Demi menyelamatkan nyawa suaminya yang kritis akibat kecelakaan, Melisa harus berhadapan dengan tagihan rumah sakit yang sangat besar. Di tengah keputusasaan, ia bertemu kembali dengan Harvey, dokter bedah yang menangani suaminya sekaligus mantan kekasih yang ia tinggalkan secara tragis saat SMA.
Terdesak biaya, Melisa terpaksa mengambil jalan gelap dengan bekerja di sebuah klub malam melalui bantuan temannya, Laluna. Namun, takdir kembali mempermainkannya: pria kaya yang menawar harganya paling tinggi malam itu adalah Harvey.
Kini, Harvey menggunakan kekuasaannya untuk menjerat Melisa kembali—bukan hanya untuk membalas dendam atas sakit hati masa lalu, tapi juga menuntut bayaran atas nyawa suami Melisa yang ia selamatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGASUH BAYI
Waktu terus bergulir, dan jarum jam di dinding ruang VIP itu seakan mengejek Melisa. Sore telah tiba, saat di mana "perjanjian" itu memanggilnya kembali ke apartemen Harvey—tempat yang kini ia sebut sebagai penjara emasnya.
Melisa melepaskan pelukan Narendra dengan perlahan, meskipun hatinya terasa berat. Ia harus pergi sebelum Harvey kembali dengan kemarahan yang lebih besar.
"Mas, aku harus pergi sekarang," ucap Melisa pelan sambil merapikan selimut Narendra.
Narendra langsung mengerutkan kening, genggaman tangannya mengencang. "Pergi? Ke mana? Ini sudah sore, Mel. Kenapa tidak menginap di sini saja?"
Melisa menarik napas panjang, menyiapkan sandiwara yang sudah ia susun di kepalanya. "Aku... aku sudah mendapatkan pekerjaan, Mas. Selama kamu koma, tabungan kita menipis, dan aku harus mencari cara agar kita bisa bertahan."
Narendra tertegun, raut penyesalan muncul di wajahnya. "Pekerjaan apa? Sampai harus meninggalkan suamimu yang baru siuman?"
"Aku bekerja sebagai pengasuh bayi, Mas," jawab Melisa, berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang. "Tapi jadwalnya khusus. Aku menjaga bayi itu dari sore hari sampai pagi hari."
Alis Narendra bertaut semakin dalam. "Pengasuh bayi? Sore sampai pagi? Bagaimana mungkin ada orang tua yang membutuhkan pengasuh hanya di malam hari? Itu jam tidur, Melisa."
Melisa memaksakan senyum kecil, jemarinya mengusap tangan Narendra untuk meredakan kecurigaan. "Orang tua bayi itu adalah pasangan profesional, Mas. Sang ibu bekerja di rumah sakit ini juga, mengambil shift malam, sementara ayahnya sering dinas keluar kota. Mereka butuh seseorang yang bisa dipercaya untuk menjaga bayi mereka saat malam hari agar tidak terbangun sendirian. Itu sebabnya gajinya cukup besar untuk membayar biaya tambahan di sini."
Narendra terdiam, menatap istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Di satu sisi, ia merasa bangga pada kegigihan Melisa, namun di sisi lain, ada rasa sakit yang menusuk karena ia merasa gagal sebagai suami yang seharusnya menafkahi.
"Maafkan aku, Mel... membuatmu harus bekerja sekeras ini," bisik Narendra lirih.
"Jangan minta maaf. Ini demi kita," sahut Melisa, meski hatinya menjerit karena setiap kata yang ia ucapkan adalah dusta. "Sekarang, tidurlah. Aku akan kembali besok pagi tepat setelah shift-ku selesai. Suster akan menjagamu dengan baik di sini."
Setelah mencium kening Narendra untuk terakhir kalinya, Melisa melangkah keluar dengan perasaan hancur. Namun, begitu ia menutup pintu kamar, langkahnya terhenti.
Di ujung lorong yang remang, Harvey sudah berdiri bersandar di dinding dengan tangan bersedekap. Ia telah menanggalkan jas putihnya, kini hanya mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Tatapannya dingin, menusuk langsung ke arah Melisa.
"Bagus sekali," sindir Harvey, suaranya bergema rendah di koridor yang sepi. "Pengasuh bayi? Sebuah kebohongan yang manis untuk suami yang malang."
Melisa menunduk, tidak berani menatap pria itu. "Aku melakukan apa yang harus kulakukan, Harvey. Tolong, jangan hancurkan sisa-sisa kesembuhannya."
Harvey melangkah mendekat, aroma parfumnya yang maskulin dan tajam mulai mengintimidasi ruang gerak Melisa. Ia membungkuk, berbisik tepat di telinga Melisa hingga napasnya terasa panas di kulit leher wanita itu.
"Waktumu sudah habis, Melisa. Sekarang, kembali ke apartemen dan bersiaplah. Bayi yang harus kau 'asuh' malam ini adalah aku... dan aku bukan tipe yang mudah tertidur."
Melisa memejamkan mata rapat-rapat saat Harvey mencengkeram lengannya dengan posesif, menuntunnya menuju lift, meninggalkan Narendra yang masih menatap langit-langit kamar dengan sejuta tanya yang belum terjawab.
Langkah Melisa terasa berat saat ia memasuki mobil yang sudah disiapkan Harvey. Ia tidak pernah tahu bahwa di dalam kamar VIP yang baru saja ia tinggalkan, sebuah skenario baru sedang dijalankan oleh Harvey untuk memastikan Narendra tetap berada dalam kendalinya, bahkan tanpa kehadiran Melisa.
Beberapa menit setelah Melisa pergi, pintu kamar Narendra terbuka. Seorang perawat dengan seragam rapi dan wajah yang tampak familiar masuk membawa nampan berisi obat-obatan.
Narendra, yang masih terjaga karena pikirannya kalut, menoleh perlahan. Matanya yang sayu tiba-tiba melebar. "Ar... Arneta?"
Perawat itu tertegun, lalu senyum manis mengembang di wajahnya. "Mas Rendra? Ya ampun, jadi benar pasien VIP yang harus kujaga itu kamu?"
Arneta adalah teman masa kecil Narendra di kampung halaman mereka di Jawa Tengah. Mereka tumbuh besar bersama sebelum akhirnya sama-sama merantau ke Jakarta untuk mencari nasib. Arneta mengambil sekolah keperawatan, sementara Narendra berjuang di dunia korporat.
"Kamu bekerja di sini?" tanya Narendra, suaranya terdengar jauh lebih bersemangat.
"Aku baru dipindahkan ke divisi VIP hari ini, Mas," jawab Arneta sambil mulai memeriksa cairan infus Narendra. "Aku kaget sekali saat melihat namamu di daftar pasien. Aku tidak menyangka kita bertemu lagi dalam kondisi seperti ini."
Narendra menghela napas lega. Setidaknya ada wajah yang ia kenal di tempat yang terasa asing ini. "Syukurlah. Tapi, kenapa kamu bisa ditugaskan khusus menjagaku? Bukankah perawat VIP biasanya berganti-ganti?"
Arneta teringat pesan tegas Dokter Harvey beberapa saat lalu di ruang perawat. “Jangan pernah katakan bahwa saya yang memintamu secara pribadi. Katakan saja ini prosedur rumah sakit untuk pasien prioritas. Jika kau melanggar, posisimu di sini taruhannya.”
"Ini hanya profesionalisme rumah sakit, Mas," jawab Arneta tenang, sesuai naskah yang diperintahkan. "Karena kondisimu sempat kritis dan kamu menempati ruang VIP utama, pihak manajemen menugaskan satu perawat khusus untuk memantau perkembanganmu 24 jam. Kebetulan, aku yang terpilih."
Narendra tersenyum tipis. "Aku merasa lebih tenang jika itu kamu, Ta. Istriku... Melisa, dia sedang sibuk bekerja malam. Aku merasa tidak enak selalu merepotkannya."
Arneta terdiam sejenak, menatap Narendra dengan tatapan iba yang tersembunyi. Sebagai perawat, ia tahu ada sesuatu yang tidak beres dengan perhatian berlebihan yang diberikan Dokter Harvey pada kasus ini. Ia juga melihat bagaimana Dokter Harvey menatap Melisa tadi sore.
"Mbak Melisa pasti sangat menyayangimu, Mas. Dia terlihat sangat lelah," pancing Arneta.
"Ya, dia wanita paling baik yang pernah kukenal," gumam Narendra. Namun, bayangan Dokter Harvey yang membanting pintu kembali melintas. "Ta, kamu kenal Dokter Harvey? Bagaimana menurutmu dia sebagai dokter?"
Arneta menghentikan gerakannya sejenak. "Dokter Harvey adalah dokter spesialis terbaik di sini, Mas. Dia sangat kompeten, tapi memang... orangnya sangat tertutup dan dingin. Dia punya pengaruh besar di rumah sakit ini. Kenapa kamu bertanya?"
Narendra menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. "Tadi dia bersikap aneh. Dia seolah tidak suka aku dekat dengan istriku sendiri. Apa itu hanya perasaanku saja?"
Arneta hanya bisa terdiam, tidak berani menjawab lebih jauh. Ia tahu bahwa di balik dinding rumah sakit ini, ada rahasia besar yang sedang menyelimuti pernikahan teman lamanya itu.
Sementara itu, di apartemen mewah milik Harvey, Melisa berdiri gemetar di ruang tamu. Harvey melepas jam tangan mahalnya, lalu berjalan mendekati Melisa dengan langkah pelan yang mengintimidasi.
"Kau berbohong dengan sangat lancar tadi, Melisa," bisik Harvey sambil menarik dagu Melisa agar menatapnya. "Pengasuh bayi? Ide yang sangat kreatif untuk menutupi statusmu sebagai 'milikku' selama sisa hari dalam perjanjian ini."
"Aku tidak punya pilihan lain!" bentak Melisa lirih.
Harvey tertawa sinis. "Aku sudah memberikan perawat pribadi terbaik untuk suamimu. Seseorang yang dia kenal. Jadi, kau tidak perlu khawatir dia akan kesepian. Sekarang..." Harvey meraba kerah baju Melisa, "Lupakan soal suamimu. Malam ini, kau hanya punya satu tugas."
***
Bersambung...