Selama lima tahun, Nadira Suryani rela membiayai keluarga mertuanya. Namun, kesabarannya habis setelah mengetahui putrinya, Naya, selalu diperlakukan berbeda dari cucu laki-laki mereka. Bahkan, ibu mertuanya diam-diam mengambil jatah biaya sekolah Naya untuk diberikan kepada cucunya.
Ditambah suaminya yang selalu lebih mementingkan keluarganya sendiri, Nadira akhirnya memutuskan untuk bercerai. Kali ini, ia tidak akan membiarkan keluarga mertuanya terus memanfaatkannya dan akan membuat mereka merasakan akibat dari semua perbuatan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Kembalikan
Imah membelalakkan matanya. Ia sama sekali tidak menyangka putra sulungnya akan mengucapkan kalimat tersebut. Selama ini, Arhan memang sesekali menolak permintaannya, tetapi pada akhirnya pria itu selalu luluh dan kembali memberikan apa yang dibutuhkan keluarganya.
Namun, kali ini berbeda. Tidak ada sedikit pun keraguan dalam sorot mata Arhan.
"Apa maksudmu, Arhan?" tanya Imah dengan suara bergetar. "Kamu mau memutus hubungan dengan keluargamu sendiri hanya karena masalah seperti ini? Kamu tidak mikir jika kamu kesusahan keluargamu lah yang pasti menolongmu!"
Arhan tersenyum miring. Ia menggelengkan kepala pelan, seolah tidak habis pikir dengan cara berpikir ibunya.
"Masalah seperti ini?" ulangnya. "Ibu menyebut mengambil uang sekolah anakku, merampas apartemen yang sudah kusiapkan untuk masa depannya, dan mengambil formulir pendaftaran sekolahnya sebagai masalah kecil?"
Ia menarik napas dalam-dalam sebelum kembali melanjutkan perkataannya.
"Selama ini aku diam bukan karena tidak tahu apa yang kalian lakukan. Aku hanya berusaha menghargai Ibu sebagai orang tua. Aku juga tidak pernah mempermasalahkan ketika Ibu meminta bantuan. Bahkan, aku rela mengeluarkan uang berkali-kali untuk menyelesaikan masalah Jordi dan memenuhi kebutuhan Siska."
Arhan mengalihkan pandangannya kepada kedua adiknya secara bergantian.
"Tapi kalian justru menjadikan kebaikanku sebagai alasan untuk terus meminta lebih banyak. Kalian tidak pernah memikirkan apakah aku sedang memiliki masalah atau tidak. Kalian bahkan tidak peduli jika uang yang kalian minta seharusnya digunakan untuk istri dan anakku."
Jordi mendecakkan lidah. Ia terlihat tidak nyaman mendengar semua perkataan kakaknya.
"Sudahlah, Kak. Jangan membesar-besarkan masalah. Kalau memang Kakak tidak mau membantu, bilang saja. Tidak perlu sampai mengancam memutus hubungan keluarga."
Arhan menoleh kepadanya. "Menurutmu ini hanya soal uang?"
Jordi tidak menjawab. Ia malah memilih untuk menatap ibunya agar ibunya bisa membujuk kakak sulungnya itu.
"Ini soal kepercayaan, Jordi. Aku mempercayakan Ibu untuk menjaga sesuatu yang sudah kusiapkan bagi anakku. Aku juga tidak pernah menyangka adikku sendiri tega menggunakan uang pendidikan anakku untuk kepentingannya. Tapi ternyata kalian semua justru mengkhianati kepercayaanku."
"Jangan menyalahkan kami terus!" seru Rania. "Kalau saja Kak Nadira tidak terlalu perhitungan, mungkin masalah ini tidak akan sebesar sekarang!"
Arhan memejamkan mata sejenak. Ia benar-benar tidak habis pikir masih ada orang yang berani menyalahkan Nadira setelah semua yang terjadi.
"Jangan bawa-bawa nama istriku lagi."
"Tapi memang kenyataannya begitu!" Rania bersikeras. "Kak Nadira itu punya banyak uang. Apa susahnya membantu keluarga suaminya sendiri? Dia bahkan tidak akan kehilangan apa-apa kalau memberikan sedikit bantuan kepada kami."
"Rania!" tegur Arhan tajam.
Wanita itu langsung terdiam.
"Kamu tidak punya hak untuk mengatur bagaimana istriku menggunakan uangnya. Nadira tidak berkewajiban membiayai hidup kalian. Dia juga tidak punya kewajiban memenuhi semua keinginan keluarga suaminya. Kalau kalian membutuhkan uang, bekerja! Jangan terus-menerus mengandalkan orang lain!"
Rania merapatkan bibirnya. Ia melirik Jordi yang sejak tadi hanya berdiri dengan wajah kesal. Sementara itu, Imah kembali maju beberapa langkah. Wanita paruh baya tersebut tampak berusaha mengendalikan emosinya, meskipun wajahnya sudah memerah karena menahan amarah.
"Arhan, dengarkan Ibu baik-baik. Ibu tidak akan membiarkanmu memutus hubungan keluarga hanya karena masalah uang. Ibu ini orang tuamu! Ibu yang mengandung dan melahirkanmu. Kamu tidak akan pernah bisa membalas semua pengorbanan Ibu!"
Arhan terdiam. Kalimat itu sudah terlalu sering didengarnya. Setiap kali ia mencoba menolak permintaan ibunya, Imah selalu mengungkit pengorbanannya selama membesarkan dirinya. Seolah-olah seluruh kasih sayang yang diberikan seorang ibu harus dibayar dengan kepatuhan tanpa batas.
"Ibu benar. Ibu yang melahirkanku dan membesarkanku," jawab Arhan akhirnya. "Aku tidak pernah menyangkal semua itu. Aku juga tidak pernah berniat melupakan jasa Ibu."
Ia menatap ibunya lekat-lekat.
"Tapi apakah menjadi orang tua berarti Ibu berhak menghancurkan kehidupan anak sendiri? Apakah karena Ibu sudah melahirkanku, Ibu boleh mengambil hak anakku? Apakah aku harus terus mengorbankan keluargaku hanya supaya Ibu merasa dihargai?"
"Jangan kurang ajar!" Imah kembali membentak.
"Justru Ibu yang seharusnya berhenti memperlakukan aku seperti seseorang yang tidak punya kehidupan sendiri!" balas Arhan. Kali ini suaranya terdengar jauh lebih tegas.
Ia mengusap wajahnya kasar, kemudian mengembuskan napas panjang.
"Aku sudah terlalu lama membiarkan semuanya terjadi. Aku selalu berpikir bahwa suatu hari kalian akan mengerti batasan. Aku berharap kalian bisa belajar bertanggung jawab atas kehidupan masing-masing. Tapi ternyata aku salah."
Arhan mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Ia membuka beberapa pesan yang sebelumnya sempat dikirimkan Nadira, kemudian menatap ibunya kembali.
"Mulai sekarang, jangan pernah menghubungiku untuk meminta uang lagi. Aku tidak akan membayar utang Jordi, tidak akan memenuhi keinginan Siska, dan tidak akan memberikan apa pun yang seharusnya menjadi hak keluargaku sendiri."
"Arhan!" Imah langsung menyela. "Kamu tidak bisa melakukan itu!"
"Kenapa tidak bisa, Bu? Bukankah selama ini Ibu selalu bilang bahwa aku anak sulung dan harus bertanggung jawab atas keluarga? Sekarang aku sedang belajar bertanggung jawab atas keluargaku sendiri."
Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.
"Dan satu hal lagi, kembalikan semua yang menjadi hak Naya. Uang sekolahnya, apartemennya, dan formulir pendaftaran sekolahnya. Aku tidak peduli bagaimana caranya, semuanya harus kembali. Aku tidak akan membiarkan anakku kehilangan masa depannya hanya karena kalian tidak bisa membedakan mana hak dan mana keinginan."
Imah menggelengkan kepala. "Kamu pikir semudah itu? Uangnya sudah digunakan, apartemennya juga sudah Ibu urus. Bagaimana mungkin kamu meminta semuanya kembali sekarang?"
Arhan menatap ibunya tanpa berkedip.
"Kalau begitu, cari cara untuk mengembalikannya, minta kepada orang-orang yang selama ini menikmati hasilnya. Jangan lagi menjadikan aku dan Nadira sebagai tempat kalian menyelesaikan masalah."
Jordi langsung mengangkat wajahnya.
"Kak, jangan melibatkan aku! Aku juga tidak punya uang sekarang. Kakak tahu sendiri kondisiku sedang sulit."
Arhan tertawa pendek.
"Lucu sekali. Ketika mengambil uang anakku, kamu tidak merasa kesulitan. Ketika menikmati fasilitas yang seharusnya menjadi milik Naya, kamu juga tidak keberatan. Tapi ketika diminta bertanggung jawab, tiba-tiba kamu tidak punya uang?"
"Kakak jangan menyudutkanku terus!" Jordi membalas dengan nada tinggi.
"Aku tidak menyudutkanmu. Aku hanya meminta kamu bertanggung jawab atas perbuatanmu sendiri."
Suasana ruang tengah kembali dipenuhi ketegangan. Tidak ada seorang pun yang berani menyela. Bahkan, Siska yang sejak tadi berusaha membela kepentingannya sendiri kini hanya menundukkan kepala. Arhan menghela napas sejenak.
" Saya tunggu seminggu ini kembalikan semua yang ibu ambil dari Naya! Kalau ibu tidak mau mengembalikannya saya bisa membawa masalah ini ke meja hukum!"
Arhan segera pergi meninggalkan keluarganya itu, ia tahu bahwa keluarga yang selalu ia turuti dan lindungi. Ternyata bukan keluarga yang bisa menjadi tempatnya pulang.
.....
Arhan berdiri di depan rumah mewah keluarga Nadira, ia memejamkan sejenak sebelum melangkah saat satpam telah mengizinkannya masuk. Di ruang tengah, terlihat Nadira, Naya dan kedua orang tua dari Nadira sudah menunggunya.
"Arhan, kamu tahu kan apa yang harus kamu jelaskan di hadapan saya?" tegas seorang pria paruh baya yang tengah memangku Naya.
orng2 ga tau diri ky mreka,emng pnts jd gmbel.....drpd bkin repot orng trs.....🙄🙄🙄
aku udh mmpir....slm knal....
dr awl udh d bkin emosi....ko ada y wnita s'ga waras itu,yg lbh syng cucu laki2 drpdd ccu prmpuan.....mna hsil nyolong pula....kl aku jd nadira,dr lma udh usir mreka biar jd gmbel.....😡😡😡