NovelToon NovelToon
Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:2.6M
Nilai: 5
Nama Author: najwa aini

Menjalankan sebuah pernikahan rahasia dan dengan terpaksa pula, tidak pernah ada dalam bayangan Aura Aneshka. Ia hanya memimpikan untuk membina
rumah tangga yang sederhana dengan seorang lelaki yang sholih dan bertanggung jawab. Tapi semua impian yang sudah tampak di depan mata itu hancur berantakan ketika pemilik kekuasaan di tempatnya bekerja masuk begitu saja dalam kehidupannya dan mengacaukan hari-harinya.

Damaresh Willyam, penguasa tertinggi PRAMUDYA CORP. Tak pernah tau kalau akibat perbuatannya mengikat Aura Aneshka dalam pernikahan yang hanya di maksudkan untuk menunjukkan kekuasaannya pada bawahannya yang di anggapnya terlalu pembangkang itu, justru membawanya pada masalah baru yang tak pernah ingin di temuinya selama ini. Yaitu cinta.

Dapatkah sebuah ikatan yang awalnya hanya di maksudkan untuk permainan itu, menjadi sebuah ikatan yang sebenarnya.
Bagaiamana jika pada akhirnya, Damaresh harus memilih antara cintanya atau tahtanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Insiden

"Terima kasih, Pak." ucap Aura sambil menatap Damaresh di sampingnya. Lelaki itu mengangguk kecil meski tetap menatap lurus ke depan, sepertinya ia ingin segera pergi dari tempat itu bahkan mesin mobil juga tidak dimatikan.

Aura segera turun dan menutup pintunya pelan. Gadis itu langsung melenggang menuju warung tenda langganan guna memenuhi janjinya pada si cacing-cacing yang bernyanyi riang di dalam perutnya.

Aura memesan makanan seperti biasanya dan juga sudah membayar uangnya, namun tiba-tiba.

"Jangan beli makanan di sini, Arra!"

"Bapak?"

Damaresh tau-tau telah berdiri di samping Aura dengan tatapan tajam dari sepasang matanya yang pekat.

"Kenapa pak? saya sudah biasa makan di sini, ini warung langganan saya," kata Aura menjelaskan.

"Ini warung yang sudah bekerjasama dengan anak buah Edgard untuk membiusmu," Damaresh tetap melabuhkan tatapan tajamnya pada Aura yang membuat pemilik warung jadi terlihat kian gugup.

"Bibi itu dipaksa Pak, dan dia sudah menyesalinya, saya juga sudah mema'afkannya."

Damaresh menggeleng. "Tak ada jaminan kalau dia tak akan mengulangi perbuatannya lagi,"

"tapi, Pak-"

"Kalau aku bilang tidak, ya tidak, Arra. jangan bantah!"

Aura diam. Ia memilih mengalah, karna pasti percuma kalau ia melawan keputusan Damaresh.

"Maaf ya Bibi, saya gak jadi beli," ucap Aura pada pemilik warung itu dengan perasaan tak nyaman. Si bibi hanya mengangguk dan segera hendak mengembalikan uangnya, namun Aura menolak halus.

Gadis itu bergegas menyusul Damaresh.

"Bapak seharusnya jangan begitu, kasian bibi itu pasti tersinggung," Aura langsung menyampaikan protesnya

begitu telah berdiri di samping Damaresh.

"Harusnya aku membuatnya lebih dari hanya sekedar tersinggung, kan?"

"Bibi itu dipaksa, Pak. Dia pasti gak ada niat untuk mencelakai saya," Aura berkata yakin.

"Apapun motifnya, yang jelas dia sudah mencelakaimu.

Itu yang ku tau." Putus Damaresh

"Saya gak suka dengan cara berpikir, Bapak." Aura menggeleng tak suka.

"Aku tak minta pendapatmu untuk suka atau tidak dengan caraku," Damaresh melayangkan tatapan tajam pada Aura, lelaki itu sangat tak suka dibantah.

"Aku melakukan ini, karna aku ingin melindungimu,"

pungkasnya kemudian.

"Melindungi saya?" Aura bertanya ragu.

"Iya,"

"Kenapa?"

"Karna kau tanggung jawabku." sahut Damaresh.

"Tanggung jawab dalam artian?" Aura menatap lekat Damaresh. Ia benar-benar harus memastikan tanggung jawab apa yang dimaksud oleh Damaresh itu.

Mendapat pertanyaan spesifik begitu, Damaresh terlihat tenang saja, ia bahkan sudah bersiap menjawab, ketika tiba-tiba sebuah suara aneh menyeruak di antara keduanya yang sedang ada dalam mode tegang tersebut.

kriukkkk

"Itu suara apa?" tanya Damaresh.

"Klakson mobil, Pak." sahut Aura asal. perasaannya kini campur aduk antara malu dan kesal. Malu karna cacing-cacing itu mengeluarkan suara nyanyiannya dengan keras hingga didengar Damaresh, kesal karna dengan itu apa yang ingin diketahuinya akan terlewat begitu saja.

Damaresh bukan tak tau suara apa itu barusan. Mendengar jawaban Aura, lelaki itu menarik sudut bibirnya hampir membentuk lengkungan, namun hanya untuk sepersekian menit saja.

"Kau lapar, Arra?"

"Menurut bapak?" Aura balik tanya dengan tatapan tajam.

"Ayo aku antar sampai rumahmu," Damaresh malah berkata lain dan melangkah mendahului memasuki gang kecil yang ditunjuk Aura barusan sebagai jalan yang menuju ke rumah kontrakannya.

"Bapak mau masuk?" Tanya Aura begitu mereka telah tiba di depan pintu rumah. Pertanyaan sekaligus tawaran, karna menurut Aura orang sekelas Damaresh mungkin tidak akan sudi berada dalam rumah kontrakannya yang kecil.

"Iya, karna aku sedang menunggu sesuatu,"

Jawaban itu ditanggapi Aura dengan segera membuka

pintu dan menyilahkan Damaresh duduk.

"Bapak mau minum apa?"

Damaresh menggeleng. "Tidak usah repot!"

"Baiklah, saya mau sholat isya' dulu,"

Tanpa tunggu jawaban Damaresh, gadis itu segera berlalu mengabaikan rasa lapar yang kian melilit,

Aura bergegas mandi dan berwudhu. Beberapa saat kemudian ketika ia kembali ke ruang tamu setelah sholat, didapatinya Damaresh masih tetap duduk di tempat semula ia tinggalkan, namun kini sudah terdapat sebuah paper bag di atas meja di depannya.

"Ini apa?"

"Buka saja!" Meski memberi perintah, namun tatapan lelaki itu enggan beralih dari gawai di tangannya.

"Makanan?" Aura menatap heran isi paper bag yang dibukanya itu. "Bapak yang pesan?"

"Hmm"

Aura menghela napas, entah kapan Damaresh memesan makanan, kenapa dengan cepat makanan itu sudah ada di rumahnya sekarang. Kalau dilihat dari kemasannya saja yang begitu exlusiv, pasti ini bukan makanan yang berasal dari warung makan sederhana tapi dari sebuah restoran ternama. ya kali Damaresh mau pesan makanan dari warung, apa kata dunia.

Apa Aura salah, jika setelah ini ia akan berpikir kalau Damaresh itu sudah punya sedikit perhatian terhadapnya?

"Sebaiknya cepat kau makan!, sebelum klakson mobilmu itu berbunyi kembali," perintah Damaresh membuyarkan lamunan Aura. Gadis itu tersenyum simpul dan segera mengangguk.

"Tapi sepertinya makanan ini terlalu banyak untuk saya sendiri, saya siapin juga untuk Bapak, ya?"

"Iya."

Selanjutnya tak ada lagi bahasa di antara keduanya ketika sama-sama melahap makanan di depannya, terlebih Aura yang memang sudah merasakan perutnya sangat lapar dari tadi, ia begitu khusyuk menikmati makanannya sampai tak menyadari kalau ada beberapa saat Damaresh mencuri pandang ke arahnya, meski tak disertai dengan expresi yang bisa terbaca, namun bukan kebiasaan Damaresh sekali yang diam-diam memandang orang di depannya, apalagi itu seorang wanita.

Belum juga makanan itu tandas ketika terdengar ketukan di pintu depan. Aura masih diam bertanya-tanya sendiri akan siapa yang bertamu malam-malam begini, mengingat dirinya yang hampir tidak punya tamu selama tinggal di kontrakan ini.

Beda dengan Aura, Damaresh terlihat tak terusik ia tetap menyantap makanannya dengan biasa sampai Aura bangkit untuk membukakan pintu ketika ketukan itu sudah terdengar untuk kesekian kalinya.

"Mbak Aura," wanita baya itu berdiri di depan pintu.

"Eh Ibu," sapa Aura. Itu adalah ibu pemilik kontrakan.

"Permisi , Mbak Aura," Wanita bertubuh besar berambut sebahu yang memakai pemerah bibir dengan warna merah menyala itu segera menerobos masuk bahkan hampir menubruk tubuh Aura, meski diawali dengan kata permisi tapi tak selaras dengan sikapnya yang terkesan tak ramah.

"Rupanya benar, Mbak Aura sedang ada tamu," ucapnya begitu melihat Damaresh yang santai menikmati makanannya.

"Iya, Bu." sahut Aura.

"Saya hanya ingin memperingatkan ya, ini untuk yang pertama dan terakhir, jangan membawa tamu laki-laki asing pada jam segini, itu sangat tidak baik." Wanita itu berkata tandas.

"A-apa maksud Ibu?" tanya Aura heran. Sementara Damaresh hanya terlihat melirik dengan ujung matanya.

"Mbak Aura itu wanita single, berhijab pula, tak baik menerima tamu laki-laki pada jam seperti ini, apalagi kalian juga sudah terlalu lama berdua di dalam.

Saya hanya ingin mencegah terjadinya hal yang tak baik pada seluruh penghuni kontrakan saya." ucap ibu kontrakan dengan tegas.

"Tapi, Bu. Dia adalah-" Aura memutus ucapannya begitu saja. Padahal sebenarnya dia ingin mengatakan kalau Damaresh itu adalah suaminya, yang seharusnya tak masalah jika ia berdua dengan lelaki yang halal dengannya. Namun Aura tak dapat melanjutkan ucapannya teringat statusnya yang hanya istri rahasia.

Damaresh bangkit dari duduk santainya menghampiri ibu kontrakan yang sedari tadi melabuhkan tatapan menelisik kepadanya.

"Ibu pemilik kontarakan ya? perkenalkan saya Damaresh Willyam," Damaresh menjulurkan tangannya, yang diterima ibu itu dengan sedikit ragu.

"Saya atasan Aura Aneshka di kantor," ucapnya lagi.

Sikapnya yang terlihat sopan tidak didukung oleh raut wajahnya dan tatapannya yang sangat tajam.

Aura terlihat menahan napas kecewa, besar harapannya kalau Damaresh mengakui dirinya sebagai istrinya supaya tidak terjadi kesalah pahaman lagi pada ibu kontrakan itu.

"Saya akan pastikan, kalau anda tidak akan pernah melihat hal yang tak diinginkan terjadi pada Aura Aneshka, dan semua penghuni rumah kontrakan anda yang lain, mulai saat ini." ucap Damaresh tegas.

Ibu kontrakan itu sedikit tergagu mendengarnya, beda dengan Aura yang justru merasa adanya atmosfir ancaman dari ucapan Damaresh itu, entah dari hal apa.

"Baiklah," Ibu kontrakan mengangguk dengan tatapan remeh, padahal sudah jelas kalau wajahnya sedikit pucat mendengar ucapan Damaresh barusan.

"Arra kemasi barang-barangmu sekarang!" perintah Damaresh begitu ibu kontrakan itu sudah keluar.

"Un-untuk apa?"

"Untuk pindah dari kontrakan ini."

"Tapi Pak-"

"Sekarang, Arra!" tegas Damaresh dengan tatapan tajam. Aura patuh dan segera bergegas melakukan perintah lelaki itu.

Beberapa waktu dilalui Aura dengan diam selama berada dalam mobil yang bergerak meninggalkan kontrakannya. Ia masih memikirkan sikap ibu kontrakan yang selama ini cukup ramah padanya itu.

Sungguh memalukan ia mendapat teguran demikian sambil membawa-bawa hijab yang dikenakannya pula.

Padahal selama ini ia sering melihat tetangga kontrakannya pulang diantar lelaki yang berbeda-beda pada jam malam pula, tapi tak pernah ada masalah dari pemilik kontrakan itu.

Aura tak tau saja kalau tetangga kontrakan yang dimaksud itu, tadi memperhatikan dengan seksama kedatangan Aura bersama seorang lelaki tampan badai yang terlihat jelas ketebalan dompetnya hanya dari melihat sekilas saja. Buru-buru ia melapor pada pemilik kontrakan yang tinggal di ujung jalan setelah menunggu lewat setengah jam Aura dan tamunya tak keluar dari rumah yang pintunya ditutup rapat itu.

"Hallo Kai," Suara Damaresh yang sedang menelfhon Kaivan menyadarkan Aura dari lamunannya.

"Hallo Resh, kau di mana?" terdengar suara Kaivan yang memang di loadspeacker oleh Damaresh.

"Di jalan. Kai hubungi PT Enrich Group! aku setuju menerima tawarannya beberapa waktu lalu" Lelaki itu

langsung memberikan titahnya.

"Tawaran apa Resh?" tanya Kaivan setelah sesaat terdiam karna masih mengingat-ingat.

"Membangun gedung apartemen dan pertokoan di sepanjang jalan Piere Tendean 11."

"Oo itu, itu kan hanya proyek kecil Resh, ku pikir kau tidak tertarik, lagi pula tempatnya juga tidak strategis." ucap Kaivan.

Memang Saat Enrich Group mengajukan investasi untuk pembangunan tersebut, Damaresh tak memberi tanggapan apa-apa, meski juga tidak tegas menolak

dengan alasan dua hal yang disebutkan oleh Kaivan barusan.

"Aku berubah pikiran," kata Damaresh.

"Kenapa? apa yang terjadi?" tanya Kaivan.

"Insiden kecil."

"Apa Resh?" Kaivan terdengar penasaran.

"Nanti saja, cepat kau urus semuanya, Kai. aku ingin mendengar laporannya dalam tiga hari ke depan!"

"Siap bos,"

Damaresh segera mengahiri panggilan telfhonnya.

Aura menoleh ke arahnya.

"Sepanjang jalan Pierre Tendean 11, itu kan tempat rumah kontrakan saya barusan?"

"Ya,"

"Jadi maksudnya Bapak mau membangun gedung apartemen dan pertokoan di wilayah itu?"

"Tepat."

"Bapak mau menggusur orang-orang yang tinggal di tempat itu?"

"Begitulah," Damaresh tetap menjawab singkat dan santai.

"Kenapa Pak?"

"Aku tak suka di-usik, Arra."

"Maksudnya ibu kontrakan barusan? Ya Allah Pak, dia kan cuma salah paham, karna dia gak tau apa yang sebenarnya terjadi, terlalu kejam jika bapak mengambil keputusan begitu hanya karna hal tersebut, kasian dengan orang-orang yang tidak bersalah, Pak."

"Arra, stop. jangan ngajak berdebat, aku lelah!"

ucap Damaresh penuh penekanan.

"Baiklah," Aura menghembuskan napasnya. Tak ada yang bisa dilakukannya sekarang.

"Masalahnya sekarang, saya akan tinggal di mana, Pak?"

"Mau tinggal di mes karyawan yang ada di gedung Pramudya Corp?" Damaresh menawarkan.

"Di Pramudya ada mes untuk karyawan?"

"Iya, di lantai sembilan, kau tidak tau?"

Aura menggeleng, selama ini tidak ada orang yang membicarakan hal tersebut.

"Baiklah, saya mau tinggal di sana, setidaknya saya tidak kawatir akan terlambat bekerja bila saya tinggal di gedung Pramudya," Putus Aura.

-----------

----------

-------------

Hai semua.

bagaimana menurut kalian sikap si Damaresh ini pada Aura, sudah cukup pantaskah dia disebut suami yang bertanggung jawab melindungi istrinya, atau justru masih sangat jauh dari itu?

monggo komentarnya, pendapatnya juga.

Kritik juga boleh, tapi jangan terlalu pedas ya..biar gak pedih di mata.

1
Asmar Siahaan
terimakasih atas karyamu yang begitu indah semoga sukses selalu
Najwa Aini: Amiin..
Terima kasih kak..
total 1 replies
Asmar Siahaan
menggemparkan
Asmar Siahaan
makin seru
Asmar Siahaan
sangat mengharukan
Asmar Siahaan
ha ha ha ha
Asmar Siahaan
luwar bisa sangat brilian
Asmar Siahaan
ada ya suami seperti ini
Asmar Siahaan
mantap bos lanjut
Asmar Siahaan
lanjut bos
Asmar Siahaan
makin seru lanjut bosku
Hadyan Ghauzan
Luar biasa
Irfan Hidayat
aku suka ceritanya ga belibet kayak sinetron ikan terbang yang amat sangat membosankan.
Ayu Bunda
suka bgt karakter nya aura,,semangat terus berkarya thor💪💪💪
Wiens 0121
wih kerrren thor
Wiens 0121
saya suka baca y dah k brp kali saya baca ares dan arra ga bosan2 trus berkarya yg lebih bagus lagi semangat 💪💪
Uswatun Khasanah
Asli kek lagi nonton sinetron tapi lebih seru. Alurnya asik dan rapih bgt. Seru sih.
Siti Humaira
keren kak ceritanya aku udah baca beberapa kali tetap baper❤️❤️❤️❤️luar biasa KK 👍👍👍
Wiens 0121
ya habis 😂😂 aku tunggu cerita yg lainya tor
Wiens 0121
sedih 😭😭
Wiens 0121
seru banget sampe sport jantung aku baru baca ada novel sebagus ini lanjut kan karya karya mu ku tunggu cerita selanjut y 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!