Hervinda Serana Putri, seorang gadis dengan kesabaran setebal baja. Hidup dengan keluarga angkat yang tidak pernah menganggapnya keluarga. Hidup terlunta dan diperlakukan seperti pembantu. Bahkan, dia seperti membiayai kehidupannya sendiri. Suka, duka dan bahkan segala caci makian sudah diterimanya.
Kejadian besar menimpa Hervinda ketika saudaranya, Rensi kabur dari rumah ketika hari pernikahannya. Seluruh keluarga bingung. Akhirnya, mereka menjadikan Hervinda sebagai ganti tanpa sepengetahuannya.
Michael yang merupakan calon Rensi sudah sangat bahagia. Sayangnya saat dia tau wanita yang dinikahinya bukanlah Rensi, emosinya meluap. Dia berjanji akan menyiksa Hervinda dan mendapatkan kembali Rensinya.
"Apapun untuk mendapatkannya. Kamu bukan yang aku inginkan. Bahkan melukaimu pun aku sanggup."
-Michael Adithama-
"Setidaknya tatap aku dan belajarlah mencintaiku."
-Hervinda Serana Putri-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Meili, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 26_Revenge Plan
“Tuan Randy sudah ada di kamar Nyonya, Tuan,” ucap Ria yang melihat Michael datang bersama dengan Vinda yang masih memejamkan mata. Tubuhnya melemas dengan darah yang masih keluar. Meski Michael menutupnya dengan jas hitam miliknya, tetap saja darah itu masih keluar dan malah menempel di baju putihnya.
Michael sudah tidak peduli lagi dengan sekitar dan berlari menaiki anak tangga yang tampak begitu panjang untuknya saat ini. Langkahnya masih berlari sampai pada akhirnya kakinya menapaki lantai datar dan segera berlari ke kamar Vinda yang terletak di sebelah kamarnya. Randy yang tengah mengotak atik ponsel langsung bangkit dan menatap dengan mata membulat.
“Kenapa dia bisa seperti ini?” tanyanya dengan suara panik.
“Dia terkena tembakan di dada,” ucap Michael dan langsung meletakan Vinda di ranjang.
Randy yang melihat langsung mendekat dan sedikit merobek baju Vinda karena tidak mungkin dia membuka seluruh pakaiannya saat ini. Matanya mengamati luka dan darah yang terus mengalir. Dengan segala perlengkapan medis yang memang sudah sangat lengkap di rumah Michael, Randy langsung menangani Vinda.
Michael hanya diam memperhatikan. Matanya masih menatap Vinda yang mulai memucat. Hatinya terasa tidak tenang setiap kali wajah itu diam tanpa ekspresi. Padahal baru kemarin malam dia memarahi wanita tersebut dan saat ini dia sudah berbaring lemah dengan mata terpejam.
Randy berhasil mengeluarkan satu peluru yang menancap di bagian dada atas Vinda sebelah kanan. Masih untung peluru tersebut tidak sampai mengenai bagian vital wanita tersebut. Jika itu terjadi, bisa dipastikan Michael akan sangat membenci dirinya sendiri.
Kenapa kamu menyelamatkanku?, batin Michael dalam hati.
Michael menghela napas panjang dan menatap Vinda sekilas. Dia harus segera menyelesaikan masalah yang menimpa dirinya. Dia memutuskan untuk keluar dari ruangan dan membiarkan Randy menyelesaikan tugasnya. Langkahnya mulai menuruni anak tangga dengan tergesa.
“Roy,” panggilnya dengan suara menggema seluruh ruangan.
Roy yang saat itu tengah berada di halaman langsung masuk dengan langkah yang tampak sedikit berlari. Wajahnya masih sama dan memang tanpa ekspresi. “Iya, Tuan,” sapanya dan langsung berdiri tegap.
“Kamu sudah mendapatkan informasi siapa yang melakukannya?” tanya Michael dengan wajah serius.
“Sesuai laporan seluruh anak buah kita dan hasil dari CCTV yang ada di halaman perusahaan, pelaku belun ditemukan, Tuan. Kami masih terus mencari siapa dalang dari permasalahan ini dan akan segera menangkapnya.”
Michael melirik ke arah Roy dengan wajah sudah bercampur emosi. “Cepat cari dan bawa dia kemari. Aku akan membuat perhitungan dengannya. Dan ingat, tetap cari Dave dan pastikan Rensi aman bersamanya.”
Roy mengangguk dan pergi. Michael masih menatap lurus ke depan. Tebakannya, ini adalah ulah Dave yang mencoba membalas dendam. “Kamu mencoba melenyapkan ku, Dave? Kita lihat siapa yang akan lenyap nantinya.”
Michael berbalik dan siap kembali ke kamar Vinda, tetapi teriakan lain menggema dalam ruangan tamunya, membuat Michael terpaksa berbalik dan menatap malas sosok di depannya. Mamanya sudah datang dengan wajah panik dan mendatanginya dengan langkah lebar.
Tasya menatap anaknya dengan amarah yang sudah mengebu dan tanpa aba-aba langsung melayangkan tangan, membuat suasana hening kembali nyaring di ruang tamu Michael yang memang luas.
Plaak..
Tasya menampar pipi Michael sekuat tenaga. Matanya menatap nyalang anaknya yang berdiri tanpa dosa di hadapannya. “Mama tau kamu tidak mencintai Vinda, Ael. Tetapi bukan begini caranya. Dia tidak harus menanggung beban lagi dan kamu dengan tega membiarkan dia terluka!”
_____
“Mama tau kamu tidak mencintai Vinda, Ael. Tetapi bukan begini caranya. Dia tidak harus menanggung beban lagi dan kamu dengan tega membiarkan dia terluka!”
Michael yang mendengar makian itu hanya diam dengan wajah mengeras. Dia bahkan tidak tahu jika Vinda datang ke kantornya. Lagi pula untuk apa dia datang? Michael menatap mata mamanya yang masih marah dan mengelus hasil tamparan mamanya siang ini. Tamparan yang pertama dilakukan oleh wanita lembut yang selalu menyayanginya.
“Ma, Ael bahkan tidak tahu Vinda datang. Dia datang dan tiba-tiba berada di depan Ael saat peluru itu hampir mengenai Ael,” jelas Michael dengan wajah menunjukan rasa tidak sukanya karena mendapatkan tuduhan tak berdasar.
Tasya yang mendengar langsung menghela napas panjang. Dia cukup tau cerita Vinda dari Beni. Bagaimana seorang Vinda menjadi sosok yang kuat dan tegar seperti saat ini. Matanya langsung menitikan air mata dan menangis tersedu.
“Dia cukup menderita, Ael. Jangan buat dia semakin menderita atau kamu akan menyesal nantinya,” ucapnya dengan nada memelas dan menghela napas panjang. Dia tau kenyataan bahwa selama ini anaknya salah mengira. Dia tau Vinda-lah yang sejak lama dicari Michael, tetapi dia tidak mau memberitahukannya. Dia ingin anaknya menyadari semua dengan sendirinya.
Michael yang mendengar menghela napas panjang dan menggandeng tangan mamanya. “Mama bisa jenguk Vinda di kamar. Dia masih diobati Randy.”
Tasya menganggguk dan menaiki anak tangga. Dia menatap Michael yang ada di depannya dengan air mata yang berlinang. Kamu bahkan tidak sempat berganti pakaian, ya? Setahu Tasya, Michael paling benci dengan darah orang lain yang ada di pakaiannya. Namun, sekarang dia melihat hal berbeda. Michael tidak mempermasalahkan hal tersebut.
Tasya melihat Michael yang membuka pintu kamar. Keningnya berkerut melihat kamar yang dimasukinya berbeda. Tangannya menahan Michael yang sudah siap membuka pintu ruangan tersebut dan siap masuk.
“Ini kamar siapa, Ael?” tanya Tasya dengan wajah bingung.
“Ini kamar Vinda, Ma,” jawab Ael tanpa rasa bersalah, “Ael pernah bilang sama Mama, Ael hanya mencintai Rensi dan hanya dia yang Ael mau. Jadi, jangan salahkan Ael yang tidak bisa menerima Vinda dalam hati Ael.”
Tasya yang mendengar hanya menunduk sedih. Apa rencananya menyembunyikan identitas Vinda salah? Tetapi dia hanya ingin anaknya sadar dengan sendirinya. Langkahnya kembali mengayun mengikuti Michael yang sudah masuk. Matanya menatap Vinda yang sudah berganti pakaian dan terasa lebih baik.
Randy yang melihat tersenyum dan langsung mendatangi keduanya. Memberi salam kepada Tasya yang baru saja datang.
“Randy, bagaimana keadaan Vinda? Apa keadaannya parah?” tanya Tasya dengan wajah cemas.
“Tidak, Tante. Vinda baik-baik saja. Penembak memang sengaja tidak melukai oragan vitalnya. Lagi pula peluru yang mengenainya hanya sedikit, jadi tidak terlalu parah. Lukanya akan sembuh dalam beberapa hari. Jangan buat dia mengerjakan hal berat,” jelas Randy dan menyodorkan kertas berisi tulisan yang hanya dapat dibacanya dan Michael langsung menerimanya, “itu resep obat yang harus ditebus. Aku harus kembali ke rumah sakit karena aku memiliki jadwal operasi hari ini.”
“Oke. Berikan pada Roy di depan,” ucap Michael kembali memberikan kertas resepnya.
Randy yang mendengar hanya berdecih kesal. Kenapa teman sekaligus saudaranya masih sama menyebalkannya. Dia akhirnya memilih menerima kembali dan berpamitan dengan Tasya yang sudah duduk di ranjang, menemani Vinda yang masih belum siuman.
“Kamu mendapat istri yang sungguh baik, Ael. Jangan sampai kamu melepaskannya,” ucap Randy dan langsung pergi.
Michael yang mendengar hanya diam dan mengabaikan. Beruntung? Apa itu kata yang tepat untuk diungkapkan ketika dia mendapatkan Vinda sebagai ganti Rensi? Michael menggelengkan beberapa kali kepalanya dan menghilangkan rasa yang mulai meragukan. Michael memilih untuk kembali ke kamar dan membersihkan diri. Dia baru sadar bahwa sejak tadi pakaiannya kotor karena darah Vinda.
_____
“Apa? Kamu gagal, Sam!” bentak Dave yang saat itu menerima telfon dari Sam, orang suruhannya.
Dave menggeram marah dan memegang gelas di tangannya dengan penuh emosi. Dia masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Sam, orang yang merupakan penembak paling jitu gagal mencelakai Michael?
“Maaf, Tuan. Tetapi ada seorang gadis yang menghalangi dan pada akhirnya dia yang tertembak,” ucap Sam dari seberang telfon.
Gadis? Dave mengerutkan kening heran. Siapa yang dimaksud? Apa Vinda? Mengingat nama itu dia tersenyum sinis dan mematikan ponsel tanpa banyak bertanya dengan Sam. Matanya menatap lurus ke depan, memperhatikan ombak yang tampak begitu tenang. Aku pernah bersimpati kepadamu, Vinda. Tetapi itu hanya sesaat karena sekarang aku membencimu. Kamu sudah menggagalkan rencana ku untuk menghabisi pria yang sekarang menjadi suamimu.
Dave tersenyum sinis. Ya, dia tau semua berita mengenai Michael bahkan sampai pernikahan yang diliput oleh media. Pada akhirnya, dia harus membiarkan gadis malang tersebut menjadi semakin malang karena menikahi seorang Michael Aditama tanpa cinta.
“Sayang.”
Panggilan itu membuat Dave memejamkan mata dan mengeratkan mulutnya rapat. Emosi yang masih meluap semakin meluap mengingat siapa sumber masalah tersebut terjadi. Dave membalik tubuhnya ketika suara pintu kamarnya terbuka, menghadirkan sosok tinggi langsing dalam balutan dress berwarna purple. Rensi yang melihat Dave menatap ke arahnya langsung tersenyum dan memeluk Dave penuh cinta.
“Kamu hari ini mau ke mana?” tanya Rensi dengan suara manja dan tangan yang sudah mengalung di leher pria tersebut.
“Aku tidak ada urusan, tetapi aku ingin memberikan kejutan untukmu,” ucap Dave dengan senyum misterius.
“Kejutan? Apa?” Rensi tampak begitu bahagia.
“Bukankah kalau aku mengatakannya bukan lagi kejutan, sayang?” desis Dave dengan senyum setan, “aku yakin, setelah ini kamu akan begitu menyukaiku. Sangat.”
Rensi yang mendengar langsung memeluk Dave dengan penuh cinta. Dia benar-benar bahagia dan merasa beruntung menemukan Dave. “Aku sangat mencintaimu dan aku tidak menyesal meninggalkan orang gila yang akan menikahiku.”
Dave yang mendengar hanya diam dan mengelus rambut sepunggung Rensi pelan. Matanya masih menatap lurus ke depan, memberikan isyarat kepada kedua anak buah yang menunggu di luar untuk melakukan sesuatu dan langsung diangguki. Senyum penuh kemenangan tergambar di wajahnya.
Setelah ini kamu akan memikirkan dua kali lagi untuk terus bersamaku, Rensi.
_____
Michael sudah berganti pakaian dan masuk ke kamar Vinda. Matanya mendapati mamanya yang masih duduk diam sembari menggenggam tangan wanita tersebut. Sedangkan Vinda, dia masih sama dan belum membuka mata. Michael hanya menghela napas melihat kepedihan yang dialami mamanya. Dia belum pernah melihat wajah penuh lelah dan rasa penyesalan seperti saat ini.
“Mama gak mau pulang?” tanya Michael sembari melangkan masuk dan menutup pintu.
Tasya yang mendengar menatap Michael yang sudah berdiri di dekatnya. Matanya mengamati anaknya yang sudah semakin dewasa saat ini. “Michael, apa kamu tidak mencintai Vinda sama sekali?”
Michael diam sejenak dan menggeleng. Tidak ada alasan untuknya memikirkan perasaan yang jelas-jelas memang tidak ada untuk Vinda. Sejak awal dia hanya mencintai Rensi dan hanya wanita tersebut.
“Kamu yakin?” tanya Tasya memastikan.
Lagi-lagi Michael mengangguk mantap. “Ael memang tidak pernah mencintai Vinda, Ma. Sejak awal Ael sudah bilang bahwa....”
“Bagaimana jika orang yang selama ini kamu cari adalah Vinda? Bagaimana jika anak kecil yang dulu pernah menyelamatkanmu adalah Vinda? Apa kamu masih tidak mencintainya?” Tasya bertanya dengan mata berbinar. Dia berharap anaknya akan berubah pikiran nantinya.
Michael yang mendengar menghela napas panjang dan menatap mamanya frustasi. Kenapa mamanya begitu berharap dia mencintai Vinda? Padahal, sampai kapan pun dia tidak akan pernah mencintai Vinda sama sekali.
“Apa pun kenyataannya, Ael memang sudah mencintai Rensi, Ma. Terlepas dari apa pun yang sebenarnya, Ael tidak akan pernah mencintai Vinda,” ucap Michael mantap.
Tasya yang mendengar hanya diam dan menatap Vinda dengan pandangan memelas. Michael yang tidak mau larut dalam percakapan membosankan tersebut memilih untuk keluar kamar, membiarkan mamanya yang menemani Vinda. Dia enggan membahas masalah lain di saat Rensi belum ditemukan.
Vinda yang mendengar menutup kembali matanya rapat. Rasanya ada hal yang melukai hatinya saat ini. Semudah itu dia merasa sakit hati? Bahkan dengan cinta yang belum sepenuhnya jatuh untuk Michael? Vinda hanya menghela napas pelan agar tidak didengar siapa pun, bahkan Tasya yang sudah menunduk di sebelahnya. Ya, Vinda memang sudah sadar sejak Tasya memberikan perumpamaan bahwa dia adalah wanita yang dimaksud dan Vinda memilih diam sembari menutup mata.
Aku salah, Ael. Aku mengira kamu memang mencariku. Tetapi, sepertinya Rensi sudah menggantikanku yang seharusnya ada di posisi itu, batinnya dalam hati.
_____
ael apakabar, gak pingin bales tuh
masa bacanya Michael bintangbintangbintang kertas 😑🙄