Jovan adalah pewaris mafia paling berbahaya di kota. Luka tembak dan pengkhianatan memaksanya melarikan diri ke sebuah desa terpencil, tempat seorang gadis sederhana bernama Mika menyelamatkan nyawanya.
Dengan identitas palsu sebagai petani buah, Jovan hidup di dunia yang tak pernah ia kenal—tenang, jujur, dan penuh kehangatan.
Di sanalah ia jatuh cinta pada Mika, tanpa ia sadari bahwa cintanya adalah ancaman.
Karena saat masa lalu mengejarnya, Mika bukan hanya gadis desa…dia adalah sandera paling berharga di dunia mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu
Jovan mengangkat mangkuk sup hangat yang Mika sodorkan. Uap tipis masih mengepul dari permukaannya—aroma bawang, jahe, dan kaldu sayur yang sederhana, tapi bersih.
Ia menyeruput perlahan.
Hangatnya langsung menyebar dari lidah ke tenggorokan, lalu ke dada. Rasanya… ringan, tapi jujur. Tidak ada lemak berlebihan, tidak ada bumbu mahal, tidak ada daging atau seafood yang biasa ia makan di restoran eksklusif atau jamuan para bos mafia.
Namun justru itu yang membuatnya terasa berbeda.
“Enak,” ucapnya tanpa sadar.
Mika menoleh, sedikit terkejut. “Hanya sup sayur biasa.”
Jovan kembali menyeruput. “Justru itu.”
Di dunia Jovan, makanan selalu datang bersama kesepakatan, ancaman, atau darah. Meja makan adalah tempat merundingkan nyawa. Tapi mangkuk di tangannya sekarang… tidak membawa apa pun kecuali niat baik.
Ia menghabiskannya sampai tetes terakhir.
Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, sesuatu yang masuk ke tubuhnya tidak terasa seperti alat bertahan hidup—melainkan seperti rumah.
.
Jovan mengedarkan pandangan.
Baru sekarang ia benar-benar melihat sekelilingnya—dinding kayu, jendela dengan tirai sederhana, meja makan dengan mangkuk sup yang sudah kosong. Tidak ada bau mesiu. Tidak ada suara mesin. Tidak ada teriakan atau perintah.
Hanya sunyi desa.
Dan untuk pertama kalinya sejak ia membuka mata setelah ledakan itu… ia sadar.
Ia tidak lagi berada di kotanya.
Tidak lagi di wilayah kekuasaan keluarga De Luca.
Tidak lagi di dunia tempat satu kesalahan berarti kematian.
Ia berada di sebuah desa.
Di rumah orang asing.
Bersama seorang gadis bernama Mika.
Dan entah mengapa, kesadaran itu terasa lebih menakutkan daripada semua peluru yang pernah menembus tubuhnya.
.
Jovan duduk bersandar di dipan, bahunya masih diperban tebal. Rasa nyeri belum pergi, tapi pikirannya mulai jernih. Ia memandangi ruangan itu sekali lagi—rak kayu sederhana, foto Mika kecil bersama ayahnya, dan kalender dinding dengan tanggal merah di beberapa hari pasar.
Dunia ini terlalu… normal.
Di luar, suara langkah kaki terdengar.
Pak Raka berdiri di halaman, berbicara dengan seorang tetangga tua yang membawa keranjang sayur.
“Anakmu tidak ke pasar hari ini?” tanya perempuan itu sambil melirik ke dalam rumah.
“Tidak. Ada tamu,” jawab Pak Raka singkat.
“Tamu?” Tatapan perempuan itu menyipit. “Jam segini?”
Pak Raka hanya mengangguk.
“Orang yang butuh pertolongan.”
Perempuan itu tidak bertanya lagi, tapi saat ia berjalan pergi, langkahnya sedikit lebih cepat dari biasanya.
Dan di desa, satu langkah cepat… sudah cukup untuk memulai cerita.
Sementara itu, Mika kembali ke ruang tamu membawa ember berisi pakaian Jovan yang sudah ia rendam.
“Airnya dingin,” katanya. “Nanti aku cuci setelah matahari naik.”
Jovan menatapnya. “Kau seharusnya tidak perlu melakukan ini.”
Mika tersenyum kecil.
“Kau tamu kami.”
Di luar rumah, dua anak kecil bersepeda melintas. Salah satunya melirik ke arah jendela.
“Ada orang asing di rumah Mika,” bisiknya.
Desa itu masih tampak tenang.
Tapi di balik pagar-pagar kayu dan senyum-senyum sore, rasa ingin tahu mulai tumbuh—
dan di suatu tempat, seseorang yang mengira Jovan telah mati sedang bersiap menguasai dunia yang belum ia lepaskan.
Malam semakin larut.
Lampu teras rumah Mika masih menyala, memantulkan bayangan daun mangga yang bergoyang pelan di dinding.
Dari luar, suara jangkrik dan kodok berpadu seperti orkestra kecil yang tak pernah Jovan dengar di kota.
Ia memejamkan mata lagi.
Sunyi ini terasa terlalu luas.
Di dunia Jovan, malam berarti serangan, perundingan gelap, atau kematian. Tidak ada waktu untuk sekadar berbaring dan mendengar detak jantung sendiri. Setiap detik selalu berarti bahaya.
Di desa ini… detik hanya berarti detik.
Ia menggeser tubuhnya. Bahunya masih berdenyut, tetapi lebih mengganggu adalah pikirannya. Bayangan Levis kembali muncul. Senyum sepupunya itu, selalu tampan, selalu ramah—dan selalu penuh niat membunuh.
“Dia pasti yakin aku mati,” gumam Jovan.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Jovan tidak ingin membuktikan bahwa ia masih hidup.
Ia ingin… diam.
Langkah kaki terdengar dari dapur. Mika.
Aroma nasi hangat dan sayur tumis pelan-pelan memenuhi ruangan. Tidak mewah, tidak rumit. Tapi baunya… hidup.
“Kau belum tidur?” tanya Mika pelan ketika melihat mata
Jovan masih terbuka.
“Sulit,” jawabnya jujur.
Mika tersenyum tipis. “Aku buat makan malam. Sup saja tidak cukup untuk orang yang kehilangan banyak darah.”
Ia membawa sepiring nasi, tumis sayur, dan telur dadar sederhana. Jovan memandanginya seperti seseorang yang melihat dunia lain—dunia yang tidak pernah ia miliki.
“Kau terlalu baik,” katanya.
Mika mengangkat bahu. “Ayah selalu bilang, orang yang datang dalam keadaan luka bukan orang jahat. Mereka hanya sedang kalah.”
Kata itu ( kalah )menusuk lebih dalam daripada peluru.
Jovan makan perlahan. Setiap suapan terasa aneh. Tidak ada ketegangan, tidak ada ancaman tersembunyi. Hanya rasa lapar yang dipenuhi.
“Di luar sana,” ujar Jovan tanpa menatap Mika, “orang-orang membunuh demi uang, kekuasaan, bahkan ego.”
Mika menatapnya. “Dan di sini orang-orang bertengkar soal siapa yang dapat giliran air irigasi.”
Jovan tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya sejak ledakan itu, benar-benar tersenyum.
Mika melihat wajah Jovan berair. “Kau berkeringat,” katanya.
“Demam kecil mungkin.”
Ia menyentuhkan punggung tangannya ke dahi Jovan.
Sentuhan itu ringan, tapi membuat tubuh Jovan menegang seperti sedang diserang.
“Maaf,” Mika cepat menarik tangannya. “Aku hanya...”
“Tidak apa-apa,” potong Jovan.
“Aku… hanya tidak terbiasa.”
Mika duduk di kursi kecil di samping dipan. “Kau dari kota besar, ya?”
Jovan mengangguk.
“Di sana pasti ramai.”
“Selalu,” jawab Jovan. “Dan selalu berbahaya.”
Mika tersenyum tipis. “Di sini juga ada bahaya. Ular, orang licik, dan musim yang tidak bisa ditebak.”
Jovan menatapnya. “Tapi tidak ada yang menembak.”
Mika tertawa kecil, lalu menutup mulutnya sendiri, seolah takut suara tawanya mengganggu malam.
“Kau aneh,” katanya. “Tapi… tidak terasa jahat.”
Jovan memalingkan wajah. Jika Mika tahu siapa dirinya sebenarnya, ia tidak akan berkata begitu.
Mika berdiri. “Tidurlah. Besok aku ke pasar. Kalau kau butuh sesuatu, bilang saja.”
Jovan menunggu sampai langkah Mika menghilang sebelum menutup mata lagi.
Di luar, lampu-lampu rumah mulai mati satu per satu. Desa tenggelam dalam ketenangan yang hampir suci.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Jovan tidak tidur dengan pistol di bawah bantal.
Dan itu… membuatnya lebih gelisah daripada perang.
Di kamar kecilnya, Mika berbaring miring menghadap dinding.
Lampu meja sudah dimatikan, hanya cahaya bulan yang masuk lewat jendela dan membentuk garis tipis di lantai. Selimut menutupinya hingga bahu, tetapi dingin malam tetap merayap perlahan ke kulitnya.
Ia memejamkan mata.
Namun bayangan wajah Jovan, pucat, penuh luka, tapi tetap keras—tidak mau pergi.
Orang asing itu datang seperti badai. Tidak mengetuk. Tidak meminta izin. Hanya jatuh… lalu masuk ke hidupnya begitu saja.
“Aku gila,” gumam Mika pelan.
Siapa yang membawa pria tak dikenal, berdarah, dan jelas berbahaya ke rumahnya?
Tapi saat ia mengingat cara Jovan menahan rasa sakit tanpa suara… ada sesuatu yang tidak terasa jahat.
Ia menarik napas panjang.
Ayahnya selalu mengajarinya bahwa orang yang paling membutuhkan pertolongan sering kali adalah orang yang paling tidak tahu bagaimana memintanya.
Tapi tetap saja… Mika takut.
Takut kalau pria itu membawa bahaya.
Takut kalau desa mereka akan berubah.
Dan, tanpa ingin mengakuinya, takut kalau hatinya mulai terlibat.
Ia berguling menghadap jendela. Dari sana, ia bisa melihat bayangan Jovan tergeletak di ruang tamu.
Tubuh besar itu tampak diam, hampir rapuh. “Aku tidak mengenalmu,” bisiknya. “Tapi aku tidak ingin kau mati.”
Kalimat itu terasa terlalu jujur.
Mika menutup matanya, mencoba tidur. Tapi dadanya terasa penuh oleh sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya—campuran takut dan rasa ingin tahu.
Di luar, jangkrik terus bernyanyi.
Dan dua orang yang berasal dari dunia berbeda sedang terjaga di bawah langit yang sama, tidak tahu bahwa takdir baru saja mengikat mereka dalam simpul yang tak mudah dilepaskan.