Mengisahkan Livia Winarti Samego, seorang wanita 30 tahun yang harus menerima nasib bahwa ia diduakan oleh suaminya, Attar Pangestu dengan wanita lain yang tidak bukan adalah Sheila Nandhita, teman baiknya. Livia harus berjuang seorang diri dalam perpisahannya dengan Attar hingga takdir mempertemukannya dengan Ayub Sangaji, seorang mahasiswa jurusan pendidikan olahraga di sebuah kampus yang tampan dan menggoda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Karena Dia Tampan
"Kenapa kamu malah bercanda, Shei? Aku khawatir padanya!" bentak Attar.
"Kenapa harus khawatir?" suara Sheila berubah menjadi tajam dan menggoda. "Bukankah ini yang kita tunggu? Akhirnya kartu itu terbuka. Sekarang kita tidak perlu lagi bersembunyi di balik alasan pekerjaan atau makan malam formal. Livia sudah tahu semuanya, Attar. Kamu bebas. Kita bebas. Bukankah itu yang kamu katakan padaku minggu lalu saat kita di apartemen? Bahwa kamu lelah berpura-pura?"
Attar terdiam. Kata-katanya sendiri kini menyerang balik dirinya. Ia memang pernah mengatakannya, tapi melihat Livia hancur secara nyata ternyata jauh lebih mengerikan daripada bayangannya.
"Dia tahu semuanya, Attar. Dan sekarang, pilihan ada di tanganmu," lanjut Sheila dengan nada dingin. "Jangan jadi pengecut. Dia sudah tahu kita saling mencintai—atau setidaknya, kita saling menginginkan."
****
Kembali di taman, Ayub telah selesai membalut luka Livia. Ia membantu wanita itu berdiri. Livia masih tampak lemas, namun setidaknya ia tidak lagi menangis sejadi-jadinya.
"Mbak punya tempat untuk pulang selain ke rumah itu?" tanya Ayub sopan.
Livia menggeleng pelan. "Aku tidak ingin bertemu siapapun. Aku tidak ingin orang tuaku tahu dulu."
Ayub berpikir sejenak. "Kalau begitu, saya akan antar Mbak ke hotel terdekat atau ke tempat yang Mbak rasa aman. Saya tidak akan membiarkan Mbak menyetir dalam kondisi seperti ini. Bahaya."
Livia menatap pemuda di depannya. Ayub jauh lebih muda, mungkin sepuluh tahun lebih muda darinya, tapi ada aura perlindungan yang begitu kuat terpancar darinya. "Terima kasih, Ayub. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau tadi kamu tidak ada."
Ayub tersenyum tipis, sebuah senyum yang memperlihatkan deretan giginya yang rapi. "Mungkin Tuhan memang ingin saya lari malam di jalur ini supaya bisa bertemu Mbak. Mari, saya temani."
Malam itu, di tengah kehancuran rumah tangganya, Livia menemukan sebuah tangan yang bersedia menuntunnya keluar dari kegelapan. Ia belum tahu apa yang akan terjadi esok hari, namun untuk pertama kalinya sejak ia melihat ponsel Attar, ia merasa tidak lagi sendirian.
****
Pagi itu, mentari Jakarta menyelinap malu-malu di balik tirai kamar hotel yang mewah namun terasa dingin. Livia terbangun dengan kelopak mata yang berat dan bengkak. Kesadaran akan kenyataan pahit semalam menghantamnya kembali seperti ombak pasang. Ia bukan lagi istri dari arsitek ternama yang hidup dalam dongeng; ia hanyalah seorang wanita yang dikhianati oleh dua orang terdekatnya.
Di tempat lain, di kediaman mewah Pangestu, Attar sedang berada di puncak kegelisahannya. Sejak fajar menyingsing, ia sudah mengelilingi rumah sakit dan hotel-hotel di sekitar Senopati, namun sosok Livia tak kunjung ditemukan.
Ponselnya terus bergetar. Nama "Sheila" muncul berulang kali di layar. Setiap kali nama itu muncul, rasa muak mendadak membuncah di ulu hati Attar. Kata-kata Sheila semalam yang tanpa dosa dan penuh ambisi mulai terdengar seperti racun di telinganya. Dengan gerakan kasar, Attar menekan tombol blokir pada kontak Sheila.
"Cukup, Shei. Kamu sudah menghancurkan segalanya," geram Attar. Ia melempar ponselnya ke kursi penumpang dan memacu mobilnya menuju rumah orang tuanya, berharap Livia ada di sana untuk mengadu.
****
Namun, Attar tak menyadari bahwa Sheila Nandhita bukanlah wanita yang bisa diabaikan begitu saja. Baginya, penolakan adalah tantangan. Dengan amarah yang meluap karena nomornya diblokir, Sheila memutar kemudi mobilnya menuju rumah megah milik Hilman dan Rahmi, orang tua Attar.
Di teras rumah yang asri itu, Rahmi sedang menyiram tanaman anggrek kesayangannya sementara Hilman duduk membaca koran pagi. Kedatangan Sheila yang tiba-tiba dengan riasan tebal dan gaun merah mencolok mengejutkan mereka.
"Sheila? Tumben sekali pagi-pagi ke sini? Di mana Livia?" tanya Rahmi dengan senyum ramah yang tulus.
Sheila melepaskan kacamata hitamnya, menatap Rahmi dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kemenangan dan kegilaan. "Livia tidak ada di sini, Tante. Dan mungkin dia tidak akan pernah ingin bertemu keluarga ini lagi."
Hilman menurunkan korannya, dahinya berkerut. "Apa maksudmu, Nak?"
Sheila melangkah maju, tanpa ada rasa canggung atau malu sedikit pun. Ia tersenyum tipis, seolah sedang menceritakan prestasi besar. "Saya ke sini untuk jujur. Saya dan Attar... kami saling mencintai. Kami sudah berhubungan selama satu tahun di belakang Livia."
Prang!
Pot kecil di tangan Rahmi jatuh berkeping-keping. Wajahnya yang semula segar mendadak pucat pasi, seperti darah baru saja disedot keluar dari tubuhnya.
"Apa yang kau bicarakan, Sheila? Kamu sahabat Livia!" suara Hilman meninggi, tangannya gemetar menahan amarah.
"Persahabatan itu membosankan, Om," sahut Sheila santai, ia menyibakkan rambutnya dengan angkuh. "Lagipula, siapa yang bisa tahan melihat Attar? Dia sangat tampan, sangat seksi, dan begitu menggoda. Pria seperti dia butuh wanita yang bisa mengimbanginya, bukan hanya wanita yang tahu cara menata meja makan seperti Livia."
"Cukup! Jaga bicaramu!" teriak Hilman.
Namun, sebelum Hilman bisa mengusir wanita itu, ia mendengar suara rintihan pelan. Rahmi memegangi dadanya, napasnya tersengal-sengal sebelum akhirnya matanya terpejam dan tubuhnya ambruk ke lantai marmer.
"Ya Tuhan! Ma!" Hilman berteriak panik, sementara Sheila hanya berdiri diam, menatap tubuh ibu Attar yang pingsan dengan pandangan dingin yang kosong.
****
Di kamar hotel, Livia baru saja selesai membasuh wajahnya saat pintu kamarnya diketuk dengan pelan dan berirama. Ia mengintip melalui lubang intip dan mendapati sosok pemuda jangkung yang semalam menyelamatkannya.
Livia membuka pintu. Ayub Sangaji berdiri di sana, masih mengenakan jaket varsity kampusnya dengan tas punggung tersampir di satu bahu. Di tangannya, ia membawa sebuah kantong kertas cokelat yang aromanya sangat menggoda.
"Pagi, Mbak Livia," sapa Ayub dengan senyum tulus yang langsung menghangatkan suasana. "Saya tebak Mbak pasti belum sarapan. Saya beli bubur ayam legendaris di dekat kampus tadi."
Livia tertegun. "Ayub... kamu tidak perlu repot-repot seperti ini."
"Bukan repot, Mbak. Ini bagian dari 'pemulihan atlet'," canda Ayub sambil masuk setelah dipersilakan. Ia menata mangkuk bubur di meja kecil dekat jendela. "Saya harus pastikan Mbak punya energi sebelum saya berangkat ke kampus untuk ujian pagi ini."
Livia duduk di hadapan Ayub. Melihat pemuda ini, ia merasa ada kontras yang luar biasa. Jika Attar adalah arsitektur yang megah namun penuh retakan rahasia, maka Ayub adalah lapangan terbuka yang jujur dan menyegarkan.
"Terima kasih, Ayub. Kamu sangat baik," ujar Livia lirih. Ia menyuap bubur itu pelan, merasakan kehangatan yang menjalar di perutnya.
Ayub memperhatikan lecet di tangan Livia. "Lukanya sudah tidak terlalu perih, kan? Nanti siang jangan lupa diolesi salep yang saya berikan semalam."
Livia menatap Ayub lama. "Kenapa kamu melakukan semua ini untuk orang asing seperti aku?"
Ayub terdiam sejenak, sorot matanya yang cokelat menatap Livia dengan kedewasaan yang tenang. "Karena saat saya melihat Mbak di jalan semalam, saya tidak melihat 'orang asing'. Saya melihat seseorang yang sedang kehilangan arah. Dan dalam olahraga, saat rekan setim kita jatuh, kita tidak meninggalkannya. Kita membantunya berdiri sampai dia bisa berlari lagi."
Livia tersenyum tipis—senyum pertamanya dalam dua puluh empat jam terakhir. "Kamu mahasiswa yang luar biasa, Ayub. Kampusmu beruntung memilikimu."
"Dan Mbak Livia beruntung karena Mbak masih hidup dan punya kesempatan untuk bahagia lagi," balas Ayub tegas. Ia melirik jam tangannya. "Saya harus berangkat sekarang. Ini nomor telepon saya, Mbak. Kalau butuh apa-apa, atau kalau si 'brengsek' itu datang mengganggu, telepon saya saja. Saya tidak keberatan mempraktikkan teknik bela diri saya padanya."