Dilarang Bom like...
Kisah ini menceritakan tentang seorang pangeran yang harus mengasingkan diri karena tidak ingin mewarisi tahta sang Ayah di usianya yang masih sangat muda.
Pangeran Areez harus selalu berpindah tempat tinggal, dirinya tidak pernah menetap di satu tempat untuk menghindari kejaran para bodyguard ayahnya yang selalu mencari dirinya untuk kembali ke istana.
Hingga akhirnya di tempat persinggahan nya yang terakhir dirinya bertemu dengan seorang wanita sederhana dan jatuh cinta kepada wanita tersebut.
Karena dirinya sudah terlanjur jatuh cinta pada wanita yang bernama Evina, dirinya tidak bisa pindah dari tempat itu.
Sampai akhirnya para bodyguard sang raja menemukan tempat persembunyiannya, dan akhirnya membawa pangeran Areez kembali ke istana.
lalu bagaimanakah kelanjutan dari kisah cinta sang Pangeran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertarungan dingin
Evina kembali menutup pintu kamar putri Elisa dengan sangat rapat, dirinya hendak melangkah, namun tanpa disangka Pangeran Brendan sedang berdiri di sana dengan menyandarkan punggungnya di tembok.
''Evina...'' terdengar suara pangeran Brendan yang memanggil namanya.
Evina menghentikan langkah nya dan menoleh. Ia sedikit terkejut karena tidak mengetahui sama sekali jika pangeran Brendan berada tepat di hadapannya.
Evina sedikit membungkuk lalu hendak kembali melangkah, namun tangan sang Pangeran meraih satu tangannya dan membuatnya menghentikan langkahnya seketika.
''Tunggu...'' pangeran Brendan.
''Mohon maaf pangeran, saya harus kembali bekerja,'' ucap Evina sembari mencoba melepaskan pergelangan tangannya yang sudah mulai terasa sakit.
''Izinkan aku bicara sebentar denganmu.''
Evina hanya terdiam, masih dengan menggerakkan tangannya agar bisa terlepas dari cengkraman tangan pangeran yang terasa semakin erat.
''Saya mohon lepaskan tangan saya, para pelayan memperhatikan kita,'' ujar Evina yang sudah mulai sedikit kesal.
Para pelayan yang sedang berlalu lalang di sana pun memperhatikan mereka berdua sambil saling berbisik satu sama lain.
''Apa yang kalian lihat?'' ucap pangeran dengan mata melotot ke arah para pelayan yang langsung berlari ketakutan.
" Aku hanya ingin berbicara denganmu sebentar saja."
"Baiklah kita bicara, tapi tolong lepaskan terlebih dahulu tangan saya, rasanya sakit," pinta Evina yang sudah sedikit berkaca-kaca.
Pangeran Brendan hendak melepaskan pergelangan tangan Evina, namun tiba tiba saja terdengar suara Pangeran Arezz berteriak yang sontak membuatnya kembali menggenggam erat tangan Evina.
"Brendan...." Pangeran Arezz berteriak memanggil nama adiknya, sembari berjalan cepat ke arah Pangeran Brendan. Sakti pun terlihat berjalan dengan langkah yang sama di belakang Pangeran Arezz.
Suara sang pangeran yang begitu keras dan menggelegar membuat para pelayan yang tadi berlarian, kembali menghentikan langkahnya dan berbalik melihat ke arah pangeran Brendan serta Evina.
"Apa yang kamu lakukan?" ucap Pangeran Arezz dengan wajah yang terlihat marah dan tatapan tajam mengarah ke arah Pangeran Brendan.
Pangeran Brendan tersenyum, dirinya seolah senang bisa melihat sang Kaka terbakar api amarah dan juga cemburu.
"Ada apa Kaka ku yang terhormat, mengapa kau terlihat marah, kami hanya sedang berbincang sebentar," ujar pangeran Brendan dengan sedikit tersenyum licik.
"Lepaskan tanganmu itu dari pergelangan tangannya," ujar pangeran Arezz.
"Apa kamu tak lihat kami sedang mengobrol?"
Pangeran Arezz meraih tangan kanan Evina dan mencoba menariknya, namun kedua tangan Evina hanya terasa semakin sakit karena pangeran Brendan semakin mengeratkan genggaman tangannya.
Kini posisi tangan Evina dalam genggaman dua orang pangeran, yang terlihat seperti sama sama akan menarik kedua tangannya.
Kedua kakak beradik itu tampak saling melayangkan tatapan sinis, seolah akan segera bertarung untuk memperebutkan satu orang wanita yang kini berada di tengah-tengah mereka.
Andai saja Putri Elisa tidak keluar dari kamarnya, karena mendengar kegaduhan antara kedua kakaknya, mungkin saja Pangeran Arezz serta Pangeran Brendan akan benar-benar bertarung di depan kamar Putri Elisa.
"Kalian berdua hentikan..." putri Elisa tampak marah dan menghampiri ketiganya.
"Apa yang kalian lakukan? apa kalian tidak malu semua mata memandang kalian bertiga?" ujarnya lagi.
Pangeran Brendan tampak melepaskan genggaman tangan Evina dengan kasar, namun tidak dengan pangeran Arezz, dia masih menggenggam tangan Evina, dan hendak segera pergi membawa Evina dari tempat itu.
"Aku akan segera membuat perhitungan dengan mu, karena kau telah mengabaikan peringatan ku," ujar sang pangeran lalu benar-benar pergi membawa Evina bersamanya.
Putri Elisa yang menyaksikan kejadian tersebut tampak melotot kearah kakak keduanya.
"Kaka benar-benar seperti anak kecil," ujar nya lalu pergi meninggalkan pangeran Brendan sendirian di sana.
Para pelayan yang tadi menyaksikan kejadian tersebut, langsung berlarian saat Pangeran Brendan mulai melayangkan tatapan sinis kearah mereka semua.
Pangeran pun pergi dari tempat itu dengan tatapan sinis dan senyumnya yang angkuh.
***
Pangeran Arezz membawa Evina ke dalam kamarnya, Sakti pun di tugaskan oleh sang pangeran untuk berjaga di depan pintu kamar agar siapapun tidak ada yang bisa masuk ke dalamnya.
Evina tampak duduk di kursi sambil terus memegangi pergelangan tangannya yang terasa sangat sakit.
"Apa kamu baik baik saja?" tanya pangeran.
Evina hanya mengangguk.
Pangeran meraih pergelangan tangan Evina yang tadi digenggam oleh adiknya, ia pun terlihat sangat terkejut, karena terdapat luka memar yang melingkar di pergelangan tangan Evina.
"Ev... tangan mu terluka, apa sakit?" ujar sang pangeran sambil mengusap luka memar tersebut.
"Aku tidak apa-apa, aku harus segera kembali ke tempat kerjaku, karena di sana masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan," jawab Evina.
"Sebaiknya tanganmu di obati dulu."
"Tak usah, nanti juga akan sembuh sendiri."
"Sekali ini saja kamu jangan membantah, anggap saja ini adalah perintah dari seorang pangeran yang tidak bisa kamu tolak," ujar sang pangeran, lalu dirinya meraih kotak P3K yang selalu tersedia di kamarnya.
"Dasar...! kamu menyalahgunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi," ucap Evina dengan sedikit tersenyum.
Pangeran tak mendengar sama sekali ucapan Evina, dirinya terlihat sedang berjalan ke arah Evina dengan membawa kotak P3K dalam genggaman tangannya.
Pangeran meraih tangan Evina yang terluka, meniupnya dengan lembut lalu mulai mengoleskan salep khusus untuk luka memar, setelah itu sang pangeran pun membalutnya dengan kain perban berwarna putih, sekarang pergelangan tangan Evina yang kecil itu terbalut perban putih yang melingkar.
''Pasti rasanya sangat sakit, tangan mu yang kurus ini jadi terluka,'' ucap sang pangeran masih dalam keadaan memegang tangan kurus wanita yang di cintai nya.
Evina hanya tersenyum melihat wajah pangeran yang kini sedang mengusap jemari nya.
''Apa tidak sebaiknya kamu keluar dari istana ini dan hidup dengan tenang di tempat yang tidak di ketahui oleh Adikku, aku janji akan sering mengunjungimu, aku sungguh khawatir melihat mu terus menerus di ganggu oleh Adik ku itu.''
Evina menggeleng lalu tersenyum.
''Aku tidak mungkin keluar dari istana ini, dimana lagi tempat yang bisa aku singgahi? tempat yang aku bisa makan dan tidur dengan gratis,'' ucap Evina dengan polosnya.
Pangeran tertawa geli mendengar ucapan Evina, ternyata gaya hidup hematnya itu masih menjadi prinsip utamanya sampai saat ini.
Masih dalam keadaan tersenyum, pangeran Arezz meraih kedua tangan Evina ke atas pangkuannya, lalu mengusap punggung tangannya dan mengecupnya.
Tatapan sang pangeran benar benar menunjukan rasa cinta yang tulus kepada Evina, dan tentu saja Evina dapat melihat dan merasakan hal tersebut.
Mereka berdua kini saling menatap, seolah saling mengisyaratkan rasa cinta mereka lewat tatapan mata keduanya, lalu tak lama kemudian tangan pangeran mengelus dengan lembut pipi tirus wanita yang di cintai nya itu dan mendekatkan wajahnya tepat di hadapan wajah Evina lalu merekatkan bibirnya di bibir mungil Evina.
Evina menyambut sentuhan bibir sang pangeran, dirinya sengaja melingkarkan kedua tangannya di leher pangeran Arezz, dan kini keduanya larut dalam setiap sesapan bibir yang terasa manis bagi keduanya, saling berputar dan menikmati setiap gelora kerinduan yang selama ini mereka pendam.
*****
SEMANGAT berkarya thorr 🔥🔥🔥
semoga othor sehat selalu, bahagia setiap saat dan rezeki lancar, aamiin aamiin
Arezz dijemput Evina dan berbahagia di alam sana. Adam bersedih karena telah kehilangan ayahnya😭😭😭
hidup Adam ngenes banget😭
kasihan Evina ga salah apa². kasihan Adam yang sekecil itu harus ditinggal ibunya😭😭😭
nelongso banget sih hidupnya Evina dan Arezz,😭
kasian banget si Arezz sampe berubah gitu😭😭