NovelToon NovelToon
KAU PIKAT SUAMIKU KUREBUT SUAMIMU

KAU PIKAT SUAMIKU KUREBUT SUAMIMU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Pengkhianatan / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Laras, ibu rumah tangga yang setia, tak sengaja membaca pesan mesra di ponsel suaminya, Dimas. Perempuan di balik pesan itu ternyata Vania, tetangga baru yang selama ini bersikap ramah padanya.

Laras hancur, tapi ia memilih diam dan mengumpulkan bukti. Saat melihat Reza, suami Vania, yang tulus mencintai istrinya, ia memutuskan membalas dengan cara yang sama: merebut apa yang paling Vania sayangi.

Namun semakin dalam Laras bermain, semakin kabur batas antara dendam dan perasaan. Rahasia masa lalu Vania dan Reza mulai terbuka, dan Laras harus memilih antara menuntaskan pembalasan atau menyelamatkan dirinya dan Kenzo, anaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PINTU BESI

"Laras. Buka."

Suara Dimas menembus pintu besi itu, datar dan dingin, bukan suara pria yang tadi pagi memeluknya dengan tangan gemetar.

Tak seorang pun di dalam gudang bergerak. Vania menutup mulutnya dengan kedua tangan. Mira menarik Laras ke balik loker, berbisik sangat rendah di telinganya.

"Dia pasti ikut pelacak di motormu atau di ponselmu. Jangan buka."

"Kalau aku nggak buka, dia akan mendobrak," balas Laras. Matanya menyapu ruangan. Ada satu pintu kecil di sudut belakang gudang, tertutup tumpukan peti kayu. "Itu jalan keluar?"

"Menuju gang belakang. Aku sempat lihat tadi."

Laras mengangguk cepat. Ia memasukkan surat wasiat ke dalam amplop dan menyodorkannya pada Mira. "Bawa ini. Lewat belakang, sekarang. Bawa Vania juga."

"Ras, kamu gila?"

"Dimas masih suamiku. Aku yang akan bicara dengannya." Ia menatap sahabatnya lurus. "Kalau wasiat ini jatuh ke tangan Rudi, semuanya selesai. Kalau ada yang harus menahan mereka di sini, itu aku."

Mira menggeleng dengan mata berkaca-kaca, tapi tak ada waktu untuk berdebat. Ketukan terdengar lagi, lebih keras. Ia meraih tangan Vania dan menyeretnya ke tumpukan peti. Vania menoleh sekali pada Laras, bibirnya bergerak tanpa suara: *Maaf.*

Laras tidak membalas. Ia merapikan rambut, mengambil napas dalam-dalam, lalu menggeser palang besi pintu depan.

---

Dimas berdiri di ambang pintu dengan jaket hitam dan wajah yang tidak ia kenali.

Bukan marah. Bukan juga tenang. Matanya merah, rahangnya menegang, dan tangan kanannya terkepal di sisi tubuh seperti orang yang sedang menahan sesuatu supaya tidak pecah.

"Kamu ngapain di sini?" tanyanya.

"Aku yang harusnya tanya itu, Mas." Laras berdiri di tengah pintu, menghalangi pandangannya ke dalam. "Kok Mas tahu aku di sini?"

"Jangan main-main." Dimas melangkah maju, memaksa masuk. Laras mundur selangkah. Matanya menyapu gudang itu, deretan loker, kursi lipat, lampu neon yang berayun pelan. Pandangannya berhenti pada loker nomor 27 yang pintunya masih terbuka lebar.

Wajahnya mengeras.

"Mana?"

"Mana apa?"

"Jangan pura-pura bodoh, Ras!" Suaranya meledak, menggema di dinding beton. "Mana isi loker itu? Surat wasiatnya! Kamu ambil, kan? Kamu atau siapa pun yang kamu bawa ke sini!"

Laras menatapnya. Dan di detik itu, ia memutuskan untuk berhenti berpura-pura.

"Aku ambil," katanya tenang.

Dimas terdiam. Ia tampak seperti orang yang baru saja ditampar. "Kamu... tahu?"

"Aku tahu semuanya, Mas. Tentang Vania. Tentang hotel di Surabaya. Tentang tanda tanganku yang kamu palsukan. Tentang rumah ini yang kamu gadaikan. Tentang Rudi." Setiap kata keluar dengan suara yang lebih pelan, tapi jauh lebih tajam. "Sepuluh tahun aku jadi istri yang terlalu polos, Mas. Aku cuma nggak menyangka kamu setega itu."

Wajah Dimas berubah-ubah dalam hitungan detik, terkejut, takut, malu, lalu sesuatu yang lain, sesuatu yang jauh lebih jelek. Ia mendekat dan mencengkeram kedua bahu Laras.

"Dengar aku. Kamu nggak ngerti apa yang sedang kamu hadapi."

"Lepaskan."

"Rudi bukan orang yang bisa kamu lawan! Dia akan..." Suaranya pecah. Cengkeramannya bergetar. "Dia akan menghabisi kita semua, Ras. Aku, kamu, Kenzo. Berikan wasiat itu. Aku akan bicara baik-baik. Aku bisa bernegosiasi."

"Seperti dulu?" Laras menatap mata suaminya. "Seperti waktu kamu menyembunyikannya selama delapan tahun dan memeras mereka pakai itu?"

Dimas tersentak seolah dipukul. "Siapa yang bilang..."

Laras mengeluarkan perekam suara dari saku jaketnya dan menekan tombolnya.

*"Kalau Bapak menyentuh keluargaku, wasiat itu akan sampai ke polisi. Aku sudah menitipkannya di tempat yang tak akan pernah Bapak temukan."*

Suara Dimas muda, penuh keberanian, mengalun di antara loker-loker karatan. Ia menatap benda kecil itu dengan mata melebar. Perlahan, cengkeraman di bahu Laras mengendur.

"Itu kamu, Mas," bisik Laras. "Aku mendengar suaramu sendiri. Kamu pernah berani. Kamu pernah berusaha melindungi keluarga ini. Apa yang terjadi?"

Dimas jatuh terduduk di kursi lipat. Bahunya merosot. Wajah yang tadi kaku kini hancur oleh sesuatu yang selama ini ia kubur.

"Awalnya memang begitu," katanya serak. "Aku cuma ingin menahan Rudi. Tapi dia terlalu kuat. Setiap kali aku menekannya dengan wasiat itu, dia menekan balik. Ancaman. Perusahaanku. Kariermu. Kenzo." Ia menutup wajah dengan kedua tangan. "Lama-lama aku nggak tahu lagi siapa yang menekan siapa. Aku butuh uang untuk bertahan, Ras. Aku mulai ikut permainannya. Mulai mengambil bagian. Lalu semuanya terlalu jauh dan aku nggak bisa keluar."

"Dan Vania?"

"Vania..." Dimas tertawa pahit. "Awalnya aku cuma butuh akses ke Reza. Tapi dia... dia membuatku merasa hidup lagi. Lalu aku sadar aku membodohi diriku sendiri. Aku bahkan nggak bisa membedakan mana cinta dan mana manipulasi."

"Kamu nggak mencintainya."

"Aku nggak tahu." Ia mengangkat wajah. Air mata mengalir di pipinya, dan untuk pertama kalinya sejak Laras mengenalnya, ia melihat Dimas menangis tanpa topeng. "Tapi aku tahu aku mencintaimu, Ras. Dan aku tahu aku sudah menghancurkan semuanya."

Laras menatapnya lama. Ada sesuatu yang runtuh dan sesuatu yang bertahan di dalam dadanya. Rasa sakit, ya. Marah, tentu. Tapi di bawah semua itu, ada sisa kasihan yang tak bisa ia matikan.

"Kamu bawa siapa ke sini, Mas?"

Dimas menunduk. Tak menjawab.

"Mas."

"Dua orang," bisiknya akhirnya. "Di mobil. Mereka menunggu aba-aba. Pak Rudi bilang, kalau aku nggak keluar dalam sepuluh menit dengan wasiat itu, mereka masuk."

Laras merasa darahnya membeku. "Sepuluh menit sudah lewat?"

Dimas menatap jam tangannya. Wajahnya memucat seperti kertas. "Delapan menit."

Dari luar, terdengar bunyi pintu mobil dibanting. Dua kali, berurutan. Lalu langkah kaki berat di atas kerikil, mendekat dengan tenang, seperti orang yang tahu persis tak ada yang bisa menghentikannya.

"Ras." Dimas tiba-tiba berdiri. Mata merahnya kini penuh sesuatu yang lain, ketakutan murni, tapi juga tekad. "Dengar. Ada pintu belakang, kan? Pasti Mira lewat situ tadi."

"Kamu tahu Mira ada di sini?"

"Aku tahu dari awal dia bukan sekadar sahabatmu." Dimas menarik tangan Laras dan menyeretnya ke arah tumpukan peti. "Lari. Sekarang. Aku akan menahan mereka."

"Mas, jangan..."

"Pergi!" Ia mendorong peti-peti itu ke samping, membuka pintu kecil di sudut. Udara malam yang lembap menyerbu masuk. "Pulang, jemput Kenzo, dan pergi dari rumah itu malam ini! Jangan percaya siapa pun!"

"Bagaimana denganmu?"

Dimas menatapnya. Senyum kecil, senyum yang Laras ingat dari hari pertama mereka bertemu sepuluh tahun lalu, terbit samar di wajahnya yang basah.

"Anggap saja ini satu-satunya hal yang benar yang bisa kulakukan."

Pintu besi di depan gudang digebrak dari luar. Satu kali, dua kali. Engselnya berderak.

"Lari, Ras!"

Laras mundur satu langkah, lalu satu lagi. Ia menatap suaminya, pria yang ia nikahi, pria yang menghancurkannya, pria yang kini berdiri membelakangi pintu dengan bahu tegak untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, dan ia tidak tahu apakah itu akhir dari sesuatu atau awal dari sesuatu yang lain.

Ia berbalik dan berlari.

---

Lorong belakang pasar lama itu gelap dan berbau sampah. Laras berlari tanpa menoleh, sandalnya tergelincir di genangan air, napasnya terbakar di tenggorokan. Di belakangnya, terdengar bunyi besi robek, lalu teriakan, lalu sesuatu yang jatuh dengan berat.

Ia tidak berhenti.

Di ujung gang, di bawah lampu jalan yang berkedip, sebuah bayangan melambai. Mira. Vania berdiri di sampingnya, memeluk amplop cokelat itu seperti benda paling rapuh di dunia.

"Ras! Sini!"

Laras menyambar tangan Mira. Mereka bertiga berlari ke arah motor yang diparkir di seberang jalan. Tangan Laras gemetar saat memasukkan kunci. Ia menyalakan mesin, dan di saat yang sama ponselnya bergetar di saku jaket.

Ia mengeluarkannya dengan sebelah tangan. Layar menyala terang di tengah gelap.

Pesan dari Reza. Hanya satu baris, tapi cukup untuk membuat seluruh dunianya berhenti.

*"Mbak, ada orang masuk ke rumah. Kenzo..."*

Pesan itu terpotong. Tidak ada kelanjutan.

Laras menatap layar, jantungnya berhenti. Di belakangnya terdengar langkah-langkah berat memburu keluar dari gang. Di depannya, jalan menuju rumah terbentang gelap dan panjang.

Ia memutar gas sekuat tenaga.

*Kenzo.*

Sepuluh tahun ia menjadi perempuan yang selalu sabar, yang selalu percaya, yang selalu memaafkan. Malam ini, di jalanan sepi yang berkelebat di bawah roda motornya, ia tahu bahwa siapa pun yang menyentuh anaknya akan menyesal telah lahir.

Dendam yang tadinya ia pelihara untuk Vania, untuk Dimas, untuk dirinya sendiri, kini menemukan sasaran yang sebenarnya.

**Kau pikat suamiku. KUREBUT suamimu*.*

1
Shankara Senja
hurufnya emang dibuat miring ya...dan tebal
Nuna_Pena: hehe.. iy
total 1 replies
Shankara Senja
bagus....lo jual,gw beli..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!