WARNING...!! SIAPKAN KOMENTAR TERPEDAS KALIAN YA😁
Novel ini di angkat dari kisah nyata mungkin pada awalnya si pihak perempuan bisa di bilang bodoh, kalau penasaran yuk lanjut baca kalau gak skip aja ya😁
"Tidak, bukan aku yang memulai. Kau yang lebih dulu mengkhianati ku. Lalu kenapa sekarang kau merasa paling tersakiti?" Winda menatap wajah suaminya dengan sesak di dadanya.
"Maafkan aku, aku khilaf. Tapi, kenapa kau malah berselingkuh dari ku?"
Lelaki yang tidak memiliki perasaan ini dengan entengnya melontarkan pertanyaan yang membuat Winda tertawa geli.
Bukan kesalahan Winda berselingkuh, sejak mereka menjalin hubungan di saat kuliah, Tama lah yang sudah mengkhianatinya terlebih dahulu.
Memaafkan berulang kali, begitu seterusnya hingga mereka menikah. Hati Winda benar-benar patah, wanita ini membalas pengkhianat suaminya. Mempertahankan rumah tangga demi nama baik masing-masing dari keluarga mereka. Linda dan Tama, hidup dalam kemunafikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26
"Mau kemana Win?" tanya Tama karena penasaran melihat istrinya merias diri.
"Aku mau pergi, bosan di rumah!"
"Lalu, bagaimana dengan anak?" tanya Tama lagi, "aku sangat sibuk hari ini, tidak bisa menjaga mereka."
"Mamah ku yang akan menjaga mereka. Jadi, sebelum pergi aku aku akan mengantar Azam dan Asya ke rumah mamah terlebih dahulu."
Tama menarik nafas panjang, tiga bulan setelah melahirkan entah kenapa Winda kembali dengan kebiasaan yang dulu suka pergi.
"Kau terlalu sibuk mas, memang betul semua pekerjaan mu pindah ke rumah tapi tidak ada bedanya dengan bekerja di luar."
"Lalu aku harus apa Win?" Tama lesu, "pekerjaan ku memang seperti ini."
"Akhir pekan saja kau tidak punya waktu untuk anak-anak mu. Aku juga bosan berada di rumah sepanjang hari."
Tama hanya diam, menghela nafas sangat panjang.
"Aku pergi dulu, untuk makan siang mu sudah aku bilang sama bi Marni untuk memasak makanan kesukaan mu!"
Tanpa memikirkan Tama, Winda langsung mengajak kedua anaknya pergi. Weni sangat senang jika menjaga kedua cucunya karena adik Winda sedang kuliah di kota lain dan pulang sebulan atau dua bulan sekali.
"Kamu sudah izin sama suami mu?" tanya Weni memastikan.
"Tama sudah tahu mah, lagian aku sangat bosan di rumah. Tama tidak mengizinkan ku untuk bekerja atau melakukan kegiatan apa pun."
"Ya sudah, hati-hati. Jangan lupa beli mainan buat anak-anak mu."
Winda hanya tersenyum menanggapi ucapan mamahnya, wanita ini kemudian pergi.
Winda menemui seorang teman perempuan yang sudah lama tidak bertemu. Mereka teman sekolah yang sempat kehilangan kabar satu sama lain lalu bertemu di media sosial.
Winda sangat heran melihat fashion teman lamanya ini. Bukannya menghina atau apa, tapi wanita yang bernama Nita ini di kenal anak kurang mampu saat sekolah dulu.
"Jangan bingung dengan apa yang kau lihat. Aku menjadi seperti ini, berkat jadi simpanan om-om...!" bisik Nita membuat Winda tercengang.
"Astaga, kau jadi simpanan suami orang?" tanya Winda tidak percaya.
"Ya, aku pernah menikah dan gagal karena orang ketiga. Suami ku berselingkuh bahkan selingkuhannya hamil."
Winda terdiam, nasib rumah tangga temannya ini tidak jauh berbeda dari dirinya.
"Ya ampun, anak ku kerja banting tulang tapi kau malah asyik nongkrong di mall seperti ini. Dasar istri tidak tahu diri," ucap Diana yang tiba-tiba ada di sana.
Diana bersama dengan seorang perempuan tapi Winda tidak mengenalnya.
"Aku hanya keluar jalan-jalan sebentar bertemu teman ku mah. Apa aku salah jika aku ingin mencari hiburan sebentar saja?"
"Ciiih,.....!" Diana mendecih, mencibir menantunya, "kasihan sekali Tama dapat istri seperti kamu ini. Coba kamu seperti Nadia, cantik, anggun dan sopan pada orang tua." Diana memuji wanita yang berada di sampingnya.
Winda mengerutkan dahinya, melirik wanita yang berdiri di samping mertuanya sambil memeluk lengan Diana.
"Sikap ku tergantung sikap orang yang memperlakukan ku. Kenapa harus membandingkan menantu mu dengan perempuan lain?" ketus Winda tidak suka.
"Itu karena kau dan Tama sama sekali tidak cocok untuk menjadi suami istri. Hanya Nadia yang pantas!"
Winda tertawa masam, sungguh muak jika harus berhadapan dengan mertuanya ini.
"Anak mu sendiri yang tidak mau menceraikan ku!" ucap Winda membungkam mulut Diana.
Diana hanya cemberut kemudian mengajak perempuan yang bernama Nadia itu pergi.
"Jahat banget mulut mertua mu itu," kata Nita yang bergeleng kepala.
"Memang seperti itu, aku muak dengan mamahnya Tama."
Suasana hati Winda mendadak buruk, wanita ini pada akhirnya memutuskan untuk pulang. Winda sudah mampir ke rumah mamahnya untuk menjemput kedua anaknya tapi Weni melarang kedua cucunya untuk di bawa pulang terlebih dahulu. Alhasil, Winda pulang seorang diri.
"WinWin, di mana anak-anak kita?" tanya Tama heran.
"Di rumah mamah!" jawabnya ketus.
"Kau kenapa lagi Win?" tanya Tama, "kenapa sikap mu sekarang sama sekali tidak bisa menghargai ku?"
Winda membuang nafas kasar, menatap wajah suaminya kesal.
"Asal kau tahu, kau dan mamah mu sama-sama membuat ku muak. Bisa-bisanya mamah mu membandingkan ku dengan perempuan lain di depan orang banyak. Aku tidak habis pikir!"
Tama yang kebingungan dengan ucapan Winda,
"Aku sama sekali tidak mengerti dengan semua yang kau ucapkan," ujar Tama.
"Kau tidak mengerti atau memang pura-pura tidak mengerti?" Winda bertanya, "mamah mu ingin menjodohkan kau dengan perempuan lain."
"Aku tidak tahu mengenai hal itu."
"Aku muak, ada baiknya kau menceraikan ku!" ucap Tama berlalu masuk kedalam kamar.
Di ruangan lain, bi Marni hanya diam saja mendengar perdebatan Tama dan Winda yang tidak ada habisnya. Ingin ikut campur pun tidak bisa karena bi Marni hanya pembantu di rumah ini.
Hari berganti hari, kehidupan rumah tangga Winda dan Tama masih tetap sama. Meskipun tidak ada perdebatan di antara mereka selama beberapa hari ini, tapi entah kenapa sikap Winda semakin dingin terasa.
"Tumben rapi, mau kemana?" tanya Winda pada suaminya.
"Mamah meminta ku bertemu siang ini. Katanya ada hal penting."
"Oh,... ajak Azam dong. Asya rewel nih dari pagi, biar Azam bisa ketemu sama neneknya!"
"Duh, gak bisa Win. Aku buru-buru banget. Mamah udah nelponin dari tadi." Tolak Tama.
"Ngajak anak ketemu sama neneknya aja kok banyak alasan. Terserah kamu deh!" Winda kesal.
Sekali lagi Tama hanya menghela nafas, pria ini kemudian bergegas pergi.
Winda, entah kenapa perasaan wanita ini mendadak tidak enak. Winda kemudian menitipkan kedua anaknya pada bi Marni lalu mengikuti mobil suaminya.
Mengemudi dengan santai karena Winda tahu tempat yang akan di tuju oleh suaminya karena jalanan ini tidak asing bagi Winda.
Mencari tempat parkir yang sedikit jauh dari mobil suaminya, setelah itu Winda masuk kedalam restoran.
Senyum Winda langsung sinis, perasaan tidak enak di hati akhirnya terjawab sudah.
Untung saja restoran ini sangat ramai di siang hari jadi baik Tama maupun Diana tidak sadar akan kehadirannya.
Dengan jelas Winda melihat Diana menarik tangan Tama dan Nadia lalu menyatukannya. Sungguh, ini sangat membuat Winda sakit hati.
"Huh,...pantesan aja gak mau ajak Azam pergi. Ternyata mau ketemu sama calon istri baru....!" ucap Winda sangat mengejutkan Diana terutama Tama.
"Win, kau mengikuti ku?" Tama syok.
"Yah, ada baiknya seperti ini. Dengan mamah mu mencarikan kau perempuan lain membuat ku senang bisa bercerai dari mu!"
"Diam kau!" bentak Diana, "jangan membuat malu di sini...!"
"Win, ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku tidak mungkin menikah lagi."
"Terserah kau saja, yang jelas aku sudah melihat dengan kedua mata ku. Katanya mau berubah, kita lihat saja nanti...!" ucap Winda dengan tatapan tajam kemudian pergi.
Tama mengejar istrinya, tapi Winda tidak mau di sentuh oleh Tama. Winda melajukan mobilnya meninggalkan restoran.
Dengan perasaan kacau, Winda pergi ke rumah Nita. Winda menceritakan semua yang ia alami hari ini, sungguh Nita jengkel mendengar curhatan dari Winda.
"Balas saja Win, buktikan pada mereka jika kau bisa membuat hati anaknya sakit!" ucap Nita dengan geramnya, "nanti akan ku kenalkan kau pada seseorang. Kau butuh hiburan, jika suami ku bisa bersenang-senang dengan perempuan lain kenapa kau tidak?"
****Slow nulis ya kakak, otor mulai fokus menunggu waktu lahiran yang tinggal menghitung hari🌝🌝
hajar terus win 🤣🤣🤣
niat hati baca novel untuk melepas penat , eh yang ada malah bertambah bahkan max level lagi