Satu like salah. Satu DM berantai. Satu hidup yang kacau.
Ardi cuma ingin menghilangkan bosannya. Kinan ingin hidupnya tetap aesthetic. Tapi ketika Ardi accidentally like foto lama Kinan yang memalukan, medsos mereka meledak, reputasi hancur, dan mereka terpaksa berkolaborasi dalam proyek paling absurd: menyelamatkan karir online dosen mereka yang jadi selebgram dadu.
#SalahFollow Bukan cinta pada like pertama, tapi malu pada like yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: GALA, GAJI, DAN GAP YANG TAK TERBENDUNG
Disclaimer: Bab ini mengandung gaji pertama yang bikin senyum simpul, gala event yang bikin mual, dan jurang kelas sosial yang tiba-tiba terasa sangat... nyata.
---
"KINAN! PROJECT KITA DAPAT GAJI!" teriak Kinan dari kamarnya, suara nyaring sampe Ardi yang di dapur kos loncat.
Proyek desain untuk brand UMKM lokal yang mereka kerjakan sebulan terakhir akhirnya bayar. Bukan bayaran besar. Tapi buat Kinan, ini gaji pertama dari pekerjaan yang dia cintai, bukan dari influencing. Buat Ardi, ini royalty pertama dari musik game temannya yang akhirnya rilis. Mereka akhirnya punya uang sendiri. Bukan dari konten viral, bukan dari Dadu Champ, tapi dari skill.
"Yok kita rayain!" usul Ardi. "Makan enak!"
"Gue traktir!" sahut Kinan bangga. "Mau makan apa? Sushi? Steak?"
Ardi mikir. Budget mereka berdua kalau digabung mungkin cukup buat sekali makan di resto semi-ngehits. Tapi... "Apa nggak mending kita ke Warteg Maknyus aja? Seporsi ayam penyet plus es teh, kenyang, masih sisa buat bayar listrik."
Kinan wajahnya sedikit murung. "Tapi ini kan spesial. Gaji pertama kita."
"Oke, oke. Sushi, tapi yang prasmanan ya. Biar puas."
Kesalahan pertama: mereka pesan terlalu banyak. Salmon sashimi, tuna roll, tempura udang. Tagihannya bikin Ardi nelen ludah. Kinan bayar pake dompet baru, senyum lebar. Tapi di perut, Ardi ngerasa sakit. Bukan karena sushi-nya basi, tapi karena dalam hati dia ngitung: "Duit segitu bisa buat beli speaker second yang lebih bagus buat nge-mix."
---
Bencana datang dari grup WhatsApp keluarga Kinan. Tante Kinan yang super high-class ngirim undangan digital: Gala Dinner Charity for Young Art & Tech Innovators. Dresscode: Formal. Tempat: Ballroom hotel bintang lima. Harga tiket: Seumur hidup gaji Ardi.
"Gue harus dateng," desah Kinan, wajahnya campur senang dan panik. "Semua sepupu gue pada dateng. Ini event tahunan keluarga besar. Lo... lo mau ikut gak?"
Ardi ngerem. "Kinan... gue... gue nggak punya jas. Apalagi buat bayar tiket."
"Tiket gue yang bayarin! Baju... kita sewa! Please, Ard. Gue pengin lo ketemu mereka semua. Dalam kapasitas yang... resmi."
Ardi liat mata Kinan yang memohon. Dia inget omongan temen-temen Kinan dulu. "Lo nggak cocok di dunia dia." Tapi ini undangan resmi. Kesempatan buat prove bahwa mereka bisa fit. Atau setidaknya, pura-pura.
"Oke," akhirnya Ardi mengangguk, perut udah mules duluan.
---
Minggu Depan: Neraka Persiapan.
Mereka nyewa jas di toko sewa kondangan. Jasnya agak sempit di bahu Ardi, tapi lumayan. Sepatu kulitnya keras dan bikin lecet. Kinan beli gaun preloved yang masih keliatan mahal, plus tas clutch sewaan.
"Muka lo tegang banget," kata Kinan waktu naik taksi online.
"Gue nggak biasa pake dasi. Rasanya kayak dicekik."
"Bentar lagi abis. Kita cuma perlu dateng, salaman, makan, terus cabut. Deal?"
"Deal."
Salah.
Begitu masuk ballroom, Ardi langsung ngerasa keringet dingin. Lampu kristal berkilauan. Suara biola live. Semua orang pake aroma parfum yang mahal dan asing. Mereka pada saling cheek kiss, senyum sempurna, bicara pake intonasi yang datang dari langit-langit mulut.
"Kinan! Finally!" seorang wanita berparas cantik dengan gaun panjang nyamperin, peluk Kinan. "And this must be... Ardi, right? The one from the viral video? How... raw."
Ardi cuma bisa senyum kaku, jabat tangan. "Raw". Lagi-lagi kata itu.
Sepanjang malam, Ardi jadi spesimen yang diamati.
· Paman Kinan yang pengusaha: "Jadi, Ardi, rencana ke depan mau berkarir di musik? Atau tetap freelance?" (Nada: "Kapan dapet kerjaan tetap?")
· Sepupu Kinan yang baru lulus S2 di London: "Oh, you work in the creative industry? That's so brave. So... unpredictable." (Subtext: "Gak stabil ya.")
· Temen SMA Kinan yang sekarang jadi lawyer: "Kamu pakai jas rental ya? I can tell from the stitching. But it's okay for a first timer."
Ardi cuma bisa mengangguk, senyum, dan ngegigit dalam hati. Makanannya enak, tapi dia nggak bisa nelen. Anggur merahnya pahit. Kinan sibuk networking, keliling, tapi matanya selalu balik ke Ardi, kasihan.
Puncak kekacauan pas acara charity auction. Sebuah lukisan digital dijual, harganya mulai dari 20 juta.
"Gila, itu harga motor baru," bisik Ardi ke Kinan.
Tapi tiba-tiba, Kinan angkat tangan. "25 juta."
Ardi terbelalak. "KIN, LO APA?"
"Shhh, gue cuma ikutin tradisi. Nggak akan menang kok."
Tapi lawannya nambah. Kinan nambah lagi. "30 juta."
Jantung Ardi berdebar kencang. Mereka nggak punya uang segitu! Apa yang Kinan pikirin?!
Akhirnya, orang lain yang menang dengan harga 40 juta. Kinan napas lega. "Tuh kan, gue bilang nggak menang."
"TAPI KALO MENANG?! LO BAYAR DARI MANA?!"
"Ya gue minta ke Papa. Buat charity kan."
Ardi diam. Dunia mereka berdua tiba-tiba anjlok ke jurang yang dalam. Bagi Kinan, 30 juta itu angka di udara, bisa minta ke orang tua. Bagi Ardi, 30 juta adalah TA hidup-hidup, speaker baru, bayar kos setahun, plus traktir emak bapak pulang kampung.
---
Di taksi pulang, perang dunia ketiga pecah.
"Lo ngerti nggak sih, lo tadi mau ngelelang 30 JUTA buat lukisan yang bahkan lo nggak ngerti?!" Ardi meledak.
"Itu charity! Dan gue nggak menang!"
"Tapi intention-nya! Lo nggak mikir itu duit banyak! Buat lo itu cuma angka, tapi buat gue, buat orang biasa, itu... itu hidup!"
"Jadi sekarang gue 'orang nggak biasa'? Gue orang kaya yang gak peka gitu?!" Kinan balas.
"GUE NGGAK BILANG GITU! TAPI LO HARUS NGERTI, KINAN! DUNIA LO BEDA! Sumpah, tadi gue di sana kayak alien! Mereka ngomongin liburan ke Swiss, lo ngomongin naik gunung, gue cuma bisa mikir... gue besok harus bayar wifi kosan yang telat!"
Kinan nangis. "Jadi salah gue lahir di keluarga yang mampu? Salah gue mau mengenalin lo ke dunia gue?"
"NGGAK! Tapi salah lo kalo lo paksa gue masuk ke dunia itu dan ngerasa baik-baik aja! Gue sakit, Kin! Gue ngerasa kecil! Ngerasa miskin! Ngerasa... nggak layak sama lo!"
Kata-kata itu meledak di dalam taksi yang sunyi. Sopirnya pura-pura budeg.
Mereka sampe di kosan Kinan. Kinan turun, gaunnya masih mewah, tapi mukanya belepotan mascara.
"Lo nggak ngerti, Ard. Gue juga di sana ngerasa pressure. Harus perfect, harus pinter, harus match sama ekspektasi keluarga. Gue panggil lo karena gue pikir lo bisa jadi... pelabuhan gue. Ternyata lo malah ikutan tenggelam."
"Gue bukan pelabuhan, Kin. Gue orang yang lagi belajar berenang. Dan lo mau narik gue ke laut lepas."
Merejak nggak ada yang minta maaf. Mereka masuk ke kamar masing-masing, dengan puing-puing malam yang mewah dan menyakitkan.
---
Besok pagi, Kinan kirim paket ke kosan Ardi. Isinya: jas sewaan yang udah dia bayar denda cuci, plus selembar uang 100 ribu dan catatan: "Ini buat bayar wifi lo. Jangan telat. Gue minta maaf udah bawa lo ke tempat yang bikin lo ngerasa kecil. Tapi tolong jangan bilang gue nggak ngerti nilai uang. Karena gue ngerti. Cuma... konteks kita beda. Kayaknya emang gitu ya. -K"
Ardi nangis baca itu. Dia telepon Kinan.
"Gue minta maaf udah ngomong kasar," kata Ardi.
"Gue juga minta maaf udah maksain."
"Gue nggak mau kita berantem karena duit. Karena gap."
"Kita bisa bridge gap-nya nggak ya?"
"Bisa. Tapi nggak dengan cara lo turun ke level gue, atau gue naik ke level lo. Tapi dengan... bikin jembatan di tengah-tengah. Tempat yang baru. Yang nggak milik siapa-siapa."
"Contohnya?"
"Gue nggak tahu. Tapi kita cari bareng."
---
Epilog: Jembatan dari Kardus dan Nasi Bungkus.
Minggu depannya, Ardi dateng ke apartemen Kinan bawa kardus besar. Isinya: speaker bekas yang dia modif, proyektor mini second, dan kabel-kabel berantai.
"Apa ini?" tanya Kinan.
"Jembatan kita," kata Ardi. "Kita bikin home theatre di lantai. Nonton film bajakan, makan nasi bungkus dari warteg langganan. Di sini. Di tanah netral."
Mereka lakuin itu. Gaun dan jas disimpan. Mereka pake kaos oblong dan celana pendek. Nonton film superhero yang norak, tertawa keras, berebut kerupuk.
Di tengah film, Kinan nyeletuk, "Gue lebih suka gini sih daripada gala dinner."
"Gue juga. Tapi gue nggak benci dunia lo. Gue cuma... butuh waktu buat adaptasi. Dan lo jangan malu sama gue di sana."
"Gue nggak malu. Gue cuma takut lo nggak nyaman."
"Gue emang nggak nyaman. Tapi buat lo, gue bisa tahan. Asal jangan terlalu sering."
Merejak ketawa. Mungkin inilah intinya: Cinta nggak butut kita nyaman di semua situasi. Tapi butuh kita jujur tentang mana yang bikin kita nggak nyaman, lalu nemuin tempat di mana kita berdua bisa bernapas lega.
---
LAST LINE: Di lantai apartemen yang berantakan bekas bungkus nasi, Kinan tidur pulas di pangkuan Ardi. Di TV, filmnya udah abis, mutar credits. Ardi liat dompetnya yang tipis, lalu liat Kinan yang tidur nyenyak. Dia tersenyum. Mereka mungkin nggak akan pernah satu level dalam hal rekening bank. Tapi di level "mau nemuin tempat bernapas bersama", mereka sejajar. Dan itu dulu cukup. Buat sekarang. Buat nanti. Buat selama mereka masih mau bikin jembatan dari kardus dan nasi bungkus. 🫂🌉