Sejak kami kedatangan tetangga baru, kampung yang begitu tenang kini berubah menjadi mengerikan. Semua orang takut keluar rumah ketika malam. Makhluk tak kasat mata tidak pernah berhenti datang siang maupun malam. Bahkan mereka mengambil nyawa orang-orang satu per satu.
Kami bahkan tidak tau apa penyebabnya. Tiba-tiba sakit dan langsung di kabarkan sudah meninggal. Bahkan di tubuh mayat mempunyai bekas telapat tangan yang berwarna keunguan.
Pertanda apa semua ini, aku yang mempunyai kemampuan mengobati, tidak bisa berbuat apapun. Meski aku sering melihat makhluk tak kasat mata, tetapi aku begitu takut. Karena energi mereka begitu besar.
Apa yang harus aku lakukan?
Apa yang harus dilakukan warga di kampungku?
Kami merasa takut ketika setiap bulan, berjatuhan korban yang meninggal. Kepanikanku bertambah ketika adikku sakit, aku khawatir adikku akan seperti korban lain yang hanya mengalami sakit demam dan langsung meninggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UNI NANNI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketakutan Ketika Anjing Menggaung
"Yah..." kataku yang memohon agar ayahku tidak berani membuka pintunya. Tetapi, perlahan pintu sudah terbuka. Aku dan idar berusaha menghampiri ayahku.
"Tamrin, kau sudah membukanya?" tanya seseorang yang tidak bisa aku lihat wajahnya. Masih gelap, aku sudah mematikan lampu teras depan.
"Sebaiknya masuk dulu," kata ayahku yang mempersilahkannya masuk. Aku sudah mengerti, ternyata dia maaih manusia.
Saat masuk, aku baru mengenalinya. Dia adalah pak Ali, tetanggaku.
"Kau sudah dapat kabar kematian istri pak ahmad?" tanya pak Ali yang membuat aku dan ayahku terkejut. Baru kemarin malam kami ke rumahnya, dan sekarang istri pak ahmad sudah menjadi almarhuma.
"Jangan bercanda Ali, kemarin aku baru ke sana menjengguknya," kata ayahku yang mengira pak Ali bercanda.
"Aku serius, anakku di telpon temannya." kata pak ali yang tidak mau kalah.
"Kau tidak bercanda kan?" tanya ayahku dengan serius.
"Masa aku bercanda, ini menyangkut nyawa seseorang," kata pak Ali sambil menunjuk meja di depannya.
"Ayah sebaiknya ke sana, cek kebenarannya," kataku memberi saran.
"Kalian berdua tidak percaya padaku, padahal aku ini serius,"
"Bukan begitu pak Ali, sempat ada kesalah pahaman," kataku yang sedikit bersalah.
"Benar, kita sebaiknya cek ke rumah pak ahmad langsung," ajak ayahku pada pak Ali.
Mereka berdua sudah pergi, ayahku berpesan untuk menutup pintu serapat mungkin sampai dia pulang.
Dia sebenarnya, menyuruhku memanggil rian, hanya saja aku merasa tidak enak hati. Terlebih, idar seperti mencurigainya.
"Tidak apa, hanya malam ini saja, aku berdua dengan adikku. Jangan takut luis," gumanku dalam hati.
Aku dan idar mengakhiri menonton tivi dan kembali ke kamar. Idar sedang belajar, dan aku sengaja menonton video dengan membesarkan suaranya. Agar tidak mendengar hal aneh, yang membuatku takut.
"Kak, jangan terlalu berisik. Aku sedang belajar," kata idar yang terlihat kesal.
"Suaranya tidak terlalu besar kok," kataku tetap fokus menonton.
Aidil bangun, yang membuat aku kaget. Matanya langsung melotot di depanku.
"Kau, kenapa bangun?" tanyaku.
"Aku mau kencing kak,"
"Iya, aku anter." kataku sambil membuka pintu kamar.
Aku menunggu aidil di depan wc sambil lanjit menonton video di ponselku. Tidak lama, idar datang dengan berlari. Semua adikku, memang ingin membuat aku serangan jantung dadakan saja.
"Kau, kenapa berlari ke sini, tungga saja di kamar," kataku yang kesal.
Wajah idar seperti ketakutan, aku tidak melanjutkan marah-marah di depannya. Wajahku kian penasaran, terlebih idar sering menoleh ke belakangnya.
"Kak, ada orang yang mengetuk pintu jendela kamar kita," kata idar dengan takut.
"Kau, tidak membukanya kan?"
Idar menggeleng, membuat aku lega. Aku kemudian mengetuk pintu wc, agar aidil segera keluar. Perasaan, dia hanya mau buang air kecil, tetapi lama sekali.
"Idil, kau, sudah selesai?" tanyaku. Tetapi dia tidak menyahut.
Aku dan idar saling memandang. karena panik, aku mendobrak pintu wc.
Ternyata aidil sedang buang air besar, dia hanya melihatku dengan tatapan heran.
"Kau, ternyata buang air besar, tetapi tidak bilang-bilang," kataku sambil menutup kembali pintu kamar mandi. Tetapi, pintunya malah jatuh, sepertinya rusak karena aku dobrak.
"Kak, tutup pintunya!!" perintah adikku yang melihat pintunya malah jatuh.
"Pintunya rusak, kau cepat. Aku tunggu di samping saja," kataku sambil bergeser ke tembok. Dia mungkin malu, dilihat olehku.
"Kak, ini bagaimana. Kita hanya bertiga di sini, ayah belum pulang juga. Aku jadi takut?" kata idar yang berbisik padaku.
"Tenang, dia tidak mungkin bisa masuk ke rumah," kataku, tetap tegas. Walau, hatiku dan jantungku tidak bisa aku kondisikan. Saking takutnya aku.
"Tapi kak, kalau dia masuk dan memangsa kita?" kata idar dengan mulut terbuka. Aku yang melihatnya, tambah takut. Bisanya, anak ini berpikir macam-macam di saat seperti ini.
Tidak lama, suara benda jatuh dari dapur. Aku yang berdiri bersama idar, terkaget. Pandangan kami, langsung tertuju pada piring plastik yang jatuh dari meja makan.
"Tuh, kan kak, jangan-jangan hantunya sudah masuk," kata idar yang semakin membuat aku terkejut.
"Tenang luis, tidak akan terjadi apapun. Siapa suruh, kamu memberi saran pada ayahmu. Kan jadi begini." kataku dalam hati, sambil mengelus dada.
"Meong..." Seekor kucing muncul dari balik meja, aku merasa lega. Ternyata piringnya, tidak jatuh sendiri.
"Nah, kau lihat sediri kan, kuncing yang membuat piringnya jatuh," kataku, yang bernapas lega.
"Ya, tetap saja. Malam ini kan, istri pak ahmad meninggal. Arwannya pasti bergentayangan di kampung ini," kata idar, yang tidak mau berhenti menakuti.
"Kata siapa, orang yang meninggal arwahnya gentayangan?"
"Aku baca di internet kak, apalagi jika mereka meninggal dengan keadaan misterius. Seperti di santet, di makan hantu, sudah jelas arwahnya akan gentayangan, sampai kematiannya terungkap."
"Cukup, kau terlalu banyak berpikir. Bezok ujin, idemu bakal habis,"
"Kak, aku sudah selesai." kata aidil yang membuat aku tersedak. Dia tiba-tiba berdiri di belakangku, tanpa menyapa terlebih dahulu.
"Kalian semua, suka mengejutkan aku. Senang, kakakmu terkena serangan jantung dadakan?" tanyaku, yang sudah tidak tahan dengan tingkah kedua adikku ini.
Kami akhirnya memilih tidur di depan tivi, idar terus menolak jika tidur di kamar.
Aidil sudah tertidur lelap kembali, tetapi mataku dan idar masih terjaga. Entah, apa yang di tunggu untuk di lihat.
"Auuuuuu" Suara anjing menggaung, yang tepat berada di samping rumah. Aku mulai merinding, ini pertama kali ada anjing menggaung di dekat rumahku.
"Idar, kau sudah tidur?" tanyaku, dengan suara berbisik.
"Belum kak, aku hanya ketakutan." jawabnya yang terdengar lemah.
"Jangan takut, kata orang dahulu, jika anjing menggaung dan suaranya terdengar dekat dengan kita, tandanya dia melihat hantu yang jauh. Berbeda jika dia mengganung dari jauh, tandannya hantunya dekat dengan kita," kataku, ingin membuat adikku tenang dan tidur.
Aku sendiri tidak tahu, yang aku katakan benar atau tidak. Setidaknya, bisa membuat suasana malam ini, sedikit tidak menakutkan.
"Auuuuu.." Anjing yang menggaung, kini berada di samping tembok di dekat tivi. Aku hanya bisa menelan ludahku dengan kasar.
Tidak lama, suara tertabrak di tembok terdengar dengan jelas. Aidil yang tidur, langsung terbangun dan memelukku. Idar sudah menangis di dekatku. Aku juga, sudah merasa sangat takut.
"Ayah, cepat pulang..." Panggilku dalam hati sambil berpelukan dengan saudaraku dan menutup mata.