WARNING!!
MENGANDUNG UNSUR DEWASA DAN PELAJARAN HIDUP LAINNYA. HARAP BIJAK DALAM MEMBACA.. 🙏🙏
Hai Pencinta Pelangi Setelah Hujan (PSH) season 1.. Allhamdulillah akhirnya di awal Ramadhan Tahun ini release..
*
Aku adalah Rizkiya.. mereka menyapaku Kiya, sedari kecil aku sudah harus berjuang untuk kehidupanku, orang tua dan keluarga juga ikut memberi dukungan hingga support yang luar biasa untukku..
Aku Menjalani hari-hariku penuh perjuangan, hingga akhirnya aku memutuskan untuk 'Berubah' .. Namun ternyata perubahan pada diriku mengarahkan diri ini Kalam kemelut cinta yang begitu membuat hatiku hancur...
🌷🌷
Aku Adalah Rizky, Kehidupanku sangat sempurna, tak ada yang tidak bisa aku raih di dunia ini.. Orang tuaku dan keluargaku selalu bangga padaku meski di belakang mereka aku banyak melakukan hal bodoh.. Hingga ketika jalan hidupku membawaku dalam sebuah pelajaran hidup yang kemudian merubahku..
⭐⭐⭐⭐
Apakah Cobaan yang akan kami hadapi?
Mari Beri dukungan kalian yaa 🙏😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mynamei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 25
"Gue udah bilang, dia gak baik kan?!" kata Ichal memulai perdebatan itu di area parkir.
"Tapi Lo ga bilang kalo dia dekat dengan Byana!! Lo tau kan gue sama Byana kaya apa? gimana dia ke gue, Lo tau kan?" kesal Kiya dengan tangisnya..
Kiya kemudian membuka pintu mobilnya, ia pergi meninggalkan area kampus dengan kecepatan mobil yang cukup kencang.
"Lo bodoh Kiya!!! Lo bodoh!!! Lo adalah orang paling bodoh di muka bumi ini!!!!" Kiya kesal dengan nada tinggi nya.
Kiya mengendarai mobilnya dengan kecepatan kencang, saat itu Kiya seketika teringat dengan Zhiva.. yaa Kiya mengingat Zhiva saat ia terngiang ucapan Byana tentang hubungan Bima dengan Zhiva. Kiya memutar stir mobilnya menuju kost dimana Zhiva tinggal, ia berharap Zhiva sudah kembali ke Bandung saat itu.
Kiya memarkirkan mobilnya sedikit jauh dari lokasi kost dimana Zhiva tinggal.. Kiya mendorong pagar kamar kost, Kost Kiya berada di lantai dua..
Tiba di kamar 203 dimana itu adalah kamar kost Zhiva.. Langkah Kiya terhenti saat melihat rak sepatu yang berada di depan kamar Zhiva..
"Ini kan??" Kiya mengingat sesuatu, ia mengingat sepatu canti dengan wedges 4cm berwarna hitam adalah sepatu favorit Zhiva..
"Zhiva sudah kembali" ucap Kiya lalu ia kembali melihat sepasang sepatu persis di depan pintu kamar Kiya terdapat pula sepatu pria yang tak asing bagi Kiya.. jantung Kiya berdebar cepat.
Kiya berusaha tenang, area kost terlihat sangat sepi..
Kiya memasang telinga nya sedikit ke arah pintu, ia mendengar sedikit rintihan seorang wanita..
Ahhhh ampun... cukup.. Ahhhh....!!
Suara itu membuat Kiya gemetar, ia kemudian membuka pintu kamar itu yang memang tidak terkunci.. Betapa terkejut Kiya saat melihat Zhiva terbaring di atas ranjang dengan kedua tangan Zhiva terikat di atas kepalanya, kancing baju kemeja Zhiva sudah terbuka semua hingga terlihat sport bra yang ia kenakan..
"Astaga!!!!" Kiya gemetar terlebih ia melihat sosok pria yang sangat ia kenal. Hatinya semakin sakit melihat sendiri kejadian tidak pantas bagi pasangan yang belum halal.
Kiya sudah tak sanggup lagi menangis, semakin sakit semakin susah untuk marah dan berucap..
"Kiyaa???!!" syok Bima yang hanya menggunakan celana jeans-nya.
"Kiya... tolong" kata Zhiva begitu memprihatinkan.
"Bima.. kamu melakukan apa terhadap Zhiva???!!!!" bentak Kiya dengan jantung berdebar nya, tangannya pun gemetar, kakinya ikut terasa lemas saat itu.
"Kiya ... Kiya dengar dulu..." Bima kelimpungan, membuat Kiya bergegas melepaskan ikatan tangan Zhiva.
"Kamu laki-laki bejat" kata Kiya begitu tajam mulutnya berkata.
"Pergi kamu!!!! PERGIIIIII" Usir Kiya dengan lantang membuat Bima meraih baju dan tasnya lalu ia bergegas pergi menjauh.
Ikatan tali sudah lepas, dengan sisah tenaganya Zhiva berusaha bangkit untuk duduk dan memeluk erat Kiya..
"Kenapa bisa begini zhiiv... kenapa Lo bisa begini" kata Kiya dalam tangis prihatinnya.
"Gue bingung kii, gue takut.. " kata Zhiva membuat Kiya sadar, dia harus bisa membuat Zhiva tenang, Kiya kemudian menghapus air matanya dan bergegas memeluk Zhiva.
"kii... gue mau sendiri" kata Zhiva tiba-tiba dan itu sangat mengejutkan Kiya.
"Gue akan disini terus, zhiv... gue akan temenin Lo" kata Kiya usai melepas pelukan erat itu.
"Tapi gue butuh sendiri, Ki.. please ngerti" kata Zhiva sambil mengalihkan pandangannya.
Kiya menghela nafasnya, ia semakin sedih tatkala Zhiva justru tidak mengharapkan keberadaanya.
"Aku pamit, telfon gue ya zhiv.. gue juga butuh Lo" kata Kiya namun tak ada sepatah katapun yang Kiya dengar.
"Gue akan menjamin keamanan Lo, disini" ucap Kiya sebelum ia akhirnya pergi..
*
Kiya sudah berada dalam mobilnya, ia menangis penuh dengan emosinya.
Ia mengingat kejadian hari ini, kebahagiaannya ternyata berselimut luka yang sangat menyakitkan, air matanya adalah bukti kepedihan rasa sakit yang ia alami hari itu.
Kiya kemudian mengendarai mobilnya ke sembarang arah, entah kemana ia akan pergi saat itu.. hingga akhirnya waktu yang membawanya kesebuah pinggir kota yang cukup tenang dan sepi.. Kiya menepikan mobilnya, ia hanya terdiam dalam lamunan.
"Lalu apa salahku? bagaimana bisa ini terjadi??" kata Kiya dengan penyesalannya..
ponselnya bergetar sejak satu jam lalu, menandakan pangilan serta pesan singkat yang masuk.. semua orang menghawatirkan keberadaan Kiya saat ini. Hingga akhirnya pintu mobil Kiya di ketuk oleh seseorang yang membuat Kiya tersadar dalam lamunannya..
"Buka" terdengar oleh Kiya, ia melihat sosok pria yang ternyata adalah Deon.
Kiya menurunkan kaca mobilnya.
"Pak Deon??" kata Kiya sedikit terkejut dan ia bergegas menghapus air matanya.
"Kamu ngapain disini??" tanya heran Deon.
"Hemm gapapa pak, saya cuma istirahat" kata Kiya membuat Deon tentu tidak yakin atas jawaban Kiya.
"Mau mampir? itu rumah saya" kata Deon menujuk rumah yang ada di sebrang jalan.
Hah??rumah pak Deon.. aduh matilah kenapa juga gue harus berhenti di depan rumah dia..
"mau?" tanya Deon kembali.
"Boleh pak, mau numpang ke toilet" ucap Kiya sedikit jujur.. ia memang menahan sedikit rasa ingin segera ke toilet.
"Masukin aja mobilnya ya" kata Deon sambil berjalan ke belakang ke arah mobilnya yang cukup terlihat mewah.
"Masuk?? yakin muat??" Ucap Kiya pelan saat ia melihat gerbang yang tak besar dan tertutup itu.
Mobil Deon memimpin di depan, Kiya pun sudah sangat siap menancapkan gas nya..
"duh malah bengkak banget mata dan bibir gue" kata Kiya sekilas melihat pantulan dirinya di sebuah cermin.
Kiya mengikuti Deon saat gerbang itu tebuka, Kiya sedikit terpanah dengan halaman yang sangat luas, kolam ikan yang menambah kesan asri di halaman rumah Deon...
Deon keluar , di ikuti oleh Kiya.
"Pak... saya ga enak sama orang tua bapak" kata Kiya jujur..
"Oh saya tinggal sendiri, hanya ada yang bantu merapihkan rumah saja" jujur Deon namun ia tidak berkata lebih jauh lagi.
"oh begitu, boleh numpang ke toilet ga pak" tanya Kiya membuat Deon segera mempersiapkan kiya masuk.
Sumpah ini rumah pak Deon artistik banget.. Batin Kiya melihat bangunan yang sangat kental dengan alam.. bahkan beberapa pilar pun di buat seolah dari sebuah batang pohon kokoh.
Kiya bergegas buang air kecil sambil mencuci mukanya..
Gue harus tenang,gue gak boleh nunjukin keterpurukan gue... hanya gue yang boleh tau bagaimana hati gue...
Ucap Kiya pada batinnya, ia merasa malu atas apa yang terjadi, terlebih Deon adalah saksi dimana Rizky secara tegas melarang kedekatan Kiya dengan bima.
*
*
To be continue baby...
like komen vote yaa..
,😘😘😘😘😘
malas baca lebih suka dengan in
buntu ya kehabisan