NovelToon NovelToon
Suara Untuk Dia

Suara Untuk Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Balas Dendam / Idola sekolah
Popularitas:153
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Putra Satria Hsb

【Perjuang keras meraih cinta+Cerita di waktu SMA+Romantis nonfiksi】Seseorang yang jatuh cinta kepda perempuan terpintar di sekolah... Meskipun dia bukan pria yang pandai dalam akademi tapi dia ingin membuktikan jika dia layak mendapatkan perempuan tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Putra Satria Hsb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10- Ujian Pertama dan Rasa Nyaman

Kalau diingat-ingat lagi, masa-masa awal di X IPA 2 itu bener-bener menguji mental. Di satu sisi, aku harus berjuang keras di latihan silat biar enggak dipermalukan senior. Di sisi lain, urusan pelajaran di kelas sering bikin pusing kepala. Tapi di antara semua keribetan itu, ada satu hal yang bikin aku betah berangkat sekolah tiap pagi: obrolan dan usil-usilan sama Nara.

Hari Kamis pagi itu, suasana kelas X IPA 2 mendadak tegang. Pak Suryadi, guru Matematika yang paling ditakuti satu sekolah, tiba-tiba masuk kelas tanpa senyum sedikit pun. Bawaan map tebal di tangannya sudah jadi sinyal buruk buat kami semua.

"Buka kertas lembar, tumpuk tas di depan. Kita ulangan harian sekarang," kata Pak Suryadi singkat tanpa basa-basi.

Satu kelas langsung heboh menepuk jidat. Diko di sebelahku cuma bisa melongo menatap papan tulis.

"Aduh, Sat! Mampus kita, kemarin aku sama sekali enggak belajar!" bisik Diko panik sambil buru-buru menggeser tasnya ke depan kelas.

Aku sendiri cuma bisa menghela napas pasrah. "Sama, Dik. Mana semalem aku ketiduran habis pulang latihan."

Aku melirik ke meja depan. Nara kelihatan santai banget. Dia cuma ngeluarin dua pulpen sama penggaris dari tempat pensilnya, lalu merapikan posisi duduknya. Cewek itu memang beda level sama kami yang ada di barisan belakang.

Begitu kertas soal dibagikan, keheningan menyelimuti ruangan. Soal nomor satu sampai lima masih bisa kukerjakan dengan sisa-sisa ingatan minggu lalu. Tapi masuk ke soal nomor enam dan seterusnya, otakku benar-benar buntu. Rumus turunan dan fungsi yang terpampang di kertas rasanya berubah jadi bahasa asing yang enggak bisa kubaca.

Aku bolak-balik menggeser pulpen di jemari, menatap jam dinding yang terus berputar cepat. Keringat dingin mulai muncul di telapak tangan. Kalau nilai ulangan ini merah lagi, bisa habis aku dimarahi wali kelas.

Saat lagi pusing-pusingnya memikirkan jawaban, Nara yang duduk di depanku tiba-tiba menggeser sedikit posisi duduknya ke kiri. Kertas jawabannya sengaja ditaruh agak miring ke arah kanan meja. Walaupun enggak sepenuhnya ngasih lihat, gerakan itu jelas banget disengaja biar tulisan dan rumus di kertasnya bisa sedikit terintip dari posisiku.

Aku agak kaget. Cewek galak yang biasanya paling disiplin dan benci sama kecurangan ini, ternyata kasihan juga melihatku yang dari tadi gelisah di belakang.

Tanpa buang waktu, aku langsung menangkap petunjuk rumus yang ditulis Nara di kertasnya. Aku enggak menjiplak mentah-mentah jawabannya, tapi dari petunjuk rumus yang sengaja dia perlihatkan itu, jalan untuk menyelesaikan soal di kertasku jadi terbuka. Jemariku langsung lincah mengorek kertas sampai bel tanda mengumpulkan bunyi.

"Waktu habis! Kumpulkan ke depan sekarang!" seru Pak Suryadi.

Setelah Pak Suryadi keluar membawa tumpukan kertas ulangan, suasana kelas kembali ramai. Banyak yang mengeluh soalnya susah, termasuk Diko yang mukanya sudah lemas.

Aku langsung memajukan badanku ke depan, menepuk pelan bahu Nara.

"Nara," panggilku pelan.

Dia menoleh dengan muka datarnya yang khas. "Apa?"

"Makasih ya yang tadi," kataku sambil tersenyum ke arahnya.

Nara mengernyitkan dahi, pura-pura enggak paham. "Makasih buat apa?"

"Gak usah sok gak tahu gitu lah. Kamu sengaja kan miringin kertas jawabanmu tadi?" godaku sambil menyeringai.

Nara memutar kedua bola matanya, lalu memiringkan posisi duduknya menghadapku.

"Aku cuma pegal aja duduk tegap terus dari tadi. Jangan percaya diri banget deh kamu," celetuknya dengan nada jutek. "Lagian kalau kamu nilainya merah terus, nanti kelompok kita yang repot pas pembagian tugas akhir semester."

"Iya, iya, terserah alasannya apa. Tapi yang jelas kamu udah menolong nyawaku hari ini," balasku sambil tertawa kecil.

Nara cuma menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkahku, tapi aku bisa melihat ada guratan senyum tipis di wajahnya yang berusaha dia sembunyikan.

Siang harinya habis bel pulang sekolah, hujan deras turun lagi. Lapangan SMA kami langsung tergenang air. Karena jalanan pasti macet dan makin basah, anak-anak yang bawa motor banyak yang milih nongkrong dulu di teras kelas, menunggu hujan agak mereda.

Diko sudah pulang duluan dijemput kakaknya naik mobil. Tinggallah aku dan Nara yang masih bertahan di bangku teras depan kelas X IPA 2. Suasana sekolah mulai sepi, cuma tersisa suara gemericik air hujan yang menimpa atap seng kantin di depan kami.

Nara duduk di ujung bangku kayu sambil memangku tas ranselnya, sementara aku duduk di ujung satunya sambil meluruskan kaki yang pegal.

"Latihan silatmu batal gara-gara hujan ya, Sat?" tanya Nara membuka obrolan. Ini pertama kalinya dia nanya duluan tanpa kutanya lebih dulu.

"Iya, Ra. Matras di aula bawah agak bocor kalau hujan deras begini, jadi Mas Teguh meliburkan latihan sore ini," jawabku sambil memandangi rintik air hujan.

"Bagus deh. Biar kakimu itu istirahat sebentar. Dari kemarin aku lihat jalanmu masih agak pincang gitu," kata Nara santai.

Aku menoleh menatapnya. Sisi galaknya yang biasanya mendominasi sore itu mendadak luntur. Nara kelihatan jauh lebih santai dan tenang.

"Khawatir ya sama aku?" godaku lagi, mencoba mencairkan suasana.

"Mulai lagi kan konyolnya," sahut Nara pelan tanpa bernada tinggi seperti biasanya. Dia menyandarkan kepalanya ke tembok di belakangnya. "Aku cuma heran aja sama kamu, Sat. Kenapa sih niat banget ikut silat sampai memar-memar gitu?"

Aku mengusap tengkukku yang enggak gatal. Pertanyaan Nara kali ini kedengaran serius.

"Ya... sederhana sih, Ra. Di kelas ini, aku merasa paling enggak ada apa-apanya. Kamu pinter, Diko anak berada, teman-teman yang lain pada punya prestasi akademik. Nah kalau aku cuma diam aja dan enggak punya keahlian apa-apa, aku rasanya enggak layak aja ada di sini," jawabku jujur tanpa ada yang ditutup-tutupi.

Nara hening sebentar. Dia memandangi lurus ke arah hujan, seolah mencerna kata-kataku tadi.

"Kamu tuh mikirnya ketinggian, Satria," kata Nara akhirnya. Suaranya halus, beda banget sama gaya bicaranya kalau lagi marah. "Nggak semua orang harus pinter Matematika atau Fisika buat dihargai. Kamu itu orangnya bertanggung jawab, mau usaha, dan... menyenangkan. Anak-anak di kelas sebenarnya pada suka kok sama kamu gara-gara kamu sering bikin suasana ramah."

Mendengar kata-kata itu keluar langsung dari mulut Nara, rasanya ada rasa lega yang luar biasa yang menjalar di dadaku. Orang yang paling kukagumi di kelas ini ternyata menganggap keberadaanku ada artinya.

"Termasuk kamu? Kamu suka juga enggak sama aku?" tembakku spontan dengan senyum cengengesan.

Nara langsung menoleh kaget, mukanya berubah merah dalam hitungan detik. Dia mengambil buku tulis tebal dari tasnya lalu menyabetkannya pelan ke bahuku.

"Ngalur ngidul terus kalau ngomong! Dasar enggak jelas!" serunya agak panik, salah tingkahnya kelihatan jelas banget.

Aku meledakkan tawa melihat reaksinya. Momen-momen simpel kayak gini yang bikin aku makin yakin kalau cewek di depanku ini memang spesial. Sifat galaknya cuma benteng luar, tapi sebenarnya dia punya sisi perhatian dan hangat yang bikin nyaman siapa saja di dekatnya.

Tak terasa waktu berlalu, hujan mulai mereda jadi gerimis tipis sekitar jam empat sore. Nara berdiri dari bangku kayu, merapikan rok dan tasnya.

"Hujannya udah reda tuh. Aku pulang duluan ya," kata Nara sambil memasang helm bagian depannya.

"Hati-hati di jalan, Ra. Jangan ngebut, jalanan licin," pesanku sambil ikut berdiri.

Nara mengangguk pelan. Sebelum dia melangkahkan kaki menuju parkiran motor, dia sempat menoleh lagi ke arahku.

"Makasih ya udah nemenin nunggu hujan," ucapnya pelan.

"Sama-sama, Nara. Sampai ketemu besok di kelas!" balasku sambil melambaikan tangan.

Aku berdiri di teras memperhatikan punggungnya yang berjalan menjauh menyusuri koridor basah. Di masa-masa itu, aku bener-bener percaya kalau hubungan kami bakal terus membaik kayak gini. Aku merasa sudah berhasil mendapatkan kepercayaan dan rasa nyamannya.

Dulu aku enggak pernah berpikir kalau sifat tertutupnya Nara ini punya sisi lain. Aku pikir, rasa nyaman yang kita bangun perlahan ini bakal jadi fondasi yang kuat. Tapi aku lupa satu hal: makin nyaman seseorang sama kita, makin jago juga dia menyembunyikan hal-hal yang menurutnya enggak perlu kita ketahui.

Dan kenyataan itu bakal mulai kelihatan beberapa bulan setelahnya.

Malamnya di rumah, aku ketiduran lebih cepat dari biasanya karena efek lelah dan udara dingin habis hujan. Tapi sebelum tidur, HP jadoelku sempat bergetar sekali di atas meja belajar.

Satu pesan singkat dari nomor Nara masuk:

"Hasil ulangan tadi kata Pak Suryadi bakal dibagi minggu depan. Jangan lupa belajar bab selanjutnya, awas kalau masih malas!"

Aku tersenyum tipis membaca pesan yang tanpa gaya puitis itu, lalu mengetikkan balasan singkat:

"Siap Bos. Selamat istirahat."

Malam itu aku tidur dengan tenang, tanpa pernah tahu kalau roda takdir di antara kami berdua bakal berputar ke arah yang sama sekali enggak pernah kuprediksikan sebelumnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!