Alma Fatara, gadis sakti yang muda belia, kini menjelma menjadi Ratu Siluman, pendekar cantik jelita yang memimpin satu pasukan pendekar sakti dan besar.
Berbekal senjata pusaka yang bernama Bola Hitam, Alma Fatara langlang buana demi mencari kejelasan siapa sebenarnya kedua orangtuanya.
Sejumlah kedudukan istimewa sudah dia raih di usia belia itu, menjadikannya sebagai pendekar muda yang fenomenal, disegani sesama pendekar aliran putih dan membuat pendekar jahat ketar-ketir, ditaksir banyak pemuda dan dihormati oleh pendekar tua.
Kali ini, Alma Fatara akan menghadapi dua kerajaan besar dan melawan orang yang tidak terkaalahkan. Petunjuk yang mengarahkan mendekati orangtuanya semakin terbuka satu demi satu.
Sampai di manakah kemampuan Alma Fatara dalam perjalanannya kali ini? Temukan jawabannya hanya di novel “Alma3 Ratu Siluman”.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akarmani 26: Perkara Upah Prajurit
*Api di Kerajaan Jintamani (Akarmani)*
“Aku dan pasukanku tunduk kepada Gusti Ratu Warna Mekararum!” ucap Panglima Galagap dengan lantang.
“Tidak sia-sia tengah malam aku naik ke sini, Paman,” kata Alma Fatara sambil menarik kembali Benang Darah Dewa ke dalam jubahnya.
Dengan demikian terbebaslah leher Panglima Galagap dari ancaman pemenggalan.
Alma Fatara lalu berteriak kepada para prajurit yang masih menahan anak panahnya di busur dan mesin panah.
“Turunkan panah kalian! Sekarang aku adalah pemimpin kalian!” seru Alma Fatara kepada para prajurit itu.
Bingunglah si para prajurit. Mereka saling pandang sambil menurungkan panahnya.
Sementara itu, pertempuran sengit terus terjadi di bawah, sisi dalam benteng. Puluhan mayat prajurit, bakan sudah lebih seratus orang sudah bergelimpangan sebagai orang mati. Genggam Sekam dan Sumirah, ditambah pasukan berkuda yang kerjanya hanya berseliweran bolak balik, terus mengamuk membunuhi anak orang.
“Woooi! Kakang Genggam! Kakak Sumirah!” teriak Alma Fatara dari atas benteng. “Hentikan pertempuran. Jangan bunuh rekan sendiri!”
Teriakan Alma Fatara itu ampuh menghentikan pertarungan. Genggam Sekam, Sumirah dan para prajurit Pasukan Keamanan Ibu Kota berhenti bertarung dan beralih menengok ke atas benteng.
Genggam Sekam dan Sumirah terkejut, mereka berdua tidak menyangka bahwa ternyata Alma Fatara ada di atas benteng, berdiri berdampingan dengan panglima pasukan itu.
“Siapa namamu, Paman?” tanya Alma Fatara kepada Panglima Galagap.
“Aku Panglima Galagap,” jawab sang panglima.
Alma Fatara lalu berteriak lagi kepada mereka yang ada di bawah.
“Paman Panglima Galagap sudah tunduk kepada Gusti Ratu Warna Mekararum. Pasukannya menjadi tanggung jawabku!”
“Hentikan pertempuran! Hentikan pertempuran!” teriak Genggam Sekam kepada pasukan berkudanya.
Dengan demikian maka pertempuran di bawah benteng terhenti.
Tiba-tiba Pajrit Kerismon datang mendekat kepada Alma Fatara dengan gestur membungkuk dan senyum-senyum.
“Hamba Pajrit Kerismon memberi hormat kepada Gusti,” ucap Pajrit Kerismon sembari menghormat di samping Alma Fatara, bermaksud mencari muka, padahal mukanya tidak hilang.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara melihat tingkah kepala prajurit itu.
Sementara Panglima Galagap menatap sinis kepada Pajrit Kerismon yang dinilainya cari muka di mukanya.
“Kebetulan sekali, Paman Pajrit Kerismon. Aku mau minum kopi panas bersama Paman Panglima di atas benteng ini! Hahaha!” perintah Alma Fatara lalu tertawa santai.
“Apakah perlu meja dan kursi, Gusti?” tanya kerismon.
“Oh iya. Tidak mungkin aku meminta Paman Panglima memegangi terus gelas kopinya. Hahaha!” kata Alma Fatara.
“Siap, Gusti!” jawab Kerismon, tapi tidak langsung pergi. Lalu tanyanya lagi, “Apakah perlu bubur kacang merah, Gusti?”
“Itu lebih baik, Paman. Sajikan buat delapan orang!” perintah Alma Fatara.
“Siap, Gusti!” pekik Pajrit Kerismon lantang.
“Ya ya ya. Jika ada makanan lainnya, keluarkan semua!” perintah Alma Fatara lagi.
“Siap, Gusti!” pekik Pajrit Kerismon lagi.
“Hahaha! Pergilah, Paman!” kata Alma Fatara yang hanya tertawa terus melihat tingkah kepala prajurit itu.
“Siap, Gusti!” pekik Kerismon lagi.
Setelah itu, barulah Kerismon segera berbalik pergi menuju tangga benteng.
“Kakang Genggam, Kakak Sumirah, naiklah ke sini. Di sini pemandangannya lebih bagus!” seru Alma Fatara.
“Ayo!” ajak Genggam Sekam kepada Sumirah.
Sepasang pendekar itu lalu berjalan pergi menuju tangga benteng dengan melewati para prajurit dalam pasukan yang masih banyak itu. Meski demikian, keduanya tetap waspada.
“Prajurit, urus mayat-mayat pasukan kita!” perintah Panglima Galagap kepada pasukannya di bawah sana.
“Baik, Gusti!” sahut beberapa kepala prajurit di sebelah bawah.
“Hormat kami, Gusti Panglima!” ucap Genggam Sekam setelah sampai di atas benteng bertemu dengan Alma Fatara dan Panglima Galagap.
Sumirah pun menghormat kepada Panglima Galagap.
“Kalian berdua tidak menghormat kepada Panglima Perang Pasukan Pembebas Jintamani?” tanya Alma Fatara sembari kerutkan kening.
“Hahaha!” tawa Genggam Sekam ditegur seperti itu. “Aku kira kau Alma Fatara yang membuatku jatuh cinta. Hahaha!”
“Dasar Kakang benar-benar mata buaya. Kakang sudah jelas berselingkuh dengan Kakak Sumirah, tetap saja menggombal di depanku,” kata Alma Fatara.
“Hahaha!” tawa Genggam Sekam seolah tanpa dosa, sementara Sumirah hanya tersenyum lebar.
Memang, dalam kasus skandal cinta Genggam Sekam dengan Sumirah, Sumirahlah biang keroknya, tetapi Genggam Sekam juga bersalah karena keteguhan cinta sejatinya tidak seteguh karang.
“Hormat kami, Gusti Panglima,” ucap Genggam Sekam kepada Alma Fatara, demikian pula dengan Sumirah.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara memperlihatkan gigi ompongnya.
“Maafkan kami, Gusti Panglima, karena telah membunuhi pasukanmu. Aku Genggam Sekam, Pendekar Tongkat Berat,” kata Genggam Sekam.
“Aku Sumirah, Pendekar Buaya Cantik,” ucap Sumirah pula.
“Tidak mengapa. Risiko menjadi seorang prajurit,” kata Panglima Galagap dengan wajah datar.
“Tenang saja, Paman. Upahmu pasti aku naikkan setengah lagi. Hahaha!” kata Alma Fatara.
Sementara itu, beberapa prajurit bergotong royong menggotong meja dan kursi-kursi kayu naik ke atas benteng.
“Alma, apakah kau punya uangnya untuk membayar upah Gusti Panglima?” tanya Genggam Sekam.
“Hahaha! Jangankan seorang Paman Panglima Galagap, upah Paman Panglima Pulung Seket dan seribu lebih pasukannya aku naikkan,” kata Alma Fatara.
“Hah!” kejut Genggam Sekam dan Sumirah. “Kau yakin tidak sedang bergurau, Alma!”
“Hahaha!” tawa Alma Fatara. Lalu tanyanya kepada Panglima Galagap, “Paman Panglima, berapa banyak prajurit Kerajaan Jintamani yang aku bunuh?”
“Empat ribu,” jawab Panglima Galagap.
“Berarti ada upah empat ribu prajurit yang tidak akan dibayarkan. Aku menaikkan upah seribu dua ratus tiga puluh tujuh prajurit. Ditambah satu panglima lagi. Jadi aku mengambil sedikit dari kepeng yang tidak dibayarkan untuk aku tambahkan ke upah para prajurit yang aku naikkan upahnya,” jelas Alma Fatara.
“Pantas,” ucap Sumirah.
“Upah prajurit rekrutan baru nantinya tentunya jauh lebih rendah dari para kakak prajuritnya. Hahaha! Aku juga bisa menaikkan upah para prajurit Pasukan Ibu Kota ini. Apakah kau setuju, Paman Panglima?”
“Sangat setuju, Panglima,” jawab Panglima Galagap.
“Jika demikian, Paman umumkanlah kepada pasukan Paman, tapi dengan syarat, tidak ada dendam kepada pasukan Ratu Warna Mekararum,” kata Alma Fatara.
“Baik,” ucap Panglima Galagap.
Panglima Galagap lalu pergi ke pinggir benteng dan menghadap kepada pasukannya yang sedang bekerja membersihkan mayat-mayat di bawah sana.
“Wahai para prajuritku! Upah kalian akan dinaikkan setengah dari upah bulanan!” teriak Panglima Galagap.
Terkejutlah semua prajurit, tapi terkejut yang senang. Setelah terdiam seakan tidak percaya, mereka lalu bersorak gembira.
“Yeee ...!” teriak para prajurit itu bersorak, padahal beberapa detik lalu, mereka masih bersedih karena harus kehilangan banyak teman.
“Tapi dengan syarat!” seru Panglima Galagap yang menghentikan sorakan para prajurit dan kepalanya. “Tapi dengan syarat, tidak ada dendam kepada pasukan Ratu Warna Mekararum!”
Kalimat terakhir itu membuat para prajurit itu terdiam kembali, seolah-olah sedang memikirkan tafsirnya.
“Setujuuu!” teriak para prajurit semuanya. Memang, untuk perkara kepeng, hampir semua sepakat.
“Alma, kau serius menaikkan upah prajurit-prajurit itu?” tanya Genggam Sekam.
“Hahaha! Tenang saja, Kakang. Apakah Kakang dan Kakak juga ingin kenaikan upah?” tanya Alma Fatara.
“Tapi, apakah kami juga mendapat upah dari Gusti Ratu?” tanya Sumirah.
“Itu jika kita menang dan Gusti Ratu kembali kuat di kedudukannya,” jawab Alma Fatara.
“Gusti, meja dan kursinya sudah siap,” lapor Pajrit Kerismon.
“Kopi dan buburnya?” tanya Alma Fatara.
“Sedang dibuatkan, Gusti,” jawab Pajrit Kerismon sembari tersenyum.
“Oh ya, Paman. Pergilah ke Pasukan Pembebas Jintamani di depan sana. Sampaikan bahwa Gusti Adipati Lalang Lengir dipanggil olehku untuk naik minum kopi di atas benteng ini!” perintah Alma Fatara.
“Hah! Tapi, bagaimana jika aku nanti dibunuh, Gusti?’ tanya Pajrit Kerismon mendadak ciut dan mengerenyit.
“Jika demikian, upahmu tidak akan dinaikkan dan karena menolak perintah, upahmu dipotong separuh,” kata Alma Fatara.
“Ja-ja-jangan, Gusti. Aku akan berangkat membawa pesan!” pekik Pajrit Kerismon sambil buru-buru turun berlutut menghormat.
“Hahaha! Pergilah! Panggil juga Panglima Pulung Seket dan ketiga pengawal setiaku!” perintah Alma Fatara yang tertawa melihat tingkah Pajrit Kerismon yang terlihat karakter aslinya.
“Ba-ba-baik, Gusti!” ucap Kerismon pasrah. (RH)