Nafisa tak pernah menyangka kehidupan rumah tangganya akan berakhir setelah mengetahui suami dan ibunya menjalin hubungan di belakangnya. Lebih menyakitkan lagi, sang ibu bahkan mengandung anak dari suaminya.
“Kenapa harus suamiku, Bu?!”
Hatinya hancur. Kepercayaannya musnah.
Lalu, langkah apa yang akan diambil Nafisa setelah mengetahui pengkhianatan dua orang yang paling ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HAMIL?
Waktu berlalu tanpa terasa. Hingga matahari perlahan tenggelam, ia belum sempat memasak makanan yang cukup untuk makan malam mereka.
Akhirnya, ia memutuskan membuat nasi goreng sederhana.
Di meja makan, Nafisa meletakkan piring berisi nasi goreng di hadapan suaminya, lalu melirik Damar yang duduk dengan tenang di kursinya.
Sejak tadi, pria itu masih sibuk menatap layar ponsel. Sesekali, jemarinya bergerak mengetik sesuatu, diikuti senyum tipis yang muncul di wajahnya.
Nafisa memperhatikan dari samping meja. Rasa penasaran yang perlahan tumbuh dalam benaknya.
Namun, ia memilih untuk urung, lalu mengembuskan napas panjang, ia menarik kursi dan menatap suaminya.
“Mas, main HP-nya nanti dulu,” ucapnya lembut.
Damar mengangkat wajah. Matanya jelas melirik kearahnya sekilas, ia meletakkan ponselnya di atas meja.
Nafisa pun tersenyum kecil. Namun, baru saja ia hendak menyuapkan nasi goreng ke mulut, suara keras tiba-tiba memecah keheningan.
PRANG!
Nafisa tersentak hingga bahunya terangkat. Sendok di tangannya berhenti di udara. Ia segera menoleh ke arah Damar dan perhatiannya beralih ke lantai.
Ia mendapati piring pria itu sudah berserakan di mana-mana, pecah berkeping-keping. Nasi goreng yang tadi disajikannya pun berhamburan di sekitarnya.
“Mas—”
“Maaf, Naf.” Damar buru-buru berdiri dari kursinya. “Mas tadi mau memukul nyamuk, eh, malah gak sengaja menyenggol piring.”
Nafisa menatap pecahan piring itu selama beberapa saat. Ia sempat kecewa karena makanan yang dibuatnya dengan susah payah kini berserakan di lantai, tetapi ia berusaha tidak mempermasalahkannya.
“Enggak apa-apa, Mas.” Ia meletakkan sendoknya, lalu mendorong piring miliknya sedikit ke arah Damar. “Ini, makan punyaku saja.”
Damar terlihat menatap piring yang dirinya sodorkan, kemudian mengalihkan pandangan kepadanya.
“Kamu makan saja, Naf. Mas keluar buat cari makan.” Ia meraih ponselnya dari meja. “Kamu mau pesan apa?”
Nafisa menggeleng pelan. “Aku gak perlu, Mas. Nasi gorengnya masih banyak takutnya gak habis kalau terlalu banyak makanan.”
Damar mengangguk. “Ya sudah, Mas pergi dulu.”
Belum sempat Nafisa mengatakan apa-apa lagi, Damar sudah beranjak dari kursinya. Pria itu melangkah meninggalkan meja makan.
“Iya, Mas,” jawab Nafisa pelan.
Ia hanya bisa memandangi punggung suaminya yang semakin menjauh sebelum akhirnya menghilang di balik pintu.
Keheningan kembali menyelimuti rumah baru mereka.
Nafisa menunduk. Pandangannya jatuh pada pecahan piring dan nasi goreng yang berserakan di lantai. Ia mengembuskan napas panjang.
Akhirnya, ia bangkit dari kursinya dan berjalan menuju dapur untuk mengambil sapu serta cikrak. Setelah kembali ke ruang makan, ia berjongkok dan mulai membersihkan pecahan piring itu dengan hati-hati agar tangannya tidak terluka.
.
Di pelantaran rumah, Damar yang kini sudah berada di dalam mobilnya yang menyala, sebelum kendaraan itu perlahan melaju meninggalkan pelataran rumah barunya.
Belum jauh ia berkendara, ponsel yang terhubung dengan perangkat hands-free di telinganya berdering. Damar melirik layar sekilas, lalu menerima panggilan tersebut.
“Di mana kamu, Dam?”
Suara ibu mertuanya di seberang terdengar tanpa basa-basi.
“Ini, sudah mau cari makan, sayang,” jawab Damar santai sembari memutar kemudi mengikuti jalan.
“Ingat, ya, jangan makan makanan yang Nafisa masak.”
Damar terkekeh pelan. “Iya, Sayang. Aku tahu. Bahkan, Mas sengaja menjatuhkan piring tadi supaya gak perlu makan masakannya. Lagian, masakannya juga gak terlalu enak.”
“Baguslah.”
Damar tersenyum tipis mendengar jawaban itu.
“Sayang, jangan lupa, ya. Nanti malam kita ketemu di tempat rahasia baru kita.”
Tawa kecil terdengar dari seberang panggilan.
“Iya, Damar. Tenang saja. Sebelum kamu datang, aku sudah lebih dulu menyambut mu.”
“Kalau begitu, aku tutup dulu sayang, lagi di jalan.”
“Iya, Dam.”
Sambungan telepon pun terputus. Damar melepas perangkat hands-free dari telinganya, lalu meletakkannya kembali di tempat semula.
Kabin mobil kembali hening. Ia memusatkan perhatian pada jalanan kota yang mulai ramai oleh kendaraan, sementara lampu-lampu jalan menerangi sisi jalan yang dilaluinya.
Sudut bibir Damar terangkat tipis.
. . .
Jam terus berjalan.
Tanpa terasa malam semakin larut. di dalam kamar yang hanya diterangi cahaya lampu tidur.
Nafisa yang semula terlelap perlahan membuka mata ketika cahaya dari layar ponsel berhasil mengusik indera penglihatannya. Ia mengerjap beberapa kali, berusaha menyesuaikan pandangan sebelum melirik ke arah sumber cahaya tersebut.
Damar tampak sibuk berkirim pesan dengan seseorang yang tersimpan dalam kontak bernama Pak Joan.
Nafisa tidak bisa melihat dengan jelas isi pesan yang dikirim Damar maupun balasan dari lawan bicaranya.
Nafisa hendak menggeser posisi tidurnya agar bisa melihat layar ponsel itu dengan lebih jelas. Namun, gerakannya terhenti ketika Damar tiba-tiba menoleh ke arahnya.
Ia buru-buru memejamkan mata, berpura-pura masih terlelap. Nafasnya sengaja diatur setenang mungkin.
Beberapa saat berlalu. Nafisa merasakan kasurnya sedikit bergoyang. Dengan penasaran apa yang suaminya lakukan, ia kembali membuka mata sedikit, mengintip dari balik bulu matanya.
Damar ternyata sudah beranjak dari tempat tidur. Suaminya itu berjalan menuju pintu kamar tanpa menyalakan lampu, lalu membukanya perlahan.
Nafisa mengernyit. Dahinya berkerut ketika melihat Damar keluar pada malam selarut ini.
‘Mas Damar mau ke mana malam-malam begini?’
Rasa kantuk yang tadi masih menyelimuti dirinya seketika menghilang. Nafisa menunggu beberapa detik, memastikan Damar tidak kembali, sebelum perlahan menyingkap selimut.
Ia bangkit dari ranjang. Dengan langkah hati-hati, Nafisa berjalan menuju pintu kamar dan mengintip ke luar.
Sosok Damar masih terlihat di ujung lorong.
Nafisa segera menyusul, berusaha menjaga jarak agar langkahnya tidak menimbulkan suara.
. . .
Tak lama, langkahnya terhenti di balik dinding, Nafisa mengintip ke arah dapur. Ia melihat Damar berjalan menuju lemari penyimpanan, kemudian mengambil sebuah gelas.
Nafisa mengamati suaminya selama beberapa saat. Damar tampak sedang menuangkan air dan menyalakan kompor gas.
“Oh, Mas Damar ternyata membuat minuman,” gumamnya pelan.
Rasa penasaran yang sejak tadi mengusik pikirannya perlahan mereda. Nafisa mengembuskan napas lega, merasa sedikit malu karena sempat mencurigai suaminya sendiri.
‘Kirain mau ke mana. Ternyata cuma bikin minuman.’
Ia menggeleng kecil, lalu berbalik dengan hati yang lebih tenang. Tak ingin Damar menyadari bahwa dirinya sempat mengikuti, Nafisa melangkah kembali menuju kamar dengan hati-hati.
.
Damar yang masih berdiri di dapur perlahan menoleh ke belakang. Dari sudut matanya, ia sempat melihat Nafisa berjalan menjauh.
Pandangannya kembali menatap layar.
Pak Joan: Nafisa sudah pergi, Dam. Kemari lah, ibu gak tahan banget.
Sudut bibir Damar terangkat tipis setelah membaca pesan dari ibu mertuanya.
Setelah memastikan keadaan rumah kembali sunyi, ia mematikan kompor gasnya. Tatapannya kemudian beralih ke arah pintu belakang.
Tanpa membuang waktu, Damar melangkah menuju halaman belakang rumah. Udara malam yang dingin menyambutnya begitu ia melewati pintu.
Langkahnya terus berlanjut menuju sebuah gudang yang terletak agak jauh dari bangunan utama.
Sesampainya di depan pintu, Damar berhenti sejenak. Ia menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada seorang pun yang mengikutinya.
Setelah merasa aman, tangannya meraih gagang pintu dan memutarnya perlahan.
Klek.
Pintu gudang terbuka sedikit. Damar mendorongnya, lalu segera melangkah masuk sebelum menutupnya kembali dari dalam.
Saat di dalam kamar, pandangannya mengedar hingga akhirnya terhenti pada sosok wanita berada di atas kasur.
“Untung saja CCTV-nya sudah dipasang, Dam.”
Netra Damar beralih menatap layar monitor kecil yang terhubung ke sistem keamanan rumah. Di sana, terlihat suasana rumah yang sunyi senyap. Kamera di kamar utama menunjukkan Nafisa sudah kembali berbaring di ranjang, tubuhnya diam tak bergerak.
Pandangannya beralih ke arah ibu mertuanya yang kini berada di kasur.
“Cantik sekali pakai baju ini,” puji Damar, suaranya rendah dan serak.
Wanita itu tersenyum genit, memutar tubuh perlahan untuk memperlihatkan detail bajunya.
“Bahkan di lemari penuh dengan berbagai bentuk. Ada kucing, domba, macan, sapi, dan lainnya,” godanya, nada bicaranya penuh arti.
Damar kembali terkekeh. “Liar sekali ibu mertuaku ini,” gumamnya.
“Mau minum pil dulu?” tanya Bu Yulia, menyodorkan dua butir pil kecil di telapak tangannya. Pil penguat stamina yang menjadi ritual wajib sebelum mereka tenggelam lebih dalam.
“Boleh, sayang. Malam ini hanya milik kita berdua,” bisik Damar, mengambil pil itu dan menyuapkannya ke mulut Yulia, lalu memasukkan sisanya ke mulutnya sendiri.
Tanpa aba-aba, Damar mendorong tubuh ibu mertuanya hingga terjatuh lembut ke atas kasur. Ia ikut berbaring di sampingnya, mata mereka saling bertemu.
Efek pil mulai bekerja perlahan, mengalirkan panas di seluruh pembuluh darah mereka.
. . .
Satu jam kemudian, suasana di dalam kamar rahasia itu mulai tenang. Yulia yang semula berada di atas tubuh Damar akhirnya merebahkan diri di samping pria itu. Napasnya masih memburu, sementara beberapa helai rambutnya jatuh menutupi wajah.
Ia memejamkan mata sejenak, berusaha mengatur napas. Namun, di tengah keheningan itu, tiba-tiba ia teringat sesuatu.
Mata Yulia yang terpejam perlahan terbuka. Ia mengangkat kepala, lalu menoleh ke arah Damar yang berbaring di sampingnya.
“Damar, aku punya sesuatu buatmu,” ucapnya sambil menopang tubuh dengan satu tangan.
Damar mengalihkan pandangan kepadanya. “Apa itu, Sayang?”
Yulia tidak langsung menjawab. Ia justru bangkit dari tempat tidur, kemudian berjalan menuju tas yang diletakkan di sudut ruangan.
Tangannya mengaduk isi tas itu selama beberapa saat, mencari benda kecil yang sengaja ia simpan di sana. Begitu menemukannya, senyum tipis terbit di bibirnya.
Yulia segera berbalik dan kembali menghampiri Damar. Ia mengulurkan tangan, menyerahkan benda pipih itu kepada pria yang masih berbaring di tempat tidur.
Damar mengangkat tubuhnya sedikit, lalu menerima benda tersebut. Dahinya berkerut saat melihat dua garis yang tertera di permukaannya.
“Apa ini, Sayang?” tanyanya sambil mengangkat benda pipih itu.
“Aku hamil, Dam.”
“A-apa? Kamu hamil?” tanyanya dengan suara bergetar.
sempet" nya lagi acara serius pada saling sindir 😄
nafisa blm punya anak tp nnti pasti suruh nanggung biaya bayi itu iuhhh.