Follow Ig : Mommy_Ar29
Karena sebuah kesalahpahaman, membuat Rasya memiliki seorang putri tanpa adanya sebuah ikatan pernikahan.
Cacian dan makian dari nenek putrinya, membuat Rasya memiliki dendam yang begitu dalam.
Segala upaya ia lakukan untuk melindungi putrinya agar tidak bertemu atau mengenal keluarga dari ibu kandungnya. Karena Rasya tidak ingin putrinya mendapatkan perlakuan buruk dari neneknya.
Akankah Rasya berhasil menyembunyikan status Arshyla?
Apa jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan- pertanyaan Arshyla tentang dimana ibunya?
Bagaimanakah kisah Rasya dan Arshyla selanjutnya? siapakah wanita yang pantas mendapatkan hati Rasya juga Arshyla?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Catur with om Farel
Setelah semalaman, Rasya memikirkan ucapan Michele sore itu, kini ia sudah yakin, bahwa dirinya tidak akan menghindar lagi dari Anna. Yah, tidak ada salahnya dirinya berusaha, urusan jodoh atau tidak, biarkan Tuhan yang mengatur.
Kemarin sore, Chila ikut Michele untuk pulang ke rumahnya, dan kini pagi pagi Rasya sudah bertamu ke rumah Michele untuk menjemput Chila.
“Selamat pagi Om,” sapa Rasa sopan kepada Farel, orang tua Michele. Hari ini weekend, semua keluarga Michele sedang ada di rumah.
“Eh, Rasya. Pagi sekali menjemput Chila hem?” kata Farel terkekeh, kini dirinya sedang duduk menikmati secangkir kopi dan membaca koran sambil menikmati udara pagi hari di taman depan rumah nya.
“Iya Om, sudah bangun belum yah?” tanya Rasya basa basi.
“Sudah lah Ras, dia masih asik tidur sama bunda nya. Biarkan saja, sini duduk, temani om main catur.” Ujar Farel dengan senang karena menemukan teman bermain. “Kata Aldi, kau sangat pandai bermain catur, pernah ikut olimpiade juga kata Michele.”
“Tapi itu dulu Om, sudah lama saya tidak bermain,” jawab Rasa sedikit bingung, niatnya menjemput Chila dan segera pulang, tapi malah di ajak main catur.
“Halah, kita coba saja dulu. Om juga tidak terlalu pandai, iseng saja. Om lebih pandai bermain di kamar bersama istri daripada catur.”
“Hah!” Rasya sukses di buat terkejut mendengar candaan yang di lontarkan oleh papa Farel. Sungguh, ia tak menyangka bagaimana bisa ia membuat candaan seperti itu,membuat dirinya merasa malu sendiri.
Memang mereka sudah saling dewasa , dan bisa di katakan Farel om Farel sudah cukup tua, namun dirinya? Astaga, tidak perlu di bahas lagi.
“Rasya, apa kamu tidak ingin menikah? Aldi dan Michele sudah menikah loh,” ujar om Farel memulai pembicaraan sambil bermain catur nya.
“Emm, belum siap Om,” jawab Rasya sedikit kikuk.
“Apa yang membuat mu belum siap?Apa mau om kenalin dengan anak anak teman Om, atau anak dari rekan bisnis om?”
“Tidak Om, tidak perlu. Lagipula, Rasya masih menikmati waktu Rasya bersama Chila, Rasya tidak terlalu butuh istri, untuk saat ini.” pungkas Rasya jujur.
“Hahaha, Rasya, kamu yakin tidak butuh istri? Apa kamu bahagia sendiri seperti ini? Dan juga, kamu lihat Chila, dia pasti butuh sosok seorang ibu. Apa kamu tidak kasian padanya?” tutur om Farel membuat Rasya terdiam.
‘Hiks hiks hiks, Ayah kenapa Chila gak punya Bunda? Masa teman teman Chila semua di jemput bunda nya di sekolah. Chila enggak, hiks hiks, Ayah, dimana bunda Chila. Bahkan, Chila tidak punya foto bunda, hiks hiks, tidak mungkin ayah yang melahirkan Chila kan?”
Perkataan Chila beberapa waktu yang lalu, seolah kini terus terngiang di telinga Rasya. Beberapa hari yang lalu, Chila pulang sekolah dalam keadaan menangis. Dan saat Rasya tanya ada apa, karena dia merasa iri dengan para teman teman nya yang selalu di antar jemput oleh bunda nya, sementara dia tidak pernah sekalipun. Hanya dirinya, oma Lily, mama Michele atau papa Aldi. Atau tante Anna sesekali, hanya itu.
“Rasya, Chila semakin lama semakin besar. Tidak mungkin mama kamu yang akan terus mengurus nya sampai tua nanti. Apa kamu tidak kasian padanya? Dulu dia habis sakit lumayan lama, dan sekarang dia harus mengurus Chila, walaupun om tahu Chila tidak terlalu nakal. Tapi percayalah Rasya, ada sesuatu yang sangat di inginkan anak mu tapi dia tidak mau menyakiti mu.”
Deg!
Seketika Rasya langsung menatap om Farel dengan lekat. Apakah saat di rumah Michele, Chila kembali melontarkan kata kata yang menginginkan seorang Bunda lagi? Ataukah ada Chila ada mengatakan keinginan nya kepada Michele tapi tidak berani mengatakan nya pada dirinya.
“Justru karena itu om, beberapa kali saya jalan dengan seorang wanita. Tapi rata rata mereka tidak mau menerima Chila, bahkan ada yang secara terang terangan menyuruh Chila agar ikut dengan mama. Dan sejak itu saya putuskan bahwa saya yang akan mengurus Chila sendiri, Rasya tidak ingin menikah.”