Zivaniel Maxton de Luca adalah sosok yang ditakuti dunia bawah. Di balik wajah tampannya, ia menyimpan darah dingin dan tangan yang tak pernah ragu menumpahkan nyawa. Dengan topeng penyamaran, ia membantai musuh-musuhnya tanpa ampun, menegakkan hukum versinya sendiri dalam lingkaran mafia kelas kakap yang diwariskan padanya sejak lahir.
Tak seorang pun mengetahui identitas aslinya. Bagi dunia luar, Zivaniel hanyalah pria biasa dengan aura dingin yang sulit ditembus. Namun bagi mereka yang mengenalnya di dunia gelap, namanya adalah teror—legenda yang hidup, bengis, dan tak pernah gagal.
Hingga satu nama mampu meretakkan kekokohan hatinya.
Cherrin.
Gadis yatim piatu yang tumbuh dalam kesederhanaan setelah diadopsi oleh sang nenek. Lembut, polos, dan jauh dari dunia hitam yang melingkupi hidup Zivaniel. Sejak kecil, Cherrin adalah satu-satunya cahaya dalam hidupnya—alasan mengapa ia masih mengenal rasa ragu, takut dan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11 "Siapa Black wolf?"
Udara malam menusuk kulit, lebih dingin dari biasanya, seolah sengaja merayap perlahan ke sela-sela jaket tebal yang Cherrin kenakan. Tangannya menyelip lebih dalam ke saku, jemarinya kaku meski tubuhnya terus bergerak. Lampu-lampu taman Mension berdiri berderet rapi, menyinari jalan setapak dengan cahaya kekuningan yang terasa dingin, bukan hangat. Jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lewat sedikit, jarum detiknya terus bergerak tanpa peduli pada rasa gelisah yang mengendap di dadanya.
Cherrin menghela napasnya berulang kali, bukan karena lelah, melainkan karena pikirannya tak mau diam. Ada keinginan kecil yang sejak sore terus mengetuk benaknya—makan sate di dekat terminal bus. Sate yang katanya sedang viral itu. Sate yang dibicarakan Icha dengan mata berbinar sejak dua hari lalu, seolah sate itu bukan sekadar makanan, melainkan pelarian kecil dari rutinitas yang menyesakkan.
Matanya melirik ke kanan dan kiri, memastikan setiap sudut Mension aman. Beberapa penjaga tampak duduk di pos masing-masing. Ada yang sedang menyeruput kopi, ada yang sibuk dengan ponsel, dan ada pula yang tampak setengah mengantuk. Cherrin memperlambat langkahnya, menyelinap sedikit demi sedikit di balik bayangan pilar besar. Jantungnya berdegup lebih cepat setiap kali terdengar suara langkah atau batuk kecil dari kejauhan.
Ia tahu, kalau sampai ketahuan keluar malam ini, Varla tidak akan tinggal diam. Kata-kata tajam itu pasti akan meluncur tanpa saring. Maki-maki yang sudah terlalu sering ia dengar, sampai-sampai telinganya seperti kebal, tetapi dadanya tidak pernah benar-benar kuat menahannya.
Ia berhenti sejenak di sudut tembok tinggi yang ditumbuhi tanaman rambat. Lampu di sana lebih redup. Cherrin menelan ludah, lalu melangkah lebih cepat, melewati pintu samping yang jarang digunakan. Engselnya berdecit pelan, membuat Cherrin refleks menahan napas. Ia menunggu beberapa detik, memastikan tak ada suara langkah mendekat.
Tidak ada.
Cherrin akhirnya berhasil keluar.
Udara di luar Mension terasa berbeda—lebih bebas, meski dinginnya tetap sama. Ia melihat sosok Icha berdiri tidak jauh dari gerbang, helm sudah terpasang, motor menyala pelan. Lampu motor itu seperti penanda kecil di tengah gelapnya malam.
“Lo lama banget,” kata Icha begitu melihat Cherrin mendekat.
Cherrin terkekeh pelan, napasnya masih sedikit memburu. “Sorry. Namanya juga pergi diam-diam. Kalau sampai ketahuan, bisa-bisa gue digundulin sama nyokap sambung gue,” ucapnya setengah bercanda, meski senyum di wajahnya tidak sepenuhnya tulus.
Icha menatapnya dengan ekspresi iba. “Kasihan banget elo,” katanya lirih. “Maaf ya.”
Cherrin mengangkat bahu. “Ya gini lah,” ujarnya pelan. “Namanya juga anak hasil adopsi. Tapi gue bersyukur banget sih… mereka masih mau adopsi gue.”
Kalimat itu meluncur begitu saja, seolah sudah terlalu sering ia ucapkan pada dirinya sendiri. Sebuah pembenaran yang lama-lama terdengar kosong.
Icha turun dari motor sebentar, lalu mengelus tangan Cherrin dengan lembut. “Yang sabar ya,” katanya. “Semua pasti ada hikmahnya.”
Cherrin mengangguk kecil. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Kata hikmah terdengar terlalu besar untuk hidupnya yang penuh detail kecil dan luka-luka sepele yang tak pernah benar-benar sembuh.
Mereka pun naik motor. Mesin menderu pelan, lalu melaju membelah malam. Jalanan mulai sepi, lampu-lampu toko sudah banyak yang padam. Angin malam menerpa wajah Cherrin, membuatnya sedikit lebih rileks. Ia mulai berceloteh, membicarakan sate itu—tentang bumbu kacangnya, tentang antreannya yang panjang, tentang betapa ia ingin makan tanpa memikirkan apa pun malam ini.
Icha menimpali dengan tawa kecil, sesekali mengangguk. Motor meliuk-liuk mengikuti jalanan aspal yang mulai menyempit. Suara mesin dan angin menjadi irama monoton yang menenangkan, sampai akhirnya mereka memasuki kawasan yang jauh lebih sunyi.
Lampu jalan jarang. Pohon-pohon tinggi berdiri di kiri dan kanan, bayangannya menjulur panjang ke aspal. Suasana berubah perlahan, nyaris tak terasa. Cherrin berhenti berceloteh. Ada sesuatu di udara yang membuat tengkuknya meremang.
Motor melambat.
“Cha…” Cherrin memanggil pelan.
Icha tidak menjawab. Tangannya di setang motor tampak sedikit gemetar.
Di depan mereka, tidak jauh dari tikungan kecil, berdiri seorang pria.
Pria itu mengenakan topeng—bukan topeng lucu atau topeng pesta, melainkan topeng polos yang menutupi seluruh wajah. Tangannya… berlumuran darah. Merahnya tampak gelap di bawah cahaya lampu motor.
Waktu seperti melambat.
Topeng itu? Cherrin sangat mengenalinya, ia orang yang sama yang membunuh beberapa hari yang lalu.
Cherrin merasa jantungnya berhenti berdetak sejenak, lalu berdetak terlalu cepat. Ia bisa mendengar napasnya sendiri, berat dan tidak teratur. Icha gemetar hebat, tubuhnya kaku. Bibirnya bergetar, tetapi tidak ada suara yang keluar. Dalam hitungan detik, Icha ambruk, pingsan di atas motor yang hampir oleng.
Cherrin reflek memegang tubuh Icha agar tidak jatuh.
Pria itu menoleh.
Tatapannya—meski tertutup topeng—terasa begitu nyata. Seolah mata di balik topeng itu sedang menatap Cherrin perlahan, membaca setiap ketakutan yang ia simpan rapat-rapat.
Cherrin menelan ludah. Ia seharusnya takut. Ia seharusnya lari. Tetapi tubuhnya bergerak berlawanan dengan naluri. Ia melangkah maju beberapa langkah, kakinya terasa berat namun mantap.
Pria itu tampak terkejut, ia hendak pergi. Tubuhnya berputar sedikit, langkahnya mengarah menjauh dari mereka.
Dan entah dorongan apa yang menguasai dirinya, Cherrin mengulurkan tangan.
Ia menarik baju pria itu.
Srek.
Suara kain yang tersobek terdengar jelas di tengah sunyi. Pria itu berhenti. Tubuhnya menegang.
Cherrin membeku.
Tangannya masih mencengkeram kain itu, sementara dadanya naik turun cepat. Ia bisa mencium bau besi—bau darah yang menusuk. Udara terasa semakin dingin, seolah malam ikut menahan napas bersama mereka.
"Pergi! Jangan ikut campur!"
Deg
Tubuh Cherrin menegang, tangannya yang menggenggam kain itu menggantung di udara.
Sedangkan hal tersebut di pergunakan oleh Zivaniel untuk kabur dari sana.
*
Zivaniel menghela napasnya kasar.
Bukan helaan napas yang melegakan, melainkan napas berat yang terasa seperti serpihan kaca di paru-parunya. Tangannya terangkat, lalu menghantam rak besi di hadapannya. Pisau-pisau yang tersusun rapi di sana bergetar sesaat, sebelum akhirnya satu per satu terjatuh ke lantai semen dengan suara nyaring yang memantul di dinding ruang bawah tanah.
Clang.
Clatter.
Denting logam beradu.
Ia membanting sisa pisau yang masih berada di tangannya tanpa ragu. Suara itu kembali menggema, bercampur dengan napasnya yang tidak stabil. Ruangan itu dingin, lembap, dan nyaris tanpa cahaya. Hanya satu lampu bohlam kecil yang tergantung di langit-langit, bergoyang pelan akibat hentakan barusan. Bayangannya ikut bergerak, memanjang dan memendek di dinding—seperti sosok lain yang sedang mengamatinya.
Zivaniel menunduk, menatap lantai yang kini dipenuhi pisau.
Tangannya gemetar.
Ia mengangkat tangan itu perlahan, menatap noda merah gelap yang masih menempel di sela jemari. Darah sudah mulai mengering, terasa lengket dan dingin. Bau besi memenuhi ruangan, menusuk inderanya, tetapi ia tidak bergeming. Bau itu bukan hal baru. Seharusnya tidak.
Namun malam ini berbeda.
Sungguh, ia tidak pernah menyangka—tidak sekalipun—bahwa Cherrin akan melihatnya lagi malam ini.
Melihatnya sebagai Black Wolf.
Nama itu berputar di kepalanya, seperti gema yang tak mau reda. Julukan yang selama ini ia rawat dalam diam, dalam kegelapan, jauh dari mata semua orang, jauh dari Mension yang di atas tampak megah dan terhormat. Black Wolf adalah sisi yang tidak pernah boleh menyentuh cahaya. Sisi yang lahir dari keputusasaan, kemarahan, dan sesuatu yang terlalu busuk untuk disebut keadilan. Dan ia lahir dari seorang anak mafia kelas kakap.
Zivaniel bersandar ke dinding, punggungnya menyentuh permukaan dingin semen. Ia meluncur turun perlahan hingga duduk di lantai. Lututnya tertekuk, kepalanya tertunduk.
Ia mengusap wajahnya kasar.
Topeng itu kini tergeletak tak jauh darinya—topeng polos tanpa ekspresi. Ia menatapnya lama, seolah topeng itu makhluk hidup yang baru saja mengkhianatinya.
“Kenapa kamu ada di sana Cherrin…” gumamnya lirih.
Suaranya tenggelam dalam ruang bawah tanah.
Ia memejamkan mata, tetapi bayangan itu justru semakin jelas. Jalanan sepi. Lampu motor yang menyilaukan. Tubuh seorang gadis yang berdiri terlalu dekat. Dan mata itu—mata Cherrin—yang menatapnya dengan ketakutan yang berlebihan, ia pastikan Cherrin akan trauma lagi.
Ia mengerang pelan, menekan pelipisnya. Ingatan lain menyusup, jauh lebih lama, jauh lebih dalam.
Dan malam ini… gadis itu menarik bajunya.
Satu tarikan kecil, satu sobekan kain—namun cukup untuk merobek batas yang selama ini ia jaga mati-matian.
Zivaniel bangkit berdiri, langkahnya berat saat mendekati wastafel kecil di sudut ruangan. Ia membuka keran, air dingin mengalir deras. Tangannya dimasukkan ke bawah air, darah mulai luruh perlahan, mengalir ke saluran pembuangan. Warna merah memudar, tetapi sensasi di kulitnya tidak.
Ia menggosok tangannya berkali-kali. Terlalu keras. Terlalu lama.
Seolah bisa menghapus bukan hanya darah, tetapi juga tatapan itu. Ia takut, Cherrin sadar kalau itu dirinya.
Zivaniel mematikan keran, lalu menatap pantulan dirinya di cermin kecil yang sudah retak. Wajahnya tampak lelah. Ada sesuatu yang runtuh di sorot matanya malam ini.
“Kalau dia takut lagi…” bisiknya.
Kalimat itu tidak ia lanjutkan. Zivaniel memukul dinding.
"Sialan!! Lo monster Niel!!"