NovelToon NovelToon
Istri Gendut Yang Diceraikan

Istri Gendut Yang Diceraikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Rumah Tangga / Dendam Kesumat / Cewek Gendut
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Danti tiba-tiba diceraikan oleh suaminya saat rumah tangga mereka sedang baik-baik saja.

Alasannya? karena tubuh Danti berubah gemuk setelah menjalani berbagai program kehamilan yang selama ini sedang mereka perjuangkan bersama.

Bukannya menangis dan memohon agar dicintai kembali, Danti justru menerima perceraian itu dengan tenang.

Namun sebelum palu hakim diketuk, Danti akan membuktikan bahwa perempuan yang dicampakkan karena bentuk tubuhnya... kini masih bisa berubah menjadi bidadari yang membuat banyak lelaki tergila-gila.

Dan saat mantan suaminya menyesal, Danti hanya tersenyum sambil berkata...

“Aku pawang buaya yang akan membuka kembali peternakannya!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Vanya

Mobil Rizal berbelok ke halaman rumah ibunya tepat ketika langit mulai gelap.

Ia turun dengan langkah berat. Dasinya sudah tergantung longgar sejak sore, kemejanya kusut, dan di bawah matanya tergambar lingkaran gelap yang tak bisa disembunyikan.

Di dalam saku celananya, struk belanja yang sudah lecek terselip di antara lipatan. Angka-angka di sana masih berputar-putar di kepalanya...beras, minyak, listrik, air, internet. Semuanya menunggu dibayar, sementara dompetnya sudah tipis padahal gajian baru beberapa hari lalu.

Pintu terbuka sebelum ia sempat mengetuk.

"Ya ampun, Zal! Kok mukamu begitu?" Bu Sumarni menarik lengannya masuk dengan wajah cemas yang tampak sungguhan. "Sini, duduk. Kamu kelihatan seperti orang habis dikejar utang."

Rizal duduk di sofa dan menyandarkan kepala, memejamkan mata sesaat. "Bu, aku..."

"Pasti gara-gara Danti, kan?"

"Bukan, Bu. Maksudku..."

"Sudah, sudah, jangan ditutup-tutupi." Bu Sumarni mengibaskan tangan dan duduk di sampingnya, menepuk-nepuk lututnya seperti merawat pasien. "Ibu sudah bisa nebak. Perempuan itu pasti bikin ulah lagi. Dia nggak mau masak, ya? Dia nggak mau mengurus kamu? Dia pasti hobi keluyuran, pulang sore, nggak mikirin suami!"

"Bu, tadi cuma..."

"Dulu waktu Ibu muda, mana ada istri yang berani membiarkan suami berangkat kerja nggak sarapan. Itu dosa, Zal. Dosa besar!" Suaranya meninggi dan melembut bergantian, seperti pertunjukan yang sudah dilatih. "Tapi ya begitulah, namanya juga perempuan yang nggak tahu diuntung. Sudah dikasih suami baik, masih saja berulah. Kalau saja kamu mau dengar kata Ibu dari dulu..."

Rizal mendesah. Ia tak lagi mencoba menyela. Keluhan ibunya mengalir seperti air bah, dan sebagian dirinya merasa lega karena tak perlu menjelaskan apa pun. Ada kenyamanan aneh dalam dibenarkan tanpa harus berpikir.

Namun jauh di dasar kepalanya, sebuah gambar berkelebat... Danti dengan senyum tenangnya, berkata belanjaan segitu cuma cukup untuk dua minggu. Ia buru-buru mengusirnya.

"Assalamualaikum! Abang! Ibu!"

Suara Rani menyambar dari pintu depan, ceria dan melengking. Tak lama kemudian ia muncul di ruang tengah dengan tas belanja di lengan dan senyum merekah. Di belakangnya, melangkah masuk seorang perempuan muda.

"Nah, ini dia," Rani menyeret perempuan itu lebih dekat. "Bang, kenalin. Ini Vanya, temanku yang kuceritain itu. Vanya, ini Abangku, Rizal."

Rizal menegakkan duduknya. Ia sudah menyiapkan senyum basa-basi, tapi begitu matanya jatuh pada perempuan itu, senyumnya tertahan sebentar.

Vanya mengulurkan tangan dengan gerakan luwes. "Halo, Mas Rizal. Akhirnya ketemu juga. Rani sering cerita tentang Mas."

"Oh... iya. Halo."

Suaranya lembut, tersenyum tanpa terkesan dibuat-buat. Matanya sempat menyapu wajah Rizal, dan sudut bibirnya naik sedikit, tanda bahwa ia menyukai apa yang dilihatnya.

Rizal, yang mengenakan kemeja kerja kusut dengan rambut sedikit berantakan, tetap tampak lumayan tampan, dan Vanya tak berusaha menyembunyikan ketertarikan itu.

Tapi yang lebih menarik perhatian Rizal justru hal lain.

Perempuan di hadapannya tak sama persis dengan foto di ponsel Rani. Di foto, Vanya tampak berisi dan penuh lekuk, mengingatkannya pada Danti yang dulu. Di dunia nyata, tubuhnya jauh lebih kurus. Bahunya tegas, pinggangnya kecil, dan lengannya ramping. Mungkin foto itu diambil bertahun-tahun lalu, atau diedit dengan terampil.

Namun wajahnya... wajahnya memang cantik. Kulitnya mulus, hidungnya mancung, alis tertata rapi, dan bulu matanya lentik. Ada pesona terlatih dalam setiap geraknya, seperti seseorang yang tahu betul cara memperlihatkan sudut terbaiknya.

Rizal mengamatinya sepersekian detik lebih lama dari yang pantas, lalu tanpa bisa dicegah, sebuah pembanding muncul di kepalanya.

"Tetap saja... Danti dulu lebih cantik."

Bukan Danti yang sekarang, tentu. Tapi Danti yang berdiri di depan kos dengan gaun kuning, dengan senyum yang membuat seluruh dunia tampak tak penting. Vanya cantik, tapi belum sampai ke sana.

Pikiran itu mengganggunya, dan ia buru-buru menepisnya.

"Duduk, Nak Vanya, duduk," sambut Bu Sumarni dengan keramahan berlebihan. "Ya ampun, cantik sekali kamu. Rani sudah banyak cerita. Mau minum apa?"

"Teh hangat saja, Bu. Terima kasih."

"Ran, buatkan teh buat Vanya. Dan ajak dia ke taman belakang, di sana lebih enak. Ibu mau bantu kamu masak makan malam." Bu Sumarni bangkit sambil menarik lengan putrinya. "Rizal, temani Nak Vanya ngobrol dulu ya."

"Tapi Bu, kan..."

"Sebentar saja."

Rani mengedipkan mata penuh arti pada Vanya sebelum diseret ke dapur oleh ibunya. Dalam hitungan detik, ruang tengah itu hanya berisi dua orang dan suara jam dinding yang berdetak.

Hening canggung menggantung beberapa saat.

Rizal berdeham dan menatap lantai, sama sekali tak berniat memulai percakapan. Ia lelah, kepalanya penuh angka, dan satu-satunya yang ia inginkan adalah duduk diam. Ia tak tertarik berbasa-basi dengan teman adiknya.

Vanya yang akhirnya mencairkan suasana.

"Mas Rizal kelihatan capek banget," ujarnya pelan sambil tersenyum. "Habis lembur ya?"

"Eh, bukan. Cuma... banyak pikiran."

"Pasti kerjaan. Aku ngerti. Kantor Mas di mana, kalau boleh tahu?"

Rizal menyebutkan nama perusahaannya. Vanya langsung mengangguk antusias, lalu bercerita bahwa sepupunya juga pernah magang di sana. Bahwa ia tahu betapa ketatnya manajemen di perusahaan itu, bahwa orang yang bisa bertahan lama di sana pasti punya ketahanan mental luar biasa.

"Mas pasti orangnya sabar dan tangguh," katanya sambil menyandarkan dagu di telapak tangan.

Rizal mengerjap. Sudah lama tak ada yang memujinya dengan nada setulus itu. Ia tersenyum kecil, dan tanpa sadar posisi duduknya melonggar.

Mereka mulai berbicara. Awalnya tentang pekerjaan, lalu merambah ke kota-kota yang pernah dikunjungi, film yang sama-sama mereka suka, restoran favorit, dan kebiasaan konyol di kantor.

Vanya pandai bercerita. Ia menggunakan tangan untuk menggambarkan adegan, menirukan suara orang-orang yang ia ceritakan, dan sesekali tertawa lepas yang menular. Ia tahu kapan harus bertanya, kapan harus diam, kapan harus mengangguk seolah setiap kata Rizal adalah mutiara.

Tak ada nada menghakimi. Tak ada helaan napas panjang. Tak ada sindiran.

Dan Rizal baru menyadari betapa lamanya ia tak berbicara tanpa harus bersiap-siap menghadapi sesuatu.

Satu hal lagi yang tanpa sadar ia perhatikan... Vanya sama sekali tidak menyinggung soal istri. Tidak sekali pun. Tidak lewat pertanyaan, tidak lewat sindiran halus, tidak pula lewat tatapan penuh arti.

Seolah di ruangan itu hanya ada mereka berdua, dan Rizal hanyalah seorang lelaki dengan cerita menarik, bukan seseorang dengan beban bernama rumah tangga.

Dan itu... entah kenapa, terasa seperti udara segar.

Jarum jam bergerak tanpa ia sadari.

"Abang! Vanya! Makan malam sudah siap!"

Suara Rani menyentak mereka dari obrolan. Rizal mengerjap dan menoleh ke jendela. Langit di luar sudah pekat sepenuhnya. Jam dinding menunjukkan pukul tujuh lebih.

Hampir tiga jam. Ia sendiri tak percaya.

Mereka dipanggil ke meja makan. Hidangan yang disajikan lebih banyak dari biasanya... rendang, sayur lodeh, ayam goreng, sambal terasi, tempe orek, dan nasi hangat yang masih mengepul.

Bu Sumarni tampak berseri-seri menyendokkan lauk ke piring Vanya, bahkan lebih banyak daripada ke piring anaknya sendiri.

"Makan yang banyak, Nak. Jangan malu-malu."

"Terima kasih, Bu. Masakannya enak sekali."

"Ah, ini cuma masakan rumahan."

Vanya makan dengan anggun dan tak banyak, sesekali memuji bumbu rendang dan menanyakan resepnya.

Bu Sumarni menjawab dengan bangga, dan Rani sesekali menimpali sambil melirik Rizal. Suasana meja terasa hangat dan akrab, jauh berbeda dari meja makan rumahnya sendiri yang kini lebih sering sepi.

Selesai makan, Vanya meletakkan sendoknya dan menyeka bibir dengan tisu. "Bu, Rani makasih banyak untuk makan malamnya. Aku jadi nggak enak merepotkan. Sudah malam, aku pamit pulang ya."

"Lho, sudah mau pulang?" Bu Sumarni pura-pura kaget, lalu menoleh pada putranya. "Rizal, antarkan Nak Vanya pulang. Sudah malam, nggak baik perempuan pulang sendirian."

"Nggak apa-apa, Bu, aku bisa naik taksi..."

"Nggak usah, nggak usah. Rizal bawa mobil. Betul kan, Zal?"

Rizal menatap ibunya, lalu adiknya yang pura-pura sibuk dengan nasi, lalu Vanya yang berdiri dengan wajah sopan.

Seharusnya ia menolak. Seharusnya ia pulang saja, menghadapi tumpukan tagihan dan istrinya yang dingin. Tapi pikiran itu terdengar seperti beban, dan malam ini ia tak ingin memikul apa pun.

"Boleh," katanya akhirnya. "Aku antar."

Rani menunduk, menahan senyum puas.

 

Perjalanan itu ditemani musik pelan dari radio dan obrolan ringan yang mengalir tanpa dipaksa. Vanya menunjuk jalan dengan suara lembut, sesekali bercanda soal gang sempit di dekat kosnya yang selalu bikin sopir taksi mengomel. Rizal tertawa beberapa kali tanpa sadar.

Mobil berhenti di depan sebuah rumah kos dua lantai dengan lampu teras yang temaram. Vanya melepas sabuk pengaman, tapi tak langsung turun.

"Mas Rizal."

"Ya?"

"Boleh minta nomor ponselnya? Biar kalau Rani butuh sesuatu, atau kalau aku mau ngucapin terima kasih lagi, gampang."

Alasan yang masuk akal. Cukup masuk akal hingga Rizal tak berpikir dua kali, dan ia mengucapkan nomornya dengan lancar. Vanya mengetik di ponselnya, dan beberapa detik kemudian ponsel Rizal berdenting di dashboard.

"Ini nomorku. Simpan ya, Mas."

Rizal tersenyum kecil melihat pesan itu.

"Nanti kalau sudah sampai rumah, kabarin ya," pesan Vanya lembut sambil membuka pintu. "Aku nggak mau Mas kenapa-kenapa di jalan."

"Iya, pasti."

"Terima kasih ya, Mas. Selamat malam."

Ia turun, melambaikan tangan sekali dari depan pagar, lalu masuk. Rizal menatap punggungnya sampai pintu tertutup.

Ia menyalakan mesin dan pulang.

Di depan rumahnya, setelah mobil berhenti dan sebelum membuka pintu, Rizal sempat terdiam beberapa detik. Ponsel di tangannya masih menyala. Jempolnya bergerak, ragu, lalu mengetik cepat.

"Sudah sampai. Terima kasih untuk malam ini."

Ia menekan kirim, lalu turun dari mobil.

Rumah itu terang. Lampu ruang tamu menyala, televisi bergumam pelan, dan Danti sedang duduk di sofa dengan sepotong kue di tangan, mengenakan daster rapi yang wangi sabun. Rambutnya digerai setengah basah, wajahnya segar tanpa riasan, dan di bibirnya ada senyum kecil yang entah ditujukan pada siapa.

Rizal berhenti di ambang pintu.

Sekilas, tanpa ia rencanakan, matanya menelusuri sosok istrinya dari ujung kepala sampai kaki. Dan di benaknya, bayangan Vanya, dengan bahu tegas dan pinggang kecil, berdiri berdampingan dengan Danti di sofa. Ia membandingkan. Garis pipi, lengan, perut, kaki. Ia bahkan tak menyadari tatapannya mengeras dan bibirnya mengerut halus.

Danti melihatnya.

Ia tak berkata apa-apa. Hanya mengalihkan pandangan kembali ke layar televisi, menggigit kuenya, dan mengunyah dengan tenang.

"Mas sudah pulang?" katanya setelah beberapa detik. "Makan malam ada di meja. Aku masak dari belanjaan tadi. Ayam goreng sama tumis kangkung. Sengaja kusisakan buat Mas."

"Aku sudah makan."

"Oh." Danti mengangguk. "Di mana?"

"Di rumah Ibu."

"Oh."

Hanya itu. Tak ada keluhan, tak ada nada kecewa, tak ada pertanyaan tambahan. Ia hanya mengangguk, lalu kembali menatap televisi seolah informasi itu setara dengan laporan cuaca.

Rizal merasa tak puas dengan reaksinya. Ia berdiri beberapa detik lebih lama, menunggu sesuatu, entah apa, lalu mendengus pendek, melepas dasi, dan pergi ke kamar mandi.

Air mulai mengucur dari balik pintu.

Danti menghabiskan kuenya, menyeruput teh, lalu mengambil piring-piring kosong untuk dibawa ke dapur. Ketika melewati meja ruang tamu, matanya sempat tertumbuk pada ponsel Rizal yang tergeletak di sana, layar menyala karena sebuah notifikasi baru.

Ia tak berniat mengintip. Sungguh. Tapi huruf-huruf itu terpampang jelas, dan mata Danti terlalu cepat membacanya.

[Vanya : Cepat banget udah sampai, Mas. Aku senang ngobrol sama Mas hari ini. Mimpi indah ya?]

Danti berdiri membeku di tempatnya.

Dari kamar mandi terdengar suara air mengalir dan siulan kecil. Siulan yang sudah lama tak ia dengar dari mulut suaminya.

1
Muft Smoker
gmn kabar tetangga yx ,, klo liat Danti Skrang jd model🤭🤭🤭🤭🤭
ryuka
kamu hebat danti 🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
ryuka
Iya benar danti itu kamu.. 😍😍😍🤭🤭🤭🤭🤭
ryuka
bodoh nya kamu rizal.. bodoh bodoh.. 🫠🫠
Kusii Yaati
haduh lama" kok ikutan esmosi aq ....
Kusii Yaati
kalau aq yg jadi danti, udah ku ajak gelut si Rizal, mulutnya lemes banget, nggak ada otak juga
Ayudya
ayo Danti jangan mau jadi hinaan buktikan kalau juga bisa cantik dan seksi🤣🤣🤣🤣🤣
ryuka
dantiii kamu kereeennm

Nadia kamu juga kerennn 😍😍😍😍😍😍😍😍
Muft Smoker
skarang waktu ny buat dunia mu bahagia Danti ,, semangat trus
ryuka
semangat dantii... kamu harua bahagia.. tinggalin itu si rizall bodoh di dasar laut selama nya
Muft Smoker
menyesal banget yx zal ,, tp sayang ny smua udh trlambat ,,, tu laa laki2 yg gx bisa tegas dg keputusan ny ,, dgerin omongan org tua boleh ,, malah d anjur kan ,, tp sebagi laki2 dan kepala rumah tangga ,, harus bisa memilih dan memilah mana yg baik buat rumah tangga mu ,, mana yg justru menghancurkan rumah tangga mu ,,
ryuka
wahahahaha.. aku juga tertawa bersamamu dantiii 😍😍🤣😍😍🤭🤭🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker
udh cerai zal ,, keinginan mu telah terkabul ,, silahkan km melangkah ke jenjang yg lbih serius ,, kn udh punya calon ny ,, yg cantik , lngsing dan kaya seperti mau ibu mu😏
ryuka
wkwkwkwk.. mampus kamu rizal.. menyesal menyesal deh kamu ampe ke dasar jurang
Muft Smoker
jgn menyesal yx Rizal ,, istrii mu Danti udh brubah dan tdk terjangkau lgi😏😏
Muft Smoker
pesen yg kaya bude hestiii 1 ,, buat jd mertua kuuuuu ,,
ryuka
bude hestiii kamu kereeennnnn 🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Muft Smoker
cuma bude Hesti kyaknya yg manusia sejati ,, sisa ny cuma makhluk tak kasat mata😒😒😒😒
ryuka
bude hesttiiii cuma kamu yg waras di keluarga itu 🔥🔥🔥🔥🔥🔥 hebaaattt
Muft Smoker
ayoo dantii ,, tegakan kepala mu ,, jgn mau trus di hina dan di rendah kan oleh keluarga Rizal ,, biar hanya mereka yg tenggelam dlm kehancuran ,, sedangkan km harus ttap terbang tinggi ,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!