DILARANG PLAGIAT!!! 📢📢
Bagaimana jadinya jika kau menikah dengan seorang petinggi sementara kau sendiri hanyalah seorang gadis desa biasa yang bekerja sebagai pemetik daun teh?
Itulah kisah tentang Raymond William (30tahun) dan juga Kiara Putri (24tahun). Mereka menikah karena suatu kejadian yang tidak ingin membuat keluarga Kia malu.
Pada akhirnya Kiara atau sering di sapa Kia menikah dengan Ray yang dia temukan di sungai dalam keadaan berantakan dan juga sadar dalam keadaan Amnesia (lupa ingatan).
Perbedaan kasta mereka berdua membuat Mama Ray tidak merestui pernikahan keduanya dan sengaja memasukkan orang ketiga untuk menganggu kehidupan rumah tangga Ray dan Kia.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Ray dan Kia mampu mempertahankan bahtera rumah tangga mereka berdua?
Simak berikut!
Happy reading..
So stay tune ! 🌹
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab #26
Keesokan paginya.
Kiara bangun seperti biasa, setelah menyelesaikan ibadah wajib umat Islam yaitu sholat subuh, Kia segera bergegas untuk membereskan rumah.
"Sayang," seru Ray ketika dia tidak sengaja terbangun.
Kiara yang kala itu ingin membuka pintu langsung berbalik arah menghampiri sang suami.
"Kamu udah bangun, Mas?" ucap Kia sambil duduk di tepi ranjang.
Ray hanya mengangguk. "Kamu mau kemana?"
"Mau beberes rumah, tadi habis sholat aku gak bisa tidur lagi makanya mau melanjutkan aktivitas yang lain." Kiara menjelaskan sembari menatap wajah tampan khas bangun tidur milik Ray.
"Tapi 'kan udah ada Bibi, kamu gak perlu repot-repot beberes rumah."
"Ya habis mau ngapain lagi dong."
"Ya udah deh terserah kamu aja." Ray akhirnya pasrah. "Em, lusa kita ke desa ya?"
Kia mengangguk cepat dengan senyum yang menghiasi bibirnya. "Kita mau tinggal di desa lagi ya, Mas?"
"Bukan, kemarin 'kan waktu kita pergi dari desa belum pamit dengan warga sekitar. Apa kamu gak mau ngucapin apa gitu kek sama mereka?"
"Iya juga sih, aku pikir kita mau balik lagi ke desa." Kia menunduk lesu.
"Kamu gak usah sedih, aku janji kalau nanti kita bakalan sering berkunjung ke desa." Ray mengusap pucuk kepala Kia.
"Benar ya, Mas?"
Ray mengangguk dan tersenyum.
"Ya udah, kalau gitu aku mau ke dapur dan menyiapkan sarapan untuk kita makan bersama." Kia beranjak dari ranjang.
"Aku request buatin nasi goreng ayam kampung ya, sayang? Kamu cari aja bahannya di dapur, kalau gak tau tanya sama Bibi."
Kia mengangguk lalu keluar dari kamar.
"Huft, aku harus terbiasa dengan hidupku yang sekarang. Aku yakin pasti akan banyak rintangan dan cobaan yang aku dapatkan di rumah ini." Kiara berbicara sendiri dengan terus berjalan menuruni anak tangga.
Sesampainya di dapur, Kia melihat Bi Imah yang sedang mencuci piring.
"Selamat pagi, Bi." sapa Kia ketika sudah berada di belakang Bi Imah.
"Eh, selamat pagi Nona.'' sahut Bi Imah dengan gugup.
"Bibi kenapa kok gugup gitu?" Kia duduk di kursi dapur.
"Em, saya heran kenapa Nona pagi-pagi buta begini sudah berada di dapur." ucap Bi Imah masih dengan mencuci piring.
"Saya sudah terbiasa, Bi. Di desa dulu setiap pukul tiga pagi saya bangun dan melaksanakan sholat tahajjud, lalu saya tidur sebentar dan bangun lagi ketika ingin melaksanakan sholat subuh." jelas Kia berdiri di samping Bi Imah.
"Wah, ternyata Nona sangat taat beribadah ya? Saya salut sekaligus bahagia jika Tuan Ray mendapatkan istri yang solehah seperti Nona."
"Alhamdulillah. Oh ya, Bibi tidak perlu memanggil saya dengan sebutan Nona karena saya merasa sangat risi," ujar Kia yang memang tidak suka dengan panggilan itu.
"Lalu saya harus panggil apa, Non?" Bi Imah jadi bingung sendiri.
"Panggil nama saja,"
"Jangan Nona! Saya takut jika Tuan Ray tau pasti dia akan marah karena berpikir bahwa saya lancang telah memanggil Nona dengan sebutan nama tanpa memakai embel-embel."
"Kalau begitu, Bibi bisa panggil saya dengan embel-embel neng. Bibi tau'kan jika saya berasal dari desa?" Kia membantu Bi Imah membereskan piring yang telah selesai di cuci.
"Ya sudah, neng juga tidak pa-pa." balas Bi Imah meskipun dia merasa takut jika Ray akan marah padanya nanti.
"Saya mau membuatkan sarapan untuk Mas Ray dan seluruh keluarga, Bibi bisa kerjakan yang lain saja." pinta Kia dengan membuka kulkas.
"Baiklah, kalau begitu saya mau mengepel lantai dulu. Permisi neng," Bi Imah langsung pergi meninggalkan Kia yang mulai memilih bahan masakan.
^
^
Pukul 07.00 wib, semua keluarga telah bangun dan telah bersiap untuk pergi melakukan aktivitas masing-masing.
Bimo turun dari tangga dengan setelan Jas dan ingin pergi ke kantor cabang yang berada di negara P, Rara menyusul turun dengan setelah jumpsuit berwarna hitam untuk pergi melihat butik bersama dengan Amel.
Mereka semua telah duduk di meja makan, wangi masakan Kiara tercium harum memenuhi seluruh ruangan.
"Eum, wanginya enak banget. Bibi masak apa hari ini ya?" gumam Amel sembari mencium wangi masakan Kiara.
Rara hanya tersenyum tipis ketika sang Putri sibuk menebak apa yang telah tercium oleh hidungnya.
Ray berjalan menuruni anak tangga dan ia tersenyum bahagia melihat seluruh keluarga yang telah duduk di kursi mereka masing-masing.
"Selamat pagi," ujar Ray duduk di kursi miliknya.
"Pagi," sahut seluruh keluarga serempak dengan senyum yang tak kala bahagia.
Kiara datang dengan membawa nampan berisi dua mangkuk nasi goreng.
"Wah, jadi ini yang tadi wanginya mengunggah selera?" Amel langsung tersenyum ketika melihat nasi goreng ayam kampung yang ada di depannya.
"Silahkan di nikmati, mohon maaf jika rasanya kurang pas di lidah kalian semua." Kia berbicara dengan sopan.
"Ini kak Kia yang masak?" ucap Amel dengan menatap wajah polos tanpa make-up milik Kiara.
Kiara mengangguk dan tersenyum tipis.
"Oh, aku pikir tadi Bibi. Pantesan wanginya beda banget,"
"Kia duduklah disini, kita sarapan bersama," Ray menepuk kursi disebelahnya.
Kiara ingin duduk tetapi suara seseorang menghalangi niatnya.
"Selamat pagi semuanya.." sapa Mey yang baru masuk dengan senyum mengembang.
Mereka semua menjawab sapaan Mey.
Tanpa berbasa-basi, Mey langsung duduk di kursi yang bersebalahan dengan Ray.
"Hai Ray, bagaimana keadaanmu?" ucap Mey berusaha ingin menarik perhatian Raymond.
"Aku baik," sahut Ray singkat dan melirik Kia yang hanya diam saja ketika kursinya di duduki oleh Meysa.
"Kia, kamu bisa duduk di sebelah sini." Ray menepuk kursi sebelah kiri nya.
Kia mengangguk dan duduk di kursi yang Ray tunjukkan.
'Cih, karena dirimu Ray berani mengabaikan ku. Lihat saja kau gadis udik!' batin Mey dengan kesal.
Semua piring telah terisi oleh nasi goreng masing-masing.
"Kia, kau tidak mencampurkan apapun ke dalam makanan ini bukan?" ujar Rara ketika hendak melahap nasi goreng buatan Kia.
"Maksud Tante apa?" Kia merasa bingung dengan apa yang Rara katakan.
"Maksudku, kau tidak mencampurkan racun atau bahan berbahaya lainnya ke dalam masakan ini 'kan?"
Kia terkejut. "Tentu saja tidak, Tante. Saya tidak mungkin melakukan itu," sahut Kia dengan suara lembutnya.
"Baguslah."
Semuanya melahap sarapan pagi ini, dan Rara mengunyah masakan Kia dengan raut wajah yang sulit di tebak.
•
•
•
**TBC
HAPPY READING 🤗
SAMPAI JUMPA BESOK 😘
DOAKAN OTHOR SEHAT SELALU AGAR BISA UP UNTUK KALIAN SEMUA 💪💪.
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA, TERIMA KASIH BANYAK 🙏🏻**