Hidup bagai dalam dunia gelap bagi Rendra, Putra bungsu pak Arif. Aktif di malam hari dan Tidur di siang hari. Tidak ada aktivitas lain kecuali bermain main bersama geng Motor. Itulah kehidupan yang ia jalani karena masa lalu yang membuatnya rapuh. Tak ada manusia yang ia dengarkan bahkan ayahnya sendiri. Hingga suatu saat ia bertemu pembantu yang mampu meluluhkan hatinya. Pembantu bercadar bernama Mardiyah menjadi Pembantu Favoritnya di rumah itu.
Simak kisahnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma .R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Tak mungkin aku dilamar
Siang ini, Satria merasa sedikit baikan dari sakitnya. Ia telah duduk di ruang tamu sembari memainkan hpnya. Satria memikirkan matang matang tentang perkataan mamanya tadi.
"Benar kata mama, sudah sepantasnya aku menikah di usia ku ini, sampai saat ini aku bahkan tidak pernah dekat dengan wanita manapun, dan diyah adalah satu-satunya wanita baik yang pernah aku temui," batin Rendra yang melamun di sofa.
"Di minum dulu tuan, ini jahe hangat, tadi nyonya suruh saya buatin ini," ucap Diyah yang tiba-tiba muncul di sana. Ia datang membawakan air jahe untuk menghangatkan tubuh Satria.
"Diyah..iya.. terimakasih ya,"
"Sama sama tuan," jawab Diyah yang kemudian membalikkan badan untuk pergi.
"Tunggu.." panggil Satria menghentikan langka diyah.
"Iya ..apa ada yang perlu lagi tuan?" tanya Diyah sembari menghadap Satria.
"Kamu..kamu.."
"Apa sih tuan..maksudnya apa?" diyah penasaran dengan kata yang akan terucap dari Satria. Tampak Satria amat bingung harus mengatakan apa.
"Apa kamu mau menikah dengan saya," kata Satria yang langsung berterus terang dengan niatnya.
Diyah malah tertawa mendengar itu, siapa sangka jika seorang tuan Satria bisa bercanda sejauh ini.
"Tuan apaan sih...mau latihan melamar calon istri ya, emangnya kapan tuan, nanti saya bantu deh," balas Diyah, ia masih merasa lucu dengan ucapan Satria itu.
"Malah ketawa, saya serius, saya ingin menjadikan kamu istri saya, mungkin ini terlalu buru-buru buat kamu, tapi saya serius diyah, saya ingin menjadikan kamu pendamping hidup saya," jelas Satria sejelas jelasnya.
"Udahlah tuan..jangan bercanda lagi, saya tau kalau tuan cuma akting kan, mana mungkin laki-laki seperti tuan mau memperistri pembantu seperti saya," balas Diyah.
"Kenapa nggak mungkin, lagian kamu bukan cuma sekedar pembantu tapi kamu itu adalah..." hampir saja satria mengungkapkan rahasia yang pernah di katakan mama Sinta. bahwa Diyah adalah keponakan mama Sinta.
"Adalah apa tuan?"
"Maksud saya kamu itu adalah ciptaan Allah juga kan, kita semua adalah hamba Allah yang sama derajatnya di hadapan Allah," lanjut Satria mengalihkan ucapannya.
"Saya nggak tau tuan bercanda atau serius, tapi yang pasti kalau ucapan tuan itu serius, saya mohon maaf tuan, untuk saat ini saya tidak ingin menikah,"
"Loh kenapa? apa karena saya terlalu tua menurut kamu? saya belum sampai 30 loh,"
"Bukan begitu tuan..saya belum siap, lagi pula dari dulu saya tidak pernah berpikir untuk menikah dengan orang kaya seperti tuan," tutur Diyah menjelaskan alasannya. Ia merasa ini terlalu terburu-buru untuk menikah. Lagi pula rasanya seperti mimpi jika seorang tuan Satria melamarnya.
"Baik..kalau itu alasan kamu, tolong kamu pikir pikir lagi ya, saya juga tidak minta jawaban sekarang, istikharah lah dulu, saya tunggu jawaban mu," ucap Satria dengan tersenyum.
**
Sore itu, Diyah mengiris bawang sembari melamun memikirkan perkataan tuan Satria itu. "Apa mungkin tuan Satria mau mempermainkan saya, apa dia hanya bercanda? tapi kayaknya nggak deh, tuan Satria bukan orang yang seperti itu, tapi kalau dia serius dengan ucapannya gimana dong? aku nggak mau masuk ke dalam keluarga pak Arif, seperti yang orang-orang bilang bahwa orang miskin yang menikah dengan orang kaya hanya akan membuat si miskin tak dihargai," batin diyah yang masih melamun.
Hingga diyah yang mengiris bawang tak sengaja mengenai pisau ke jari telunjuknya.
"Astaghfirullah..." ucap Diyah spontan saat ia tersadar dan melihat darah menetes dari jarinya.
"Astaghfirullah..nak..kamu kenapa sih, ngelamun lagi ya.." sapa Bu Maryam yang tiba-tiba muncul menemui Diyah.
"Nggak sengaja kena pisau Bu," jawab Diyah sembari cengar-cengir padahal jarinya sudah amat perih.
"Makanya...kalau kerja itu yang fokus..bukannya malah mengkhayal, salah sendiri sih..mimpi kok ketinggian, pasti lagi bayangin wajah tuan muda Rendra atau tuan Satria kan.." Sari bersuara dari arah samping diyah.Ia sedari tadi memperhatikan diyah yang selalu melamun. Hingga Sari pun geram melihat itu.
Diyah tak membalas perkataan Sari itu, ia sibuk membersihkan lukanya.
"Kamu jangan bicara seperti itu sama diyah, orang kena musibah bukannya di tolongin malah di katai," gerutu Bu Maryam menatap sinis ke arah Sari.
"Apaan sih, saya kan benar, diyah emang nggak pernah becus kerjaannya," ucap Sari dengan ketus, setelah itu barulah ia pergi.
Bu Maryam mengelus pundak Diyah seraya menenangkan hatinya. "Udah..jangan di dengarkan ya, biar aja dia ribut sendiri," ucap Bu Maryam menyemangati Diyah.
"Iya Bu..diyah udah biasa kok," jawab diyah yang masih saja bisa tersenyum.
*
Malam hari, Rendra dan papanya pulang dari kantor. Tampak keduanya masih kompak semobil. "Aku ke kamar dulu ya pa, sekalian mau mandi," ucap Rendra pada papanya saat keduanya baru saja melangkahkan kaki di rumah.
"Iya...kamu istirahat ya, besok biar bisa berangkat pagi-pagi,"
"Oke pa.." jawab Rendra. Sampai di situ saja, Rendra dan Papa Arif pun saling berjalan ke lain arah di rumah itu. Rendra menuju kamarnya di atas sedangkan papa Arif pun menuju kamarnya.
Rendra baru saja memasuki kamarnya, ia melihat jus jeruk kesukaannya di meja. Saat ia mengangkat jus itu, tampak sebuah kertas putih kecil di bawah gelasnya.
Rendra mengambil dan membaca surat itu. "Di minum ya tuan, semangat! semoga kerjaannya berjalan lancar!" itulah kata kata yang tertulis di surat itu. Tanpa berpikir panjang, Rendra sudah tau bahwa itu dari diyah.
Tak sadar Rendra senyum senyum sendiri melihat surat kecil tersebut.
Rendra seharian ini tak melihat diyah, jadi ia berpikir untuk menemui diyah karena diyah tak menemuinya.
Rendra mencari cari seisi rumah dan bertanya pada pembantu yang lain. Tak lama setelah ia berkeliling akhirnya ia mendengar suara diyah yang sedang mengobrol dengan Bu Maryam di kamar kecil Bu Maryam. Tampak pintu tak di kunci dan sedikit terbuka.
Rendra hendak masuk, namun langkahnya terhenti begitu melihat diyah tanpa cadar dan sedang mengobrol serius dengan Bu Maryam.
Diyah memang sering membuka cadarnya jika hanya berhadapan dengan bu Maryam. Lagi pula kamar Bu Maryam itu ada di belakang. Tak pernah ada siapa pun yang mau ke sana kecuali pembantu lain yang juga sesama perempuan.
Mata Rendra tak berkedip melihat pemandangan yang amat indah di hadapannya. "Barulah aku bisa melihat wajahmu dengan sangat jelas," batin Rendra, tak sadar dirinya tersenyum.
Tak lama kemudian, sepertinya diyah telah merasakan kehadiran seseorang di sana. Ia menoleh ke arah pintu yang sedikit terbuka. Untungnya Rendra telah buru-buru sembunyi. Ia tidak jadi menemui Diyah karena khawatir diyah akan memarahinya.
it is so cute 😭
ta bantu doa
tapi saya suka gayamu Rend 💪