Haris tidak menyangka akan dijodohkan dengan seorang gadis yang tidak dikenalnya sama sekali bernama Hana. Ia di jodohkan oleh seorang ulama kharismatik bernama haji Zakaria yang sudah dianggap seperti ayah kandungnya sendiri. Padahal ia sudah memiliki gadis pilihannya sendiri bernama Arini untuk dijadikan calon istri. Tidak mendapat respon dari sang ibu akan gadis pilihannya dan juga ia berhutang budi terhadap sang ulama karena telah membiayainya dari kecil hingga dewasa, menjadikannya dilemma untuk membuat keputusan sehingga ia terpaksa menikahi gadis pilihan sang ulama.
Bagaimanakah nasib pernikahan Haris dan Hana? Bagaimana pula kisah pernikahan mereka dan nasib orang-orang yang tersakiti oleh pernikahan ini, apakah mereka akan Bahagia?
Simak ceritanya pada novel ini, dengan judul “Pernikahan karena Perjodohan (Haris dan Hana)” by Alana Alisha.
Ig: @alana.alisha
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alana alisha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Rencana Arini
Seperti biasa, pukul 17.00 Haris sudah tiba di rumah. Perjalanan dari kantor hanya memakan waktu lebih kurang 30 menit. Ketika masuk ke rumah, ia melihat Hana tengah melipat kain usai ia angkat dari jemuran. Wajahnya terlihat sendu, matanya bengkak. Ia seperti orang yang habis menangis. Ada apa dengan istrinya. Haris melangkah maju, ia langsung mengambil handuk untuk mandi. Gerah sekali rasanya. Setelah berpakaian, ia pun menyapa Hana,
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam” Hana menunduk, ditengah kesedihannya ia tidak mampu melihat Haris. Seketika ia mengingat kejadian semalam. Ia begitu malu.
“Kamu kenapa menangis?” Haris mendekati Hana.
“Aku tidak kenapa-kenapa mas” Jawab Hana, gadis ini masih dalam keadaan menunduk.
“Jangan berbohong, nanti jadi kebiasaaan. Jelas-jelas kamu menangis” Sergah Haris.
Hana terperanjat. Ini mas Haris kenapa sih harus berkata blak-blakan begitu. Harusnya kan diam saja. Udah tau memang abis nangis. Huh. Hana merengut.
“Aku benar-benar tidak kenapa-kenapa mas” Hana membantah. Ia mengelak.
“Tidak apa-apa kalau kamu tidak ingin cerita, tapi pasti sangat tidak enak memendam kesedihan sendirian. Kamu bisa gunakan bahuku untuk bersandar” Tawar Haris diplomatis.
Mata Hana kembali berembun. Ia melihat kesembarang arah. Ia tidak bisa mencegah air mata nya untuk tidak keluar. Ia sadar. Ia gagal total. Ia terlalu buruk dalam berpura-pura. Mulut Haris memunculkan smirk. Senyum
usil setengah mengejek. Haris pelan-pelan beringsut mendekati Hana. Lalu ia meletakkan kepala gadis itu dibahunya. Hana hendak menhindar tapi ia tak kuasa. Ia merasa nyaman di posisi seperti ini. Ia mulai menangis lagi. Haris mengusap-usap kepala Hana. Dengan suara yang sangat pelan ia berkata,
“Sudah jangan menangis. Aku tidak bisa melihat wanita menangis” Haris mengusap air mata di wajah Hana.
“Pasti sangat sedih ya”
Hana sesegukan. ia sulit mengontrol air mata dan cairan bening yang terus merambat meminta bebas keluar dari tempat asalnya. cairan bening dan airmatanya tumpah ruah di kemeja Haris. Hana menyadari nya.
“Mas, maaf. Ke.me.ja.mu jadi ko.tor” Hana masih sesugukan. Kepalanya sudah ia angkat dari bahu Haris.
“Tidak apa-apa. Ternyata kamu bisa juga ya dalam posisi begini” Haris masih saja tersenyum. Walau dari tadi pikiran nya masih menduga-duga apa yang menimpa Hana.
“Aku jelas tidak mengetahui apa yang menimpamu dan menjadikanmu sesedih ini. Tapi besok aku akan mengajakmu bertemu abah dan ummi. Mungkin dengan bertemu abah dan ummi kesedihan yang kamu alami menjadi berkurang”
“Benarkah?? Mas benar-benar mengajakku pulang ke rumah Ummi dan Abah??” Haris mengangguk membenarkan.
“Terima kasih mas, aku sudah sangat merindukan Abah dan Ummi, namun aku tidak yakin mas punya waktu untuk ke sana, mengingat jaraknya yang sangat jauh” dibalik sendunya wajah Hana, pupil mata yang telah mengecil namun tidak menyembunyikan binar-binar indah yang sudah terpancar. Hana sangat berterima kasih pada Haris. Sebenarnya waktu Haris sebagai staff pegawai sangatlah terbatas, namun ia akan meluangkan waktu agar istrinya tidak terlalu hanyut dalam kesedihannya.
“Malam ini kita keluar ya. Jalan-jalan. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat”
“Apa mas malam ini tidak mengerjakan laporan?”
“Tidak. Pekerjaanku Alhamdulillah sudah selesai”
“Baiklah, aku mau bersiap-siap dulu sebelum kita keluar” Hana langsung beranjak hendak masuk ke kamar.
“Hana…!” Haris memanggil Hana kembali.
“Ya?” Hana menoleh.
“Kamu tampak menggemaskan sehabis menangis dengan wajah memerah lalu berubah sumringah”
***
Hanum tengah berada di café A. Ia punya janji untuk menemui Arini seusai pulang dari kantor.
“Hai Hanum” Sapa Arini
“Hai, kamu sudah lama di sini?”
“Tidak, baru saja”
“Wah Rin, kamu tampak lebih fresh sekarang”
“Tentu saja, aku telah menemukan kembali gairah dan semangat hidupku”
“That’s good. Tidak butuh waktu lama untukmu bangkit dari keterpurukan. Aku salut” Hanum mulai menyalakan sebatang rokok.
“Hanum, sejak kapan kamu merokok??” Arini terkejut. Hanum tersenyum getir.
“Kamu tidak tahu, aku telah lama melakukkannya” Hanum mengisap rokoknya dengan santai. Arini terkesiap.
“Lantas, kenapa kamu ingin mengajakku bertemu?” Lanjut Hanum.
“Hanum, tidak bisakah kamu berhenti menghisap rokokmu?” Arini merasa teganggu.
“Haha. Tidak bisa. Aku sudah terbiasa melakukannya. Ini membuatku nyaman. Apalagi sambil menenggak alkohol.
“Astaghfirullah Hanum!”
“Hahaha… kamu berlebihan Rin. Sudahlah, kamu tidak usah mengurusiku. Kamu tidak mengetahui apa yang aku alami” Arini mendesah. Ternyata Hanum sahabatnya memang telah banyak berubah.
“Sekarang kamu ceritakan. Kamu butuh bantuan apa?” Hanum mulai tidak sabar.
“Aku ingin mas Haris menikahiku, Num” Arini berkata dengan penuh penekanan.
“Ha.ha. Terus apa rencana mu selanjutnya?”
“Aku ingin menemui Hana. Namun aku tidak mengetahui berapa no handphone nya. Bisakah kamu mencari tau berapa no wattsappnya Hana tanpa diketahui oleh mas Haris” Arini menminta bantuan Hanum karena biasanya
sahabatnya ini selalu bisa diandalkan.
Hanum tampak berfikir. Ia lalu berkata,
“Aku tidak memiliki nomornya Hana. Namun, aku bisa mengenalkanmu dengan seorang yang bisa membantumu untuk mencapai keinginan-keinginanmu”
“Siapa dia?”
“Aku akan menghubunginya untuk segera datang kemari. Tunggu sebentar” lebih kurang 8 menit Hanum berbicara dengan seseorang yang akan membantu Arini. Setelah menyetujui semuanya. Mereka pun menutup pembicaraan melalui telepon dan menunggu kedarangan orang tersebut.
Hanum masih terus saja menghisap cerutunya. Ia memiliki permasalahannya sendiri. Permasalahan yang juga melibatkan Haris. Ia selalu gagal memikat laki-laki itu. Haris selalu saja melihat Arini tanpa meliriknya sedikitpun dan Arini sama sekali tidak mengetahui hal ini. Kerap kali Haris menatap Arini dengan wajah berseri-seri, atau sekedar memberi perhatian kecil dan tidak bisa dipungkiri Hanum merasa cemburu. Namun, ia juga sangat menyayangi
Arini sebagai sahabat sedari kecil. Hanum dilemma, memilih antara sahabat nya atau Haris yang memang sangat ia gilai. Ia menjadi kacau, stress dan depresi. Tapi, ia selalu tidak pernah bisa menolak keinginan Arini ketika sahabatnya tersebut meminta bantuan. Inilah kehidupan, entah kapan keberuntungan akan memihak padanya.
Sedari kecil Hanum selalu tidak beruntung. Ayah dan ibu yang tidak pernah akur. Ia kerap kali melihat Ayah memukul Ibu tanpa ampun. Belum lagi Ayah yang gelap mata dan hampir saja memperkosanya. Beruntung sebelum semua sempat terjadi, ibu melihat dan memukul kepala Ayah dengan toples kaca. Kepala Ayah harus dijahit banyak. Kejadian ini malah membawa ibunya mendekam di penjara. Di sekolah ia juga kerap di bully oleh teman-teman. Tidak ada yang mau berteman dengannya karena Ia anak yang berasal dari keluarga tidak mampu juga anak dari seorang narapidana. Hanya Arinilah yang mau berteman dengannya.
Ketika ia dilempari oleh teman-teman dengan kulit pisang, ia tidak sengaja menginjaknya hingga terjatuh, orang-orang yang melihat tertawa lepas, hanya Arini yang sudi mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri. Ia mengajaknya ke rumah dan mengobati luka nya tanpa rasa jijik lalu mengajaknya memakan kuah sop daging buatan ibunya. Sungguh lezat. Itu pertama kalinya ia memakan sop daging. Biasa ibunya hanya membuatkan sop telur jahe atau ketika lebaran datang dan punya kelebihan rejeki, ibu hanya mampu membuat kuah sop ayam.
Hanum terkesima dengan kebaikan Arini. Bukan sekali dua kali. Arini sangat berjasa dalam hidupnya. Sampai pada saat ini, ia dapat bekerja di perusahaan besar pun atas berkat dorongan dan jasa Arini. Inilah alasan mengapa ia tidak akan pernah mampu menolak membantu Arini walau jiwanya hancur. Ia kesepian. Kini ibunya telah tiada. Ayahnya juga masih mendekam di penjara akibat kasus pencurian yang Ayah lakukan. Tidak berhak kah ia bahagia sedikit saja?
***
Haris dah sedikit tenang krn tdk ada lg tekanan utk menikahi Arini 😊😊😊😊
kebih baik di cintai dr pd mencintai.
maka terimalah cinta ny Romi 😋😋😋😋😋
pasti ada sesuatu yg memaksa atau mengancam Ummi Fatma 😬😬😬😬
semangkin seru ... dan memaksa emosi ikutan kesel 😆😆😆😆😆
sy yg gk sabar gmn reaksi nya Haris 😚😚😚😚😚😚
sy gk suka dgn Hj Aisya yg terlalu memaksa kehendak.
Hana ajak aja je New york biar Lisa gk bisa berkutik 😊😊😊😊😊