NovelToon NovelToon
Zero Hunter

Zero Hunter

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:558
Nilai: 5
Nama Author: LetterFromJusticia

Ervan Noir seorang yang bermimpi menjadi Hunter akan tetapi impianya tidak sesuai kenyataan ketika peluang menjadi Hunter di Depan Mata, kejadian diluar prediksi dimana saat proses pemasanagn CORE progres instalationya 0℅ sejak itu Ervan menjadi bahan olokan sering di bully , hingga suatu Insiden menimpa Ervan dimana ketika Ervan berada di Ambang kematian Instalation yang awalnya 0℅ mulai aktif, hingga akhirnya Takdir Ervan sebagsi seorang Hunter dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LetterFromJusticia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 — Tubuh yang Belajar Terlalu Cepat

“𝘛𝘶𝘣𝘶𝘩𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢?”

Pertanyaan 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 membuat 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 berhenti mengusap tangannya. Ia menatap sahabatnya beberapa detik.

“𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘥𝘰𝘬𝘵𝘦𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘪𝘬𝘴𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘣𝘪𝘯𝘨𝘶𝘯𝘨.”

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 masih memandanginya. “𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘶𝘴, 𝙑𝙖𝙣. 𝘋𝘶𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘶𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘨𝘢𝘳𝘢-𝘨𝘢𝘳𝘢 𝘣𝘢𝘳𝘣𝘦𝘭 𝘪𝘵𝘶. 𝘉𝘢𝘳𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘴𝘦𝘯𝘺𝘶𝘮-𝘴𝘦𝘯𝘺𝘶𝘮.”

“𝘈𝘬𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘶𝘴.” 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengangkat bahu. “𝘚𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘊𝘖𝘙𝘌-𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘵𝘪𝘧 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩, 𝘳𝘦𝘤𝘰𝘷𝘦𝘳𝘺-𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵. 𝘊𝘶𝘮𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘶𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯. 𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶.”

Itu bukan kebohongan.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 sendiri tidak memiliki penjelasan lebih baik.

Ia tahu tubuhnya berubah setelah Installation mencapai seratus persen. Ia tahu luka-lukanya pulih terlalu cepat. Ia juga tahu rasa lelah yang biasanya membutuhkan waktu lama untuk hilang kini mereda jauh lebih cepat.

Namun alasannya?

Tidak ada.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 akhirnya menghela napas. “𝘠𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩. 𝘗𝘦𝘳𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘨𝘪𝘩 𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘶 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢.”

Ia mengambil dua target pad. “𝘚𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩 𝘢𝘯𝘦𝘩𝘮𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘮𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘢𝘫𝘢𝘬 𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢, 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘭𝘢𝘯𝘫𝘶𝘵.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tersenyum. “𝘔𝘢𝘵𝘦𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨?”

“𝘉𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘳𝘨𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘮𝘢𝘩𝘢𝘭 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘵𝘰𝘵.” 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 mengetuk pelipisnya. “𝘖𝘵𝘢𝘬.”

---

Hari kedelapan dimulai dengan satu pelajaran sederhana.

Jangan melihat tinju.

“𝘔𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘣𝘢𝘩𝘶.”

Pak!

Target pad menghantam guard 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.

“𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶𝘭.”

Pak!

Serangan kedua mengenai lengannya.

“𝘗𝘶𝘴𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘵.”

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 bergerak maju.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 terlambat membaca gerakan dan harus mundur dua langkah.

“𝘒𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬 𝘥𝘶𝘭𝘶. 𝘓𝘢𝘨𝘪.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 kembali mengambil stance.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 tidak menyerang langsung.

Bahunya bergerak sedikit.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 bereaksi.

Tidak ada pukulan.

“𝘐𝘵𝘶 𝘧𝘦𝘪𝘯𝘵,” kata 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mendecakkan lidah. “𝘛𝘢𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘳𝘶𝘩𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘩𝘶.”

“𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘳𝘶𝘩𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘤𝘢, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵.”

Serangan berikutnya datang.

Kali ini 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menunggu sedikit lebih lama.

Jab.

Ia bergeser ke samping.

Terlambat.

Sarung tangan 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 menyentuh dahinya.

“𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘶𝘴, 𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘯𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘬.”

“𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘬𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘪𝘱𝘶 𝘭𝘢𝘨𝘪.”

“𝘉𝘢𝘨𝘶𝘴 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢. 𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩-𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢. 𝘓𝘢𝘨𝘪.”

Selama berjam-jam, 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 mengulang serangan serupa.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 dipaksa memperhatikan bahu, pinggul, kaki tumpuan, perubahan distribusi berat badan, bahkan arah tubuh lawan sebelum serangan benar-benar dilepaskan.

Hasilnya tetap buruk.

Namun tidak seburuk satu jam sebelumnya.

---

Hari kesembilan, 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 mulai mengajarkan counter.

“𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘳𝘶-𝘣𝘶𝘳𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menangkis jab lalu langsung melepaskan pukulan.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 sudah berpindah sebelum pukulan itu tiba.

“𝘉𝘢𝘳𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘬𝘶𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨.” 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 menurunkan tangannya. “𝘒𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘴𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘶𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬.”

“𝘔𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘤𝘰𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶? 𝘋𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴.”

“𝘊𝘰𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘤𝘦𝘭𝘢𝘩. 𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘨.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menahan tawa. “𝘊𝘰𝘯𝘵𝘰𝘩𝘮𝘶 𝘴𝘱𝘦𝘴𝘪𝘧𝘪𝘬 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪.”

“𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘤𝘰𝘯𝘵𝘰𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯𝘬𝘶.”

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 kembali menyerang.

Jab.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menghindar.

Ia hampir membalas.

Namun melihat tangan kanan 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 belum bergerak.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menahan pukulannya.

Benar saja.

Cross datang satu detik kemudian.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menggeser tubuh keluar dari garis serangan.

“𝘉𝘢𝘨𝘶𝘴.”

Satu kata itu terasa lebih mahal daripada seluruh pujian yang diterimanya selama seminggu terakhir.

---

Pada hari kesepuluh, latihan berubah.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 tidak langsung meminta 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 bergerak.

Ia justru berdiri di tengah matras.

“𝘚𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪, 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘥𝘶𝘭𝘶 𝘳𝘶𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengernyit. “𝘜𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘢𝘱𝘢? 𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳-𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪.”

“𝘑𝘶𝘴𝘵𝘳𝘶 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘪𝘵𝘶. 𝘓𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘭𝘢𝘨𝘪.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menurut.

Matras.

Dinding.

Punching bag.

Rak perlengkapan.

Sudut ruangan.

Pintu keluar.

“𝘚𝘶𝘥𝘢𝘩. 𝘓𝘢𝘭𝘶?”

“𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯𝘮𝘶, 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘩𝘢𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯?”

“𝘒𝘢𝘶, 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢.”

“𝘚𝘢𝘭𝘢𝘩.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 terdiam.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 menunjuk kaki 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻. “𝘑𝘢𝘳𝘢𝘬 𝘥𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘪𝘵𝘢.”

Lalu pintu. “𝘙𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘥𝘶𝘳.”

Punching bag. “𝘗𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘭𝘢𝘯𝘨. 𝘉𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪, 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘬𝘶𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪.”

Kemudian posisinya sendiri. “𝘒𝘢𝘬𝘪 𝘵𝘶𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯𝘬𝘶. 𝘈𝘳𝘢𝘩 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩𝘬𝘶. 𝘛𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘶𝘬𝘢.”

Ia kembali menatap 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻. “𝘗𝘦𝘳𝘵𝘢𝘳𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘥𝘶𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘱𝘶𝘬𝘶𝘭, 𝙑𝙖𝙣.”

Kalimat itu langsung membawa ingatan 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 kembali ke kawasan industri.

BETA di hadapannya.

Dinding rusak.

Puing.

Potongan besi.

Saat itu ia tidak memikirkan apa pun.

Ia hanya—

melihat.

Panik.

Menyerang.

Bertahan hidup.

Kalau tidak menemukan batang besi di antara puing-puing, mungkin ia tidak berdiri di sini sekarang.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menatap 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻. “𝘑𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘥𝘶𝘭𝘶…”

“𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘨𝘢𝘨𝘢𝘭. 𝘒𝘦 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘶𝘯𝘥𝘶𝘳, 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨𝘪𝘮𝘶, 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 terdiam.

Itulah sesuatu yang sama sekali tidak ia lakukan ketika menghadapi BETA.

---

Hari kesebelas adalah hari yang ditunggu sekaligus tidak ditunggu 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.

Sparring.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 memasang pelindung tangan. “𝘋𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘥𝘶𝘭𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘵𝘶𝘳𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 ikut mengenakan perlengkapan.

“𝘛𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘙𝘦𝘨𝘢𝘭𝘪𝘢.”

“𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴.”

“𝘛𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘵𝘶𝘳𝘢𝘭.”

“𝘈𝘮𝘢𝘯. 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘱𝘶𝘯.”

“𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘵𝘪𝘬 𝘷𝘪𝘵𝘢𝘭.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengangguk.

“𝘋𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘯𝘵𝘪𝘯𝘨…” 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 menunjuknya. “𝘛𝘶𝘫𝘶𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengerutkan dahi. “𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘢𝘱𝘢?”

“𝘉𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯. 𝘗𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘵𝘦𝘬𝘯𝘪𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢𝘢𝘯 𝘢𝘴𝘢𝘭 𝘱𝘶𝘬𝘶𝘭𝘮𝘶 𝘪𝘵𝘶.”

Belum sampai satu menit, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memahami kenapa 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 membuat aturan itu.

Pak!

Jab mengenai guard.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mundur.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 mengikuti.

Cross.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 berhasil menghindar, tetapi langkahnya terlalu lebar.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 menyapu posisi kakinya dengan gerakan ringan.

Bruk!

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 jatuh ke matras.

“𝘓𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘩𝘮𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯. 𝘉𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯, 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨.”

Ia bangkit.

Serangan datang kembali.

Kali ini 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menjaga kakinya.

Jab.

Block.

Cross.

Dodge.

Ia mencoba counter.

Kosong.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 sudah keluar dari jalurnya.

Pukulan ringan mengenai sisi tubuh 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.

“𝘎𝘶𝘢𝘳𝘥-𝘮𝘶 𝘵𝘶𝘳𝘶𝘯.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 langsung menaikkan tangan.

Lima menit kemudian ia sudah terengah-engah.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 bahkan belum terlihat serius.

“𝘐𝘯𝘪 𝘯𝘢𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘩𝘪𝘯𝘢𝘢𝘯.”

“𝘐𝘯𝘪 𝘯𝘢𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘪𝘥𝘪𝘬𝘢𝘯.”

“𝘋𝘶𝘢-𝘥𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢𝘢𝘯.”

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 tertawa kecil. “𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘱𝘳𝘰𝘵𝘦𝘴, 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘪𝘳𝘪. 𝘓𝘢𝘨𝘪.”

Pada akhir hari kesebelas, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 kalah telak.

Tetapi satu hal berubah.

Ia tidak lagi menutup mata ketika pukulan mendekat.

---

Hari kedua belas sedikit berbeda.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 masih kalah.

Namun kini 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 harus bergerak sedikit lebih banyak.

Satu jab datang.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 slip ke luar.

Kakinya tetap stabil.

Cross menyusul.

Ia mundur pendek—tidak satu meter seperti beberapa hari lalu.

Ketika 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 maju lagi, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 melihat bahunya bergerak terlebih dahulu.

Feint.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak bereaksi.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 tersenyum tipis.

Lalu benar-benar menyerang.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 melakukan parry.

Untuk sepersekian detik, sisi tubuh 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 terbuka.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 melepaskan straight pendek.

Tap!

Sarung tangannya menyentuh pelindung dada 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻.

Keduanya berhenti.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menatap tangannya sendiri. “𝘉𝘢𝘳𝘶𝘴𝘢𝘯… 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘯𝘢?”

“𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘶𝘭𝘶.”

“𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘦𝘯𝘢, 𝘬𝘢𝘯?”

“𝘚𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵.”

“𝘚𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵 𝘱𝘶𝘯 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘬𝘦𝘯𝘢.”

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 mendorong wajahnya dengan sarung tangan. “𝘚𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘺𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘬𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘶𝘫𝘶𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶, 𝘬𝘶𝘵𝘢𝘮𝘣𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘴𝘪.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 langsung diam.

Namun senyumnya belum hilang.

---

Sore itu, 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 membawa 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 kembali ke barbel.

Tujuh puluh kilogram.

“𝘐𝘯𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪?”

“𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘴𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶. 𝘈𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘶𝘴𝘶𝘳𝘶𝘩.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengambil posisi.

Tarik napas.

Angkat.

Satu.

Turun.

Dua.

Tiga.

Gerakannya jauh lebih stabil dibanding minggu sebelumnya.

Lima.

Enam.

Grip-nya masih kuat.

Delapan.

Sembilan.

Napas mulai berat.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 berhenti menghitung keras-keras.

Sebelas.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menggertakkan gigi.

Dua belas.

Barbel turun.

Ia mencoba satu lagi.

Tiga belas.

Pada repetisi berikutnya gerakannya mulai rusak.

“𝘊𝘶𝘬𝘶𝘱.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 langsung menurunkan beban.

Kali ini ia tidak membantah.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 melihat barbel.

Kemudian 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.

“𝘋𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢?”

“𝘛𝘪𝘨𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘴. 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘩𝘪𝘵𝘶𝘯𝘨.”

“𝘚𝘦𝘮𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘩𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘳𝘦𝘱𝘦𝘵𝘪𝘴𝘪.”

“𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘮𝘢𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵.”

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 tidak tertawa.

“𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘶𝘴. 𝘚𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪?”

“𝘉𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩. 𝘓𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘣𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘯 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘳𝘶𝘵𝘪𝘯.”

“𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘤𝘰𝘮𝘣𝘢𝘵?”

“𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘩𝘢𝘫𝘢𝘳 𝘉𝘌𝘛𝘈 𝘥𝘪𝘩𝘪𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯, 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪.”

“𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘩𝘪𝘵𝘶𝘯𝘨.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengambil botol minumnya.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 masih memperhatikannya.

“𝘞𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘶𝘴 𝘥𝘶𝘭𝘶, 𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯-𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘣𝘦𝘣𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘯𝘢𝘪𝘬𝘬𝘢𝘯. 𝘒𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘴𝘦𝘮𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 minum. “𝘛𝘶𝘣𝘶𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘥𝘢-𝘣𝘦𝘥𝘢.”

“𝘔𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘥𝘢.” 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 menyipitkan mata. “𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩𝘮𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘥𝘢𝘳 𝘣𝘦𝘥𝘢. 𝘛𝘶𝘣𝘶𝘩𝘮𝘶 𝘢𝘯𝘦𝘩.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tertawa kecil. “𝘋𝘰𝘬𝘵𝘦𝘳 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶, 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘪𝘴𝘵𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘴𝘰𝘱𝘢𝘯.”

Jawaban itu tidak membuat 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 puas.

Tetapi ia tidak bertanya lebih jauh.

Karena 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 jelas tidak mempunyai jawabannya.

---

Hari ketiga belas menjadi yang terburuk.

Sprint pendek.

Footwork.

Push-up.

Pad striking.

Dodge drill.

Pull-up.

Defensive movement.

Controlled counter.

Weighted carry.

Lalu recovery breathing.

Tanpa jeda panjang.

Tujuannya jelas.

Membuat 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 lelah.

Kemudian melihat apakah tekniknya bertahan.

Hasilnya menyakitkan.

Saat napas mulai berat, guard 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 turun.

Ketika paha mulai lemas, langkahnya kembali terlalu panjang.

Pivot terlambat.

Cross menjadi lebar.

Pada satu sesi dodge, kakinya bahkan hampir menyilang seperti hari pertama.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 menghentikan timer. “𝘊𝘶𝘬𝘶𝘱. 𝘉𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘵𝘶.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 membungkuk sambil menahan lutut.

Keringat jatuh ke matras.

“𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘪𝘴𝘢.”

“𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘪𝘴𝘢.”

Jawaban itu membuat 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menoleh.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 menunjuk guard-nya yang sudah turun. “𝘛𝘶𝘣𝘶𝘩𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘱. 𝘛𝘦𝘬𝘯𝘪𝘬𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘣𝘪𝘴 𝘥𝘶𝘭𝘶𝘢𝘯.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 terdiam.

“𝘛𝘦𝘬𝘯𝘪𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘣𝘢𝘨𝘶𝘴 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘣𝘢𝘥𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘳 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘮𝘶.”

Kalimat itu menancap lebih dalam daripada yang 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 perkirakan.

Malamnya, ia menuliskannya ke jurnal.

Bukan angka repetisi.

Bukan berat beban.

Bukan berapa pukulan yang berhasil mengenai 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻.

Hanya satu kalimat.

Teknik harus bertahan bahkan ketika tubuh mulai gagal.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menatap kedua tangannya.

Dua minggu lalu, tangan itu hanya tahu satu hal—

memukul sekuat mungkin.

Sekarang ia mulai memahami kapan harus menyerang.

Kapan harus bergerak.

Dan kapan harus menahan diri.

Namun 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak tertipu oleh perkembangannya sendiri.

Ini belum pengalaman.

Belum Battle IQ seorang Hunter.

Belum kemampuan menghadapi petarung profesional.

Ini baru dasar.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 muncul.

“𝘉𝘦𝘴𝘰𝘬 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦-14. 𝘌𝘷𝘢𝘭𝘶𝘢𝘴𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳.”

Beberapa detik kemudian pesan kedua masuk.

“𝘚𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘚𝘦𝘭𝘦𝘬𝘴𝘪 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menatap layar cukup lama.

Empat hari.

Dulu angka itu mungkin akan membuatnya panik dan menambah latihan sampai tubuhnya ambruk.

Sekarang ia hanya menutup jurnal.

Lalu mematikan lampu.

Besok bukan hari untuk membuktikan bahwa dirinya sudah kuat.

Besok adalah hari untuk mengetahui—

seberapa jauh dirinya benar-benar berubah.

---

1
Renjana
keren👍
mangat nulisnya
mampir juga di karyaku yah😊
ラマSkuy
nice 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!