya, daripada bingung, mbak Aqila juga ada."
"Ya sudahlah, gak asik kamu, sama kayak abah."
"Iya, sama kayak mas Andra juga."
Lihatlah, dua laki-laki di kursi depan yang tidak tau apa-apa ikut disalahkan membuat keduanya hanya bisa menggelengkan kepalanya, ini semua karena Agha. Kalau di jawab, bakalan panjang urusan, wanita tidak akan pernah mau kalah.
"Umah."
"Iya nak."
"Untuk tamu yang hadir tidak banyak kan, untuk acaranya juga gak besar kan?."
"Iya, itu permintaan nak Syakila untuk tidak membuat acara besar dan undangan juga gak banyak, kata abah kamu yang minta."
"Bagus lah, yang di bilang abah bener umah, Erlan gak mau semua orang hadir, tar acaranya bakalan lama."
Mendengar itu umah gak bisa bantah, mengingat anaknya ini tidak suka berlama-lama di acara pesta mau itu pernikahan, ulangtahun bahkan syukuran.
"Iya, kamu tenang aja."
"Ah iya umah hampir lupa, awal bulan depan Erlan perjalanan bisnis ke Italia yah."
"Yang bener aja kamu, ini udah di akhir bulan dan rencana pernikahan kalian juga bulan depan."
"Bulan depan kan pertengahan umah, masih lama."
"Iya tapi banyak yang mau di urus nak."
"Loh bukannya umah sendiri yang bilang akan mengurus semua ini dibantu sama orang tuanya Syakila?."
"Iya sih, tapi kamu jangan main perjalanan bisnis mulu, dari kemarin gitu terus."
"Namanya juga kerjaan umah, kasihan dong kalau nanti jika Erlan gak becus urus dan perusahaan disana amit-amit bangkrut, mau berapa puluh orang yang bakalan hilang pekerjaan dan tidak bisa menafkahi keluarganya, umah gak kasihan sama mereka?."
"Kamu selalu saja menggunakan alasan yang buat umah gak bisa berkata-kata."
"Nah bukan alasan umah, tapi realita disaat ini mencari pekerjaan sangatlah sulit."
"Yaudah, kamu terima bersih aja, gak usah ngurusin ini itu, yang penting jangan membantah lagi ingat."
"Iya umah, Erlan paham."
"Bagus."
Perjalanan mereka sedikit lama sebab mbak Aqila minta mampir dulu ke restoran yang baru buka, jadi mereka mampir kesana untuk makan dan berhenti juga ke masjid untuk sholat. Sampai di rumah Agha langsung masuk kamar dan membuka laptop nya, ada rencana yang ingin di rancang nya.
"Helmi."
"Kenapa, ngaren telpon sore gini."
"Kirim jadwal gua mulai dari besok sampai bulan depan dan jangan ada perubahan jadwal, ingat itu."
Mendengar itu Helmi menjauhkan sedikit handphone nya dari telinga untuk mengecek tanggal.
"Lu gila yah, bulan depan kan lu nikah kocak."
"Tau, tapi gua gak mau ada perubahan jadwal, lagi pula acara nikahnya gak terlalu besar dan gak banyak orang yang di undang." Ucap Agha mengingat percakapan nya dengan umah di mobil saat pulang tadi.
"Kalau gitu apa hubungannya sama permintaan lu."
"Gua gak mau ambil cuti."
"Emang rusak pikiran lu yah Erlan." Ucap Helmi yang udah gak pandang sekarang dia sedang bicara sama bos nya yang paling di segani banyak orang.
"Udah atur aja, lu tenang aja gak bakalan kena imbas dari rencana gua kok, hubungi yang lain."
"Baiklah, tapi ingat jika ada masalah dengan jadwal yang lu minta ini, jangan salahkan gua dan empat sekretaris lu yah, kami gak ikutan."
"Iya, ini perintah dari gua."
"Okay, gua hubungin yang lain."
"Thanks Helmi."
"Iya bos crazy."
Tut.
Helmi langsung memutuskan panggilan takut di maki Agha.
"Kambing lu, untung orang gua lu." Gumam Agha sambil menatap handphone nya.