Mayor Elara Vanya, seorang agen elit yang terpaksa menggunakan daya tarik dan kecerdasannya sebagai aset, dikirim dalam misi penyusupan ke Unit Komando Khusus yang dipimpin oleh Kolonel Zian Arkana, pria dingin yang dicurigai terlibat dalam jaringan pengkhianatan tingkat tinggi. Elara harus memilih antara menyelesaikan misi dan mengikuti kata hatinya, yang semakin terjerat oleh Kolonel Zian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan Sang Mayor
Lantai bunker bawah tanah itu terasa dingin di bawah telapak kaki Elara. Dia berjalan perlahan melewati koridor beton yang diterangi lampu neon merah, tangannya terangkat di atas kepala. Setiap langkahnya diawasi oleh moncong senapan otomatis dari puluhan tentara bayaran elit yang berjaga di sepanjang jalan.
Di ujung koridor, sebuah pintu baja berat terbuka secara otomatis, memperlihatkan ruang komando pusat yang sangat luas. Di sana, Madame X duduk dengan tenang di kursi singgasananya yang futuristik. Di sebelahnya, terikat di kursi kayu tua yang tampak kontras dengan teknologi di sekelilingnya, adalah ayah Elara.
"Ayah!" teriak Elara, langkahnya tertahan oleh dua penjaga yang menyilangkan senapan di depannya.
"Elara... pergi, Nak! Jangan pedulikan aku!" suara ayahnya parau, wajahnya tampak lelah namun matanya masih memancarkan keberanian seorang mantan instruktur militer.
Madame X tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya yang dingin. "Sangat dramatis. Sebuah pengorbanan yang indah, bukan? Mayor Vanya yang legendaris, berlutut demi seorang pria tua."
Madame X menunjukkan sebuah monitor kecil yang menempel di pergelangan tangannya. Di sana, grafik detak jantungnya berdenyut stabil. "Kau tahu aturannya, Elara. Jika jantungku berhenti—baik karena pelurumu atau karena aku memutuskan untuk mematikannya sendiri—seluruh sel tidur di dunia akan melepaskan gas VX. Kau bisa menyelamatkan ayahmu, tapi kau akan membunuh jutaan orang. Atau kau bisa membiarkan aku membunuhnya, dan dunia tetap aman... untuk sementara."
Elara menatap Madame X dengan kebencian yang mendalam. "Kau tidak akan melakukan itu. Kau mencintai kekuasaan, dan kau tidak bisa berkuasa di atas planet yang sudah menjadi kuburan massal."
"Oh, kau salah, sayang. Iron Sight sudah menyiapkan bunker untuk lima puluh ribu elit kami. Kami akan membangun kembali dunia dari abu yang tersisa," Madame X berdiri dan mendekati Elara. Dia mencabut sebuah suntikan kecil berisi cairan bening. "Sekarang, kau akan menyuntikkan ini ke lehermu sendiri. Ini adalah pelumpuh syaraf. Kau akan tetap sadar, tapi kau tidak akan bisa bergerak. Aku ingin kau menonton saat aku mengeksekusi ayahmu."
Elara menerima suntikan itu dengan tangan gemetar. Dia melirik ke arah kamera pengintai di sudut ruangan, berharap Zian bisa melihat kodenya. Di balik telapak tangannya, Elara membuat isyarat jari yang hanya diketahui oleh Unit Phoenix: Tunggu isyarat ledakan.
"Lakukan sekarang!" bentak Madame X.
Elara mendekatkan suntikan itu ke lehernya. Namun, alih-alih menyuntikkannya, dia tiba-tiba melemparkan suntikan itu dengan kecepatan kilat tepat ke mata salah satu penjaga di sampingnya.
BZZZT!
Pada saat yang sama, sebuah ledakan EMP kecil meledak di langit-langit ruangan. Lampu mati total.
"ZIAN, SEKARANG!" teriak Elara.
Zian, yang ternyata sudah menyelinap melalui jalur pendingin nitrogen di atas ruangan, terjun ke bawah dengan tali fast-rope. Dia menembakkan peluru bius ke arah pengawal Madame X. Di tengah kegelapan, Elara bergerak seperti bayangan. Dia menggunakan memori ototnya untuk mencapai posisi ayahnya, memotong ikatannya hanya dalam tiga detik.
"Kael, tutup frekuensi transmisi menara!" Zian berteriak melalui komunikator yang kembali aktif.
"Sedang dilakukan! Aku membanjiri jaringan mereka dengan virus looping! Madame X tidak bisa mengirim sinyal aktivasi selama 60 detik!" suara Kael terdengar bersemangat namun tegang.
Madame X berteriak dalam kemarahan, mencoba menekan tombol manual di konsolnya. "Kalian tidak akan menang! Aku akan mematikan jantungku sekarang juga!"
"TIDAK AKAN!" Elara menerjang Madame X.
Terjadi pertarungan fisik yang brutal. Madame X, meskipun sudah berumur, ternyata memiliki implan sibernetika di lengannya yang memberinya kekuatan luar biasa. Dia menghantam Elara hingga terlempar ke dinding beton.
Zian mencoba membantu, namun dia dihadang oleh sepasukan prajurit elit yang masuk kembali ke ruangan. "Elara, urus Madame X! Aku akan menahan mereka di sini!"
Elara bangkit, mengusap darah di bibirnya. Dia melihat ayahnya sedang berlindung di bawah meja komando. Tekadnya kembali membara. Dia berlari menuju Madame X, menghindari ayunan tangan baja wanita itu, dan melakukan teknik kuncian leher dari belakang.
"Zian! Ambil alat pacu jantung eksternal di tas taktis!" teriak Elara.
Zian melemparkan sebuah perangkat kecil berbentuk cakram ke arah Elara. Elara menangkapnya dan menempelkannya dengan paksa ke dada Madame X. Perangkat itu akan mengambil alih fungsi denyut nadi Madame X secara elektronik, menipu sensor Dead Man's Switch.
"Kuncian selesai!" Elara menekan tombol di cakram tersebut.
Madame X terbelalak saat merasakan sengatan listrik yang mengatur jantungnya. "Kau... kau pikir ini akan menghentikanku?"
"Ini akan membuatmu tetap hidup, Madame. Cukup lama untuk melihat kami menghancurkan seluruh kerajaanmu," bisik Elara dingin.
Dengan jantung Madame X yang kini "terkunci" secara elektronik ke server palsu milik Kael, Zian segera memasang peledak termit di unit pemrosesan pusat Shadow Reef.
"Ayah, ikut aku!" Elara menarik tangan ayahnya.
Mereka berlari menuju pintu keluar rahasia yang menuju ke dermaga kapal selam. Di belakang mereka, pasukan Iron Sight terus mengejar dengan tembakan membabi buta.
"Zian, peledaknya!"
BOOOMM!
Menara komunikasi di atas pulau itu mulai runtuh, menghancurkan pusat transmisi utama. Tanpa menara itu, sel-sel tidur di seluruh dunia kehilangan koneksi permanen mereka. Ancaman global telah dinetralkan—untuk saat ini.
Mereka mencapai dermaga dan melompat ke dalam kapal selam penyelamat kecil yang sudah disiapkan Kael secara otomatis. Saat pintu kapal selam tertutup rapat, Elara jatuh terduduk di lantai, memeluk ayahnya dengan erat. Dia menangis sesenggukan, sebuah pelepasan emosi yang luar biasa setelah berbulan-bulan hidup dalam tekanan maut.
Zian duduk di samping mereka, napasnya berat, pakaian tempurnya hancur di sana-sini. Dia menatap Elara dengan senyuman yang sangat tulus.
"Kita berhasil, Mayor," bisik Zian.
Ayah Elara memandang Zian, lalu memandang putrinya. "Jadi, pria ini yang membantumu tetap hidup selama ini?"
Elara mengangguk, menghapus air matanya dan menatap Zian. "Dia lebih dari sekadar bantuan, Ayah. Dia adalah alasan aku masih ingin berjuang."
Zian memegang tangan Elara, dan di dalam kesunyian kapal selam yang bergerak menjauh dari pulau Shadow Reef yang meledak, mereka tahu bahwa hidup mereka tidak akan pernah sama lagi. Madame X masih hidup di dalam tawanan mereka, dan meskipun markas besar Iron Sight telah hancur, sisa-sisa organisasi itu pasti akan memburu mereka sampai ke ujung dunia.
"Ke mana kita sekarang?" tanya Elara.
Zian melihat ke arah monitor radar. "Ke tempat di mana matahari terbit lebih awal. Kita punya banyak hal untuk dijelaskan kepada dunia, Elara. Dan kali ini, kita akan memastikan mereka mendengarkan kebenaran."
Namun, di layar monitor belakang kapal selam, terlihat sebuah kapal penyelamat lain berhasil lolos dari pulau tersebut. Di dalamnya, sesosok pria dengan mata sibernetika merah menatap ke arah mereka. Tristan masih hidup. Dendamnya kini telah mencapai tingkat kegilaan yang baru.
Perang ini belum berakhir. Ini hanyalah pergantian babak menuju pertempuran yang lebih besar di tanah air mereka sendiri.