Bagi Aisyah, pernikahan dengan Ayden seharusnya menjadi pelabuhan terakhir setelah badai panjang dalam hidupnya. Pria itu tampak seperti sosok pelindung yang sempurna—mapan, penuh perhatian, dan mencintainya tanpa syarat. Namun, di balik tatapan hangat dan sentuhan lembut Ayden, tersimpan sebuah rahasia gelap yang perlahan-lahan meremukkan kewarasan Aisyah.
Semua runtuh pada malam ketika Aisyah menemukan kebenaran yang mengerikan: pernikahannya bukan dibangun atas dasar cinta, melainkan sebuah rencana balas dendam yang dingin. Ayden sengaja mendekatinya untuk menghancurkan keluarganya, menggunakan Aisyah sebagai bidak catur dalam permainan kebencian masa lalu.
Terperangkap dalam cinta yang penuh kepalsuan dan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya, jiwa Aisyah perlahan mati rasa. Ia tidak lagi mengenal air mata ataupun amarah; yang tersisa hanya kehampaan yang mencekam. Di sisi lain, Ayden yang tadinya berniat menuntaskan dendam justru mendapati dirinya tersiksa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saga B.T., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Keputusan membisu
Keheningan di dalam penthouse mewah itu kini bukan lagi sekadar ketiadaan suara, melainkan sebuah entitas yang hidup, merayap, dan mencekik setiap sudut ruangan. Sejak kabel telepon diputus dan akses dunia luar disegel rapat atas perintah histeris Ayden kemarin, udara di tempat itu terasa setebal timah.
Pagi itu, pintu kamar utama terbuka pelan. Bi Lastri, asisten rumah tangga senior, melangkah masuk dengan nampan sarapan yang bergetar pelan di tangannya. Matanya menatap nanar pada sosok Aisyah yang sudah duduk tegak di tepi ranjang. Pakaian wanita itu rapi, rambutnya tersisir lurus, dan kedua tangannya tertumpu pasif di atas pangkuan.
"Nyonya... sarapannya sudah siap," ucap Bi Lastri lisan dengan nada ragu.
"Taruh saja di meja, Bi," balas Aisyah. Suaranya mengalun tanpa intonasi, sedatar permukaan danau yang membeku.
"Tuan Ayden berpesan... Nyonya harus menghabiskan susu dan buburnya pagi ini," tambah Bi Lastri, takut-takut melirik majikannya.
"Baik. Aku akan menghabiskannya."
Bi Lastri tertegun. Biasanya, Nyonya mudanya itu akan menolak, beralasan tidak lapar, atau setidaknya menunjukkan raut wajah enggan. Namun kali ini, Aisyah bangkit berdiri layaknya sebuah boneka mekanik yang baru saja diputar kuncinya. Ia berjalan menuju meja kecil, duduk, dan mulai menyuapkan bubur ke dalam mulutnya dengan ritme yang konstan, menelan makanan itu seolah itu hanyalah debu.
Tepat saat sendok terakhir berdenting di mangkuk, pintu kamar menjeblak terbuka. Ayden melangkah masuk. Jas mahalnya tersampir kasar di bahu, dan kantung matanya terlihat semakin menggelap. Di tangannya, ia membawa dua buah kotak besar berlapis beludru hitam.
Langkah Ayden terhenti saat melihat mangkuk yang bersih. Keningnya berkerut tajam.
"Kau menghabiskannya?" tanya Ayden, nada suaranya memancarkan kecurigaan yang pekat.
"Seperti yang kau perintahkan, Ayden," jawab Aisyah. Ia meletakkan serbet di pangkuannya tanpa menoleh. "Kau menyuruhku makan, jadi aku makan."
Ayden menelan ludah. Ada sesuatu yang salah. Sangat salah. Tidak ada kilatan perlawanan di mata Aisyah hari ini. Tidak ada kalimat tajam atau tatapan jijik seperti kemarin.
Pria itu berjalan mendekat, meletakkan dua kotak beludru itu di atas ranjang dengan kasar. "Aku membawakan sesuatu untukmu. Buka."
Aisyah berdiri. Tanpa bertanya, ia melangkah ke arah ranjang dan membuka kotak pertama. Sebuah gaun malam berbahan sutra berwarna biru safir dengan taburan kristal swarovski memantulkan cahaya lampu kamar. Di kotak kedua, bertengger satu set perhiasan berlian murni yang harganya bisa membeli sebuah pulau kecil.
"Ini rancangan desainer Paris yang kau lihat di majalah bulan lalu. Dan kalung itu... edisi terbatas," ucap Ayden lisan, matanya menatap lekat-lekat wajah istrinya, menunggu sebuah reaksi. Setidaknya keterkejutan, atau mungkin kemarahan karena ia mencoba membeli perasaan wanita itu.
Namun, wajah Aisyah tetap sekaku porselen. "Terima kasih, Ayden."
Ayden mengerutkan dahi, rahangnya mengeras. "Terima kasih? Hanya itu?"
"Gaun ini sangat mahal. Perhiasan ini sangat berkilau. Terima kasih," ulang Aisyah lisan, menatap tepat ke arah dada Ayden dengan pandangan yang kosong melompong.
"Pakai gaun itu," perintah Ayden, suaranya mulai naik satu oktaf.
"Sekarang?"
"Ya! Sekarang! Di hadapanku!" bentak Ayden.
"Baik."
Tanpa ragu, tanpa rasa malu, dan tanpa sedikit pun emosi, Aisyah mengangkat tangannya dan mulai membuka kancing pakaian tidurnya. Gerakannya begitu mekanis dan hampa.
Ayden mematung. Jantungnya bergemuruh hebat. "Tunggu! Apa yang kau lakukan?!"
"Aku sedang mengganti bajuku, Ayden. Bukankah kau yang memerintahkannya?" sahut Aisyah, tangannya terhenti di kancing ketiga.
"Tapi kau tidak pernah menuruti perintahku secepat ini! Kau selalu mendebatku! Kau selalu menatapku seolah aku ini monster!" sergah Ayden, napasnya mulai berantakan.
Aisyah menjatuhkan tangannya kembali ke sisi tubuh. Bibir pucatnya mengukir lengkungan senyum yang membuat darah Ayden membeku. "Kau bukan monster, Ayden. Kau adalah Tuanku. Kau pemilik rumah ini, pemilik udara yang kuhirup, dan pemilik sisa ragaku. Mulai hari ini, aku tidak akan mendebatmu. Aku tidak akan melawan. Aku akan melakukan apa pun yang kau katakan."
"Pembohong!" desis Ayden. Ia maju selangkah, mencengkeram kedua bahu Aisyah dengan kuat. "Kau sedang merencanakan sesuatu, kan?! Ini trik barumu setelah Haris gagal membelamu?!"
"Paman Haris tidak ada hubungannya dengan ini," jawab Aisyah, tidak sedikit pun meringis meski cengkeraman Ayden pasti meninggalkan memar di kulitnya. "Aku hanya lelah, Ayden. Lelah mencoba mempertahankan sesuatu yang sudah kau hancurkan. Kau menang. Sepenuhnya."
"Berhenti menatapku dengan mata mati seperti itu!" raung Ayden lisan, mengguncang tubuh rapuh di hadapannya. "Marahlah padaku, Aisyah! Teriakkan nama ayahmu! Maki aku karena telah menghancurkan keluargamu!"
"Untuk apa?" bisik Aisyah, nada suaranya mengalun sangat ringan. "Orang tuaku tidak akan hidup kembali karena teriakanku. Dan kau tidak akan melepaskanku meski aku menangis darah. Jadi... perintahkan aku, Ayden. Apa yang harus kulakukan sekarang? Memakai gaun ini? Tersenyum? Atau diam di sudut ruangan?"
Ayden melepaskan bahu Aisyah seolah baru saja menyentuh besi panas. Pria itu terhuyung mundur, matanya terbelalak menatap wanita di hadapannya.
"Pakai gaun itu," gumam Ayden dengan suara serak yang bergetar. "Dan temui aku di meja makan."
"Baik, Suamiku," jawab Aisyah.
Panggilan 'Suamiku' itu diucapkan tanpa secuil pun nada kasih sayang. Terdengar lebih seperti ejekan mutlak yang dilontarkan oleh sebuah robot yang kehilangan program perasaannya.
Malam turun menyelimuti ibu kota, membawa kegelapan yang seolah merembes masuk ke dalam ruang makan penthouse. Di atas meja panjang itu, puluhan lilin dinyalakan, menerangi hidangan mewah yang asapnya masih mengepul.
Aisyah duduk di ujung meja. Gaun safir itu membalut tubuhnya dengan sempurna, dan berlian di lehernya berkilau menantang cahaya. Ia terlihat luar biasa jelita, sekaligus tak bernyawa. Seperti manekin termahal di etalase toko yang dingin.
Ayden duduk di seberangnya, tangannya memutar gelas anggur tanpa meminumnya. Sedari tadi, pandangannya tidak lepas dari sosok istrinya.
"Potong dagingmu," perintah Ayden, memecah kesunyian yang memekakkan telinga.
Aisyah mengangkat pisau dan garpunya. Memotong daging itu dengan presisi sempurna, lalu memasukkannya ke dalam mulut.
"Kunyah yang pelan," perintah Ayden lagi.
Aisyah mengunyah perlahan.
"Katakan padaku bahwa rasanya enak," tuntut Ayden, suaranya mulai terdengar putus asa.
"Rasanya sangat enak, Ayden," ucap Aisyah, menatap lurus menembus mata suaminya.
Prang!
Ayden membanting gelas anggurnya ke lantai hingga serpihan kaca dan cairan merah pekat berhamburan mengotori karpet Persia di bawah mereka. Napas pria itu memburu, dadanya naik turun dengan liar.
Aisyah tidak berkedip. Ia tidak tersentak oleh suara pecahan kaca tersebut. Ia hanya meletakkan pisau dan garpunya dengan tenang. "Apakah aku melakukan kesalahan? Maafkan aku."
"Berhenti meminta maaf!" jerit Ayden, bangkit dari kursinya hingga kursi itu terguling ke belakang. Ia berjalan cepat mengitari meja, berdiri menjulang di samping Aisyah. "Berhenti bersikap patuh seperti ini! Ini bukan dirimu!"
"Ini adalah aku yang tersisa, Ayden," sahut Aisyah. Ia perlahan mendongak. "Kau mencabut telepon agar aku tidak bisa bicara pada dunia. Jadi, aku diam. Kau mengancam akan membunuh pamanku jika aku melawan. Jadi, aku patuh. Bukankah ini yang paling kau inginkan? Seorang tahanan yang tidak pernah memberontak?"
"Aku menginginkan istriku!" desis Ayden, wajahnya memerah oleh frustrasi yang meledak-ledak. "Aku menginginkan Aisyah yang menatapku dengan kehidupan di matanya!"
"Aisyah yang itu sudah mati," jawab Aisyah datar. "Kau membunuhnya di ruang kerjamu, di hari kau mengakui bahwa pernikahan kita hanyalah alat balas dendam."
Ayden mencengkeram rambutnya sendiri. Rasa sakit yang tajam dan tak kasat mata mendadak menusuk ulu hatinya. Dendam yang selama bertahun-tahun menjadi bahan bakarnya kini terasa seperti racun yang menggerogoti organ dalamnya sendiri. Ia menyadari satu kenyataan pahit yang meremukkan egonya: hukuman terberat bagi seorang algojo bukanlah perlawanan dari korbannya, melainkan ketika sang korban menyerahkan lehernya tanpa rasa takut sedikit pun. Ia telah merenggut segalanya dari wanita ini, hingga tidak ada lagi yang tersisa untuk ditaklukkan.
"Berdiri," perintah Ayden, suaranya kini terdengar sangat lemah.
Aisyah berdiri seketika.
"Masuk ke kamar," titahnya lagi.
Tanpa sepatah kata pun, Aisyah membalikkan badan, berjalan melintasi ruangan dengan langkah gemulai yang kaku, meninggalkan Ayden yang mematung menatap punggungnya.
***
Tengah malam merayap diiringi detak jam dinding yang terdengar menyiksa. Di dalam kamar utama yang temaram, Aisyah berbaring lurus di atas tempat tidur. Matanya terpejam, napasnya teratur, namun Ayden tahu wanita itu tidak sedang tidur.
Ayden melangkah mendekati sisi tempat tidur. Ia telah melepaskan jas dan dasinya. Pria yang di luar sana ditakuti karena kekuasaan dan kekejamannya itu, kini terlihat rapuh dan kalah telak di dalam istananya sendiri.
Perlahan, Ayden menjatuhkan kedua lututnya ke atas karpet tebal di samping ranjang. Ia bersimpuh di sana, menatap wajah damai Aisyah yang memucat seperti mayat.
"Aisyah..." panggil Ayden, suaranya hanyalah sebuah bisikan serak yang sarat akan keputusasaan.
Aisyah tidak membuka matanya. Tidak ada respons.
Dengan tangan bergetar, Ayden mengulurkan jemarinya. Ia meraih tangan kanan Aisyah yang tergeletak di atas selimut. Tangan itu terasa begitu dingin dan kaku. Ayden menggenggamnya erat, menempelkan punggung tangan istrinya ke bibirnya.
"Tolong... bicaralah," mohon Ayden. "Maki aku. Pukul aku. Lakukan apa saja, tapi tolong... jangan menghukumku dengan diammu ini."
Kesunyian membalas permohonannya. Tangan Aisyah di dalam genggaman Ayden sama sekali tidak membalas tekanan jarinya. Tangan itu layu, membiarkan dirinya digenggam tanpa memberikan perlawanan, namun juga tanpa memberikan kehangatan sedikit pun.
"Aku mohon, Aisyah..." isak Ayden. Tak terasa setetes air mata hangat lolos dari sudut mata pria itu, jatuh menetes di atas punggung tangan istrinya yang sedingin es. "Apa yang harus kulakukan?"
Namun Aisyah tetap membisu.