Biantara Imam Wijaya, seorang ketua genk motor The Moge yang melakukan perjalanan menuju kota Yogyakarta untuk mencari Fahri, bendahara keuangan The Moge yang membawa kabur uang senilai ratusan juta rupiah.
Dalam perjalanannya menuju mencari Fahri, ia di pertemukan dengan seorang gadis cantik yang bernama Annisa, yang merupakan seorang guru ngaji di kampungnya. Mampukah Bian menaklukan hati Annisa? dan mampukah Bian menemukan Fahri?
Cerita selengkapnya ada di Ride to Jogja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
H-1 sebelum acara pertunangannya bersama Annisa di gelar, Bian terbang menuju Jogja. Awalnya ia berencana akan mampir sebentar ke rumah sakit untuk menjenguk ayahnya sekaligus meminta doa, namun karena banyaknya hal yang harus ia urus, membuat Bian tak sempat mengunjungi ayahnya. Meski demikian dua hari yang lalu saat Bian menjenguk ayahnya, ia sudah meminta restu kepada pak Wijaya.
Tiba di Jogja ia langsung menuju venue acara untuk melihat persiapannya sekaligus meeting bersama WO serta pemandu acara. "Apa Nissa sudah di beri tahu mengenai susunan acara ini?" tanya Bian.
"Sudah pak, beberapa hari yang lalu, kita meeting dengan Mba Nissa, sekalian test food. Tadi pagi Mas Fahri pun sudah datang kemari mengecek persiapan venue."
Bian mengangguk puas dengan hasil kerja WO yang ia tunjuk. Selesai melunasi semua tagihan, ia bergegas menuju kamar hotel untuk mengecek seserahan yang akan ia berikan kepada Annisa, seserahan tersebut di urus oleh WO yang mengurus semua rangkaian acara pertunangan mereka, Bian hanya menyerahkan daftar isi produk yang akan ia berikan kepada Annisa. Masih beberapa kotak yang masih kosong, kotak itu nantinya akan di isi makanan dan satu kotak akan Bian isi dengan satu set perhiasan yang sudah ia bawa dari Jakarta.
Malam harinya Bian kembali mengecek venue, kali ini ia di temani oleh Fahri. Bian tak menyangka hari yang di nantinya akan tiba padahal sebelumnya ia sudah mengira tidak akan bisa mendapatkan Annisa sebab ia merasa bahwa dirinya jauh dari kata pantas untuk wanita seshalehah Annisa.
"Bagaimana perasaan loe?" tanya Fahri kepada Bian, sembari memasukan handphonenya ke saku, ia baru saja melakukan video call dengan adiknya untuk memperlihatkan venue pertunangannya.
"Happy," jawab Bian. "Tapi ada sedikit gugup, hal yang wajarlah."
"Nissa pun sama, dia terlihat amat gugup beberapa hari belakangan ini," ucap Fahri. "Oh iya, bajunya bagaimana? udah loe coba?" Pagi tadi Fahri menaruh pakaian yang di berikan oleh sang desainer di kamar tempat penyimpanan seserahan.
"Sudah, pas kok.," jawab Bian, meski hanya satu kali fitting namun pakaian itu pas dan sudah sesuai dengan yang Bian harapkan.
Fahri menepuk bahu Bian. "Lebih baik loe istirahat agar loe fresh, gue juga harus pulang sudah malam."
Bian mengangguk, ia kembali ke kamar hotelnya, sementara Fahri pulang ke kediamannya.
...****************...
Pagi hari setelah shalat subuh Bian duduk di balkon kamar hotelnya, memandangi handphone, ia berharap ada pesan masuk atau DM instagram dari ibundanya, namun tak terlihat tanda-tanda bahwa ibunya akan hadir dalam acara pentingnya, padahal beberapa hari yang lalu, Bian sempat melihat ibundanya memposting foto kegiatan yang ia hadiri di sekolah adik tirinya. "Apa aku memang tidak penting bagimu? Atau jangan-jangan kau tidak pernah mengharapkanku?" Bian menyeka air mata yang menggenangi sudut mata.
Bian tidak mau terlarut dalam kesedihan, ia harus menyambut hari yang penting ini dengan senyum kebahagiaan. Sebentar lagi ia akan punya istri, wanita yang akan selalu menyayangi dirinya hingga akhir hidupnya, wanita yang akan menjadi tempatnya pulang. Ia juga akan memiliki ihu mertua yang baik, yang menganggapnya seperti anak kandungnya sendiri. Jadi untuk apa terus menangisi orang yang tidak pernah mengharapkan kehadirannya, lagi pula semua upaya sudah ia tempuh untuk bisa bertemu dengan ibundanya.
"Aku akan menjemput kebahagiaanku, aku akan membuat keluarga kecil yang bahagia bersama, Nisa," gumam Bian, sebelum ia mematikan handphonenya, Bian sempat membuka pesan dari Widya.
Widya mengirimkan screenshot chat yang berisi makian Caroline kepadanya, Caroline yang sedang penasaran karena Bian dan Widya tak ada di kantor, memata-matai Widya lewat akun sosial mediany. Caroline mengira jika Widya dan Bian tengah berlibur bersama, berdasarkan foto yang Widya unggah di akun media sosialnya, dimana Widya menampakan dirinya tengah bersandar di bahu seorang pria ketika ia tengahmenonton konser boyband kesukaannya beberapa hari yang lalu. Padahal pria itu adalah adik kandung Widya. Bian membelikan dua tiket kepada Widya sehingga ia mengajak adiknya untuk menjaganya.
Widya:
By the way terima kasih banyak ya pak Bian, mengirimkan tambahan uang saku ke rekeningku, aku izin dua hari lagi ya pak✌
Bian mengerutkan keningnya, tadi malam ia mengirimkan uang kepadanya agar dia segera membeli oleh-oleh untuk keluarganya dan langsung pulang ke Indonesia, bukan malah minta tambahan cuti.
Bian:
Pulang sekarang atau kau, aku pecat!!
Bian beranjak dari balkon, lalu keluar dari kamarnya menuju ruang tempat penyimpanan seserahan. Di ruangan itu sudah ada beberapa orang WO yang tengah menyiapkan seserahan yang berisi makanan khas Jogja, Jawa Tengah, Jakarta dan beberapa makanan dari luar negeri.
"Bagaimana persiapannya? Tanya Bian," pada orang yang bertanggung jawab mengurus seserahan.
"Sudah semua pak, kita hanya sedang cek ulang takut ada yang tertinggal," ucap wanita itu. "Oh iya pak, untuk kotak yang berisi perhiasan, silahkan pak Bian bawa saja kemudian bapak isi dan nanti di bawa pada saat acara mau di mulai, karena khawatir hilang."
Bian mengangguk setuju. "Ya sudah, aku mau ganti baju dulu. Apa Hairdonya sudah datang?" Bian memiliki rambut yang cukup gondrong, namun ia masih belum mau memotongnya sehingga ia rasa ia membutuhkan jasa hairdo untuk merapihkan rambutnya.
"Sedang di jalan, Insayaallah lima menit lagi sampai. Pak Bian ganti..." kalimat wanita itu terpotong saat Bian mengangkat tangannya dan mengatakan "Sebentar," ia mengangkat panggilan masuk ke handphonenya.
Wajah Bian nampak serius menerima telepon itu, ia nampak mengusap wajahnya dengan kasar kemudian berkata. "Aku akan segera ke sana," Bian mengakhiri teleponnya, kemudian ia menelepon seseorang. "Siapkan helikopter sekarang juga, aku akan pulang ke Jakarta." Bian berlari menuju rooftop dan terbang kembali ke Jakarta.
...****************...
Berita kepergian Bian secara mendadak dan tanpa memberi tahu siapapun membuat Annisa dan keluarganya syok. Terutama Annisa, ia begitu sedih ketika mendengar kabar itu.
"Sudahku katakan sejak awal, pria itu memang brengsek," ucap Fahri kesal, berkali-kali ia mencoba menghubungi Bian namun handphonenya selalu di luar jangkauan.
"Tenang dulu," ucap Sekar. "Imam kan baru saja pergi setengah jam yang lalu, dia pasti masih di udara, sehingga handphonenya ia matikan. Kamu tidak boleh emosi Fahri, siapa tahu saja Imam sedang ada masalah di kantornya. Kita jangan su'udzon dulu, lagi pula masih ada waktu dua jam lagi, Imam pasti datang, ibu percaya itu." Sekar mencoba menenagkan hati Annisa agar tidak bersedih.
"Tapi aku baru saja chat dengan Widya, sekretaris Bian. Dia bilang tidak ada masalah di kantor Bian. Widya sudah mengecek pesan di group dan juga email di kantornya, tidak ada masalah apa-apa."
kirain ada kelanjutannya lagi
padahal masih seru ,
pengin tau anak²nya setelah pada dewasa tuh gimana .
tapi best banget , happy ending.
sukses selalu kak author nya
haduh.
250jt dibilang uang receh
haduh...
receh tuh yg koin² itu Bambang itu mah kertas semua
Banyak pesan juga dari novel ini...👍👍
Terimakasih Ka Irma untuk karyanya...semngat terus untuk karya selanjutnya...