Ricky Riswan ( Yasir Hamdan)seorang pekerja di kota Jakarta yang baru saja mendapatkan gelombang PHK dari perusahannya tempatnya bekerja, ia memutuskan untuk kembali ke Tasikmalaya, di mana tanah kelahirannya berada ,ia berencana untuk mengembangkan dan mengolah lahan milik keluarganya , hanya saja di tengah jalan ,mobil bus yang ditumpanginya mengalami kecelakaan dan meledak ,dan saat ia sadar ia berada di desa yang sangat asing bagi dirinya dan baru mengetahui bahwa dirinya akan dijadikan sebagai pengantin pria untuk dua gadis yang tidak dia kenal , bagaimana kelanjutan cerita ini, masih lama bro ,mungkin nunggu dua tahun atau lebih...!!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pecinta timur10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7 berjualan langsung habis , Belanja di kios..
Keesokan harinya, pagi subuh remang remang, suasana terlihat belum terang, kabut tebal menyelimuti bukit tempat tinggal sederhana itu ,di halaman terlihat seorang pemuda yang tampak serius membuat anyaman bambu.
Wajahnya yang terlihat samar masih sedikit memerah panas , matanya sesekali melirik kebawah ,ke arah tempat pemandian di bawahnya.
" sial , jangan berfikir... jangan berfikir .tahan " ia menghentikan pikirannya dan kembali terfokus ke arah anyaman bambu yang dibuatnya.
Ia berencana untuk membuat keranjang buah dan juga beberapa kerajinan lainnya , seperti kipas bambu , atau segala macam tentang berhubungan dengan bambu .
Sebelum menyeberang , ia adalah seorang pemuda yang memiliki pikiran rakyat dan membuat kerajinan dari bambu adalah hal di luar kepala baginya .
Dari subuh hingga matahari terbit ,akhirnya ia berhasil membuat empat kerajinan bambu ,berupa tempat buah, keranjang untuk menyimpan piring dan juga dinding bambu .
Di desa Plarangan, bambu adalah komoditas paling gratis yang bisa di ambil di hutan dekat perbatasan dengan desa Tanjung turi , sebelum suara ayam berkokok, ia sudah mengambil lima bambu yang cukup untuk membuat dinding bambu berukuran sedang , selain itu ,karena cuaca malam yang deras dan ekstrem, banyak buah kelapa, durian , sawo, alpukat , dan buah buahan pada musim itu berjatuhan , sehingga dalam waktu dua jam ,ia dan kedua istrinya sudah pulang dengan beban di punggung.
Ia berencana untuk menjual buah buahan yang di pungutnya di tepi jalan utama kota kecamatan, karena ia tahu bahwa di sana banyak yang berlalu lalang , entah menggunakan kereta kuda bagi bangsawan, atau hanya sekedar jalan kaki .
Bahkan ada yang menunggang kerbau , terutama para pemuda yang memiliki orang tua kaya dan bersekolah di sekolah yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda.
" mas kami berdua sudah mandi " Lestari yang baru saja dari bawah ,tempat mandi terlihat begitu mempesona , kulitnya yang kuning kecoklatan terlihat lembut dan halus.
Yasir menatap sedikit lama dan tersadar ,wajahnya sedikit memerah " ohh ... iya, siap siap saja , aku mau membuat satu untuk tempat tidur nanti " katanya mengalihkan pandangannya dari kain yang tampak menggelembung itu.
" iya , mas hati hati .. " gadis muda itu tidak menyadari tatapan panas pemuda yang sedang membuat anyaman bambu itu , segera ia masuk ke dalam rumah dan merapikan beberapa barang yang perlu di bawa .
Yasir menumpuk dinding bambu yang sudah jadi , dan ia hanya bisa menghela nafas lega, matanya tampak bersinar seiring sinar matahari pagi muncul di ufuk Timur.
Kemudian ia memasukan buah buahan yang sebelumnya ia dapatkan dari memungut akibat hujan dan angin lebat , walaupun jumlahnya hanya lima belas biji, ia tetap akan menjualnya di jalan utama menuju kota kecamatan.
" mas kita berdua sudah siap ...!" Suara gadis muda terdengar begitu halus ,Yasir menoleh dan mengangguk secara tidak sadar .
" ya , kalian berdua sudah rapi dan cantik , ayo ikuti aku ke jalan utama kota kecamatan " kata Yasir mengangkat keranjang berisi buah buahan yang memiliki berat total lima puluh kg .
Karena malam sebelumnya hujan ,jalanan di sekitarnya menjadi begitu basah dan licin , sehingga ia dan kedua wanitanya harus berhati hati dalam melangkah.
Sampai di tengah desa , Yasir berhenti , matanya melirik ke arah rumah rumah yang cukup bagus dan secara tiba tiba berteriak.
" buah segar ,durian, rambutan, jambu air , dll , murah , mumpung promo !"
Sontak teriakan di pagi itu membuat semua orang yang ada di sekitarnya keluar dengan membawa parang dan senapan angin ( walaupun masih dalam pemerintahan kolonial kerajaan Belanda, untuk masalah senjata masih bisa diakses, hanya saja itu bukan senjata api , tapi senjata berburu ringan , seperti burung ataupun kucing hutan .)
Melihat bahwa yang berteriak itu adalah preman desa , para warga mulai mereda , mata mereka menatap ke arah keranjang bambu yang berisi buah buahan yang masih segar .
" Kang Yasir kamu jualan buah sekarang?" Seorang pria tua datang dengan seorang anak kecil di belakangnya.
" ehh pak Ramdi , ya ini hanya saya dapatkan saat menunggu hujan reda tadi malam , masih segar.... murah dua sen satu kilo buah " katanya tersenyum ramah .
" bagus, walaupun itu hanya mungut, tapi kamu tampaknya sudah berubah, baik mamang beli satu kilo " katanya memberikan dua koin perak ,lalu tanpa ragu ,tangannya mengambil buah jambu air berjumlah sepuluh buah .
Yasir yang melihat hal itu segera menghentikan perbuatan orang tua yang tampak mengambil buah secara serempangan itu .
" ada apa Kang Yasir..?"
" buahnya kurang , saya akan menambahkannya " katanya memberikan sepuluh buah jambu air berwarna merah menggoda itu ke bungkus daun jati yang ada di tangan pria tua itu .
" baiklah terimakasih... kebetulan cucuku suka .." katanya tertawa nyaring.
Yasir hanya tersenyum, ia dengan sibuk melayani pembeli yang semakin lama semakin banyak , seolah rezeki begitu mudah di dapatkan.
Namun pemuda itu tahu bahwa para penduduk memberinya bantuan secara tidak langsung ,hingga sampai jam pukul sembilan , saat matahari berada di bagian pipi , semua dagangan buah habis total , bahkan satu keranjang bambu telah di beli , menyisakan keranjang bambu yang satunya.
Kedua gadis muda yang mengikutinya tampak senang dan bergembira, mata mereka menatap ke arah kantong kain yang menggelembung itu ,ada rasa kepuasaan dan perasaan gembira di hati keduanya.
" mas ini sungguh luar biasa, hanya dua atau tiga jam semuanya habis , jadi kita tidak perlu pergi ke kota kecamatan yang jauh itu " kata Halimah dengan nada halus dan beretika masyarakat kuno .
" ya , ayo ikuti aku , kita akan belanja beberapa barang yang dibutuhkan di rumah .. "
Yasir mengingat bahwa ada warung kios china yang sangat Makmur dan besar ,banyak peralatan pertanian, hingga kendaraan mati dan hidup di jual di toko kios China itu.
Ia segera berjalan menuju ke arah jalan desa yang cukup bagus, di depannya terlihat bangunan yang cukup lebar , di sana sini banyak penduduk atau warga yang berbelanja ,juga sekedar lewat atau melihat barang yang diinginkannya yang belum sanggup di beli.
" aiyya... tuan tampang Yasir datang , mau beli apak?"
" sembako ... dan alat pertanian kasar !"
" tungglu sepentar..."
Pemilik toko itu mengambil sembilan bahan bumbu untuk masak , beras satu karung kecil, telur satu kilo , dan juga sabit untuk menebas rumput, parang. Serta tali tali yang khusus untuk pertahanan diri .
" sudah ini saja koh , jadi berapa ?"
" tiga golden 34 sen , tidak mahal kan ..?"
" ya ini sepadan " Yasir tidak mau berbicara terus dengan orang keturunan Tionghoa, bukan karena benci atau meremehkan, melainkan karena ia tidak terlalu suka berbicara banyak dengan orang luar yang belum banyak mengenal.
" imah ,tari ayo mau makan apa ?"