NovelToon NovelToon
CINTA SEMANIS PARE

CINTA SEMANIS PARE

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Bad Boy
Popularitas:87
Nilai: 5
Nama Author: Agung Khan

CINTA SEMANIS PARE
Seorang playboy komersil yang terkenal di kampusnya, sangat terkejut ketika bangun tidur mendapati tubuhnya berubah menjadi seorang wanita cantik.
Wanita cantik itu sebenarnya adalah Awen, seorang mahasiswi tercantik di kampus namun sudah meninggal beberapa hari yang lalu.
Alu mempunyai saudara kembar bernama Afu, di mana Afu sangat menyukai awen pada saat Awen masih.
Seiring perjalanan waktu, dari kerumitan yang dialami alu dan perjalanan hidupnya Dia pun akhirnya benar-benar menjadi Awen.
Walaupun awalnya sempat terkendala tentang hubungan darah.
Akhirnya Afu dan Awen, yang sebelumnya adalah alu, akhirnya mereka berpacaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ROMANSA DI PAGI HARI

Pagi itu, Awen sedang berdiri di dapur. Dia sibuk memasak sambil sesekali tersenyum. Beberapa kali tangannya terangkat untuk menyelipkan helai rambut yang jatuh menutupi wajahnya.

Afu baru saja keluar dari kamar. Dia berhenti sejenak di depan pintu, lalu memperhatikan punggung Awen.

Senyum tipis mengembang di wajahnya.

Semakin hari, dia semakin menjalani kehidupannya sebagai Awen dengan sempurna. Alu, maafin gue. Gue nggak pernah berniat mengkhianati elu, tapi perasaan ini juga nggak bisa gue sembunyikan. Semoga elu bisa menerima hubungan gue sama Awen.

Afu kemudian berjalan mendekat dan memeluk Awen dari belakang.

Awen langsung menoleh. Senyum manis tersungging di bibirnya.

“Selamat pagi, Salju. Baru bangun, ya? Malam ini tidurnya nyenyak banget, sih.”

Afu tersenyum, lalu mencium pipinya dengan lembut. Kedua tangannya menyentuh tangan Awen yang sedang sibuk memasak. Dia ikut mengiringi gerakan tangan kekasihnya itu sambil berbisik.

“Terima kasih, kawan. Karena elu udah kembali ke sisi gue lagi.”

Awen membalikkan tubuhnya. Dia membelai pipi Afu sebelum mengecup bibirnya.

Sesaat, keduanya larut dalam kehangatan. Mereka saling menatap dengan senyum yang sulit disembunyikan.

“Salju, gue juga senang banget. Ternyata takdir masih berpihak kepada kita. Akhirnya, kita bisa kembali bersama setelah sekian lama menyembunyikan perasaan masing-masing.”

Afu tersenyum dan mengangguk.

Namun, saat melirik wastafel di samping dapur, tiba-tiba muncul ide jahil di benaknya.

Dia mengulurkan tangan kirinya, membuka keran, lalu menampung sedikit air di telapak tangan. Setelah itu, dia kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Awen.

Awen yang mengira Afu hendak menciumnya kembali langsung memejamkan mata.

Melihat hal itu, Afu menahan tawanya. Bukannya mencium bibir Awen, dia justru mengucurkan air di telapak tangannya ke wajah wanita itu.

“Ah!”

Awen langsung membuka mata dan mundur terkejut.

“Salju! Iseng banget, sih, lu!”

Afu tertawa sambil berusaha menghindar. Namun, Awen segera membalas dengan mengambil air dari keran dan menyiramkannya ke arah Afu.

“Hei! Jangan begitu!”

Afu berlari menghindar. Awen pun mengejarnya sambil tertawa.

Mereka berkejaran hampir ke seluruh ruangan apartemen. Suara tawa dan teriakan kecil keduanya menghiasi pagi yang hangat itu.

Setelah beberapa saat, Awen akhirnya kelelahan. Dia merebahkan tubuhnya di dekat dapur sambil mengatur napas.

Afu yang melihatnya segera menghampiri.

“Lu capek, ya?”

Dia membantu Awen bangkit, lalu mendudukkannya di pangkuannya. Tangannya mengusap rambut Awen dari belakang.

Awen menyandarkan tubuhnya dengan nyaman sebelum akhirnya bertanya.

“Salju, menurut elu, apa gue harus memberitahu orang tua gue tentang keberadaan gue sekarang?”

Afu menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan.

“Menurut gue, bagaimanapun juga, kita tetap harus menghadapi mereka. Sama seperti tentang saudara kembar gue yang hilang. Gue nggak mungkin selamanya menyembunyikan hal itu dari kedua orang tua gue.”

Awen menoleh. Dia memejamkan mata sejenak, lalu melingkarkan kedua lengannya ke leher Afu.

Afu membalasnya dengan mencium kekasihnya itu penuh kelembutan.

Namun, kemesraan mereka mendadak terganggu oleh suara desisan dari masakan Awen.

Awen langsung membuka mata.

“Astaga! Masakan gue!”

Dia buru-buru bangkit dan bergegas menuju kompor. Afu ikut berdiri, lalu menghampirinya dan kembali memeluk pinggang wanita itu dari belakang.

“Gue mandi dulu, ya. Habis itu kita pergi ke makam elu.”

Awen menoleh dengan wajah penasaran.

“Mau ke makam gue? Mau ngapain lagi?”

Afu tersenyum kecil.

“Bagaimanapun juga, yang terbaring di sana adalah tubuh Alu. Kita harus menjenguknya.”

Awen mengangguk pelan. Tangannya mengangkat panci dari atas kompor, lalu menuangkan masakan ke dalam mangkuk di sebelahnya.

“Ya udah, sana lu mandi. Habis itu kita sarapan.”

Afu mencium bibirnya sekali lagi sebelum akhirnya beranjak menuju kamar mandi.

Awen menyentuh bibirnya sendiri. Senyum kecil kembali menghiasi wajahnya.

Sementara itu, di dekat dinding, Ling Ling duduk melayang sambil memperhatikan kemesraan mereka.

Senyum peri itu perlahan mengembang.

“Kalau udah semanis dan semesra ini hubungan mereka, apa Cincin masih punya kesempatan untuk mengusik hubungan keduanya?”

Ling Ling tertawa kecil. Dia kemudian mengepakkan sayapnya, terbang mengelilingi ruangan, lalu menghilang.

Namun, tak lama setelah kepergiannya, sesosok peri lain muncul di tempat yang sama.

Peri itu memiliki sayap berwarna hijau dan rambut panjang yang terurai, bergerak mengikuti tubuhnya yang melayang di udara.

Dia adalah Cincin.

Cincin memperhatikan Awen yang sedang sibuk menata hidangan di atas meja makan. Kepalanya miring ke kanan, lalu ke kiri, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.

“Melihat hubungan mereka yang semakin mesra, apa mungkin Clara bisa masuk di antara mereka? Atau gue harus mengikuti saran Ling Ling?”

Dia mengerucutkan bibirnYa sejenak.

“Tapi kalau gue nggak bisa membuktikan kemampuan gue kepada Ibu Peri, rasanya gue terlalu lemah.”

Cincin kembali memperhatikan Awen. Beberapa saat kemudian, kedua tangannya mulai bergerak sambil mulutnya merapal mantra.

Perlahan, cahaya berwarna hijau muncul dari kedua telapak tangannya. Cahaya itu semakin membesar sebelum akhirnya dia tiupkan ke arah Awen.

Namun, sesuatu yang tidak terduga terjadi.

Sebelum cahaya hijau itu menyentuh tubuh Awen, tiba-tiba muncul cahaya berwarna ungu dari tubuh wanita tersebut.

Cahaya ungu itu menyambar dan memecah sihir Cincin hingga lenyap di udara.

Cincin terkejut. Matanya membelalak, sementara kedua tangannya masih terangkat di depan dada.

“Ya ampun! Rupanya perkembangan cinta mereka sudah sejauh itu!”

Dia menatap Awen sekali lagi, lalu perlahan menurunkan tangannya.

Cincin akhirnya mengepakkan sayapnya dan meninggalkan ruangan tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!