Di balik tembok gedhe SMA Dirgantara, ada lima cowok paling kece dan berkuasa yang jadi most wanted sekaligus badboy paling disegani: ALVEGAR. Geng ini dipimpin Arazka Alditya Bhaskara, si Ketua yang mukanya ganteng parah, dingin, dan punya rahang tegas. Pokoknya dia sempurna abis! Di sebelahnya, ada Rangga Ananta Bumi, si Wakil Ketua yang sama-sama dingin dan irit ngomong, tapi pesonanya gak main-main. Terus ada Danis Putra Algifary, si ganteng yang ramah, baik hati, dan senyumnya manis banget. Jangan lupa Asean Mahardika, si playboy jago berantem yang hobinya tebar pesona. Dan yang terakhir, Miko Ardiyanto, lumayan ganteng, paling humoris, super absurd, dan kelakuannya selalu bikin pusing kepala tapi tetep jago tebar pesona.
AlVEGAR adalah cerita tentang cinta yang datang dari benci, persahabatan yang solid, dan mencari jati diri di masa SMA yang penuh gaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Gencatan Senjata di Bawah Langit senja
Rangga menyadari bahwa ketegangan yang terlalu akut bisa membuat Maura atau Danis melakukan tindakan nekat yang di luar kendalinya. Maka, Rangga memutuskan untuk menjadi "sang juru damai" palsu.
🕊️ Manipulasi Rangga: Sang Penengah
Pagi itu, Rangga mendatangi Arazka di ruangannya. Wajahnya tampak sangat tenang, seolah dia baru saja merenungkan sesuatu yang mendalam.
"Zka, gue udah pikirin lagi," ujar Rangga sambil meletakkan kopi di meja Arazka. "Gue rasa gue salah udah ngomporin loe soal Danis kemarin. Mungkin itu cuma emosi gue yang juga lagi capek. Gue gak mau ALVEGAR hancur cuma gara-gara kita saling curiga."
Arazka mendongak, tampak sedikit terkejut.
"Maksud loe?"
"Gue udah cek lagi. Proposal Maura itu sebenernya bagus buat reputasi ALVEGAR. Dan Danis... semalem gue liat dia latihan sendirian sampe jam 12 malem cuma buat buang stres karena ngerasa bersalah sama loe. Jangan biarin ego ngebunuh persaudaraan kita, Zka."
Kata-kata Rangga yang terdengar sangat tulus itu menyentuh sisi kemanusiaan Arazka yang terdalam. Arazka menghela napas panjang, bahunya yang tegang mulai merileks.
🌸 Permintaan Maaf yang Tak Terduga
Sore harinya, Maura sedang membereskan buku di perpustakaan yang sepi. Tiba-tiba, sebuah tangan membantunya mengambil tumpukan buku di rak paling atas.
Maura menoleh dan mendapati Arazka berdiri di sana dengan tatapan yang jauh lebih lembut dari hari-hari sebelumnya.
"Arazka? Loe ngapain di sini?" tanya Maura ketus, meski hatinya bergetar.
Arazka tidak menjawab dengan kata-kata. Dia menarik Maura ke dalam pelukannya. Sangat erat. "Maafin gue, Maur. Gue... gue cuma terlalu takut kehilangan loe sampai gue jadi orang gila. Gue bakal setujuin proposal loe. Apapun yang loe butuhin buat OSIS, ALVEGAR bakal back-up penuh."
Maura terdiam, air matanya perlahan luruh. "Loe beneran minta maaf?"
Arazka melepaskan pelukannya dan mencium kening Maura lama sekali. "Iya. Gue janji bakal lebih percaya sama loe. Jangan jauhin gue lagi."
Maura tersenyum, merasa beban di pundaknya terangkat seketika. Dia tidak tahu bahwa Arazka bisa bersikap selembut ini karena "nasihat" Rangga.
🤝 Jabat Tangan Dua Saudara
Di saat yang sama, Rangga menggiring Danis ke area belakang sekolah di mana Arazka biasanya memarkir motornya. Rangga sudah mengatur agar Arazka ada di sana setelah bertemu Maura.
Saat Arazka melihat Danis, suasananya sempat canggung. Namun, Arazka melangkah maju lebih dulu.
"Dan," panggil Arazka.
Danis berhenti. "Ya, Zka?"
Arazka mengulurkan tangannya. "Gue minta maaf soal dorongan gue di pesta kemarin. Gue kebawa emosi. Loe tetep wakil gue di lapangan, dan loe tetep sahabat gue."
Danis menatap tangan Arazka, lalu tersenyum lebar dan menjabatnya dengan kuat. "Gue juga minta maaf, Zka. Gue harusnya lebih jaga jarak biar nggak ada salah paham."
Mereka berpelukan ala laki-laki, sebuah momen persaudaraan yang membuat anggota ALVEGAR lain yang melihat dari jauh bersorak lega. Miko bahkan hampir menangis saking senangnya melihat dua "pilar" organisasinya bersatu kembali.
🕵️ Senyum di Balik Bayangan
Malam itu, markas ALVEGAR kembali ramai. Tawa Miko terdengar lagi, Maura dan Kinara duduk bersama sambil ngemil, sementara Arazka dan Danis asyik main PS (PlayStation) seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Rangga duduk di kursinya, mengamati kemesraan dan kedamaian itu dengan senyum kecil di bibirnya.
"Nikmatilah saat-saat ini," batin Rangga. "Karena semakin tinggi kalian terbang bersama, semakin hancur tulang kalian saat gue tarik jatuh nanti. Persahabatan kalian yang baru pulih ini... akan jadi senjata paling mematikan yang pernah gue buat."
Rangga mengeluarkan sebuah buku kecil dari tasnya. Di dalamnya terdapat daftar nama anggota ALVEGAR, dan dia baru saja memberi tanda centang pada kolom "Re-unification (Phase 1 Complete)".
TO BE CONTINUED