Judul Novel: TUMBAL 1000 NYAWA
Sinopsis:
Sekte ghaib Kala Hitam berniat membangkitkan sosok Penguasa Abadi yang haus darah. Untuk mewujudkannya, sekte ini menebar teror Sumpah Sewu—sebuah ritual kelam yang menuntut seribu tumbal nyawa manusia di tujuh cabang wilayah terisolasi di Pulau Jawa.
Arya, seorang pemuda wewaris kekuatan kuno Minyak Naga Sakti, mendapati takdirnya terikat pada ancaman besar ini. Didampingi oleh Baskara—ayahnya yang merupakan petarung veteran penuh trauma masa lalu, Mbak Sekar—seorang praktisi mystik senior, serta Kirana—putri pakar gaib yang dibekali rajah ular beracun, Arya memulai perjalanan berbahaya untuk memutus rantai sumpah terlarang tersebut.
Satu per satu jangkar ritual harus mereka hancurkan: mulai dari teror ilmu pelet di Desa Alas Mayit, ilusi ingatan Pasang Tuwuh di Hutan Kelabu Gunung Lawu, gending nyanyian kematian Langgam Sukma di Lembah Rawa Bangkai, hingga kekejaman tempaan pusaka jiwa di Kawah Candradimuka. Baca untuk melanjutkan nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Banjoriuga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasukan Bangkai Lembah Tengkorak
Bab 48: Pasukan Bangkai Lembah Tengkorak
Langkah kaki rombongan Arya menginjak tanah Lembah Tengkorak Hitam yang tandus dan berabu. Di lembah kapur terisolasi ini, udara terasa amat pekat oleh bau uap minyak mayat yang membakar dada. Tidak ada pilar kayu atau patung rajah seperti di cabang-cabang sebelumnya; di sepanjang dinding tebing kapur, ribuan tengkorak manusia menancap kaku, memancarkan pendar hijau kelam dari rongga mata mereka.
Di tengah pelataran lembah, berdiri Ki Ageng Ragajaya. Tubuhnya tinggi kurus berlapis kain mori hitam kusam yang dipenuhi bercak darah mengering. Di jemari tangannya yang panjang menyerupai cakar, tergenggam sebuah buli-buli perunggu bertatahkan ukiran iblis yang terus memuntahkan cairan minyak hitam kental ke atas tanah.
"Bocah pemutus sumpah..." raung Ki Ageng Ragajaya dengan suara serak bergema dari balik tebing kapur. "Empat belas tahun aku mengumpulkan mayat-mayat ini dari tujuh pelosok desa! Darah kalian akan menjadi penutup sempurna bagi seribu nyawa!"
Ragajaya menuangkan cairan Minyak Mayat dari buli-buli perunggunya ke tanah. Seketika, tanah kapur bergetar buas. Dari balik debu dan rekahan tanah, ratusan mayat hidup bertubuh legam merayap keluar. Mata mereka menyala hijau kelam, bergerak kaku namun pasti mengurung rombongan Arya dari segala penjuru.
"Jangan biarkan cairan minyak itu menyentuh kulit kalian!" panggil Mbak Sekar seraya melemparkan segenggam serbuk beras kuning berajah ke udara untuk menahan laju bau busuk menyengat. "Minyak itu merusak kesadaran dan melumpuhkan pendar gaib!"
Baskara menggerakkan sisa rantai besinya yang telah dilapisi pendar suci, memutar besi tersebut hingga memancarkan kilatan angin tajam. "Arya, Kirana! Bersihkan jalan menuju Ragajaya! Aku dan Sekar yang akan menahan barisan mayat ini!"
Kirana menerjang ke sisi kiri, menancapkan kedua telapak tangannya ke tanah kapur. Rajah ular berkepala tiga di pergelangan tangannya berpijar merah terang, memicu letupan uap racun merah yang membakar belasan mayat hidup hingga meluruh menjadi debu kelabu.
Arya tidak membuang waktu. Ia memusatkan seluruh kehangatan Minyak Naga Sakti yang mengalir di balik dadanya. Pendar cahaya keemasan murni meledak terang benderang, menyelimuti tubuhnya dari serbuan bau minyak mayat. Dengan satu pukulan melompat menerobos barisan mayat terkutuk, Arya mengarahkan sepasang bilah energi keemasan di tangannya lurus ke arah buli-buli perunggu yang dipegang Ki Ageng Ragajaya.
"Sumpah seribu nyawa milikmu berakhir di sini, Ragajaya!" jerit Arya lantang.
Bilah energi keemasan Arya meluncur menembus pusaran bau busuk, membelah udara Lembah Tengkorak Hitam dengan kepakan cahaya murni. Ki Ageng Ragajaya membelalakkan matanya yang menghitam, memutar buli-buli perunggu di tangannya untuk memancarkan benteng cairan Minyak Mayat setebal dinding batu.
PRANG!
Dentuman dahsyat meledak sewaktu energi Minyak Naga Sakti menghantam perisai hitam tersebut. Uap racun membakar udara, memercikkan bara keemasan yang meluruhkan cairan minyak mayat menjadi abu harum bunga kantil. Daya dorong pukulan Arya melempar Ki Ageng Ragajaya lima langkah ke belakang, membuat cakar-cakar tangannya terlepas dari leher buli-buli perunggu.
"Bocah tengik!" raung Ragajaya. Ia melompat maju, memanjangkan kuku-kuku hitam beracunnya lurus ke arah tenggorokan Arya.
Namun dari sisi kanan, Baskara melesat cepat. Sisa rantai besinya yang membara menyabet telapak tangan Ragajaya, mengunci pergerakan sang pengeksekusi sekte. "Arya! Hancurkan wadah jangkarnya sekarang!"
Mbak Sekar dan Kirana menghentakkan sisa mantra beras kuning dan rajah ular, membakar habis barisan mayat hidup yang berusaha melindungi junjungan mereka. Lingkaran pertahanan Ragajaya runtuh sepenuhnya.
Arya tidak membuang selangkah pun. Ia melompat tinggi, menyalurkan seluruh sisa pendar keemasan murni dari dalam dadanya ke telapak tangan kanan. Dengan tebasan melintang yang tajam, Arya menghantamkan bilah cahaya murni tepat ke badan buli-buli perunggu yang tergeletak di atas tanah kapur.
BLAR!
Ledakan cahaya keemasan membubung tinggi, membakar habis buli-buli perunggu beserta seluruh sisa Minyak Mayat di dalamnya. Ki Ageng Ragajaya meraung melengking sewaktu tubuhnya yang terikat pada wadah tersebut ikut terbakar dari dalam, meluruh menjadi tumpukan abu hitam yang ditiup angin lembah.
Ratusan mayat hidup di sekeliling mereka ambruk seketika, berubah menjadi tanah biasa. Pendar hijau kelam di rongga tengkorak dinding tebing padam sepenuhnya.
Arya merogoh saku jaketnya dan membentangkan peta kulit lembu tua. Lingkaran cabang keenam—Lembah Tengkorak Hitam—telah padam menghitam. Kini, hanya tersisa satu garis merah raksasa yang menyala dahsyat di pusat peta, menunjuk lurus ke kawah puncak Gunung Merapi.
Jangkar terakhir dan tempat persembahan utama Sang Penguasa Abadi telah menunggu.
mampir juga diceritaku yah😊