Marco Maverick membenci wanita cantik. Trauma masa lalu membuat CEO jenius yang hobi bertingkah kocak ini lebih memilih melajang, menyawer live TikTok, dan mengasuh anak sahabatnya. Bahkan saat menyelamatkan wanita mempesona di klub malam, Marco menolaknya mentah-mentah.
Penasaran dengan satu-satunya pria yang berani mencampakkannya, Isabel nekat menyusup ke hidup Marco. Putri konglomerat yang sedang buron itu menanggalkan kemewahannya dan menjelma menjadi 'Lia', sekretaris berpenampilan cupu dan kusam.
Ironisnya, Marco justru menolak pesona Isabel dalam wujud aslinya, dan perlahan jatuh hati pada kesederhanaan Lia. Namun, tak ada kebohongan yang abadi. Ketika topeng sang sekretaris terbongkar, luka lama Marco kembali menganga, menghancurkan semua rasa percaya yang baru tumbuh.
"Apakah seru mempermainkan hatiku, Lia?"
Saat bahaya masa lalu kembali mengincar nyawa Isabel, sanggupkah ia meyakinkan pria itu bahwa cinta tak selamanya pahit, Marco!?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Langkah kaki Magnolia Isabella Ramsey terdengar bergema pelan di foyer marmer yang dingin.
Lampu-lampu kristal raksasa di rumah mewah keluarga Ramsey itu sudah diredupkan. Isabel menenteng sepasang sepatu hak tinggi bermerek Louboutin di tangan kanannya, membiarkan kaki telanjangnya menyentuh lantai yang sedingin es.
Gaun sutra merah marunnya sedikit kusut, dan sisa aroma alkohol serta asap rokok dari kelab malam masih menempel samar di rambutnya yang bergelombang.
Pikirannya masih melayang pada kejadian gila beberapa jam yang lalu—tentang kejar-kejaran di lorong gelap, dan seorang pria berwajah konyol yang mengatainya gila lalu mengeluhkan bau parfumnya. Mengingat pria aneh berjas mahal itu, sudut bibir Isabel tanpa sadar sedikit terangkat.
Namun, senyum itu langsung sirna seketika saat lampu ruang tamu utama tiba-tiba menyala terang benderang, menyilaukan mata.
"Isabel!"
Sebuah suara tajam yang sangat familier memecah keheningan malam.
Isabel menghentikan langkahnya. Ia menoleh perlahan ke arah ruang tamu. Di sana, duduk di atas sofa beludru mahal dengan balutan jubah tidur sutra yang elegan, adalah ibunya. Carol Ramsey.
Wanita paruh baya itu berdiri dengan raut wajah yang menggelap karena amarah, napasnya memburu.
"Apa?" jawab Isabel dengan nada suara sedatar mungkin, rahangnya mulai mengeras. Ia sudah hafal betul tatapan itu. Tatapan penuh perhitungan dan rasa muak yang tak pernah berusaha ibunya sembunyikan jika mereka sedang berdua.
Tanpa peringatan, Carol melangkah cepat menghampiri putrinya. Begitu jarak mereka terkikis, tangan wanita paruh baya itu melayang ke udara.
PLAK!
Sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi kiri Isabel. Bunyinya menggema nyaring di ruangan luas yang senyap itu. Saking kerasnya tamparan tersebut, wajah Isabel sampai terlempar ke samping. Rasa kebas dan panas seketika menjalar, meninggalkan bekas kemerahan yang mencetak jelas kelima jari ibunya di atas kulit putih Isabel.
Isabel tidak menjerit. Ia juga tidak menangis. Ia hanya memejamkan mata sejenak, membiarkan rasa kebas itu menjalar, lalu memutar wajahnya kembali untuk menatap mata ibunya dengan sorot menantang.
"Anak tidak tahu diuntung!" maki Carol dengan suara bergetar karena emosi yang meluap-luap.
Telunjuknya menuding tepat di depan hidung Isabel. "Berani-beraninya kau membuat tunanganmu marah besar, hah?! Keluarga Bryce baru saja meneleponku! Apa yang ada di dalam kepalamu yang tidak berguna itu sampai kau berani membuat tunanganmu sendiri menjadi babak belur?!"
Isabel tertawa sumbang. Tawa yang terdengar sangat kering dan penuh rasa perih. Ia menyentuh sudut bibirnya yang terasa sedikit perih, lalu menatap ibunya dengan tatapan nanar.
"Membuatnya babak belur? Mama marah karena aku membela diriku sendiri?" Isabel meninggikan suaranya, membalas tatapan murka ibunya. "Pria sialan yang Mama sebut 'tunanganku' itu mengunciku di ruang VIP! Dia mencoba memaksaku, Ma! Dia mau menodaiku dengan paksa! Wajar jika aku melawannya! Aku menghantam kepalanya dengan botol anggur agar aku bisa kabur dari sekumpulan preman peliharaannya!"
Isabel mengira, setidaknya, mendengar fakta bahwa putrinya nyaris dilecehkan akan memunculkan secercah rasa empati dari wanita yang telah melahirkannya itu.
Namun, harapan itu hancur berkeping-keping saat melihat ekspresi Carol yang sama sekali tidak berubah. Tidak ada keterkejutan. Tidak ada raut kekhawatiran seorang ibu.
"Lalu kenapa?!" bentak Carol, suaranya menggema tajam, membelah kesunyian rumah mewah itu.
"Hanya karena itu kau bertingkah seperti orang kesetanan dan mempermalukan keluarga kita?! Dengarkan aku, Isabel. Kau itu tidak perlu terlalu kolot! Berhubungan sebelum menikah itu bukan hal yang tabu lagi di zaman sekarang! Bryce itu tunanganmu, calon suamimu! Wajar jika dia menginginkan tubuhmu lebih awal!"
Isabel menatap ibunya dengan mulut sedikit terbuka. Udara di sekitarnya seolah tersedot habis. Jantungnya berdetak kencang, dipenuhi rasa jijik yang tak tertahankan.
"Wajar?" bisik Isabel, suaranya bergetar hebat menahan amarah yang meledak di dadanya. Ia maju selangkah, menipiskan jarak dengan wanita yang semakin terasa asing di matanya itu. "Mama menyebutnya wajar? Aku tidak sudi disentuh oleh pria penyakitan sepertinya! Aku tidak suka padanya, Ma! Apa Mama pernah peduli tentang itu?"
Carol membuang muka, mendengus sinis.
"Perasaan bisa ditumbuhkan setelah menikah. Kau terlalu banyak membaca novel percintaan!"
"Ini bukan soal perasaan!" balas Isabel tak kalah sengit, urat di lehernya terlihat menonjol. "Tidakkah Mama mendengar rumor yang beredar di lingkaran sosial kita? Pria brengsek itu suka bergonta-ganti pasangan dengan wanita malam! Rumornya bahkan sudah tersebar luas bahwa dia memiliki penyakit HIV! Dan Mama... ibu kandungku sendiri, menyuruhku untuk menyerahkan tubuhku pada pria berpenyakit mematikan itu?!"
"Itu hanya rumor!" potong Carol cepat, matanya melotot tajam. "Itu hanya omong kosong yang sengaja disebarkan oleh saingan bisnis keluarganya untuk menjatuhkan saham mereka! Kau tidak perlu mendengar kata orang, Isabel! Bryce adalah pewaris tunggal. Keluarganya bersedia menyuntikkan dana miliaran untuk menutupi kerugian perusahaan sampingan milik keluarga kita. Hanya itu yang perlu kau pikirkan!"
Isabel menggelengkan kepalanya pelan, menatap ibunya dengan pandangan penuh rasa muak dan kekecewaan yang sudah mencapai puncaknya.
"Tidak, Ma. Mama tidak peduli pada kerugian perusahaan," ucap Isabel dingin. Ia mencengkeram sepatu di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Katakan saja yang sejujurnya, Ma. Mama sepertinya sudah tak sabar untuk mengusirku pergi dari rumah ini, kan? Mama ingin segera menjualku agar posisi Kak Vanya di rumah ini semakin tak tergoyahkan!"
Wajah Carol sedikit menegang mendengar tuduhan itu, namun ia dengan cepat menguasai dirinya. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, memasang wajah angkuh.
"Jangan memutarbalikkan fakta dan menuduhku yang tidak-tidak," kilah Carol dengan nada meremehkan. "Perjodohan ini semata-mata agar kau bisa segera menikah, Isabel. Agar kau tidak terus-menerus menjadi bahan omongan keluarga lain. Coba kau berkaca! Usiamu sudah dua puluh lima tahun, tapi kau belum juga menikah! Teman-teman sosialita Mama yang lain sudah sibuk membicarakan menantu dan cucu mereka, sementara kau? Kau hanya menjadi beban dan perawan tua di rumah ini!"
Isabel tertawa sinis, tawa yang penuh dengan luka. "Mengkhawatirkan usiaku? Takut menjadi bahan omongan?"
Isabel mengangkat tangannya, menunjuk ke arah lantai dua rumah itu, tepat ke arah kamar utama milik saudara tirinya.
"Lalu bagaimana dengan anak kesayangan Mama itu?!" teriak Isabel, tak peduli jika seisi rumah mendengarnya. "Kak Vanya, anak bawaan Mama dari suami terdahulu sebelum Mama menikahi Papaku! Usianya sudah tiga puluh satu tahun! Dia belum menikah, hanya tahu menghambur-hamburkan uang Papa, dan bergonta-ganti pria tidak jelas! Tapi Mama biasa-biasa saja! Mama tidak pernah memaksanya menikah dengan pria hidung belang! Kenapa? Kenapa malah aku, anak dari keluarga Ramsey yang sah, yang terus dituntut untuk cepat-cepat menikah dan keluar dari rumah ini?!"
"Jangan membantah!" jerit Carol, wajah cantiknya berubah berkerut karena amarah. "Vanya berbeda denganmu! Dia punya kelas, dan dia tidak pernah membuatku malu!"
"Memangnya, aku pernah membuat malu, hah!?" balas Isabel tajam. Dadanya naik turun dengan cepat. Kesabarannya sudah benar-benar habis malam ini.
"Cukup, Ma. Aku tidak akan pernah menikah dengan si brengsek Bryce itu. Dan jika Mama terus memaksaku, aku akan menelepon Papa. Aku akan mengadu pada Papa tentang semua perbuatan Mama di belakangnya. Tentang bagaimana Mama mencoba menumbalkan ku demi uang, dan bagaimana Mama meng-anakemaskan Vanya menggunakan harta keluarga Ramsey!"
Hening sejenak. Ancaman itu menggantung di udara.
Namun, alih-alih panik atau ketakutan, Carol justru menghela napas pendek. Sudut bibir wanita paruh baya itu kemudian berkedut, sebelum akhirnya meledak dalam tawa yang melengking dan meremehkan. Tawa yang membuat bulu kuduk Isabel berdiri.
Carol melangkah maju, wajahnya mendekat ke telinga Isabel. Senyum miring yang sangat kejam tercetak jelas di bibir berlipstik merahnya.
"Silakan, Isabel," bisik Carol dengan nada penuh kemenangan yang luar biasa arogan. "Telepon Papa mu yang sedang sibuk memperluas bisnis di Eropa itu. Menangislah padanya. Mengadulah sampai suaramu habis."
Carol menarik wajahnya, menatap lurus ke dalam mata Isabel yang mulai berkaca-kaca.
"Tapi biar kuingatkan satu hal padamu, Putri Kecil. Papamu... hanya percaya padaku," ucap Carol sambil menepuk pipi Isabel yang tadi ia tampar, kali ini dengan gerakan pelan yang melecehkan. "Dia sangat memujaku. Dan lagipula, mari kita gunakan logika. Aku ini ibu kandungmu, Isabel. Wanita yang mengandung dan melahirkan mu bertaruh nyawa. Menurutmu, apakah Papamu yang sibuk itu akan meragukan seorang perempuan yang sudah berjuang melahirkan anak untuknya? Tidak akan ada seorang ayah pun di dunia ini yang percaya bahwa seorang ibu kandung tega menghancurkan anaknya sendiri."
Mata Isabel memanas. Pernyataan itu seperti belati beracun yang ditusukkan tepat ke ulu hatinya.
"Di mata Papamu, apa pun yang kulakukan adalah rancangan masa depan yang terbaik untukmu," lanjut Carol dengan senyum iblisnya. "Jadi berhentilah melawan. Bersihkan wajahmu, dan bersiaplah untuk meminta maaf pada keluarga Bryce besok pagi."
Carol berbalik, mengibas jubah sutranya, dan berjalan menaiki tangga marmer menuju kamarnya dengan langkah anggun, meninggalkan Isabel yang mematung sendirian di tengah ruang tamu yang dingin.
Air mata yang sejak tadi ditahan Isabel akhirnya menetes jatuh melewati pipinya yang memerah. Tangannya terkepal kuat hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri.
Papa tidak akan percaya padaku, batin Isabel pedih. Ibu kandungku sendiri menginginkan kehancuranku.
Isabel menatap pintu utama rumah mewah yang terasa seperti penjara itu. Malam ini, tekadnya sudah bulat. Ia tidak akan membiarkan hidupnya dihancurkan oleh wanita ular itu. Ia harus pergi. Ia harus kabur sejauh mungkin dari neraka ini.
Tapi ke mana? Kekuatan ayahnya, koneksi ibunya, dan uang kotor keluarga Bryce akan dengan mudah melacaknya jika ia hanya lari tanpa perlindungan. Ia butuh tameng. Tameng yang cukup besar untuk membuat ketiga kekuatan itu enggan menyentuhnya.
Ingatannya tiba-tiba melayang kembali ke lorong remang-remang di kelab malam. Pada sosok pria berjas mahal yang menghajar tiga preman berotot dalam hitungan detik. Pria yang menolak pesonanya mentah-mentah dan lebih peduli pada bau parfum di jasnya.
Pria itu jelas bukan pria sembarangan. Dari gaya berpakaian, pengawal kelab yang langsung ketakutan, dan aura membunuhnya yang sempat terpancar singkat, Isabel tahu pria itu memiliki kekuasaan besar.
Siapa dia sebenarnya? pikir Isabel, matanya berkilat penuh perhitungan.
Isabel berbalik menatap tangga tempat ibunya menghilang, lalu tersenyum dingin.
Aku akan mencarinya, tekad Isabel dalam hati. Aku akan menyuruh Hugo menyelidiki siapa pria gila di kelab malam itu. Siapa pun dia, aku akan memanfaatkannya untuk melindungi diriku.
oooh tdk bisaaa ,, anda gx liat tuh calon pawang ny udh ngeluarin tanduk dari kening ny🤭🤭🤭🤣🤣🤣
semangat Marco ,,
semangat liaa or Isabella ,,
kejam banget sih itu memang cewek 😡
jgn bermimpi bisa dapetin Marco Alana ,, pawang skarang ganas meski belum resmii ,, tp ttap hati2 ,,