TAHAP REVISI
MASIH BANYAK TYPO DAN SALAH EYD, MOHON DIMAAPKEN🥲
Bagaimana jika ternyata selama ini kalian diawasi secara diam-diam. Bahkan saat tidur ternyata seseorang juga datang menemanimu tidur.
Seorang pria misterius yang selama ini ternyata memperhatikan seorang wanita bernama Valerie. Apa yang selanjutnya akan terjadi?
ayo, baca dan tambahkan dalam list favorit kalian.
Bye 😘💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violet Slavny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24
Setelah menghabiskan malam di pesta pernikahan Davin dan Vania. Sean memutuskan untuk pulang setelah melihat wajah mengantuk Valerie.
Bahkan di perjalanan pulang, Valerie sudah terkapar di pelukan hangat Sean. Di dalam mobil, Sean asik menatapi wajah polos dan menawan Vale saat tidur. Tangannya tak dapat diam untuk melakukan gerakan-gerakan yang menganggu tidur gadisnya.
Hingga akhirnya mereka sampai di rumah. Sean menggendong tubuh Vale dengan mudah dan membawa gadis di dalam dekapannya ini ke dalam rumahnya.
Kepala pelayan yang sigap berdiri di depan pintu, langsung berdiri tegak menatap tuannya.
"Ada apa? "Tanya Sean. Dia tau kepala pelayannya ini ingin mengatakan sesuatu. Terlihat dari raut wajahnya yang gugup.
"Tuan besar datang, Tuan. "Ucapnya dengan kepala menunduk.
Tubuh Sean langsung menegak kaget. Pandangannya langsung turun menatap wajah Vale yang tertidur sangat pulas seperti bayi. Wajahnya mengeras merasakan gejolak panas di dadanya. Genggaman tangannya mengerat semakin mendekap Valerie padanya.
Valerie menggeliat tak nyaman di dekapan Sean saat merasakan betapa eratnya pelukan pria itu. Wajahnya menyusup mencari posisi nyaman di leher dan bahu Sean.
Sean melangkah masuk dengan Valerie yang tertidur di gendongannya. Hingga akhirnya ia melihat seorang pria paruh baya duduk dengan santai di atas sofa ruang tamu.
"Sean, aku sudah menunggumu cukup lama. "Ucap pria tersebut sambil menatap Sean yang baru muncul. Pandangannya langsung menangkap sosok gadis di gendongan Sean.
"Apa dia gadis itu? "Tanyanya dengan senyum meremehkan.
Sean mendekap Vale semakin erat untuk menyembunyikan wajah gadisnya.
"Bukan urusanmu. Untuk apa kau datang kemari? Sebaiknya pergi cari hotel di mana kau bisa bermalam! "Ucap Sean dingin. Kakinya kembali melangkah melewati pria paruh baya itu tanpa rasa hormat.
"Aku ini Papamu Sean. Aku datang jauh-jauh ke Negara ini untuk menemuimu. Ini sudah terlalu malam, biarkan Papa tinggal beberapa hari di sini. "Ucap Pria tersebut. Langkah Sean terhenti, namun tak menoleh ke belakang menatap pria tersebut.
"Sampai besok! "Ucap Sean dingin, lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.
Sean masuk ke kamarnya dengan wajah dingin. Malam bahagianya hari ini sirna setelah melihat kedatangan papanya. Perlahan Sean membaringkan tubuh Valerie di atas ranjang dengan sangat hati-hati.
Tok...Tok...Tok
"Masuk! "
Pintu terbuka menampilkan sosok seorang pelayan wanita yang memasuki kamarnya dengan kepala menunduk.
"Ganti pakaiannya, bersihkan make up serta tatanan rambutnya! "Ucap Sean dingin.
"Baik Tuan. "
Sean melenggang pergi memasuki kamar mandi. Selagi pelayan tersebut sibuk dengan Valerie, dia akan membersihkan diri dan menyegarkan pikirannya. Kini benaknya di penuhi oleh kedatangan Papanya dan kekhawatirannya pada Valerie.
Bahkan di bawah guyuran air pun, Sean terdiam dengan wajah kusutnya. Kepalanya berputar mencari cara agar Valerie tidak terlibat dengan papanya. Hingga tiga puluh menit kemudian, Sean keluar dari kamar mandi dan memasuki walk in closet. Memakai pakaiannya dan keluar kembali menghampiri ranjang di mana Valerie tertidur dengan pulasnya di bawah selimut.
Kini gaun Valerie terganti dengan sebuah gaun tidur. Tatanan rambutnya sudah terlepas dan wajahnya sudah bersih dari polesan make up. Sean memasuki selimut dan ikut berbaring di samping Valerie. Sean menatap wajah Valerie yang damai. Tangannya perlahan terangkat menyingkap anak rambut Vale ke belakang telinga, lalu beralih mengusapi pipi halus Vale dengan lembut.
Sean sudah memutuskannya. Keputusan yang sejak tadi ia pikirkan di dalam kamar mandi. Besok dia tak akan membiarkan Papanya mencemooh gadisnya, bahkan melukainya sedikit pun. Sean memutuskan ikut tidur bersama Valerie setelah mencium keningnya lembut.
Dilain sisi, di sebuah kamar, terdapat seorang pria paruh baya yang berdiri di tengah remangnya ruangan tersebut. Bibirnya tertarik ke atas dengan wajah dingin. Sedangkan tangannya memegang sebuah ponsel yang berada di telinganya.
"Ya, dia di sini bersama gadis itu. "
"Baguslah. Sudah waktunya dia kembali pada kita. "
"Aku yang akan membawanya kembali secepatnya. "
"Pastikan semua lancar! Aku tak ingin menunggu lagi hanya karena gadis itu. "
"Baik Pa. "
Sambungan telefon tertutup, menyisakan senyuman miring di bibir pria paruh baya tersebut.
***
Matahari menyapa bumi, memamerkan sinarnya yang begitu cerah. Membangunkan seorang gadis yang tertidur dengan nyenyak di dekapan yang begitu hangat. Valerie mengerjabkan matanya perlahan untuk menyesuaikan penglihatannya.
Pagi harinya di buka dengan tampannya wajah Sean yang masih tertidur dengan pulas. Wajahnya kelihatan polos dan bersih, sama sekali tak menunjukkan ekspresi dingin dan datarnya selama ini. Vale menatap lekat wajah Sean. Hingga tanpa sadar, tangannya perlahan naik menyentuh hidung mancung Sean dengan jari telunjuknya.
Senyum Vale terbit begitu saja. Jari telunjuknya beralih menyusuri kening, turun ke pipi hingga berhenti tepat di bibir penuh Sean. Jari telunjuknya mengusap bibir bawah Sean dengan tatapan takjub. Bagaimana bisa bibir seorang pria se-pink ini.
"Menikmati pemandangan pagi harimu sayang? "Telunjuk Vale langsung menjauh saat bibir Sean bergerak dengan mata yang ikut terbuka. Sean tersenyum menatap Vale, lalu tangannya menarik pinggang Vale semakin mendekat padanya.
"Kenapa berhenti? "Tanya Sean dengan senyum menggoda.
Vale menatap Sean gugup sambil menggigit bibir bawahnya. Aksinya terciduk oleh pemiliknya.
"Eee... Aku tidak sadar tadi. Aku masih setengah tertidur. " Ucap Vale gugup. Vale benar-benar payah mengelak saat ini. Bagaimana tidak, jantungnya berdegup sangat kencang karena begitu dekat dengan Sean. Vale bahkan takut jika Sean menyadari debaran jantungnya.
"Benarkah? "Vale mengangguk cepat. Buru-buru Vale mendorong tubuh Sean agar menjauh dari tubuhnya. Namun pria itu masih senantiasa tersenyum dan menahan pinggangnya agar tidak menjauh sedikitpun.
"Tetapi aku menyukainya. "Ucap Sean. Pipi Vale langsung bersemu merah mendengarnya. Sean yang melihat rona merah tersebut, semakin menyukai menggoda gadisnya itu.
"Stop menggodaku Tuan Aliano! "Ucap Vale dengan wajah kesal sambil menutup pipinya yang terasa panas.
"Aku suka suaramu memanggilku seperti itu. "Ucap Sean lagi. Vale langsung memukul bahu Sean kesal. Rona merah tersebut semakin memerah dengan debaran jantungnya yang semakin cepat.
Sean tak bisa menahan diri lagi untuk tidak mengecup pipi merah Vale dengan gemas, bahkan mengigit pipi tersebut.
"Aww. "Vale mengaduh merasakan gigitan Sean di pipinya. Sean melepasnya, lalu beralih mengusap bekas gigitannya tadi.
"Jangan salahkan aku tak bisa menahan diri. Kau begitu menggemaskan untuk ku lewatkan. "Ucap Sean dengan senyum manisnya. Vale mengerucutkan bibirnya kesal.
Sean yang merasa bersalah, langsung mengecup lembut bibir Vale yang cemberut. "Maaf sayang."Ucapnya.
Vale menatap lekat mata Sean. Sean kembali mengecup bibir Vale lembut, namun Vale langsung mengigit bibir Sean dengan tampang puas.
"Shh. "Sean menjauhkan bibirnya yang terluka karena gigitan Vale yang cukup keras. Vale tersenyum puas sambil menatap wajah Sean yang meringis.
"Jangan salahkan aku jika membalas menggigitmu Tuan Aliano. "Ucap Vale dengan wajah menggoda. Sean menatap wajah bahagia Vale dan ikut tersenyum karenanya.
"Kau yang memulainya sayang. "Ucap Sean dengan senyum miring, lalu menindih tubuh Valerie dengan tampang menggoda.
"SEAN MESUM. "
Bersambung....
Bayangkan aja apa yang mereka lakukan ya GUYS. Maaf karena lama up, pasti kalian menunggu sanagt lama. tapi terimakasih yang masih menuggu dengan sabar. Karena kesabaran kalian akhirnya aku memutuskan untuk up 2 part. YEAYYYYY
LANJUTTTTT......
ETTT...LIKE DULU DONGZZ. 😊
jgn jgn yg bikin merah leher kamu jg pk direktur nih