Di tinggal meninggal dunia oleh suami bukan keinginanku. namun terkadang ketika sebuah pilihan datang manusia tidak dapat menolaknya.
Saat pak Burhan dan Bu Salma menemui ku, agar aku menikahi anaknya Prasetio yang sudah beristri aku tidak punya jalan lain kecuali menerimanya.
karena keterbatasanku dalam mencari nafkah, dan demi menolong Prasetio yang kata ibunya butuh pendamping lantaran istrinya sakit parah.
Disinilah letak kesalahanku, tetapi ternyata justru kesalahanku ini adalah petunjuk terang tentang kematian ibuku.
Suatu hari tak sengaja aku menemukan selembaran dokumen, yang tercantum nama ayahku di lemari Pak Burhan, akhirnya sejarah kelam masa lalu terbongkar, aku tahu siapa sebenarnya suamiku Prasetio, Pak Burhan, Prilia istri pertama suamiku, ibunya Prilia, dan Bu Salma ibu mertuaku.
Ada apa sebenarnya di balik kematian ibuku?
Bagai mana selanjutnya hubunganku dengan Prasetio setelah semua terkuak?
Simak kisah panjangku dalam WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aina susiyanti77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 : Saat Kebenaran Mencari Jalannya Sendiri
Saat Prasetio masuk ke dalam rumah Bu Aminah dia terperanjat semakin kaget melihat pemandangan yang membuatnya tidak mengerti, mengapa Pak Baskoro yang tadi masih ada di kantor bank dan saat ini sudah berduel pula di sini, batinnya.
Pak Baskoro tengah terdesak! Pria tua itu bertarung mati-matian melawan dua orang lelaki berbadan tegap yang mengeroyoknya.
Meski Pak Baskoro masih tangguh menangkis beberapa pukulan, gerakan dua orang itu terlalu cepat dan berniat menghabisi. Salah satu penyerang sudah bersiap mengayunkan balok kayu tebal tepat ke arah kepala Pak Baskoro dari belakang!
"Pak Baskoro, awas!"
Gerakan Prasetio bagai kilat. Tanpa ragu sedikit pun, ia menerjang masuk. Satu tendangan lurusnya menghantam dada pria yang memegang kayu itu hingga terpental dan menabrak lemari kaca. Balok kayu terlepas.
Melihat kawannya tumbang, lelaki kedua berpaling menyerang Prasetio. Ia merogoh saku jacket dan menarik sebilah pisau lipat.
Tebasan pisau berkilat di udara, mengincar dada Prasetio. Namun dengan gesit, Prasetio miring ke samping, mencengkeram pergelangan tangan lawan, lalu memutarnya ke belakang dengan sekali sentakan keras.
Krak!
Lelaki itu menjerit kesakitan saat sendi bahunya terlepas. Prasetio tidak memberi ampun—ia langsung menyapu kaki lawan hingga tubuh kekar itu terbanting keras ke lantai.
Pria pertama yang mencoba bangkit kembali langsung disambut pukulan telak Prasetio tepat di rahang. Pria itu ambruk, tak lagi berdaya. Dalam sekejap, kedua pengeroyok itu tergeletak mengerang kesakitan di atas lantai yang berantakan.
Napas Prasetio naik turun. Ia menyambar pisau yang terjatuh, lalu berlutut di atas dada salah satu penyerang. Ujung pisau yang dingin itu ia tekankan tepat di bawah dagu pria tersebut.
"Buka mulutmu kalau masih mau bernapas!" ancam Prasetio dengan suara rendah yang penuh ketegangan. "Siapa yang menyuruh kalian ke sini?!"
Lelaki di bawahnya gemetar hebat. Tatapan mata Prasetio yang dingin dan tajam membuatnya sadar bahwa ancaman itu sama sekali tidak main-main.
"Ja—jangan! Kami cuma menjalankan perintah!" ratapnya ketakutan.
"Sebutkan namanya! Siapa?!" bentak Prasetio makin menekan mata pisau.
"Prilia! Prilia dan Bu Salma!" jerit lelaki itu akhirnya, tak sanggup menahan rasa takut. "Bu Salma dan ibunya Prilia yang bayar kami! Mereka yang suruh kami habisi Pak Baskoro!"
Terlalu banyak kejutan kejutan yang di dapat oleh Prasetio dalam waktu yang singkat menjadikan hatinya terguncang.
Jawaban ke dua laki laki itu membuatnya diam seribu basah. Tangannya yang memegang pisau seketika melemas. Rasa terkejut yang luar biasa menghantam dadanya—ia hampir tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Dia jatuh terduduk dengan pikiran kalut dan tubuh semakin lemas.
"Sudah pergilah kalian sekarang sebelum aku memanggil polisi " Ujar Prasetio lesu, tanpa di komando lagi ke dua lelaki itu langsung pergi ke luar rumah kemudian menghilang dari pandangan Pak Baskoro dan Prasetio.
"Praaaaas." Suara Pak Burhan menyadarkan Prasetio bahwa ayahnya saat ini berada di sana.
Prasetio mendekati ayahnya dan bertanya, " mengapa ayah bisa berada di rumah Bu Aminah, Prasetio menatap mata ayahnya menuntut sebuah jawaban.
"Nanti ayah ceritakan sekarang ayo kita pulang ke rumah kita dulu Pras?! " Ajak ayahnya.
Prasetio menurut lalu dia menggendong tubuh ayahnya menuju pintu depan langsung keluar rumah melewati pembatas pagar kayu masuk ke rumah mereka, kemudian di baring kan ayahnya itu di atas ranjang tidur dalam rumah tidurnya.
Prasetio memandang wajah ayahnya lalu dia duduk bersimpuh di pinggir ranjang.
"Ceritakan yang sebenarnya Yah apa yang terjadi tadi? " Prasetio berkata pelan.
"Ibumu Pras, setelah Maya pergi pagi tadi ibumu datang marah marah, ibumu meminta agar ayah menyerah kan dokumen yang asli, dokumen penting tentang pemilik perkebunan CV Abadi Permai"
Ayah..." suara Prasetio terdengar sangat serak tanda dia sedang memikul beban pikiran yang berat.
"Tolong katakan padaku... Katakan kalau semua ini cuma mimpi buruk. Kenapa Ibu dan Prilia tega melakukan hal sekeji itu? Orang-orang yang menyerang tadi adalah justru orang suruhan Ibu dan Prilia."
"Tolong jelaskan pada anakmu ini ada apa sih Yah di balik semua ini?!"
Pak Burhan menarik napasnya dengan sangat berat. Sebuah helaan nafas yang terdengar begitu menyiksa dari balik dada nya yang kempis.
"Semua ini... berasal dari keserakahan Prasetio..." bisik Pak Burhan dengan suara parau yang nyaris tenggelam oleh desis embusan angin pagi.
"Perkebunan yang begitu megah di Pekanbaru itu... sebenar nya murni milik keluarga ibunya Maya. Kakek Maya-lah yang merintis tiap meter tanah itu dengan keringat dan darahnya..."
Prasetio tersentak, dadanya terasa sesak sesaat mendengar tiap patah kata dari bibir ayahnya yang gemetar.
"Dulu, Ayah dan Pak Hendra hanyalah buruh miskin di sana," lanjut Pak Burhan dengan pandangan kusam.
"Kakek Maya begitu menyayangi kami karena kejujuran dan kinerja kami. Dengan cepat kami bertiga sangat akrab—Pak Hendra, ibunya Maya, dan ayahmu yang bodoh ini menjadi sahabat."
Pak Burhan menghela napas sesak sebelum melanjutkan.
"Hingga suatu hari, Pak Hendra jatuh cinta pada Ibu Pratiwi, ibu kandung Maya. Keluarga Ibu Pratiwi merestui dan memeluk Pak Hendra dengan tulus... tanpa pernah tahu bahwa Pak Hendra sebenarnya telah memiliki istri dan anak di kampung halaman..."
"Maksud Ayah... Pak Hendra sudah punya keluarga sebelum menikahi Ibu Maya?!" selak Prasetio. Matanya terbelalak menatap sang ayah penuh kepedihan.
"Ya... Istri pertamanya adalah ibu kandung Prilia, ibu mertuamu, Pras," Pak Burhan mengangguk lemah. Kepalanya terkulai layu di atas bantal.
"Wanita itu dulu pergi begitu saja karena tak sudi hidup melarat. Tapi saat melihat Pak Hendra telah berdiri tegak sebagai pria terpandang, wanita itu kembali... mengemis untuk rujuk."
Pak Burhan terbatuk pelan. "Pak Hendra terbuai dan menyetujui ikatan gelap itu demi anak-anak mereka... tanpa pernah diketahui oleh Ibu Pratiwi, ibunya Maya."
Prasetio mencengkeram seprai ranjang mendengar cerita dari ayah nya langsung, perasaan nya bagai kan di sambar petir di siang bolong.
"Lalu kenapa Pak Hendra bisa sampai menyerahkan dokumen pengurusan aset pada Ayah?!"
"Karena Ayah tidak bisa kalau tidak menuruti kemauan Ibumu Prasetio..." bisik Pak Burhan dengan jiwa yang teramat tertekan.
"Ayah dihasut oleh ibumu! Ibumu diperintah dan dipengaruhi oleh perempuan iblis itu—ibu kandungnya Prilia. Ibumu diiming-imingi harta dan kemewahan melimpah. Ayah lemah, Prasetio... Ayah kalah sebagai seorang lelaki hingga manut saja."
Air mata Pak Burhan mengalir kian deras membasahi kerutan di pipinya.
"Ayah menggunakan rahasia pernikahan gelap itu untuk mengancam Pak Hendra. Ayah menekan sahabatku sendiri... menakut-nakutinya akan membongkar rahasia itu dan merusak nama baik keluarganya di depan Ibu Pratiwi."
Pak Burhan memejamkan mata menahan malu. "Pak Hendra yang begitu mencintai istrinya dan tak ingin nama baiknya hancur... terpaksa mengalah. Beliau menandatangani dokumen pengalihan pengelolaan atas nama Ayah dan kamu, lalu Beliau mengundurkan diri membawa Maya dan ibunya ke Palembang. '
"Tetapi Pak Hendra tidak sepenuhnya pasrah... Beliau pria yang bijaksana. Sebelum meninggal, beliau secara diam-diam telah menyerahkan seluruh dokumen asli yang sah kepada seorang pengacara andal, Pak Baskoro. Dokumen itu jelas mencantumkan namanya dan nama Maya sebagai pewaris tunggal."
Prasetio tertegun, mendengarkan dengan napas tertahan.
"Inilah yang membuat Ayah sangat menyesal, Prasetio..." lanjut Pak Burhan lirih.
"Penyesalan yang begitu dalam dan membusuk di dalam dada membuat Ayah jatuh sakit, dan lumpuh seperti ini. Tubuh Ayah tak sanggup lagi menanggung beban dosa membunuh karakter dan mengkhianati sahabat sendiri..."
"Lalu... kenapa Ibu Pratiwi meninggal, Yah apakah sakit?! Tanya Prasetio, menuntut jawaban yang benar.
"Ibu kandung Prilia... dialah iblis berkulit manusia yang sebenarnya," bisik Pak Burhan.
"Wanita itu belum puas hanya menguasai aset melalui Ayah. Ia meracuni makanan Ibu Pratiwi secara perlahan melalui ibumu. Ibu nya Maya sangat percaya pada ibumu karena status Ayah sebagai sahabat keluarganya."
Pak Burhan menghela napas panjang. Matanya menerawang ke atas penuh penyesalan.
"Tiap minggu kami datang berkunjung ke rumah Pak Hendra yang berada di Palembang saat itu, Ibumu menawarkan jamu sehat pada Bu Pratiwi ibu nya Maya. Ibu Maya percaya saja tanpa curiga, jamu itu di minum oleh Beliau. Saat Ayah tahu kebenarannya tapi semua sudah terlambat. Ibu Pratiwi di kabarkan sudah meninggal dunia. ''
" Pak Hendra yang merasa sangat hancur menjadi depresi tak lama kemudian menyusul istrinya..."
Darah Prasetio serasa membeku...seketika. Tenggorokannya tersumbat, urat-urat di lehernya menegang wajahnya terlihat sangat pucat.
"Saat Pak Hendra meninggal, Maya masih seorang gadis muda yang kuliah di kota yang jauh," Pak Burhan melanjutkan ceritanya dengan air mata mengalir ke telinganya.
"Seluruh harta hak milik Maya dikuras habis oleh ibumu dan ibu Prilia. Maya... gadis malang itu terpaksa menahan lapar, bekerja membanting tulang demi ijazah sarjananya dan sesuap nasi... tanpa pernah menyadari bahwa sebenarnya ia adalah satu-satunya pewaris sah dari tanah ini."
Bayangan Maya melintas di benak Prasetio.
Maya yang selalu mengenakan pakaian sederhana. Maya yang tak pernah mengeluh walau dihina. Maya yang dulu ia anggap sekadar wanita malang yang beruntung diselamatkan keluarganya.
Ternyata... dialah dan keluarganya yang menjadi Iblis di atas penderitaan wanita itu!
"Ibumu dan ibu Prilia takut Maya bangkit," bisik Pak Burhan lambat.
"Maka mereka menyusun skenario perjodohanmu dengan Maya! Niat asli mereka adalah mengurung Maya di bawah cengkeramanmu, menghancurkan jiwanya, dan perlahan menghabisinya seperti yang mereka lakukan pada ibunya!"
Dunia di sekitar Prasetio seolah runtuh menjadi puing-puing. Pandangannya buram oleh genangan air mata.
Tangisnya pecah tanpa bisa ditahan lagi. Raungan penyesalannya bergema pilu di sudut kamar yang bisu.
Bahunya berguncang hebat. Seluruh harga dirinya hancur lebur seketika oleh rasa malu, saat ini dia merasa sangat kerdil
Prasetio sadar, sebenarnya ia mencintai wanita itu. Namun sebagai pria yang masih memiliki sisa harga diri, ia tahu bahwa dirinya dan keluarganya terlalu kotor untuk sekadar meminta maaf, apalagi menuntut tempat di samping Maya.
Apa yang di ceritakan Pak Burhan, jelas aku mendengarkan semuanya, aku yang segera masuk menyusul suami dan ayah mertuaku itu ke dalam kamar, ku paksa berhenti ...aku menguping dari balik pintu kamar, karena aku ingin mendengar cerita yang utuh dari orang yang benar benar tahu. Jelas sudah sekarang.
Bersambung
kyknya pribahasanya ; "karena setitik TINTA, rusak susu sebelahnya"
atau sudah ganti di era digital?
sekarang prasetyo yg berlutut, lantainya keramik.😇😇😇😇😇