Spion Off "Tuan Muda Amnesia"
Di hari yang seharusnya menjadi momen terindah, kabar buruk menyergap kediaman Alexander. Calon mempelai putra sulung mereka menghilang, tanpa jejak, tanpa pesan.
Namun, upacara tetap disiapkan, tamu tetap berdatangan, akan tetapi kursi di samping Liam Alexander kosong. Liam bersikeras menunggu, meski semua orang mendesaknya untuk menerima kenyataan.
Semakin lama Liam bertahan, semakin jelas bahwa ada sesuatu yang tak beres, dan hilangnya calon istrinya bukanlah kejadian kebetulan
Follow instagram @Tantye untuk informasi seputar novel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pov Arumi
Bukan hanya Liam, tetapi semua penghuni rumah selain Leona jelas kaget dengan kehadiran Arumi secara tiba-tiba di hari ulang tahun Liam. Apalagi sudah berbulan-bulan lamanya wanita itu dinyatakan meninggal dalam kecelakaan mobil secara tragis.
"Aku tahu om, tante, mas Liam dan yang lainnya terkejut dengan kedatanganku tapi sekarang bukan waktunya menjelaskan, tetapi merayakan ulang tahun mas Liam," ucap Arumi seraya melirik Liam yang terus menatapnya.
"Jangan natap aku terus mas, ayo kita bersulang!" seru Arumi mengangkat gelas tinggi-tinggi.
Orang tua Liam yang awalnya terdiam ikut mengangkat gelas dan menempelkan satu sama lain. Begitu pun dengan Liam, hanya saja tatapannya tidak pernah lepas dari Aruminya.
"Semoga hari ini dan hari-hari berikutnya kebahagian terus menghampiri mas Liam!" teriak Leon ketika merasa suasana menjadi canggung.
"Aamiin!" Mereka serempak menjawab dan merayakan ulang tahun Liam dengan berkumpul bersama. Perayaan pertama bersama keluarga dan wanita yang dia cintai selama 15 tahun.
Lambat laun satu persatu anggota keluarga pamit untuk tidur sebab jarum jam sudah menunjukkan angka 1 lewat beberapa menit.
Yang tersisa hanya Liam dan Arumi saja di taman tersebut. Dan selama itu pula Liam seolah enggang mengalihkan perhatiannya pada wanita yang ada sampingnya.
"Aku mengantuk, kita bertemu besok lagi," ujar Arumi.
Liam mengeleng, semakin erat mengenggam tangan Aruminya. Bagaimana jika besok pagi wanita itu menghilang lagi?
"Mas, aku harus bertemu ibu, ayah dan adik-adikku."
"Besok, kamu bisa menemuinya besok Arumi. Mereka sudah tidur. Kalau kamu mengantuk, tidur di sini bersamaku."
"Mas, ingat ya kita belum menikah."
"Tapi akan."
Hening, Arumi tidak lagi bicara. Wanita itu masuk ke ruangan di mana ada ruangan santai yang terasa sangat nyaman. Ada sofa panjang untuk istirahat. Wanita itu mengerti kenapa Liam bersikap demikian.
Ia yakin menghilangnya dirinya satu hari sebelum pernikahan sangat menyakitkan dan menyimpan trauma kehilangan sangat berat. Terlebih dia menyaksikan secara langsung bagaimana Liam melanjutkan resepsi pernikahan dengan gaun tanpa dirinya.
"Maaf, tapi ini adalah keputusan yang tepat untuk keselamatan diriku sendiri mas," lirih Arumi. Ia memaksakan senyumnya melihat Liam sibuk berjalan kesana-kemari dan sesekali menatapnya, mungkin memastikan dia masih ada di sini dan duduk menunggunya.
Ia bukan cenayang, tetapi sebagai anak seni ia sedikit bisa membaca karakter orang hanya dengan bicara dan bersikap. Dan melihat Seaven dibandara ia menyadari bahwa sejak awal pria itu tidak suka dengan kehadirannya meski dimulut terdengar manis.
Semakin lama dan sering bertemu dia tahu alasan kenapa Seaven tidak suka padanya. Pria itu takut ia merebut Liam.
Arumi sudah berusaha bicara secara baik-baik dengan Seaven tetapi pria itu selalu mengelak dan dia pun tidak ingin dalam bahaya jika terang-terangan mengatakan tahu bahwa Seaven menyukai Liam.
Hari pernikahan semakin dekat, Liam terlalu sibuk dan Seaven selalu ada di sekitarnya adalah ketakutan tersendiri untuknya. Sampai akhirnya ia memiliki keberanian untuk mencari bukti bahwa Seaven benar menyukai Liam.
Ia nekat datang ke kantor Seaven dan berhasil masuk ke ruangan pria itu dengan berbagai alasan. Dan di sana ia menemukan flashdisk yang membuat dia terkejut padahal sudah menduganya sejak awal.
Melihat semua foto dan video yang Seaven abadikan malah memunculkan keraguan dalam hatinya. Benarkah Liam mencintainya? Bagaimana jika pria itu pulang bukan untuknya melainkan untuk dirinya sendiri? Menikahinya demi menutupi hubungan bersama Seaven melihat keduanya begitu tidak terpisahkan.
Dan akhirnya Arumi menemui Leon, meminta agar membujuk Liam untuk membatalkan pernikahan sebelum dirinya yakin dan bisa membuktikan sendiri Liam hanya mencintainya. Namun Leon menolak dengan keras bahkan ketika ia memohon dan membuat lututnya tergores. Yang lebih membuat hatinya terluka, Leon menuduhnya selingkuh dengan Seaven dan mengancam akan memberitahu Liam.
Bukankah posisinya bagai buah simalakama, bertahan dengan keraguan atau melanjutkan dengan membayakan dirinya sendiri?
Dia pulang ke studio dalam keadaan hancur. Dan saat tiba ia mendapati pamerannya dihancurkan oleh seseorang. Malam itu Arumi meraung di studionya, menangis dan menangis meratapi banyak hal sebab menanggung beban yang tidak bisa ia ceritakan pada siapapun.
Satu hari sebelum pernikahan dia benar-benar sibuk memperbaiki pamerannya yang akan digelar sampai tidak sempat berbicara empat mata dengan Liam.
Dia menyuruh Leon untuk mengambil mobilnya agar diservis seperti permintaan Liam. Namun, kejanggalan dia temukan ketika Leon kembali menghubunginya dan mempertanyakan apakah ia yang menyuruh orang menjemput mobilnya di markas Neon Ravens.
Tidak ingin memperpanjang masalah, Arumi mengiyakan pertanyaan Leon. Beberapa jam kemudian ia melihat mobil itu ada di depan Studio tanpa pemberitahuan apapun.
Firasatnya buruk sampai malam tiba, terlebih saat akan pulang dia bertemu Seaven di depan Studio dan mengatakan akan mengantarnya pulang dengan selamat.
"Bukan karena ingin memastikan sesuatu kan?"
Itulah isi pikirannya malam itu sehingga ia menyuruh Sevia untuk pulang bersama Seaven sedangkan dirinya pergi lebih dulu. Di pertengahan jalan, Arumi menghentikan mobil untuk menemui seseorang yang sudah ia hubungi tadi siang.
"Bagaimana jika mobilnya bermasalah dan membahayakan nyawanya?" Melirik perempuan yang duduk di dalam mobil.
"Dia seorang ibu tunggal dan memiliki putri dengan gagal ginjal kronis. Dia tidak masalah dengan nyawanya asal bu Arumi bersedia membiayai putrinya di rumah sakit."
Arumi memejamkan matanya dan mengangguk, terlebih ia tidak punya banyak waktu. Ia menghampiri wanita tersebut dan memasangkan cincin di jari manis wanita yang seusia dengannya.
"Apakah kamu yakin? Kalau tidak, kamu bisa turun dari mobil. Saya takut mobilnya benar-benar di sabotase."
"Saya yakin Bu. Asalkan bu Arumi berjanji akan membiayai pengobatan putri saya."
"Saya berjanji, dan saya berharap mobil ini baik-baik saja sampai tiba di tujuan semestinya," ujar Arumi sembari menganggukkan kepalanya.
Ia meninggalkan mobil tersebut bersama orang yang membawa wanita untuk menggantikannya.
Beruntungnya hari itu keluarganya maupun keluarga Liam tidak memeriksa DNA sebab meyakini itu dirinya karena ada saksi mata yaitu Sevia dan Seaven.
"Memikirkan apa?" tanya Liam, berhasil mengembalikan Arumi pada kejadian tragis yang memakan korban jiwa karena keegoisannya.
Di pikirannya malam itu hanya, dia harus hidup untuk membuktikan kebusukan dan pengkhianatan Seaven pada Liam.
"Nggak ada, aku hanya mengantuk." Arumi mengelengkan kepalanya. Mengambil kain tipis berbahan lembut yang diberikan Liam.
"Sini." Liam menepuk tempat di sampingnya. "Mengantuk kan? Kamu bisa tidur asal dalam jangkauan mas."
Dengan ragu Arumi berpindah duduk di samping Liam, menyandarkan punggungnya di dada bidang pria itu. Ia mulai memejamkan mata ketika tangan kekar melingkar di sekitar lehernya dan menerima sebuah kecupan di kening.
Berbeda dengan Liam yang enggang memejamkan matanya karena takut yang teramat besar di hati dan pikirannya.
....
jijik