Kisah seorang gadis yang demi menyelamatkan orang lain harus rela kehilangan ingatannya termasuk identitas dirinya namun justru membuatnya mendapatkan identitas baru yang kemudian merubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipik sukirno, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode. 25
Lin Fengyin melangkahkan kakinya meninggalkan ruang rawat itu dengan setengah hati. Hatinya masih sangat ingin berada disisi gadis penyelamatnya, namun ia juga harus pulang untuk mengistirahatkn tubuhnya agar dapat bekerja dengan baik keesokan harinya.
Dengan perlahan ia menitup kembali pintu agar tidak meninggalkan suara yang dapat mengganggu istirahat Putri maupun pasien diruangan lain. Tak lantas pergi, Lin Fengyin berdiri didalam diamnya didepan daun pintu yang masih ia genggam ganggangnya. Ia lalu membalikkan badannya dan hendak melangkahkan kakinya untuk benar-benar meninggalkan tempat itu. Namun entah hanya perasaannya atau ilusi semata, ia seperti mendengar suara berisik dari kamar yang baru saja ia tinggalkan itu. Dengan cepat ia berbalik badan dan membuka pintu itu kembali lalu cepat-cepat memasuki ruangan itu.
Mata yang melotot penuh kebingungan dan rasa takut, nafas yang tersengal-sengal menandakan betapa ia merasa ketakutan, tubuh yang seakan tak mampu digerakkan dipaksakannya untuk bergerak. Pemandangan inilah yang pertama kali terlihat dimata Lin Fengyin, cukup lama Lin terdiam dalam perasaan yang campur aduk antara senang dan takut. Apalagi Putri terlihat sangat takut saat menyadari Lin Fengyin mendekatinya.
Begitu tersadar dari rasa tercengangnya, Lin segera menekan tombol darurat untuk memanggil dokter dan perawat agar segera datang dan memeriksa keadaan Putri.
5 menit kemudian seorang dokter jaga dan beberapa perawat datang dengan terburu-buru setelah mendapat sinyal darurat dari kamar itu.
"Dokter tolong segera periksa dia!" Seru Lin begitu mereka memasuki ruangan itu.
"Baik, tuan silahkan tunggu diluar." Jawab dokter itu.
Lin menunggu diluar dengan perasaan cemas namun bahagia. Entah kecemasan apa yang dirasakannya, ia hanya cemas bagaimana ia akan menemui gadis itu setelah ini. Namun ia juga sangat bahagia karena penantiannya akhirnya berakhir.
Tak berapa lama dokter yang memeriksa Putri pun keluar, ia tersenyum dengan sangat lebar.
"Bagaimana keadaannya, dok?" Tanya Lin segera.
"Keadaannya sangat baik, detak jantung sudah normal, secara keseluruhan sangat baik.." Ujar dokter itu.
"Tapi tadi dia seperti sangat ketakutan dan syok, dokter." Kata Lin cemas.
"Itu sangat wajar, tuan. Pasien sudah koma selama itu, tentu dia akan sangat terkejut. Terlebih lagi dia mengalami amnesia, itu hal yang bagus jika dia merasa ketakutan, artinya sistem kerja otaknya berjalan dengan baik. Tuan tidak perlu khawatir, setelah ini kita hanya perlu menstabilkan emosinya dan mentalnya. Kalau begitu saya permisi." Ujar dokter itu lagi.
"Terima kasih atas bantuannya, dokter." Kata Lin.
Setelah dokter itu berlalu, Lin memberanikan dirinya untuk masuk kembali kedalam ruangan itu. Dua orang suster masih berada disana melakukan apa yang semestinya dilakukannya, seperti mencatat tekanan darah, detak jantung, dan sebagainya.
Melihat Lin Fengyin memasukk ruangan, kedua suster itu segera bersiap meninggalkan ruangan itu karena yang harus diperiksa sudah selesai diperiksa.
"Permisi, tuan." Kata salah satu suster itu.
"Selamat tuan, kekasih anda akhirnya siuman juga." Ujar yang satunya lagi.
"Iya, terima kasih." Jawab Lin. "Eeh, kekasih?" Tanya Lin kaget.
Kedua suster itu berlalu sambil tertawa kecil sementara Lin menjadi salah tingkah dan malu-malu sendiri.
"Apa yang kau pikirkan, Lin Fengyin? Jangan banyak berharap. Dasar bodoh." Gumam Lin menggerutu didalam hatinya.
Perlahan ia menghampiri gadis yang telah ia nantikan selama ini. Meski masih sedikit syok, namun Putri sudah lebih tenang dari sebelumnya.
"Dia... Tidak mengenaliku, bukan?" Pikir Lin lagi.
"Dimana ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa aku disini? Dan... Siapa aku?" Tanya Putri kebingungan dalam hati.
Putri sangat ingin menyampaikan pertanyaan-pertanyaan itu, namun mulutnya tak mampu mengeluarkan suara. Begitu pula dengan Lin Fengyin, banyak kata yang ingin disampaikannya, namin semuanya tidak tersampaikan.
"Istirahatlah."
Pada akhirnya hanya kata itu yang mampu ia ucapkan dengan baik. Saat itu Lin Fengyin melupakan fakta bahwa Putri berasal dari negara lain sehingga tidak mengerti dengan apa yang diucapkannya. Sementara Putri yang tidak mengerti dengan bahasa yang diucapakan oleh Lin hanya mampu menanyakannya didalam hatinya.
"Apa yang kau katakan? Aku tidak mengerti sama sekali. Sebenarnya dimana ini? Mengapa aku tidak mengerti bahasa mereka. Dokter dan perawat tadi pun begitu." Ucapnya dalam hati.
Kata-kata yang begitu jelas hanya terdengar seperti 'Ehmm.. Emm emm' Ditelinga Lin Fengyin.
"Apa yang ingin kau sampaikan?" Tanya Lin sambil membungkukkan tubuhnya untuk mendekatkan telinganya.
Putri tidak dapat melakukan apapun selain menggerutu didalam hatinya. Dan karena Putri tidak mengatakan apapun, Lin pun menegakkan tubuhnya kembali.
"Tidak usah banyak khawatir, saya tau banyak hal yang ingin kau sampaikan, tanyakan apapun itu saat kau telah membaik. Saat itu saya akan menjawabnya, oke? Sekarang sudah saatnya saya kembali, jadi istirahatlah dengan baik." Kata Lin Fengyin kemudian.
Lin Fengyin segera meninggalkan Putri yang memiliki seribu pertanyaan dihatinya. Didalam perjalanan pulangnya tak henti-hentinya dia mengembangkan senyum dibibirnya seakan ia telah melepaskan beban berat yang selama ini membelenggunya.
Habis ini apa ya yang terjadi ?? gimana ya hubungan mereka setelah ini ??? Nantikan kelanjutan ceritany yaa 😘😘