"Jangan menodai mata, Anda!"
Gak usah banyak bicara, pijit aja, untung Kakak suruh pijit bagian atas, emangnya mau pijit bagian bawah juga?" tanya Fallen.
"Kalau boleh sih, Aku lebih milih pijit bagian bawah, soalnya di atas tanganku pegel karena bahu Kakak kan lebar dan tinggi," jawab Fio.
"Di bawah juga lebar dan tinggi," balas Fallen nakal.
Cover from pinterest. disimpan dari m.photoviewer.naver.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mhammadtaufiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26
Kini Fahrul telah sadar dari pingsannya, ia berusaha memfokuskan pandangannya, saat pandangannya mulai normal, ia kembali berada di ruangan bercat putih.
"Tempat ini lagi?" tanya Fahrul pelan, lehernya masih terasa pegal akibat pukulan dari Fallen.
"Sialan, gue ketangkap lagi," ucap Fahrul kesal.
Akhirnya pintu terbuka, Fallen dan Dertox menatap datar Fahrul. Fahrul menatap mereka sinis, "Kalian berhasil, berhasil nangkap gue, setelah ini apa yang bakalan kalian lakuin? Mau nge-bunuh gue juga? Seperti orang tua gue? Bahkan Rene udah kalian bunuh juga," ucap Fahrul.
Fallen hanya diam, dia membiarkan Fahrul berkata sepuasnya sampai Pria itu berhenti sendiri.
"Kenapa kalian diam hah?!" bentak Fahrul.
Fallen rasa sudah cukup, ia maju lebih dekat ke arah Fahrul dan mulai menjelaskan semuanya.
"Apa yang Kau sangka semuanya salah, bukan Aku yang membunuh orang tua-mu, tapi Rene sendiri," ucap Fallen tenang.
Fahrul menggelengkan kepala, ia tidak percaya apa yang dikatakan oleh Fallen, mana mungkin Kakaknya berani membunuh orang tuanya sendiri?
"Lo jangan ngaco, mana mungkin Kakak gue nge-bunuh orang tuanya sendiri?" tanya Fahrul marah.
"Kau hanya dijadikan alat sebagai pembalas dendam-nya, Rene sudah dari dulu menyukaiku, tapi Aku tidak membalas perasaannya, dan juga waktu itu ia gila karena Ayahnya sendiri sudah menjodohkannya dengan pria lain, tentu saja waktu itu Kau masih kecil yang tidak tahu apa-apa," ucap Fallen.
Baru saja Fahrul ingin membalas, Fallen melanjutkan perkataannya kembali, "Rene yang menolak itu semua membuatnya berubah menjadi gadis yang kejam, dia membunuh ayah-nya agar ia tidak dijodohkan dengan pria lain, sedangkan Ibu Rene? Dia membentak Rene dan mengatainya sebagai Anak yang durhaka, kesal dengan ocehan ibu-nya Rene pun membunuhnya juga," ucap Fallen berhenti di sela-sela pembicaraan, ia menarik nafas pelan kemudia berkata, "Ada satu fakta yang harus Kau ketahui," lanjutnya.
Fahrul berusaha mengontrol emosinya, "Apa itu?" tanyanya.
"Kau bukan Anak kandung mereka, Kau adalah Anak angkat dari keluarga Rene. Kau tidak percaya? Silahkan lihat buktinya," ucap Fallen kemudian menyerahkan surat DNA.
Dertox melepas rantai yang mengikat ke dua tangan Fahrul kemudian memberikan surat DNA tersebut.
Fahrul membuka surat tersebut dan membaca isinya.
Ia terkejut bukan main, air mata Fahrul menetes, kali ini ia percaya, ternyata Kakaknya sangat licik, ia memutarbalikkan fakta dan menjadikannya robot sebagai alat dendamnya.
"Satu hal lagi, ternyata Kau adalah adikku," ucap Fallen.
Perkataan tersebut membuat Dertox ikut terkejut, kali ini Dertox mulai mengerti, mengapa Tuannya tidak ingin menyakiti Fahrul.
"Bagaimana tuan bisa tahu bahwa Fahrul adalah Adik Tuan?" tanya Dertox.
"Aku hanya iseng mengetes-nya tadi, ternyata Aku dan Fahrul sedarah, awalnya Aku ragu, tapi Aku bertanya ke panti asuhan yang pernah kutinggali, ternyata juga ditinggali oleh Fahrul, dan gagasan tersebut semakin diperkuat oleh Ibu panti bahwa kami bersaudara, dan Aku merupakan anak dari Hanin Peterson dan Steaven Wijaya," jawab Fallen.
"Maaf, selama ini Aku diperalat oleh Rene," ucap Fahrul sambil menunduk.
"Aku dari dulu memaafkan-mu, Kau adalah adikku, tapi," ucap Fallen menghentikan ucapannya yang tiba-tiba pandangannya berubah menjadi dingin, "Walaupun Kau adikku, jangan berani mendekati Fio," peringat Fallen.
Fahrul meneguk ludahnya kasar, kali ini ia merasa takut, keberaniannya seketika menciut setelah menatap mata gelap Fallen.
"Bersihkan diri-mu, setelah itu Dertox akan memberitahu di mana kamar-mu," ucap Fallen kemudian keluar dari kamar.
Saat Fallen keluar, Fio sudah ada di depannya sambil melipat tangan di dadanya, "Hal sebesar ini Kamu tutupi dari Aku Kak? Dan konyolnya, Kamu bilang dengan alasan urusan laki-laki," marah Fio.
Fallen menggaruk tengkuknya, "Yah, ini memang urusan laki-laki, Kau tidak boleh ikut karena urusan laki-laki bukan urusan perempuan," jawab Fallen.
Kali ini Fio berani menjewer telinga Fallen, "Oh, jadi Kakak lupa bahwa Aku ini siapa? Atau Kakak gak anggap Aku sebagai Istri? Dan punya wanita simpanan?" tanya Fio garang.
Fallen meringis kesakitan sambil mengernyitkan dahinya, mengapa Fio menjadi galak seperti ini? Biasanya kalau Fio marah dia hanya cemberut dan menyendiri di kamar.
"Aku gak mau tau, Kakak tidur di luar kamar atau setiduran sama Fahrul sekalian!" teriak Fio kemudian pergi meninggalkan Fallen.
"Sayang, Aku bisa jelasin!" teriak Fallen.
Di seberang sana, tepatnya di samping tembok, Anak buah Fallen menertawakan Tuannya, sangat lucu sekali jika Tuannya yang terkenal dingin, kejam, pembunuh tak pandang bulu mudah ditaklukkan oleh gadis kecil.
Fallen yang menyadari itu langsung menatap tajam anak buahnya, "Berhenti tertawa atau lidah kalian Aku potong!" ancam Fallen kemudian pergi dari tempat tersebut.
~~
kalau pribadi yimak .membawa like